Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 (KASUS 1) AURA GELAP DI ATAS PLAFON
Gemericik air mengalir deras dari keran otomatis di ruang persiapan steril Dokpol Bhayangkara.
Sekarang, dr. Haruma sedang berdiri menatap pantulan dirinya di cermin besar di atas wastafel stainless steel. Kedua tangannya terulur di bawah aliran air hangat, menggosok jemari, telapak, hingga siku dengan sabun antiseptik sesuai standar prosedur bedah forensik.
Meskipun gerakan tangannya terlihat begitu terampil dan mekanis karena sudah menjadi rutinitas harian, pikiran Haruma sama sekali tidak berada di dalam ruangan dingin bernuansa serba hijau pupus itu.
Pikirannya masih tertinggal di lantai 35 Penthouse Cempaka Putih.
Lebih tepatnya, pikiran Haruma masih melayang tepat di atas tempat tidur berseprai sutra abu-abu tempat jasad Jonathan Nasution ditemukan.
.....
“Di atas plafon... tepat tegak lurus di atas posisi kepala Jonathan... mata batin aku ngelihat gumpalan kabut hitam pekat. Bentuknya mirip sepasang telapak tangan raksasa dengan jari-jari yang panjang, kurus, dan membengkok tajam...”
.....
Kalimat adik keduanya di dalam mobil tadi terus bergema berulang-ulang di dalam kepala Haruma. Setiap kali kata-kata itu terngiang, bulu kuduk di tengkuk Haruma berdiri seketika.
Pintu geser ruang persiapan mendadak berbunyi, membuyarkan lamunan Haruma.
Bripda Bowo melangkah masuk sambil membawa papan rekam medis tebal berbahan besi.
"Dokter Haruma, jasad atas nama Jonathan Nasution sudah dipindahkan ke atas meja bedah 1," lapor Bowo dengan bahasa yang sopan dan profesional. "Suhu ruangan dan lampu op-lamp sudah disesuaikan."
Haruma mematikan keran air menggunakan injakan pedal kaki, lalu mengambil kain handuk steril untuk mengeringkan tangannya. "Terima kasih, Bowo. Bagaimana dokumen penyerahan dari tim penyidik Jatanras? Sudah lengkap?"
"Sudah lengkap, Dok. Surat permintaan visum sudah ditandatangani langsung oleh Ipda Harumi," jawab Bowo sambil menyerahkan lembaran kertas laporan awal. Namun, wajah asisten muda itu tampak sedikit ragu. "Tapi... maaf, Dok. Ada satu hal yang agak tidak biasa."
Haruma menghentikan usapan handuk di tangannya, menatap asistennya itu dengan tenang. "Ada apa, Bowo? Katakan saja."
"Anu, Dok... waktu kami menurunkan kantong jenazah dari mobil ambulans tadi, beberapa orang berjas rapi dari pihak pengacara perusahaan korban sempat menghadang kami di koridor luar," terang Bowo dengan nada agak serba salah. "Mereka menanyakan kenapa harus dilakukan pembedahan utuh. Kata mereka, kematian Pak Jonathan ini sudah jelas karena penyakit alami, dan mereka mengancam akan melaporkan prosedur ini jika kita merusak jasad korban."
Haruma menghela napas pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang memancarkan ketegangan sekaligus wibawa seorang dokter senior.
"Bowo, tugas kita di laboratorium ini bertanggung jawab pada hukum dan kebenaran, bukan pada gertakan pengacara," ujar Haruma dengan nada suara profesional namun sangat menenangkan. "Kalau ada pihak luar yang keberatan, arahkan mereka untuk bicara langsung dengan Kanit Jatanras, Ipda Harumi. Begitu prosedurnya, kan?"
"Siap, Dok! Betul sekali!" jawab Bowo cepat, tampak lega mendengar ketegasan dokternya. "Saya cuma agak risih saja, Dok. Pengacara itu ngomongnya tinggi sekali, seolah-olah polisi dan tim forensik ini bisa diatur pakai uang mereka."
"Biarkan saja. Di atas meja bedah nanti, orang kaya atau orang miskin kedudukannya sama di hadapan ilmu forensik," balas Haruma bijak. "Sekarang, tolong siapkan set pisau bedah nomor 10, gergaji tulang tengkorak, dan tabung sampel toksikologi steril. Saya akan menyusul dalam 5 menit."
"Baik, Dokter Haruma. Saya siapkan sekarang," pamit Bowo sambil membungkuk sopan, lalu berbalik melangkah keluar menuju ruang bedah utama.
Begitu pintu geser kembali tertutup rapat dan menyisakan Haruma sendirian, ruangan persiapan itu kembali hening.
