NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firma Hukum, Jas Hitam, dan Benteng Terkuat di Ibu Kota

Musim semi di Beijing tidak pernah benar-benar terasa hangat hingga pertengahan April. Namun, bagi Lin Xiao yang baru saja menginjak tahun ketiganya di Fakultas Hukum, hawa panas dari persaingan dunia profesional sudah membakar kulitnya sejak awal semester.

Dua minggu yang lalu, Lin Xiao berhasil memenangkan posisi magang bergengsi di Firma Hukum 'Tianhe & Partners', salah satu dari The Magic Circle—lima firma hukum elit terbesar di Tiongkok. Ini adalah pencapaian luar biasa bagi mahasiswa tahun ketiga, namun sekaligus menjadi tiket masuk ke dalam arena gladiator sesungguhnya.

Sore itu, di lantai 45 sebuah gedung pencakar langit di distrik finansial CBD Beijing.

Lin Xiao berdiri kaku di depan mesin fotokopi raksasa. Ia mengenakan kemeja putih sutra, rok pensil hitam, dan sepatu pantofel hak rendah. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Lingkaran hitam di bawah matanya kembali terlihat, bukti dari jam kerja 14 jam sehari sebagai anak magang yang tugasnya lebih banyak merapikan dokumen daripada menganalisis kasus.

"Lin Xiao! Kenapa dokumen perjanjian *merger* klien nomor 204 belum ada di mejaku?!"

Sebuah suara melengking memecah kesunyian koridor. Pengacara Senior Wei, seorang wanita berusia awal empat puluhan dengan tatapan sedingin es kutub, berjalan menghampirinya dengan raut wajah murka.

Lin Xiao sedikit tersentak. "Maaf, Pengacara Wei. Saya baru saja selesai memilah dokumen lampirannya karena ada beberapa halaman yang buram dari pihak klien—"

"Aku tidak butuh alasan!" potong Pengacara Wei tajam, membanting sebuah map tebal ke atas mesin fotokopi hingga Lin Xiao berjengit mundur. "Klien nomor 204 adalah perusahaan farmasi raksasa. *Meeting* kita dua jam lagi. Kalau kamu tidak bisa membedakan prioritas, silakan kembali ke kampusmu dan bermain peradilan semu dengan teman-teman mahasiswamu. Di sini kita bermain dengan uang miliaran yuan, bukan nilai A di transkrip!"

Dada Lin Xiao terasa sesak. Wajahnya memerah karena malu ditegur di tengah koridor yang dilewati staf lain. Namun, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menekan egonya.

"Baik, Pengacara Wei. Saya akan menyelesaikannya dalam lima belas menit," jawab Lin Xiao dengan suara ditekan seprofesional mungkin.

Pengacara Wei mendengus sinis. "Pastikan semuanya sempurna. Dunia ini tidak kenal ampun pada orang yang lamban, Nona Lin." Setelah memberikan peringatan itu, wanita itu berbalik dan kembali ke ruangannya.

Lin Xiao menghela napas panjang, bersandar pada mesin fotokopi. Jemarinya yang memegang kertas sedikit bergetar. Realita bekerja di firma hukum elit ternyata jauh lebih kotor dan melelahkan dari bayangannya. Tidak ada keadilan agung yang diperdebatkan di ruang sidang, yang ada hanyalah tumpukan dokumen tebal untuk mencari celah hukum demi keuntungan perusahaan raksasa.

Ponsel di saku roknya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk.

**[Tukang Bolos Kesayangan]:** *Udah jam 7 malam. Lo masih lembur? Gue bawain makan malam. Tunggu di lobi bawah.*

Melihat pesan itu, pertahanan emosional Lin Xiao yang sedari tadi ia tahan perlahan retak. Rasa lelah, lapar, dan direndahkan oleh seniornya rasanya menguap digantikan oleh rasa rindu yang luar biasa pada satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa berharga.

Lin Xiao membalas pesan itu cepat, lalu kembali bekerja dengan kecepatan dua kali lipat.

***

Empat puluh menit kemudian, Lin Xiao melangkah keluar dari lift di lobi utama gedung pencakar langit tersebut.

Lobi itu sangat luas, didominasi marmer putih dan kaca. Di antara para eksekutif yang berlalu-lalang, Lin Xiao langsung menemukan sosok yang ia cari.

