Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ancaman baru
(Bacanya penuh ketenangan ya 😂)
Nara mengangkat wajahnya perlahan. Tidak ada lagi sisa kepanikan atau ketakutan di matanya—yang tersisa hanyalah kilatan dingin setajam mata pisau. Ia menatap lurus tepat ke sepasang mata Komandan Besar, menyilangkan tangan di dada dengan sikap santai, namun lugas mengintimidasi.
"Bapak Pimpinan seluruh pasukan elite?" tanya Nara dengan nada datar yang menusuk.
Komandan itu mengernyitkan alisnya, terkejut dengan keberanian wanita di depannya. "Benar."
"Iya, saya," sahut Nara tanpa kedipan. Bibirnya mengukir senyum miring yang sarat akan sindiran menantang. "Mungkin kalau Bapak tidak salah strategi... orang yang Bapak sebut 'tidak berdaya' itu tidak akan sempat meloloskan diri dan menerobos masuk ke Polindes saya."
Suara di dalam ruangan seketika menyusut hampa. Para prajurit menahan napas, tak percaya ada warga sipil yang berani menembak jatuh martabat pimpinan tertinggi mereka secara terang-terangan.
"Bapak bilang dia tidak berdaya?" Nara maju satu langkah, menatap Komandan itu tanpa gentar sedikit pun. "Lalu dua pria bertubuh tegap yang siap menghilangkan kesucian saya, menodongkan senjata ke kepala saya, dan hampir merenggut nyawa saya itu... orangnya Bapak? Bahkan musuh Bapak yang 'paling lemah' sekalipun masih sangat sanggup membunuh warga biasa yang tak punya bekal bela diri!"
Nara menjeda kalimatnya, menghembuskan napas pelan namun begitu sarat ancaman. Aura di sekitarnya mendadak begitu pekat dan menekan.
"Saya tidak takut dengan undang-undang negara atau aturan satuan Bapak," ucap Nara dengan nada yang sangat tenang, dingin, dan tertata rapi. "Laporkan saja... Saya akan pastikan esok hari saya berdiri di depan media, membeberkan kepada seluruh negeri bahwa pasukan elite yang Bapak banggakan ternyata tidak becus menjaga keselamatan rakyatnya."
Revan yang berdiri tak jauh dari sana mematung dengan jantung berdegup kencang. Ia menatap Nara dengan kombinasi rasa takjub dan cemas luar biasa wanita ini bukan cuma sekadar singa, tapi badai yang sanggup meruntuhkan siapa saja yang berani mengusik garis batasnya.
Suasana Polindes mendadak hening mencengkeram. Gertakan dingin dan intimidasi lugas dari Nara berhasil mengunci mulut Komandan Besar rapat-rapat. Sebagai pimpinan tertinggi, ia tahu betul dampaknya jika tuduhan kelalaian pasukan dan skandal ini sampai bocor ke media massa—reputasi satuannya bisa hancur berantakan dalam semalam.
"Begini, Bidan Nara... bukan begitu maksud saya..." suara Komandan Besar melunak, ada nada gugup yang langka keluar dari mulut pimpinan tinggi itu.
"Sudah, Pak. Tidak apa-apa, terserah dengan pendapat Bapak apa," potong Nara tegas, memotong kalimat sang Komandan tanpa ragu. Dagu dan dadanya terangkat busung, matanya menatap lurus.
"Saya sangat lelah, ingin beristirahat."
Tanpa menunggu perintah, izin, atau peringatan apa pun dari para petinggi militer itu, Nara membalikkan badan dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan mereka yang terpaku di tengah ruangan.
Komandan Besar itu terdiam sejenak. Wajahnya menegang menahan malu, namun ia buru-buru menguasai diri. Ia berbalik menyalak pada anak buahnya.
"Rapikan Polindes ini sekarang juga!"
serunya berusaha mengembalikan wibawa, lalu menoleh pada Revan.
"Revan, setelah siap, bubarkan pasukan dan lanjutkan saja cutimu. Laporan kamu buat setelah masa cuti selesai."
Tanpa menunggu balasan panjang, sang Komandan melangkah cepat keluar menuju tempat berkumpulnya sisa armada luar.
Di dalam Polindes, para prajurit yang sedang berbenah mulai saling senggol. Bisik-bisik kagum tak terbendung lagi di antara mereka.
"Gila, keren banget bidan itu waktu menghajar para pemberontak tadi..."
"Iya, matanya sama sekali nggak berkedip! Nggak ada takut-takutnya!"
"Pas dia memotong tangan bajingan itu... Syyyaap! Tangannya tenang banget, nggak bergetar sedikit pun!"
"Tapi bener juga, kalau dia tak pandai bela diri, dah habislah nyawanya malam ini..."
Revan yang baru saja melangkah masuk mendelik dingin ke arah anak buahnya.
"Udah nggak ada kerjaan lagi? Masih sempat bergosip?"
para prajurit itu seketika menegakkan tubuh, buru-buru memberi hormat.
"Siap, Ndan! Siap salah!"
Mereka langsung kembali bekerja secepat kilat menyapu dan membuang sisa-sisa pecahan kaca serta mengelap noda darah di lantai.
Revan menghela napas panjang, lalu mengalihkan langkahnya menuju ruang rawat inap.
Dari balik celah pintu, Revan tertegun. Nara sedang duduk di samping tempat tidur pasien. Bidan cantik yang beberapa menit lalu mengamuk bagai dewi pencabut nyawa itu kini kembali lembut. Wajahnya hangat, jemarinya mengusap lembut kepala sang ibu dan sesekali melempar gurauan kecil agar mental pasien-pasiennya tidak shock setelah melewati tragedi mengerikan malam ini.
"Sudah, Bu... jangan gemetar lagi ya. Penjahatnya sudah dihabisi sama Pak Tentara di luar,"
ucap Nara dengan nada suara yang begitu lembut, amat berbeda dengan nada dingin yang tadi ia lontarkan pada sang Komandan.
Ia menggenggam jemari ibu muda yang masih ketakutan itu, mengusapnya perlahan untuk menyalurkan rasa hangat.
"Bayi Ibu pintar banget tadi, lho. Nggak rewel sama sekali pas Nara kasih 'ramuan rahasia' biar bobo nyenyak,"
lanjut Nara seraya mengedipkan sebelah matanya, mencoba memecah ketegangan.
"Nanti kalau sudah besar, pasti jagoan kecil ini bakalan pemberani."
Ibu muda itu mengangguk pelan, air mata harunya menetes saat melihat senyum tulus Bidan Nara. Sang perawat dan anak kecil yang tadinya demam pun perlahan mulai bisa bernapas lega, terhipnotis oleh ketenangan yang dipancarkan Nara.
"Nah, sekarang Ibu sama Adik istirahat ya. Ruangannya sudah aman, ada Revan dan pasukan Elang yang jaga di depan. Kalau ada apa-apa, panggilan Nara saja," tambah Nara lagi seraya membetulkan selimut pasien dengan telaten.
Revan menyenderkan tubuhnya di ambang pintu, menatap Nara dengan batin yang berkecamuk. Di balik kehangatan wanita itu, ada bayang-bayang kelam yang merayap.
Ia kenal betul siapa pimpinannya. Revan tahu pasti... Komandan Besar yang dikenal pendendam dan keras kepala itu tidak akan pernah semudah ini menyerah dan menerima kekalahan dari seorang warga sipil. Polindes ini mungkin sudah aman dari musuh, tapi ancaman baru untuk Nara justru baru saja dimulai.