NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

insiden kecil

Layar ponsel di tangan Devan seketika padam, memutuskan secara sepihak panggilan video mengerikan dari London yang sempat memperlihatkan sosok ibunya.

Napas Devan tertahan di tenggorokan, tangannya mengepal kaku sampai buku-buku jarinya memutih.

Sebelum Aura sempat bertanya lebih jauh tentang siapa pria di telepon tadi, keriuhan mendadak pecah di area panggung utama festival.

​"Aura! Tolong ini papan latar panggung pameran mau dipindahkan ke dalam gudang, bisa minta tolong dibantu arahkan?!" teriak seorang panitia dari kejauhan.

​Aura menoleh cepat, berusaha menguasai rasa terkejutnya dari panggilan tadi. "Eh, iya sebentar! Aku ke sana sekarang!"

​Aura berlari-lari kecil menuju bawah panggung utama yang diterangi lampu gantung berukuran besar.

Devan yang masih syok dengan ancaman dari London refleks menyusul langkah Aura dari belakang, mengabaikan rasa perih di dadanya karena ia tidak mau membiarkan gadis itu lepas dari pandangannya sedikit pun.

​Saat Aura baru saja berdiri di bawah papan dekorasi kayu berukuran raksasa yang berisi foto-foto pameran, tiba-tiba salah satu tali tambang penyangga di atas panggung putus diterjang angin malam yang kencang.

​KREK... BRAK!

​"Aura, awas!" jerit panitia yang ada di sekitarnya.

​Papan kayu tebal berbobot puluhan kilogram itu roboh dan melayang jatuh tepat mengarah ke kepala Aura! Aura yang terperanjat kaget hanya bisa mematung di tempat, matanya membelalak ketakutan tanpa sempat menghindar.

​Dalam hitungan detik yang sangat kritis, Devan menerjang maju dengan kecepatan luar biasa.

Tubuh tingginya meloncat, merengkuh pinggang Aura dengan sangat erat, lalu membawa tubuh gadis itu berguling di atas rumput taman tepat sebelum papan kayu tersebut menghantam tanah dengan dentuman keras yang memekakkan telinga.

​BUM!

​Debu dan serpihan kayu berhamburan di udara. Devan menahan tumpuan tubuhnya dengan kedua lengan di atas tubuh Aura yang terbaring di rumput, menjaganya agar tidak tertimpa reruntuhan sedikit pun.

​Namun, akibat dorongan jatuh yang begitu cepat dan keras, wajah Devan terdorong ke bawah melebihi perkiraannya.

​Cup.

​Tanpa sengaja, bibir Devan mendarat tepat di atas bibir lembut Aura.

​Waktu seolah-olah berhenti berputar di area panggung malam itu. Suara riuh panitia, deru angin, dan sisa musik festival mendadak lenyap dari pendengaran mereka berdua.

Sentuhan singkat dan lembut itu menyengat aliran darah Devan dan Aura bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi.

​Mata Aura membelalak sempurna, menatap lurus mata kelam Devan yang berada hanya satu senti di depan wajahnya.

Deru napas Devan yang hangat terasa begitu jelas menyapu kulit pipinya. Selama beberapa detik yang teramat panjang, keduanya membeku di posisi tersebut, sama-sama terpaku tanpa bisa menggerakkan tubuh.

​Devan yang pertama kali tersadar langsung menarik kepalanya ke belakang dengan panik.

Wajahnya yang biasa dingin dan angkuh seketika berubah merah padam sampai ke ujung telinganya.

Devan duduk berdiri dengan cepat, membantu Aura duduk sambil mengusap tengkuknya dengan gerakan yang sangat kaku dan serba salah.

​"Eeh... kamu nggak papa, Ra?" ucap Devan dengan salah tingkah, suaranya terdengar begitu gugup dan bergetar—suatu pemandangan yang sangat langka dari seorang Devan Alandra.

​Aura merapikan rambut cokelatnya yang agak berantakan, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah panas yang membakar penuh di kedua pipinya. Jantungnya berdegup begitu kencang di dalam dada.

​"A-aku... aku nggak apa-apa, van," jawab Aura dengan malu-malu, jemarinya meremas kelim roknya kaku.

​Tepat di saat suasana di antara mereka berdua sedang diliputi kecanggungan dan kebingungan luar biasa, dari balik reruntuhan dekorasi, Bimo dan Rian berjalan tergesa-gesa hendak memadamkan kepanikan. Namun, langkah kaki kedua sahabat Devan itu mendadak terhenti total begitu melihat adegan romantis di depan mata mereka.

