"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Laboratorium bawah tanah di rumah Mahendra tidak pernah diketahui keluarga Mahendra.
Ironis, karena selama lima tahun ruangan itu berada tepat di bawah ruang keluarga tempat Bu Ratna menonton sinetron dan menyuruh Naira membuat teh.
Pintu masuknya tersembunyi di balik lemari penyimpanan lama dekat dapur belakang. Dulu, Naira membuat akses itu dengan bantuan teknisi dari keluarga Atmadja. Ia bekerja di sana setelah semua orang tidur, memakai headphone agar tidak mendengar suara televisi dari atas.
Malam itu, pintu rahasia itu terbuka.
Lampu koridor bawah tanah menyala biru pucat.
Clara berdiri di depan panel akses kedua, memakai sarung tangan medis. Di tangannya ada flash drive kecil. Wajahnya tegang, tetapi matanya menyala oleh sesuatu yang lebih kuat daripada takut.
"Cepat," bisik seorang perempuan di telepon. "Kamu cuma perlu salin folder formula awal."
"Panelnya minta verifikasi biometrik."
"Kamu bilang rumah itu milik keluarga Mahendra."
Clara menggertakkan gigi. "Aku juga baru tahu ada bunker begini."
Di belakangnya, Rendi berdiri gelisah.
Ia tidak ingin berada di sana. Clara memaksanya dengan alasan Dimas perlu mengetahui apa yang Naira sembunyikan. Rendi memang takut perusahaan jatuh. Ia juga takut kehilangan pekerjaan. Jadi ia membuka akses rumah dengan kartu staf lama dan menutup mata terhadap sisanya.
"Dokter Clara, ini salah," bisiknya.
Clara menoleh tajam. "Yang salah itu Naira. Dia menyimpan aset perusahaan di bawah rumah keluarga Mahendra."
"Tapi kalau ini milik Bu Naira..."
"Kamu mau perusahaan hancur?"
Rendi diam.
Clara kembali menatap panel.
Tiba-tiba layar menyala merah.
AKSES ILEGAL TERDETEKSI.
PENGUNCIAN OTOMATIS DIMULAI.
Pintu koridor di belakang mereka tertutup dengan suara berat.
Rendi panik. "Dok!"
Clara menekan panel berkali-kali. "Kenapa terkunci?"
Speaker kecil di sudut ruangan menyala.
Suara Naira terdengar jernih.
"Karena kamu bukan pemiliknya."
Clara membeku.
Di layar panel, kamera kecil bergerak mengarah ke wajahnya.
Naira sedang menonton dari mobil dalam perjalanan. Di sampingnya, Bagas mengendalikan sistem lewat tablet.
"Mbak Naira," kata Clara cepat. "Ini salah paham."
"Kamu berdiri di laboratorium pribadi saya dengan flash drive di tangan."
"Aku cuma ingin memastikan tidak ada data perusahaan yang..."
"Clara."
Satu kata itu membuatnya berhenti.
Suara Naira tidak tinggi. Justru karena tidak tinggi, Clara merasa seperti sedang dibedah hidup-hidup.
"Letakkan flash drive di lantai. Mundur tiga langkah. Tunggu keamanan membuka pintu."
Rendi langsung patuh. "Bu Naira, saya minta maaf. Saya..."
"Kamu akan menjelaskan kepada polisi dan pengacara."
Wajah Rendi pucat.
Clara masih mencoba. "Mbak, kalau ini dilaporkan, karierku bisa..."
"Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum mencoba mencuri."
"Aku tidak mencuri!"
"Kamu ingin aku putar rekaman teleponmu?"
Clara membeku.
Di dalam mobil, Naira menatap layar. Wajah Clara di kamera terlihat berbeda dari wajah yang biasa ia tunjukkan di depan Dimas. Tidak ada air mata. Tidak ada kelembutan. Hanya marah dan takut kehilangan panggung.
Bagas bertanya, "Non ingin langsung lapor polisi?"
"Ya."
"Pak Dimas sedang menuju rumah."
"Biarkan dia melihat."
Ketika Naira tiba, halaman rumah Mahendra sudah ramai. Mobil keamanan Atmadja, mobil Dimas, dan satu mobil patroli polisi berdiri di depan garasi. Bu Ratna keluar dengan daster, wajah panik.
"Ada apa ini? Kenapa polisi masuk rumah saya?"
Naira menatapnya. "Rumah saya."
Bu Ratna terdiam, lalu marah lagi. "Kamu sengaja membuat malu keluarga kami!"
"Keluarga Ibu membobol laboratorium saya."
"Laboratorium apa? Di rumah ini tidak ada..."
Kata-katanya mati ketika pintu lemari belakang terbuka dan dua petugas keamanan membawa Clara keluar dari koridor bawah tanah. Rendi berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk.
Dimas datang beberapa detik kemudian.
Ia berhenti saat melihat Clara.
"Clara?"
Clara langsung menangis.
"Mas, aku dijebak."
Naira hampir mengagumi kecepatannya.
Dimas menatap Clara, lalu Naira, lalu petugas polisi yang memegang flash drive sebagai barang bukti.
"Apa yang terjadi?"
Maya maju, menyerahkan salinan laporan awal. "Dr. Clara Larasati dan Saudara Rendi memasuki laboratorium pribadi Ibu Naira tanpa izin dan mencoba menyalin data. Semua terekam."
