NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemukan Keris Bengkok di Tumpukan Sampah

Sinar matahari pagi Semarang mulai menembus sela-sela pepohonan di sepanjang bantaran Sungai Garang, memantulkan cahaya menyilaukan pada permukaan air yang berarus tenang. Mamat masih berdiri di tepi sungai dengan napas bersebitan. Debaran jantungnya yang tadinya berpacu hebat gara-gara kejaran dua depkolektor berbadan kekar perlahan-lahan mulai mereda, berganti menjadi sensasi kemenangan konyol yang membakar dadanya.

Ia melirik ke arah bukit kecil di atas bantaran, memastikan dua pria berjaket kulit itu benar-benar telah melesat pergi meninggalkan area sungai. Suara bising deru sepeda motor mereka yang digeber kencang di kejauhan menjadi bukti sahih bahwa taktik "kesurupan gila" Mamat berhasil seratus persen.

"Hahaha! Ketakutan juga mereka sama dukun gadungan!" Mamat terkekeh gembira, menyapu keringat dingin di dahi dengan ujung sarung hitam kusamnya.

Ia memandangi benda besi di tangan kanannya. Benda yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari ancaman patah tulang itu adalah keris tua nan aneh yang ditemukannya di tumpukan sampah hanyut. Mamat mendekatkan benda itu ke matanya, mengamatinya lebih cermat di bawah terik matahari pagi.

Bilah keris itu benar-benar tidak lazim. Bukannya memiliki lekukan atau luk yang anggun layaknya senjata pusaka Jawa legendaris, besi ini justru melengkung menyiku tajam tepat di bagian tengah. Bentuknya lebih menyerupai kait besi berkarat atau huruf L yang cacat produksi. Lapisan tahi lalat besi melingkupi hampir seluruh permukaannya, memancarkan bau karat yang menyengat hidung. Gagang kayu keris itu pun sudah retak di beberapa bagian, dililit benang kasur kusam yang mulai terurai.

"Kalau dijual ke tukang loak, paling cuma laku lima ribu perak buat beli es cendol," gumam Mamat sambil membolak-balik keris absurd tersebut.

Namun, benak Mamat yang penuh dengan ide-ide licik dan mesum mendadak melihat potensi luar biasa dari benda cacat ini. Bagi orang awam yang mendambakan hal-hal mistis, makin aneh wujud suatu benda, makin tinggi pula tingkat kesaktian yang disematkan padanya.

"Benda lurus itu sudah terlalu biasa. Keris bengkok ini unik! Ini namanya Keris Pusaka Brajamukti Bengkok Jiwa!" Mamat tersenyum lebar, merasa seperti seorang genius yang baru menemukan formula bom atom.

Ia mencoba memasukkan keris itu kembali ke dalam warangka atau sarung kayunya yang sudah lapuk. Sreeek. Karena bentuk bilahnya yang membelok tajam, keris itu tidak bisa masuk sepenuhnya. Bagian ujungnya yang melengkung tetap mencuat keluar dari sela kayu yang pecah.

"Sempurna!" seru Mamat pelan. "Makin tidak masuk akal, makin terlihat ghaib!"

Ia mengaitkan keris bengkok itu ke dalam lipatan sarung hitam di pinggangnya. Batu akik merah besar hadiah kakeknya kembali ia kenakan di jari manis. Kini, dengan "senjata pusaka" baru terselip di pinggang dan wajah yang sengaja diolesi sedikit lumpur sungai agar terkesan habis bertapa, Mamat merasa siap menaklukkan Kampung Kalisari.

Langkah kaki Mamat melintasi jalan setapak berkerikil menaiki bantaran sungai. Tujuan utamanya sekarang adalah kembali ke rumah tanpa terlihat oleh warga yang lalu-lalang, lalu menyiapkan "ruang ritual" di kamar belakangnya.

Namun, takdir Kampung Kalisari tampaknya enggan memberi Mamat jalan yang mulus.

Saat baru saja keluar dari rimbun kebun pisang di belakang permukiman warga, Mamat hampir saja menabrak sosok pria paruh baya yang sedang berjalan tergesa-gesa sambil celingukan ke semak-semak. Pria itu memakai kaos kutang putih yang sudah menguning di bagian ketiak dan celana kain longgar. Di tangannya menggantung sebuah kurungan besi kosong.