​Mata Bimo membelalak lebar, sementara mulut Rian menganga tak percaya.

​"Eehh... gue nggak lihat ya," celetuk Bimo spontan sambil buru-buru memalingkan wajahnya ke langit-langit panggung.

​"Gua juga nggak lihat, Mo! Mata gue mendadak rabun ini!" timpal Rian cepat-cepat menutup matanya pakai telapak tangan.

​Bimo menepuk bahu Rian sambil memutar badannya. "Ayo kita pergi dari sini sebelum kena amuk si bos!"

​Namun, sebelum Bimo dan Rian sempat mengambil langkah seribu untuk kabur dari area panggung, suara Devan yang agak berat dan kaku memanggil mereka berdua.

​"Bimo, Rian. Sini sebentar."

​Bimo dan Rian menghentikan langkahnya, saling melirik takut-takut, lalu berbalik sambil terkekeh canggung.

Devan menatap Aura sekilas dengan pandangan lembut, menyenggol pelan bahu gadis itu seolah memberi isyarat agar Aura tidak khawatir, lalu Devan melangkah menghampiri Bimo dan Rian yang berdiri di dekat tiang lampu.

​Setelah itu Devan pergi membicarakan sesuatu sama Rian dan Bimo di sudut yang agak sepi dari kerumunan panitia.

​"Ada apa, Van, lu panggil kita?" tanya Bimo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih menahan tawa melihat raut wajah Devan yang agak merona.

​Devan berdeham pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya.

Wajahnya dipasang seserius mungkin, meski rona merah di telinganya belum sepenuhnya hilang.

​"Mulai sekarang, jangan lagi kalian menggunakan bahasa lu-lu gue-gue," kata Devan tegas namun terdengar sangat unik. "Pokoknya kita sekarang menggunakan aku-kamu."

​Seketika itu juga, Bimo dan Rian membeku bagaikan patung.

Bimo mengucek telinganya berulang kali, merasa pendengarannya sedang bermasalah parah.

​"Haaa?! Lu serius, Van?!" seru Bimo kaget setengah mati.

​Devan melotot tajam menatap Bimo. "Em... maksudku, kamu serius?" sambung Bimo cepat-cepat membetulkan kalimatnya dengan wajah yang sangat kocak karena terkejut.

​"Yaps," kata Devan singkat sambil mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.

​Rian dan Bimo mengangguk-angguk pasrah, meski ada beribu pertanyaan dan rasa heran yang berputar-putar penuh di otak mereka.

Bagaimana mungkin seorang ketua geng motor yang paling ditakuti di jalanan mendadak mewajibkan aturan bahasa halus 'aku-kamu' hanya gara-gara seorang Aura?

​"Udah... ah, aku mau lihat Aura dulu," pamit Devan santai, langsung berbalik badan melangkah meninggalkan kedua sahabatnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

​Bimo dan Rian memandangi punggung Devan yang berjalan cepat menghampiri Aura di bawah panggung. Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya sendiri.

​"Astaga... bucin... bucin..." gumam Bimo dan Rian kompak sambil terkekeh terbahak-bahak melihat perubahan drastis sahabatnya itu.

​Devan kembali berdiri di samping Aura yang sedang duduk di kursi panitia. Rona merah di pipi Aura sudah sedikit mereda, meski cewek itu masih agak malu menatap mata Devan langsung.

​"Udah nggak apa-apa kan, Ra?" tanya Devan lembut, suaranya benar-benar sudah terbiasa menggunakan nada halus saat berbicara dengan Aura.

​"Iya, Devan... makasih ya tadi udah menyelamatkan aku dari papan dekorasi," balas Aura sambil tersenyum manis.

​Namun, kehangatan momen manis di antara mereka mendadak buyar seketika.

​Tiba-tiba, tiga buah helikopter mewah dari London melintas rendah di atas lapangan kampus, membuat suara deru baling-baling yang memekakkan telinga menggoncang seluruh area festival.

Lampu sorot besar dari helikopter tersebut menembak lurus ke arah panggung utama, tepat menyorot tubuh Devan dan Aura!

​Dari speaker besar helikopter itu, suara pria berkuasa dari telepon tadi bergema memenuhi seluruh penjuru kampus:

​"Devan Alandra! Waktu main-main kamu di Indonesia sudah habis! Serahkan diri kamu sekarang, atau cewek di samping kamu itu yang akan membayarnya!"

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!