"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Insiden Luka
Malam kian larut, figur yang Kate tunggu belum juga menampakkan wajahnya di kediaman mereka. Bohong kalau Kate bilang dia baik-baik saja, dia mulai merasa bosan dan kesal.
“Apakah mengecek laporan bisa selama ini?” ujarnya bergumam sambil bersedekap dada.
Kate berdiri di dekat pintu utama, menunggu Salvatore pulang. Meski dia akan menyangkal hal tersebut jika ada yang berani menanyakannya.
“Masih menunggu tuan jenderal, nyonya?” Tanya salah seorang kepala dayang kediaman Ardan.
Pertanyaan dan kedatangannya yang tiba-tiba sempat membuat Kate terkejut. Dia langsung memasang wajah datar, membuang jauh-jauh ekspresi khawatir dan menunggunya. “Tidak,” potongnya cepat. “Aku hanya bosan di kamar dan kebetulan udara di sini lebih jernih,” alibinya.
Sang kepala dayang kediaman Ardan yang mulai memahami bagaimana cara pikir sang nyonya Ardan bekerja hanya bisa tersenyum simpul, mengerti sekali apa yang sebenarnya terjadi. “Oh, begitu. Memang disini udara lebih terasa segar ya, nyonya,” lanjutnya tersenyum sopan.
Kate hanya mengangguk kecil, menolak menunjukan kalau dia sedang menunggu Salvatore meski sebenarnya, saat bunyi tapak kaki kuda terdengar dari luar, dia langsung menoleh dengan cepat.
“Oh, ada suara. Mungkin tuan sudah pulang,” kata sang kepala pelayan.
Lagi-lagi, mencoba menutupi fakta kalau dia sedang menunggu Salvatore, Kate hanya mendengkus kecil. “Mungkin saja, lagipula hari sudah malam, wajar kalau dia sudah pulang.”
Padahal di dalam hati dia sedang mengutuki suaminya karena pulang lebih telat daripada biasanya. Apa yang menyebabkan dia lama sekali? Apa dia bercengkrama dan makan malam berdua dulu dengan Sonia saat perjalanan pulang? Ketusnya di dalam hati.
“Mau keluar menyambut kepulangan Tuan, Nyonya?” Tawar sang kepala pelayan yang sudah siap melangkahkan kakinya.
Kate menoleh. Bisa saja dia melakukan itu. Tapi gengsi seorang Katherine Raventhal itu lebih tinggi daripada bulan purnama yang sedang bersinar. Dia justru mengangkat dagunya dan berbalik. “Tidak, aku sudah cukup menghirup udara segar dan mau kembali ke kamar.”
Alibi lain.
Padahal sang kepala pelayan tahu jelas kalau Kate ingin segera kembali ke kamar agar tidak ketahuan menunggu suaminya datang. Namun sang kepala pelayan tidak punya hak untuk mendobrak alibi sang nyonya.
“Baiklah kalau begitu, nyonya. Selamat malam,” pamitnya tersenyum sopan.
Langkah kaki tegap milik sang Nyonya Ardan memenuhi koridor malam yang sunyi itu. “Aku tidak berdiri disana untuk menunggu si jenderal batu, aku cuma tidak bisa tidur. Ya, tidak bisa tidur dan membutuhkan udara segar untuk aku hirup,” gumamnya sepanjang perjalanan meyakinkan dirinya sendiri.
Begitu Kate sampai di depan pintu kamar utama, dia terlonjak kaget karena seseorang yang sudah berdiri di dekat pintu seperti seorang penjaga.
Bukan, tentu saja bukan Salvatore yang jelas-jelas masih berada di luar. Yang ada disana dan sukses membuat Kate kaget tidak lain dan tidak bukan adalah Rhea, dayang pribadinya yang seharusnya jam segini sudah tidur.
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Kate ketus sambil bersedekap dada. Ia memandang Rhea dengan tatapan jutek tapi penuh tanda tanya.
Rhea merapikan gaun dayangnya dan menghadap ke sang nyonya. “Seharusnya saya yang bertanya seperti itu kepada Anda, Nona. Kenapa Anda disini? Jenderal Ardan baru saja pulang, seharusnya Anda ada disana untuk—”
“Untuk apa?” Potong Kate galak. “Untuk menyambutnya? Tidak akan pernah aku lakukan,” lanjutnya.
“Bukan untuk menyambutnya, Nona. Tapi untuk membantu beliau mengobati lukanya.
Memangnya Anda rela lengan suami Anda di sentuh-sentuh perempuan lain dengan dalih membantu membalut luka?”
Seketika kalimat ketus yang hendak Kate lontarkan hilang seketika. Rasa khawatirnya mendadak datang. “Luka? Apa maksudnya, Rhea? Jenderal batu itu terluka?”
Rhea menganggukkan kepalanya. “Iya. Katanya saat pulang mereka dihadang oleh bandit. Karena melindungi Lady Sonia, lengan Jenderal sempat terluka. Mungkin itu juga alasan kenapa beliau pulang terlambat.”
"Apa kau bilang?" gumam Kate, suaranya mendadak tertahan di tenggorokan.
Rhea tidak menambahkan apa-apa lagi, namun tatapannya sudah cukup mengonfirmasi. Detik itu juga, seluruh alibi, gengsi, dan pertahanan dingin yang Kate bangun seharian runtuh. Rasa panas, cemburu, dan dongkol yang menyelimuti dadanya mendadak tergantikan oleh degupan kencang rasa panik.
Terluka? Menghadapi bandit?
