NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batu Bata Baru untuk Harapan Lama

Dua minggu telah berlalu sejak kepulangan Ratna. Kebahagiaan awal yang meledak-ledak kini telah berubah menjadi ketenangan domestik yang hangat. Namun, Ratna merasa ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Rumah Nenek Surti, meski penuh kenangan dan cinta, sudah sangat tua. Atapnya bocor di beberapa titik, lantai kayunya mulai keropos dimakan rayap, dan dindingnya retak-retak akibat usia. Selama dua tahun di Arab Saudi, Ratna menabung dengan disiplin militer. Ia tidak membeli baju baru, tidak jajan sembarangan, dan setiap rial yang ia dapatkan dari kerja kerasnya disimpan dalam rekening khusus. Ditambah dengan investasi kecil-kecilan yang ia pelajari secara otodidak melalui grup WhatsApp TKW, tabungannya kini cukup signifikan.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Ratna mengajak Lily dan Nenek Surti duduk di teras depan. Di atas meja kayu yang goyah, ia meletakkan sebuah buku catatan tebal dan beberapa lembar kertas perencanaan dari tukang bangunan langganan Nenek.

"Nek, Lil," panggil Ratna serius, namun matanya berbinar antusias. "Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan."

Nenek Surti mengangkat alisnya, meletakkan gelas tehnya. "Apa itu, Rat? Kamu kelihatan seperti mau mengumumkan sesuatu yang besar."

Lily, yang sedang mengerjakan tugas sekolah di samping Nenek, juga menoleh penasaran. "Ada apa, Ma? Mama dapat kerjaan baru?"

Ratna tersenyum, lalu membuka buku catatannya. "Bukan kerjaan baru, tapi perbaikan rumah ini. Mama punya tabungan cukup banyak dari hasil kerja dua tahun di sana. Mama nggak mau uang itu cuma diam di bank. Mama mau kita gunakan untuk merenovasi rumah ini."

Hening sejenak. Nenek Surti terlihat kaget, lalu menggeleng kuat. "Ah, nggak usah, Rat. Rumah ini masih layak huni. Nggak perlu dihambur-hamburkan uangnya. Simpan saja buat masa depan Lily, buat kuliahnya nanti."

"Justru ini untuk masa depan kita semua, Ma," bantah Ratna lembut namun tegas. "Lihat atap itu, Nek. Setiap kali hujan deras, kita harus siap-siap dengan ember. Lantai ini juga bahaya buat Nenek kalau sampai terpeleset karena kayunya lapuk. Mama nggak mau Nenek sakit, dan Mama nggak mau Lily belajar dalam kondisi rumah yang kurang nyaman. Ini bukan penghamburan, ini investasi kenyamanan dan kesehatan."

Lily menatap ibunya, lalu menatap rumah tua di belakangnya. Ia ingat betapa sering mereka kewalahan saat musim hujan tiba. "Tapi... uangnya banyak kan, Ma? Kalau direnovasi total, habis nggak?"

Ratna mengangguk. "Cukup, Lil. Mama sudah hitung matang-matang. Kita nggak akan mengubah struktur utama, cuma perbaiki atap ganti genteng baru, ganti lantai keramik yang anti-slip, cat ulang dinding, dan perbaiki kamar mandi. Sisanya, Mama simpan untuk dana darurat dan biaya kuliahmu."

Nenek Surti masih ragu, tangannya gemetar memegang tongkatnya. "Tapi Rat, ini rumah warisan orang tuamu. Nenek merasa nggak enak kalau kamu yang keluarin uang banyak buat memperbaikinya. Nenek kan cuma nenek tiri..."

Ratna segera memotong ucapan Nenek, wajahnya menunjukkan ketegaran. "Ma, jangan bilang begitu. Mama anggap Nenek sebagai ibu kandung sendiri. Tanpa Nenek, Mama dan Lily nggak akan punya tempat berteduh saat kami diusir dulu. Rumah ini adalah saksi bisu perjuangan kita. Memperbaikinya berarti menghargai perjuangan itu. Lagipula, ini juga hak Mama. Mama yang bekerja keras, Mama yang berhak memutuskan bagaimana menggunakan hasilnya. Dan keinginan Mama adalah melihat Nenek dan Lily hidup nyaman."

Air mata Nenek Surti menetes. Ia tahu, argumen Ratna didasari oleh cinta yang tulus, bukan kewajiban. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Kalau itu maumu, Nak. Nenek nurut. Asal kamu nggak keberatan."

"Same sekali nggak keberatan, Ma," jawab Ratna sambil tersenyum lebar. Ia lalu menoleh ke Lily. "Gimana, Lil? Kamu setuju? Nanti kamarmu bisa lebih luas, ada meja belajar baru yang kokoh, dan jendela yang lebih besar biar anginnya masuk."

Mata Lily berbinar. "Serius, Ma? Aku boleh pilih warna catnya?"