Haruma melangkah mendekati meja rias steril. Ia meraih apron plastik tebal berwarna hijau transparan, menyarungkannya ke tubuhnya, lalu memasang dua lapis sarung tangan karet di kedua telapak tangannya.
Saat sedang merapikan lipatan sarung tangan karetnya, ponsel pintar milik Haruma yang tergeletak di atas meja nakas bergetar nyaring.
Nama yang tertera di layar ponsel pintarnya itu seketika membuat sudut bibirnya mengembang hangat: "Harumi Si Bawel".
Haruma menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponselnya ke telinga menggunakan bahunya sambil tetap merapikan apron.
"Halo, Dek? Kamu udah sampe di kantor Satreskrim?" sapa Haruma dengan bahasa sehari-hari yang sangat renyah dan santai.
"Udah, Kak! Ini baru aja duduk di kursi meja kerjaku," sahut suara Harumi dari balik telepon. Suasana di seberang sana terdengar agak bising oleh lalu lalang anggota polisi.
"Gimana di sana? Jasadnya Jonathan udah siap dibedah?" tanya adiknya itu.
"Ini Kakak lagi siap-siap cuci tangan sama pakai apron, sebentar lagi masuk ruang bedah, hehe..." cerita Haruma. Ia terkekeh pelan. "Tadi Bowo sempet cerita, katanya anak buahmu diadang pengacara Budiarto itu pas mau nurunin kantong jenazah di luar."
Di seberang telepon, Harumi terdengar mendengus geli. "Halah, si Budiarto itu emang agak kebangetan lagaknya, Kak! Tadi pas di ruang penyidik aja dia sempet-sempetnya sengaja nyenggol-nyenggol nama Kapolda. Katanya PT. Cipta Buana Investco itu penyumbang dana kegiatan sosial kepolisian. Dikiranya aku bakal ciut kali ya? Hihihi..."
"Terus kamu jawab apa, Rumi?" tanyak Haruma penasaran.
"Ya aku tembak balik aja dengan santai, Kak," jawab Harumi terkekeh puas. "Aku bilang aja, --'Pak Budiarto yang terhormat, mau perusahaan Anda nyumbang helikopter buat kepolisian pun, kalau ada jasad warga tewas melotot di ruang tertutup, prosedur hukum tetap nomor satu. Kalau Bapak keberatan, silakan gugat saya di pra-peradilan.'-- Langsung kicep dia, Kak! Hahaha... Muka klimisnya sampai berubah agak merah gitu, Hahaha!"
Haruma tertawa renyah membayangkan ekspresi pengacara borjuis itu saat disemprot adiknya. "Kamu tuh emang nggak ada takut-takutnya dari dulu kalau soal prinsip, Dek. Kakak juga bangga banget sama keberanianmu tadi di penthouse."
"Harus tegas dong, Kak... Kalo polisi gampang digertak pengacara kaya raya, kasihan masyarakat kecil yang nyari keadilan," sahut Harumi dengan nada hangat. Namun, intonasi suaranya mendadak memelan dan berubah serius.
"Tapi jujur ya, Kak... pas aku dalam perjalanan balik ke kantor tadi, pikiran tentang bayangan tangan raksasa di plafon itu masih bikin merinding." ucap Harumi.
Haruma menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan hairnet penutup rambut. "Iya, Rumi. Kakak dari tadi pas cuci tangan juga mikirin ucapanmu itu terus."
"Kakak percaya kan sama apa yang aku lihat tadi?" tanya Harumi memastikan.
"Satu persen pun Kakak nggak pernah ragu sama mata batinmu, Dek," jawab Haruma tulus.
"Sejak sepuluh tahun lalu pas kita ngelewatin masa-masa kelam Santet Parenggut Sukma yang hampir aja bikin kamu gorok leher sendiri pake pisau daging punya Ibu, Kakak tahu mata batinmu itu adalah anugerah sekaligus pengingat buat keluarga kita. Pas kamu bilang ada aura bayangan tangan raksasa yang cengkeram dari atas plafon, Kakak tahu kita nggak lagi berhadapan sama penjahat jalanan biasa." jelas Haruma.
"Pasti ada master sihir tingkat tinggi di balik kasus ini, Kak," bisik Harumi prihatin. "Makanya aku ngotot banget nolak kasus ini ditutup sebagai kematian serangan jantung biasa. Kalo kita turuti kemauan pengacara itu, bakal makin banyak tumbal-tumbal berikutnya yang bernasib sama kayak Jonathan."
Haruma menatap pantulan dirinya di cermin, merasa sangat kagum atas kedewasaan dan keteguhan moral adik bungsunya itu.
Harumi yang sekarang, bukan sekadar polisi wanita yang mengandalkan lencana dan pistol, melainkan sosok penegak keadilan yang memiliki benteng iman dan keberanian luar biasa.