Tanpa memedulikan Rhea yang masih berdiri di sana, dan tanpa peduli betapa konyolnya ia terlihat setelah berulang kali mengaku tidak peduli, Kate memutar tubuhnya. Langkah kakinya yang tadinya anggun kini bergerak cepat, hampir berlari menyusuri koridor menuju ruang depan.
Egonya kalah total. Saat ini, yang ada di pikirannya hanyalah memastikan seberapa parah pria batu itu terluka.
Begitu sampai di area aula utama, pemandangan itu langsung menyapa matanya. Salvatore sedang duduk di sebuah kursi kayu berukir. Seragam dinas militernya sudah robek di bagian lengan kiri, tersingkap memperlihatkan torehan luka sabetan yang lumayan dalam dengan darah segar yang masih merembes melumasi kulit lengannya.
Di sekitarnya, beberapa pengawal dan kepala pelayan berdiri sigap, nampak cemas.
Kate menarik napas panjang, menekan gejolak panik di dadanya, lalu melangkah mendekat. Ia berusaha menjaga raut wajahnya agar tetap sebisa mungkin tenang, walau matanya menatap tajam ke arah lengan Salvatore yang berdarah.
"Salvatore..." panggil Kate, suaranya pelan, sedikit bergetar namun sarat akan kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Salvatore mendongak. Di tengah rasa perih yang menjalar di lengannya, ia melihat istrinya berdiri di sana dengan tatapan yang amat berbeda dari tadi pagi.
"Kate? Kau belum tidur?" tanya Salvatore datar, suaranya tetap berat dan tenang seperti biasa.
Kate tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Ia melangkah makin dekat, menurunkan sedikit egonya yang setinggi langit. Jarinya yang halus melayang di udara, terulur pelan hendak menyentuh tepi luka di lengan Salvatore untuk memeriksa kondisinya.
Namun, tepat sebelum jemari Kate menyentuh kulitnya—TAK! Salvatore refleks menepis tangan Kate dengan cukup sentakan keras.
Kate terperanjat. Tangannya mengambang di udara, membeku seketika.
"Jangan disentuh, Kate," ucap Salvatore cepat.
Pria itu sedikit meringis, murni karena kaget dan refleks menahan rasa perih yang amat sangat menyengat saat area lukanya hampir tersenggol. Di kepalanya yang terbiasa logis dan militer, darah itu kotor dan bisa mengotori tangan halus istrinya.
Namun bagi Kate, tepisan tangan itu terasa seperti tamparan keras di depan wajahnya.
Belum sempat Kate mencerna rasa terkejutnya, Salvatore kembali bersuara dengan nada santai dan polos tanpa dosa.
"Darahnya masih banyak dan kotor. Tanganmu bisa kena noda darah," lanjut Salvatore tenang. Ia lalu menoleh ke arah koridor samping. "Sonia sedang mengambil perban dan alkohol di ruang medis. Biar dia saja yang mengobatinya. Dia lebih paham cara membersihkan luka sabetan seperti ini supaya tidak infeksi."
DEG.
Dunia Kate rasanya berhenti berputar saat itu juga.
Di depan kepala pelayan, di depan para pengawal yang berdiri berjejer, Salvatore baru saja secara terang-terangan menepis tangannya dan menolak perhatiannya—hanya untuk menyatakan bahwa ia lebih memilih diobati oleh Sonia.
Kata-kata Salvatore rasanya bagai sembilu yang menyayat dada Kate tanpa ampun. Biar dia saja yang mengobatinya. Dia lebih paham.
Rasa khawatir yang tadi membakar dada Kate seketika menguap, berganti dengan rasa malu, tersinggung, dan kepedihan yang luar biasa dahsyat. Hatinya seperti dihantam hingga muncul retakan-retakan kecil yang sangat menyakitkan.
Ia sudah merendahkan egonya, membuang gengsinya, berlari ke sini hanya karena cemas... dan ini balasan yang ia dapatkan? Dipermalukan secara tidak langsung di hadapan orang-orangnya sendiri?
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah koridor. Sonia berjalan tergesa membawa kotak medis di tangannya. "Aku sudah membawa perban dan antiseptiknya, Sal—"
Sonia mendadak menghentikan langkahnya saat menyadari keberadaan Kate dan atmosfer membeku yang menyelimuti aula tersebut.
Kate berdiri kaku. Bibirnya tertutup rapat, bergetar tipis menahan emosi yang meluap di tenggorokannya. Wajah seputih porselen itu mendadak menjadi sangat pucat dan dingin.
Ia perlahan menarik kembali tangannya yang tadi ditepis. Jemari lentiknya terkepal erat di samping gaunnya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak air mata dan rasa hina yang bergemuruh di dalam dadanya.
Salvatore menatap istrinya, masih dengan raut wajah polos tanpa dosa, sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat dan tepisan refleksnya baru saja menghancurkan perasaan Kate Raventhal sampai ke dasar.
Kate menatap Salvatore lurus-lurus. Sebuah senyuman dingin, tipis, dan sepenuhnya hampa terukir di bibirnya.
"Begitu..." suara Kate terdengar begitu halus, namun sangat kaku dan berjarak. "Tentu saja.
Tangan seorang putri Raventhal memang terlalu tidak berguna untuk urusan luka perangmu."
Salvatore sedikit mengerutkan dahi, bingung dengan nada bicara istrinya. "Kate, bukan begitu maksudku—"
"Selamat malam, Jenderal," potong Kate cepat, tanpa membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya.
Kate memutar tubuhnya dengan patah. Dengan langkah yang dipaksakan tetap tegap dan penuh kebanggaan—meski hatinya sedang remuk redam—ia berjalan meninggalkan aula utama, menaiki tangga menuju kamar tanpa melirik Salvatore maupun Sonia sedikit pun.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