Kang Lu Feng berdiri menyandar pada salah satu pilar marmer. Penampilannya malam ini sedikit berbeda. Ia tidak memakai jaket kulit atau denim khas berandalannya. Lu Feng mengenakan setelan kemeja biru tua yang lengannya digulung rapi, dipadukan dengan celana bahan *slim fit* berwarna gelap. Sepatunya pantofel kulit mengkilap. Posturnya yang tinggi tegap dan wajahnya yang tampan membuat beberapa resepsionis wanita diam-diam mencuri pandang ke arahnya.

Mata Lu Feng langsung menangkap sosok Lin Xiao yang berjalan gontai ke arahnya. Hanya butuh satu lirikan bagi Lu Feng untuk tahu bahwa pacarnya sedang tidak baik-baik saja.

"Hai," sapa Lin Xiao lemah, memaksakan sebuah senyum.

Lu Feng tidak menjawab dengan sapaan. Cowok itu melangkah maju, dan tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di lobi gedung elit itu, ia langsung menarik Lin Xiao ke dalam pelukannya. Sangat erat.

"Siapa yang bikin lo nangis, hm?" bisik Lu Feng parau tepat di telinga Lin Xiao.

Lin Xiao membelalak kaget. Ia belum meneteskan air mata setetes pun, tapi Lu Feng tahu. "Aku tidak menangis, Lu Feng."

"Mata lo bohong," bantah Lu Feng, mengusap punggung Lin Xiao pelan. Ia melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Lin Xiao dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. "Ada yang ngerendahin lo di atas? Pengacara senior lo itu lagi?"

Mendengar nada suara Lu Feng yang penuh proteksi, benteng Lin Xiao benar-benar runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia mengangguk pelan.

"Dia bilang... aku lamban. Dia bilang aku cuma mahasiswa yang tidak tahu prioritas," isak Lin Xiao pelan, meremas kemeja Lu Feng. "Lu Feng... aku capek. Semuanya terasa salah. Aku hanya fotokopi dokumen, menyeduh kopi, dan dimarahi karena hal sepele."

Rahang Lu Feng mengeras seketika. Kilat kemarahan yang sangat familiar—kilat berandal jalanan Jiangcheng—menyala kembali di mata sayunya. Ia benci melihat Lin Xiao menangis. Ia paling benci melihat wanita yang ia puja mati-matian direndahkan oleh orang lain.

"Gue bakal naik ke lantai 45 sekarang," geram Lu Feng rendah, bersiap melepaskan pelukannya. "Biar gue ajarin pengacara sombong itu gimana caranya ngehargain orang."

"Jangan gila!" Lin Xiao panik, buru-buru menahan lengan Lu Feng dengan kedua tangannya. "Lu Feng, ini dunia profesional! Kamu tidak bisa memukul orang pakai kursi seperti di SMA! Karierku bisa hancur!"

"Gue nggak bakal mukul dia pakai kursi, Xiao. Gue bakal mukul dia pakai cara orang dewasa," balas Lu Feng tajam, matanya menatap lurus ke arah pintu lift.

Lin Xiao menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Tolong. Kalau kamu melakukan keributan, aku yang akan malu. Aku hanya... aku hanya butuh dipeluk. Tolong, peluk aku saja."

Melihat keputusasaan di mata Lin Xiao, amarah Lu Feng perlahan mereda. Cowok itu menghela napas panjang, menarik Lin Xiao kembali ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah cewek itu di dadanya.

"Oke, oke, gue nggak bakal naik," bisik Lu Feng, mencium puncak kepala Lin Xiao berulang kali. "Gue cuma... nggak terima lo diginiin, Yang. Lo itu perhiasan paling mahal yang gue punya. Ngelihat lo lecet dikit aja, bawaannya gue pengen bakar gedung ini."

Lin Xiao tertawa di sela isaknya, hatinya menghangat mendengar ucapan posesif yang kelewat bucin itu. "Dasar preman."

"Gue preman yang udah sukses bikin perusahaan bernilai puluhan juta yuan, asal lo tau," ralat Lu Feng, sedikit menyombongkan diri untuk menghibur pacarnya.

Lu Feng melepaskan pelukannya, menghapus sisa air mata di pipi Lin Xiao menggunakan ibu jarinya. "Makan malamnya di mobil aja ya. Gue bawa mobil hari ini. Baru beli *second*, tapi lumayan buat nganter jemput lo biar nggak perlu dempet-dempetan di *subway* lagi."

Mata Lin Xiao membulat kaget. "Kamu beli mobil?!"

"Iya, demi Ibu Pengacara biar sepatunya nggak rusak jalan kaki dari stasiun," Lu Feng mengedipkan sebelah matanya jahil. "Ayo, makanannya keburu dingin."

