Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan dari Puncak Kelam
Sinar matahari pagi menyiram permukaan laut utara yang kini kembali tenang, memancarkan pendar keemasan di atas batuan Karang Hitam. Belasan nelayan yang berhasil diselamatkan perlahan dievakuasi oleh Baskara dan Mbak Sekar menuju pemukiman terdekat di atas tebing. Rasa lega melingkupi tempat itu, tetapi Arya tahu perjalanan mereka masih jauh dari kata usai.
Arya membuka kembali peta kulit lembu tua di genggamannya. Di atas permukaan kulit yang kusam, empat dari tujuh lingkaran cabang telah padam sepenuhnya—Desa Alas Mayit, Hutan Kelabu, Lembah Rawa Bangkai, dan Pesisir Karang Hitam. Namun, tiga garis tersisa mendadak bergetar hebat, memancarkan pendar merah membara yang kian pekat alih-alih meredup.
Garis kelima menjalar curam ke arah pegunungan tengah Jawa, menunjuk tepat ke sebuah kawah terisolasi yang diselimuti kabut asap beracun: Kawah Candradimuka.
Dari titik cabang kelima di peta tersebut, meletup aroma uap belerang panas yang mencekat tenggorokan, diiringi gelembung-gelembung cairan merah darah yang mendidih. Suara bisikan gaib yang berat dan bergetar bergema pelan dari balik lapisan kulit lembu tua.
"Cabang kelima..." bisik Kirana seraya melangkah mendekat, matanya menatap lekat pada titik kawah yang bergejolak. "Kawah Candradimuka adalah wilayah kekuasaan Ki Ageng Sembrani—tetua sekte yang menempa pusaka-pusaka keramat Kala Hitam menggunakan lelehan lahar dingin dan darah seribu tumbal."
Mbak Sekar yang baru kembali dari geladak kapal merapatkan selendangnya dengan raut wajah tegang. "Sembrani bukan sekadar petarung, Arya. Dia adalah pembuat jangkar gaib sekte. Jika tiga cabang terakhir ini menyatu energinya, Bangkitnya Sang Penguasa Abadi tidak akan bisa dicegah lagi!"
Arya memusatkan pandangannya pada garis merah kelima yang membara. Pendar keemasan Minyak Naga Sakti di dalam dadanya bergejolak hangat, seolah menyambut tantangan berbahaya di puncak gunung tersebut. Tanpa ragu, ia memadatkan energi di jemarinya dan menggulung kembali peta mori hitam itu rapat-rapat.
"Kita berangkat ke Kawah Candradimuka sekarang," tegas Arya seraya menatap ke arah pegunungan di ufuk selatan. "Jangan biarkan Ki Ageng Sembrani menyelesaikan tempaan pusaka terakhirnya!"
Arya memusatkan pandangannya pada garis merah kelima yang membara. Pendar keemasan Minyak Naga Sakti di dalam dadanya bergejolak hangat, seolah menyambut tantangan berbahaya di puncak gunung tersebut. Tanpa ragu, ia memadatkan energi di jemarinya dan menggulung kembali peta mori hitam itu rapat-rapat.
"Kita berangkat ke Kawah Candradimuka sekarang," tegas Arya seraya menatap ke arah pegunungan di ufuk selatan. "Jangan biarkan Ki Ageng Sembrani menyelesaikan tempaan pusaka terakhirnya!"
Perjalanan menuju pegunungan tengah membawa rombongan Arya menembus Hutan Jati Tua yang kian menanjak terjal. Udara laut yang asin kini sepenuhnya berganti menjadi uap panas membakar, berbau belerang pekat yang menusuk hidung dan menyengat mata. Semakin mendekati puncak Kawah Candradimuka, tanah yang mereka pijak terasa hangat dan bergetar secara berkala, diiringi dentuman berat dari dalam perut bumi yang bergema seperti detak jantung monster raksasa.
Di bibir kawah yang menganga lebar, kabut asap merah-kehitaman membumbung tinggi menutupi langit siang. Di dasar kawah terjal tersebut, bukannya lahar oranye alami yang bergolak, melainkan telaga cairan besi membara berwarna merah darah. Di tengah telaga cairan membara itu, berdiri sebuah landasan tempa batu hitam raksasa yang dihubungkan oleh empat rantai perunggu berukuran selebar dada manusia ke dinding-dinding kawah.
"Itu adalah Paron Jiwa," bisik Kirana seraya menahan uap panas dengan jubah hitamnya. Rajah ular berkepala tiga di tangannya bergetar kencang, memancarkan warna merah menyala. "Di atas batu tempa itu, Ki Ageng Sembrani meleburkan jiwa-jiwa tumbal untuk dijadikan bahan pusaka utama sekte!"
Di atas landasan batu hitam, berdiri seorang pria tua bertubuh kekar berotot bagaikan tembaga, bertelanjang dada dengan tubuh yang dipenuhi bekas luka bakar berajah emas. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah palu besi raksasa yang terus memancarkan percikan api merah. Setiap kali palu itu dihantamkan ke atas sebilah keris raksasa yang terbaring di atas landasan, dentuman keras bergema memecahkan udara kawah, memicu jeritan histeris dari puluhan bayangan jiwa yang terperangkap di dalam cairan tempaan.
Dialah Ki Ageng Sembrani—pimpinan cabang kelima sekte Kala Hitam.
"Empat jangkar telah hancur, namun tempaan Pusaka Sewu milikku tak akan pernah berhenti!" raung Ki Ageng Sembrani dengan suara seberat gemuruh lahar, matanya memancarkan pendar api membara saat menatap rombongan Arya di bibir kawah.
Ia menghantamkan palu raksasanya ke atas landasan batu sekali lagi.
BUMMM!
Gelombang kejut berupa lidah api merah darah meletup dari dasar kawah, meluncur deras menaiki dinding tebing dan menerjang lurus ke arah Arya, Baskara, Mbak Sekar, dan Kirana.
mampir juga diceritaku yah😊