"Tidak!" Clara menangis. "Aku hanya ingin membantu Mas. Perusahaan Mas sedang terancam. Aku pikir mungkin ada dokumen yang bisa menjelaskan..."
Naira menatap Dimas. "Ini yang kamu maksud dengan bicara sebagai penanggung jawab perusahaan?"
Dimas tampak terpukul. "Aku tidak tahu."
"Kamu selalu tidak tahu."
Clara memegang lengan Dimas. "Mas, percaya padaku. Aku hanya..."
Dimas tidak langsung menarik tangannya.
Naira melihat itu.
Sakitnya tidak seperti dulu. Lebih tumpul. Lebih seperti melihat kebiasaan lama yang akhirnya kehilangan kuasa.
"Pak Dimas," kata polisi. "Kami perlu meminta keterangan semua pihak."
Bu Ratna langsung bersuara, "Tidak perlu dibesar-besarkan. Clara itu dokter baik-baik. Pasti cuma salah paham."
Naira menatap Bu Ratna. "Kalau saya yang masuk rumah Clara tengah malam dan mencoba menyalin data, Ibu masih menyebutnya salah paham?"
Bu Ratna membuka mulut, tidak menemukan jawaban.
Dimas akhirnya melepas tangan Clara.
Clara menatapnya tidak percaya.
"Mas?"
Dimas berkata pelan, "Kalau kamu tidak salah, jelaskan di kantor polisi."
Air mata Clara berhenti sebentar.
Itu bukan jawaban yang ia harapkan.
Naira memberi isyarat kepada Bagas. "Kunci ulang semua akses. Mulai malam ini, tidak ada keluarga Mahendra yang boleh masuk area bawah tanah."
"Baik, Non."
Dimas menatap pintu rahasia itu.
"Selama ini kamu bekerja di sana?"
"Iya."
"Di bawah rumah kita?"
"Rumah saya."
Koreksi itu pelan, tapi jelas.
Dimas memejamkan mata.
Ia membayangkan Naira turun ke ruang bawah tanah setelah membuatkan ibunya teh. Setelah menyiapkan makan malam. Setelah menerima hinaan. Ia membayangkan lampu biru pucat, meja laboratorium, dan istrinya sendirian melanjutkan penelitian yang jauh lebih besar daripada semua rapatnya.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang?"
Naira menatapnya.
"Karena kamu bahkan tidak percaya aku bisa membaca undangan medis."
Tidak ada yang bisa menjawab.
Polisi membawa Clara dan Rendi untuk pemeriksaan. Clara masih mencoba menoleh kepada Dimas, tetapi Dimas tidak bergerak.
Naira hendak masuk mobil ketika Dimas memanggilnya.
"Apa yang ada di lab itu?"
Naira berhenti.
"Sesuatu yang ibuku mati-matian lindungi."
"Dan Clara hampir mengambilnya?"
"Clara hanya tangan. Aku ingin tahu siapa yang menyuruh."
Dimas menatap mobil polisi yang mulai bergerak.
Untuk pertama kali, ia tidak yakin lagi bahwa Clara sekadar perempuan lembut yang terseret keadaan.
Di kursi belakang mobil polisi, Clara menunduk, menggenggam ponsel yang sempat ia sembunyikan di balik lengan jas.
Pesan dari huruf C muncul.
Kamu gagal. Jangan sebut nama kami.
Clara menatap layar.
Untuk pertama kali, ia merasa orang yang ia dekati mungkin jauh lebih berbahaya daripada Naira.
Di halaman rumah, Dimas melihat mobil polisi menjauh.
Bu Ratna masih marah, tetapi suaranya mulai kehilangan keyakinan. "Clara pasti dijebak. Anak itu baik. Dia sopan. Dia tidak mungkin mencuri."
Dimas menatap pintu rahasia yang sudah kembali tertutup.
"Ma, sopan bukan berarti benar."
Bu Ratna terkejut. "Kamu sekarang percaya Naira daripada Clara?"
Dimas tidak langsung menjawab.
Kalau dulu, ia akan berkata bukan begitu. Ia akan melunakkan kalimat agar ibunya tidak tersinggung. Sekarang ia lelah pada semua pelunakan yang membuat Naira hancur pelan-pelan.
"Aku percaya rekaman," katanya.
Bu Ratna memucat karena jawaban itu tidak memberi ruang untuk drama.
Dimas berjalan ke dapur belakang. Ia menyentuh lemari yang menyembunyikan pintu lab.
Selama lima tahun, rahasia sebesar itu ada di rumahnya.
Bukan karena Naira terlalu pandai menyembunyikan.
Karena ia terlalu bodoh melihat.
Ia kembali ke ruang keluarga dan menemukan Bu Ratna duduk kaku.
"Dimas, kamu tidak boleh membiarkan Naira membawa polisi lagi ke rumah ini."
Dimas menatap ibunya. "Kalau tidak ada yang melanggar, polisi tidak akan datang."
Bu Ratna seperti tidak mengenal putranya.
"Kamu berubah."
Dimas hampir tertawa. Kalimat itu sama seperti yang pernah ia ucapkan kepada Naira.
Mungkin perubahan memang selalu terlihat mengganggu bagi orang yang diuntungkan oleh kebiasaan lama.
"Mungkin aku baru terlambat melihat," katanya.