***

Mobil SUV hitam itu terparkir di tepi jalanan Beijing yang lengang malam itu. Di dalamnya, Lin Xiao sedang makan *dimsum* hangat dengan lahap, sementara Lu Feng duduk di kursi kemudi, menatap pacarnya sambil menopang dagu.

"Jadi, kapan kontrak magang lo di firma neraka itu kelar?" tanya Lu Feng tiba-tiba.

"Masih tiga bulan lagi. Kenapa?" Lin Xiao mengunyah *hakau* udang kesukaannya.

"Begitu kelar, lo langsung keluar dari sana. Nggak usah diperpanjang, apalagi ngelamar jadi *associate* di situ," putus Lu Feng dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Lin Xiao berhenti mengunyah, menatap Lu Feng dengan dahi berkerut. "Tapi 'Tianhe & Partners' itu batu loncatan terbaik untuk karierku, Lu Feng. Relasinya sangat kuat."

"Persetan sama batu loncatan kalau ujung-ujungnya bikin lo nangis di lobi tiap malam," Lu Feng menukas cepat, matanya memancarkan keseriusan yang mutlak.

Cowok itu mengambil tisu, mengusap sudut bibir Lin Xiao, lalu menatap cewek itu lekat-lekat.

"Xiao, lo inget janji gue waktu kita makan *hotpot* dulu?" suara Lu Feng berubah sangat dalam dan rendah. "Gue bilang gue bakal jadi benteng terkuat lo. Gue bakal nyediain tempat di mana lo bisa jadi pengacara sebebas yang lo mau, tanpa harus tunduk sama senior yang sok berkuasa."

Lin Xiao terdiam. Tentu saja ia ingat. Itu adalah janji terindah yang pernah ia dengar.

"Perusahaan gue (*Campus Relay*) bulan depan bakal naik tingkat jadi PT (Perseroan Terbatas) secara resmi," Lu Feng melanjutkan, matanya memancarkan kebanggaan dan ambisi seorang pebisnis muda. "Kita butuh departemen legal in-house yang solid buat ngurusin kontrak investor, perizinan operasi, dan perlindungan *copyright* aplikasi."

Jantung Lin Xiao berdetak satu ketukan lebih cepat. Ia mulai menyadari ke mana arah pembicaraan ini.

Lu Feng mencondongkan tubuhnya melintasi konsol tengah mobil, menatap mata Lin Xiao dengan jarak yang sangat dekat.

"Lin Xiao," panggil Lu Feng, suaranya kini berubah sangat formal namun dipenuhi afeksi. "Begitu lo lulus ujian advokat tahun depan... gue mau lo jadi Kepala Departemen Legal di perusahaan gue. Lo nggak perlu lagi jadi *babu fotokopi* buat pengacara sombong. Di perusahaan gue, lo yang bikin aturan. Lo yang nentuin mana kontrak yang adil dan mana yang enggak."

Napas Lin Xiao tercekat di tenggorokan. Ini bukan lagi janji manis anak kuliahan. Ini adalah tawaran posisi eksekutif dari seorang CEO *startup* yang sedang berkembang pesat. Lu Feng benar-benar merealisasikan mimpinya untuk membangun kerajaan kecil di mana Lin Xiao bisa bertakhta dengan bebas.

"Lu Feng... tapi pengalamanku..."

"Gue nggak peduli sama pengalaman lo di tempat lain. Pengalaman yang gue tau cuma satu: lo adalah orang yang berhasil bikin cowok paling berandal di Jiangcheng masuk Universitas Beijing," potong Lu Feng mantap, senyum miringnya terukir jelas. "Kalau lo bisa *manage* berandal kayak gue, *manage* kontrak investor mah perkara kecil buat lo."

Lin Xiao tertawa pelan, air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menaruh sumpitnya, lalu menubrukkan dirinya memeluk leher Lu Feng melintasi kursi mobil.

"Kamu ini selalu saja punya cara untuk membuatku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia," bisik Lin Xiao parau di ceruk leher Lu Feng.

Lu Feng membalas pelukan itu tak kalah erat, menghirup dalam-dalam aroma parfum Lin Xiao. "Karena gue juga ngerasa jadi cowok paling beruntung bisa milikin lo, Ketua Kelas."

Di dalam SUV hitam di pinggir jalanan Beijing yang dingin itu, sebuah kesepakatan profesional dan personal baru saja terjalin. Lin Xiao tahu, dunia hukum mungkin kotor dan penuh senioritas, namun selama ia berada di dalam naungan 'benteng' yang dibangun oleh Kang Lu Feng, ia tidak perlu lagi takut pada siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!