Ia adalah Pak RT Sugino—pria bertubuh tambun yang terkenal sangat pelit, mudah panik, dan sangat percaya pada hal-hal takhayul.

"Lho! Mamat?!" jerit Pak RT kaget, menghentikan langkahnya mendadak. Matanya membelalak menatap penampilan Mamat yang acak-acakan: sarung hitam melilit pinggang, baju kumal berlepotan lumpur, dan keris besi bengkok terselip menonjol.

Mamat terperanjat. Jantungnya hampir copot untuk kedua kalinya pagi ini. Ia refleks melangkah mundur, hendak berbalik lari kembali ke kebun pisang. Namun, melarikan diri hanya akan membuat Pak RT makin curiga dan menuduhnya yang tidak-tidak.

Mamat memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu memutar tombol "akting dukun" di otaknya.

Ia menegakkan dadanya, memiringkan kepalanya sedikit, lalu menatap Pak RT dengan tatapan mata juling yang sengaja ditenangkan. Tangan kanannya mengelus batu akik merah besar di jarinya, sementara tangan kirinya bertumpu pada gagang keris bengkok di pinggang.

"Nyuwun sewu, Pak RT..." kata Mamat dengan suara yang sengaja diberatkan dan diperlambat, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya membutuhkan energi gaib yang besar. "Mengapa pagi-pagi begini Bapak berjalan tergesa-gesa dengan membawa wadah kosong? Apakah ada ketidakseimbangan energi di kediaman Bapak?"

Pak RT Sugino melongo. Ia berkedip beberapa kali, memandangi Mamat dari atas ke bawah. "Kamu... kamu ngomong apa toh, Mat? Ini saya lagi pusing tujuh keliling! Ayam jago kesayangan saya, Si Jalak, hilang lagi dari kandangnya tadi subuh! Ini pasti ulah musang atau... atau jangan-jangan diambil genderuwo sungai!"

Mamat menahan senyum yang hampir meledak di bibirnya. Ayam jago Pak RT hilang? Mamat tahu betul kalau kemarin malam Darto dan Bowo sempat berbisik-bisik di pos ronda soal rencana membakar ayam untuk camilan ronda malam nanti. Tapi, mana mungkin Mamat membongkar rahasia kawan-kawannya? Ini adalah kesempatan emas untuk meluncurkan aksinya sebagai dukun!

"Bukan genderuwo, Pak RT..." ujar Mamat sambil menggelengkan kepala secara perlahan dan dramatis. "Bukan pula musang bumi."

Pak RT mendekat satu langkah, rasa penasarannya mengalahkan rasa heran terhadap penampilan Mamat. "Lha terus apa, Mat? Kamu kok tahu-tahu ngomong begitu?"

Mamat memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menempelkan dua jarinya ke dahi, berpura-pura sedang melakukan penerawangan tingkat tinggi. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra ngawur: "Niat ingsun amat-amati, keris bengkok puter giling, ayam jago miber balik, jancuk jancuk aura ireng..."

"Waduh! Mantra apa itu, Mat?" bisik Pak RT panik, matanya makin melotot.

Mamat mendadak membuka matanya lebar-lebar. Tangannya mencengkeram gagang keris bengkok di pinggangnya, membuat Pak RT refleks mundur setengah langkah.

"Saya melihat... bayangan hitam bersayap tipis!" seru Mamat dengan nada terkejut buatan. "Si Jalak tidak dicuri oleh makhluk bernapas, Pak RT. Ayam Bapak tersedot oleh aura ghaib dari pusaka lama yang terbangun di perbatasan desa!"

Pak RT memegangi dadanya yang naik turun. "G-Ghaib?! Jadi... ayamku dibawa ke alam sebelah?!"

"Benar!" Mamat mengangguk mantap. "Tadi malam, saat warga sedang tertidur lelap, saya melakukan tirakat di tepi Sungai Garang. Saya menemukan pusaka ini!"

Dengan gerakan lambat dan penuh gaya, Mamat menarik Keris Bengkok dari lipatan sarungnya. Besi berkarat yang membelok tajam itu berkilat tertimpa sinar matahari pagi.