"Keputusanmu buat nolak nutup kasus itu udah tepat banget, Dek," puji Haruma lembut. "Kalo cuma ngerawat jasad dan membedah fisiknya, Kakak bisa lakuin itu dengan pisau bedah. Tapi buat ngebuka kejahatan yang tersembunyi di balik kekuasaan dan sihir hitam kelas tinggi seperti ini, butuh keberanian besar seperti yang kamu punya."
"Makasih ya, Kak Ruma... selalu jadi penguat buat Rumi..." sahut Harumi dari balik telepon, suaranya terdengar sangat tersentuh. "Ya udah, Kakak fokus dulu buat pembedahan ya. Nanti kalo ada temuan aneh dari organ dalam Jonathan, langsung kabari Rumi."
"Siap, Adikku yang bawel... Kamu juga hati-hati ngelacak berkas transaksinya di kantor," pesan Haruma hangat.
"Siap, Kak! Dahhh... Kak Haruma!"
"Dahhh Rumiii..."
Klik.
Sambungan telepon terputus.
Haruma meletakkan ponsel pintarnya kembali ke atas meja nakas.
Haruma menarik napas panjang, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya sebelum menghembuskannya perlahan. Ia melangkah mendekati cermin sekali lagi untuk memastikan masker medis tebal dan kacamata visil beningnya terpasang rapi menutupi wajahnya.
Sambil merapikan pelindung wajahnya, bayangan sosok Harumi kembali menari-nari di ingatan Haruma.
Ia teringat betapa rapuhnya Harumi 10 tahun yang lalu.
Saat itu, Harumi hanyalah seorang gadis kecil berusia 18 tahun yang terbaring pucat, menangis ketakutan di atas kasur karena pengaruh santet iblis yang mencoba menguasai sukmanya.
Haruma masih ingat betul bagaimana pergelangan kedua tangan dan kedua kaki adiknya itu harus diikat dengan tambang kain milik Kakek mereka agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
Namun kini...
Lihatlah adiknya itu. Harumi.
Gadis kecil yang dulu hampir direnggut sukmanya oleh iblis Cirebon kini telah berdiri begitu gagah. Dengan seragam cokelat kepolisian, pangkat Inspektur Dua di bahunya, serta "mata batin murni" yang menyala-nyala, Harumi menjadi sosok pelindung masyarakat yang sangat disegani.
Keberanian Harumi menolak desakan pengacara kaya berjas mahal di lantai penthouse tadi adalah bukti nyata bahwa trauma masa lalu tidak menghancurkannya, melainkan menempanya menjadi baja yang teramat kuat.
“Bayangan tangan raksasa di atas plafon...” gumam Haruma pelan di balik maskernya.
Haruma mengepalkan kedua telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan steril. Keberanian Harumi menolak menutup kasus telah memberikannya tanggung jawab besar di dalam ruang otopsi ini.
Jika Harumi berani mempertaruhkan jabatan dan reputasinya di lapangan untuk menolak kebohongan pihak pengacara, maka Haruma sebagai dokter forensik harus bekerja dua kali lebih keras untuk menemukan bukti medis tak terbantahkan di atas meja bedah.
Sihir pencuri usia itu boleh saja membunuh Jonathan tanpa menyisakan segores luka pun di permukaan kulit.
Namun di bawah ketelitian irisan pisau bedahnya dan dengan panduan batin perewangannya (Sekar Arum) Haruma bersumpah akan membongkar setiap rahasia busuk yang tersembunyi di balik jaringan organ dalam jasad tersebut.
Haruma memutar tubuhnya. Langkah kakinya terdengar mantap saat menyeberangi ruang persiapan menuju ke arah dua pintu besi tebal bersimbol Biohazard yang memisahkan ruang steril dengan ruang otopsi utama.
Namun...
Tepat saat jemari Haruma hendak menekan tombol pembuka pintu otomatis ruang bedah, di tempat lain pada detik yang sama—di dalam gedung markas besar kepolisian yang megah—sebuah gelombang tekanan raksasa yang jauh lebih berbahaya dari gertakan Budiarto sang pengacara kaya raya mulai bergerak diam-diam.
Ponsel para petinggi kepolisian mulai berdering tanpa henti.
Telepon-telepon dari para pejabat tinggi pemerintahan...
Komisaris utama bank nasional negara Indonesia...
Hingga jajaran direksi PT. Cipta Buana Investco mulai meluncur deras.
Membawa "ancaman" dan desakan "politik tingkat tinggi" agar kasus kematian Jonathan Nasution segera dihentikan detik itu juga demi menyelamatkan nilai saham perusahaan yang mulai anjlok.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu