Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Sisa-sisa pening yang merayap di kepalanya perlahan meluruh, menyisakan kekosongan yang teramat dalam di dada.
Cinderella—jiwa yang kini terperangkap dalam raga asing milik Marcella Ember Vitiello—menarik napasnya perlahan.
Setiap tarikan udara terasa berat, membawa sensasi dingin yang menyengat tenggorokannya.
Di dalam kepalanya, ingatan tentang detik-detik terakhir hidupnya sebagai Cinderella Huntington masih berputar tanpa henti, bagaikan pita kaset lama yang rusak dan terus mengulang adegan memilukan.
Ia masih bisa merasakan dinginnya besi pistol milik Draxler yang menempel di pelipisnya, letupan singkat yang merenggut nyawanya, serta keheningan sempurna sebelum segalanya menjadi gelap.
Namun saat ia membuka mata, takdir ternyata tidak mengizinkannya untuk benar-benar beristirahat.
Cinderella menegakkan tubuhnya di atas kasur single yang tipis. Dinding kayu berwarna kusam dengan cat yang mengelupas menjadi pemandangan pertama yang menyapa penglihatannya.
"Apakah ini... Benar-benar Nyata?" bisiknya parau.
Suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiri—terlalu tipis, serak, dan menyimpan getaran kesedihan yang belum tuntas.
Ia mengangkat tangan kanannya dengan ragu, lalu mencubit lengan kirinya dengan cukup keras.
Rasa sakit yang tajam seketika menjalar, meninggalkan bekas kemerahan di atas kulit yang pucat.
Cinderella merintih pelan.
Rasa sakit itu nyata.
Ia tidak berada di alam baka, tidak pula sedang terjebak dalam ilusi.
Jiwanya yang patah benar-benar terlempar ke dalam raga seorang gadis yang sama-sama tak diinginkan.
Pandangannya mengedar samar, menyusuri meja belajar kecil yang berantakan di sudut kamar.
Sebuah kalender meja menarik perhatiannya. Dengan jemari gemetar, ia meraih kertas tebal itu, memastikan deretan angka yang tertera di sana.
Seketika, napasnya tercekat.
Angka tahun, bulan, bahkan tanggal yang tertera di sana sama persis dengan hari di mana ia memilih mengakhiri hidupnya di penthouse milik Draxler.
Cinderella lantas meraih ponsel berlayar retak yang tergeletak pasrah di samping tempat tidur.
Layar kecil itu menyala redup, menampilkan tanggal yang membakar dadanya.
Dua hari lagi...
Hanya tinggal dua hari lagi dari pesta pernikahan megah yang harusnya digelar mewah Di California.
Dua hari lagi, Jonah—pria yang ia percayai sepenuh hati—akan berdiri di depan altar bersama Siena, adik kandungnya sendiri.
Mereka akan mengumandangkan janji suci di atas puing-puing kehancuran hidup Cinderella, tanpa pernah tahu bahwa wanita yang mereka khianati telah tewas tergenang darahnya sendiri.
Air mata menetes tanpa suara di pipi pucat yang kini menjadi miliknya.
Cinderella terkekeh lirih, sebuah tawa hampa yang tercekik di tenggorokan.
"Betapa kejamnya takdir..." gumamnya seraya menyapu air mata itu kasar.
"Kau mencabut nyawaku di sana, hanya untuk melempar jiwaku yang hancur ke dalam raga asing di hari yang sama."
Dengan langkah lemas dan tertatih, Cinderella melangkah keluar dari kamar.
Ia menyusuri lorong sempit rumah sederhana tempat tinggal Ember.
Tak ada lantai marmer dingin yang mengilap, tak ada lampu gantung kristal yang memendarkan cahaya kemewahan, dan tak ada garasi luas berisi deretan mobil sport berkelas seperti di Mansion Huntington.
Yang ada hanya ruang tamu mungil dengan sofa kain yang kusam dan menipis busanya, dapur kecil yang begitu lengang, serta aroma kelembapan yang mengendap kaku.
Rumah ini sunyi, sepi tanpa kehangatan.
Tak ada deru langkah kaki pelayan, tak ada sapaan hangat seorang ibu, tak pula ada tatapan tegas seorang ayah.
Kedua orang tua Ember telah pergi.