Pak RT menatap keris itu dengan mata tidak berkedip. "I-Itu keris apa, Mat? Kok bentuknya patah begitu?"

"Ini bukan patah, Pak RT!" potong Mamat dengan nada tersinggung yang dibuat-buat. "Ini adalah Keris Bengkok Brajamukti! Besi ini melengkung karena tidak sanggup menahan beban energi gaib yang ada di dalamnya! Keris inilah yang memberi saya petunjuk tentang keberadaan Si Jalak!"

Pak RT meneguk ludahnya yang terasa pahit. Kebodohan dan kepanikannya membuat otaknya dengan mudah menelan omong kosong Mamat. "Terus... terus gimana caranya supaya Si Jalak bisa kembali, Mat? Kamu bisa tolong saya?"

Mamat tersenyum tipis—senyuman misterius yang sudah ia latih di depan cermin retak kamarnya.

"Bisa, Pak RT," jawab Mamat penuh rasa percaya diri. "Tapi... ritual pengembalian energi ghaib ini butuh sarana. Saya tidak meminta bayaran uang tebusan, tapi pusaka ini membutuhkan 'uang sajen' sebesar dua ratus ribu rupiah untuk membeli minyak jafaron dan kembang tujuh rupa."

Pak RT sempat ragu. Wajah pelitnya berkerut. Dua ratus ribu rupiah bukan jumlah yang sedikit bagi Ketua RT yang irit. Namun, mengingat Si Jalak adalah ayam jago aduan seharga dua juta rupiah yang sering memenangi kontestasi di tingkat kecamatan, Pak RT akhirnya luluh.

"Bisa kurang tidak, Mat? Seratus lima puluh ribu ya?" tawar Pak RT refleks.

Mamat memicingkan matanya. "Pak RT... energi pusaka tidak bisa ditawar seperti menawar kangkung di pasar! Kalau kurang dari dua ratus ribu, bisa-bisa aura negatifnya berpindah ke rumah Bapak, lalu Mbak RT yang kena kualat!"

Mendengar nama istrinya dibawa-bawa, wajah Pak RT mendadak pucat. "Iya, iya! Dua ratus ribu! Tapi jaminannya apa kalau Si Jalak bisa ketemu?!"

Mamat mengacungkan keris bengkoknya tepat ke udara. "Jaminannya adalah nama besar saya: Ki Mamat Sastrogati! Nanti sore, datanglah ke rumah saya membawa uang sajen tersebut. Saya akan menyiapkan air doa penyucian. Sekarang, Bapak pulang dulu dan siram halaman rumah Bapak dengan air garam!"

Pak RT mengangguk-angguk pasrah seperti anak kecil yang diberi perintah oleh gurunya. "Baik, Ki... eh, Mat! Saya pulang sekarang! Tolong banget ya, Si Jalak itu kesayangan saya!"

Tanpa menunggu balasan Mamat, Pak RT berlari kecil kembali menuju rumahnya, meninggalkan kurungan besinya yang melambai-lambai konyol di tangannya.

Mamat memperhatikan punggung Pak RT yang makin menjauh hingga menghilang di tikungan gang. Begitu situasi dipastikan aman, Mamat tidak sanggup lagi menahan tawanya.

"Hahaha! Jancuk! Berhasil!" Mamat tertawa terkalang-kalang di tengah kebun pisang. "Dua ratus ribu perak melayang masuk kantong nanti sore! Cuma modal keris sampah sama gertakan ayam jago!"

Mamat segera menyelipkan kembali keris bengkoknya ke dalam sarung. Kini tugas berikutnya sangat jelas: sebelum sore tiba dan Pak RT datang membawa uang sajen, Mamat harus mencari Darto dan Bowo untuk "membeli kembali" ayam jago Pak RT yang hampir pasti akan disembelih malam nanti, lalu menyembunyikannya di belakang rumahnya agar seolah-olah ayam itu berhasil "ditarik dari alam ghaib".

Dengan langkah riang dan dada menembung penuh kemenangan, Mamat berjalan cepat menuju rumahnya. Hari pertama sepak terjang Ki Mamat Sastrogati baru saja dimulai, dan aroma uang serta kejayaan absurd mulai tercium makin manis di udara Kampung Kalisari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!