"Tentu saja! Ini kan rumah kita bersama," kata Ratna.

Keesokan harinya, proses renovasi dimulai. Suara palu, paku, dan gergaji menggantikan keheningan pagi. Tukang-tukang lokal yang dikenal Nenek mulai membongkar atap lama. Debu berterbangan, namun suasana hati keluarga ini justru semakin cerah.

Ratna turun langsung mengawasi pekerjaan. Ia memastikan material yang digunakan berkualitas baik. Ia tidak ingin ada yang dicurangi. Lily membantu dengan membawakan minum untuk para tukang dan membersihkan puing-puing kecil. Nenek Surti duduk di teras samping, memantau dari jauh sambil sesekali memberi saran berdasarkan ingatan masa mudanya tentang rumah tersebut.

Di tengah kesibukan, seorang tetangga, Pak RT, lewat dan melihat keramaian di halaman rumah Nenek.

"Wah, ramai sekali, Bu Ratna! Ada hajatan?" tanya Pak RT sambil tersenyum.

"Bukan hajatan, Pak. Renovasi rumah," jawab Ratna sambil menyeka keringat di dahinya.

Pak RT tampak kagum. "Wah, hebat ya, Bu. Pulang dari luar negeri langsung bangun rumah. Pasti tabungannya banyak ya?"

Ratna tersenyum tipis. "Alhamdulillah, Pak. Hasil jerih payah. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit."

"Lily pasti senang ya?" tanya Pak RT lagi, menatap Lily yang sedang menyapu halaman.

"Sangat senang, Pak. Dia sekarang lebih semangat belajar karena kamarnya bakal diperbaiki," jawab Ratna bangga.

Pak RT mengangguk hormat. "Bagus, bagus. Jadi contoh buat anak-anak muda lain. Kerja keras itu memang hasilnya manis."

Sore harinya, setelah para tukang pulang, Ratna, Lily, dan Nenek duduk di teras yang sebagian lantainya sudah dibongkar. Mereka makan malam sederhana: nasi goreng sisa siang hari. Meski debu menempel di mana-mana, suasana hati mereka sangat ringan.

"Ma," panggil Lily tiba-tiba, menatap ibunya yang sedang membersihkan tangan dengan air. "Terima kasih ya, Ma. Bukan cuma karena rumah ini diperbaiki. Tapi karena Mama nunjukin kalau kerja keras itu ada hasilnya. Dulu aku pikir, nasib kita ya begini-begini aja. Miskin selamanya. Tapi Mama buktikan kalau kita bisa berubah."

Ratna menatap putrinya dengan lembut. "Nasib itu bukan takdir yang pasif, Lil. Nasib itu dibentuk oleh usaha. Mama mungkin nggak bisa ngasih kamu mobil mewah atau rumah gedongan seperti Ayahmu. Tapi Mama bisa ngasih kamu fondasi yang kuat. Rumah yang aman, hati yang tenang, dan contoh bahwa wanita itu bisa mandiri."

Nenek Surti ikut berbicara, suaranya parau namun bijak. "Dan ingat, Lil. Rumah yang bagus itu bukan cuma soal cat dan genteng baru. Tapi soal siapa yang tinggal di dalamnya. Dulu, rumah ini sempit dan reyot, tapi isinya cinta. Sekarang, rumahnya bakal bagus, dan isinya tetap cinta. Itu yang bikin rumah jadi surga."

Lily mengangguk paham. Ia meraih tangan ibunya dan tangan neneknya, menggenggamnya erat. "Aku janji, Ma, Nek. Aku bakal jaga rumah ini. Aku bakal belajar rajin supaya uang Mama nggak sia-sia. Aku bakal jadi kebanggaan kalian."

Ratna mencium kening Lily, lalu mencium tangan Nenek. "Mama percaya sama kamu, Lil. Kita udah lewatin badai paling berat. Sekarang waktunya menikmati matahari. Perlahan-lahan, tapi pasti."

Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak, meski suara jangkrik terdengar lebih keras karena tidak ada lagi kebocoran atap yang menetes. Bagi Ratna, suara itu adalah musik pengantar tidur terindah. Ia telah menyelesaikan misinya. Ia telah membawa pulang lebih dari sekadar uang; ia membawa pulang harga diri, keamanan, dan harapan baru bagi keluarganya.

Renovasi rumah itu bukan sekadar perbaikan fisik bangunan. Itu adalah simbol perbaikan kehidupan mereka yang pernah hancur berantakan. Setiap batu bata baru yang dipasang adalah janji bahwa masa depan mereka akan lebih kokoh, lebih indah, dan lebih bermartabat. Dan Ratna tahu, ini hanyalah awal. Dengan tabungan yang masih tersisa dan semangat yang membara, ia siap menghadapi tantangan berikutnya di tanah air, bersama dua wanita paling berharga dalam hidupnya.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!