Mereka mengemas seluruh kenangan dan barang berharga mereka, melangkah keluar dari pintu depan tanpa pernah menoleh kembali—meninggalkan putri mereka sendirian di dunia yang dingin ini, tak peduli apakah gadis itu akan bertahan hidup atau membusuk dalam kesepian.
"Rupanya kau juga sama sepertiku, Ember..." bisik Cinderella pelan.
Matanya menatap bayangan dirinya di cermin gantung kecil yang tergantung di pintu lemari. "Sama-sama dibuang... sama-sama dianggap sebagai beban yang tak pernah diharapkan."
Cinderella menyentuh permukaan kaca cermin yang agak buram itu.
Wajah di hadapannya adalah milik Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun berambut hitam lurus dengan mata bundar yang kini meredup ditelan keputusasaan.
Saat jemarinya mengusap pipi pucat di cermin, sebuah denyutan mendadak menyengat otaknya.
Satu per satu gelombang ingatan milik Ember merembes masuk, membuka tabir kehidupan sang pemilik raga asli secara perlahan dan menyayat hati.
Deg.
Cinderella menahan napasnya.
Di balik wajah polos, pakaian kusam, dan rumah yang hampir runtuh ini, Ember menyimpan duka yang amat pekat.
Di kepala gadis muda ini, tidak ada lagi ruang untuk impian masa remaja yang manis.
Hanya ada satu obsesi yang terus membakarnya: uang.
Ember membanting tulang di usianya yang masih sangat muda demi bertahan hidup.
Potongan memori memperlihatkan bagaimana Ember bekerja hingga larut malam di sebuah bar remang-remang di pusat kota, menahan bau alkohol dan hiruk-pikuk malam demi mengumpulkan lembaran uang untuk membayar sewa rumah dan biaya kuliah nya sendiri.
“Aku harus bertahan...” suara batin Ember berbisik sayup dalam ingatan Cinderella.
“Aku harus membuktikan bahwa aku bisa bernapas tanpa mereka...”
Cinderella memegang dadanya yang terasa makin sesak.
"Syukurlah..." bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak menjual kehormatanmu, Ember. Kau hanya seorang anak remaja yang berusaha bertarung mati-matian di tengah kejamnya dunia."
Mengikuti naluri ingatan Ember yang tertanam di tubuhnya, Cinderella membungkuk dan meraih kunci kecil yang tersembunyi di bawah alas kasur. Ia membuka sekat rahasia di bagian belakang lemari kayu kusamnya.
Mata Cinderella bergetar saat menyaksikan isi di dalamnya.
Tersusun rapi di sana beberapa gaun indah, tas berkelas buatan desainer ternama, dan sepatu hak tinggi yang terawat sangat bersih. Barang-barang mahal itu dibeli Ember dari hasil keringatnya sendiri—sebuah perisai kecil yang diciptakan sang gadis untuk melindungi harga dirinya dari tatapan remeh dunia luar ketika ia melangkah ke universitas.
"Kau sangat luar biasa, Ember..." kata Cinderella lirih, kini diiringi isolasi rasa hormat yang mendalam pada raga yang ia tempati.
"Kau bertarung begitu keras... tapi rasa sakit itu akhirnya terlalu berat untuk kau tanggung sendirian, bukan?"
Rasa iba yang membelit hatinya perlahan melebur menjadi sebuah tekad yang dingin dan sunyi.
Duka cita atas kematian dirinya sendiri sebagai Cinderella Huntington kini bersatu dengan duka mendalam milik Ember.
Cinderella membalut luka goresan di jemarinya dengan kain bersih seadanya. Ia menanggalkan baju lusuhnya, berganti mengenakan salah satu pakaian terbaik Ember, lalu memoles tipis bibirnya yang pucat untuk menyembunyikan jejak-jejak keputusasaan.
Jiwa Cinderella yang dingin, berpengalaman, dan pernah hancur hingga berkeping-keping, kini telah menyatu sepenuhnya dengan raga Marcella Ember Vitiello.
"Dua jiwa yang terbuang kini menjadi satu," bisiknya pada pantulan cermin dengan tatapan mata yang tak lagi redup.
"Istirahatlah dengan tenang, Ember. Mulai hari ini, aku yang akan melanjutkan pertarunganmu. Tak akan ada lagi air mata untuk mereka yang mengabaikan kita."
Dengan langkah perlahan namun mantap, Cinderella menyambar tasnya dan berjalan keluar menembus dinginnya udara pagi—menyongsong dunia baru yang telah merenggut segalanya dari mereka berdua.