NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rumah yang selalu menerima

Mobil Raka berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar putih yang catnya mulai memudar.

Hujan sudah benar-benar reda. Daun-daun di halaman masih basah, dan lampu teras menyala kekuningan di tengah pagi yang mendung. Rumah itu tidak besar, tetapi Nayla mengenalnya lebih dari tempat mana pun.

Di sanalah ia tumbuh.

Di sanalah ia pernah pulang dengan nilai ujian bagus, dengan hati patah pertama kali, dan dengan wajah bahagia ketika memberi tahu orang tuanya bahwa Arga melamarnya.

Namun malam ini, Nayla pulang bukan sebagai anak yang membawa kabar bahagia.

Ia pulang karena pernikahannya sedang hancur.

Nayla belum langsung turun dari mobil. Tangannya masih memegang ponsel yang sejak tadi ia matikan layarnya. Pesan Arga terus terbayang di kepalanya.

*Jangan pernah mempermalukan aku seperti ini, Nayla.*

Setelah semua yang Arga lakukan, pria itu masih menganggap Nayla adalah pihak yang mempermalukannya.

“Apa kamu ingin saya tunggu sampai kamu masuk?” tanya Raka dari kursi depan.

Nayla tersadar.

“Tidak usah, Pak. Saya bisa masuk sendiri.”

Raka menoleh sedikit. “Yakin?”

Nayla melihat pintu rumah orang tuanya. Ada rasa takut untuk menjelaskan semuanya. Ia belum pernah menceritakan masalah rumah tangganya kepada siapa pun, bahkan kepada ibunya.

Namun tidak mungkin ia terus menyembunyikannya.

“Iya,” jawab Nayla, meski suaranya tidak begitu yakin. “Terima kasih sudah mengantar.”

Raka turun lebih dahulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Nayla. Ia tidak langsung menyerahkan tangan atau menyentuh Nayla. Pria itu hanya berdiri di samping pintu, memberi ruang agar Nayla bisa turun dengan nyaman.

Nayla melepas jas yang sejak tadi dipakainya.

“Jas Bapak,” katanya sambil mengulurkan kain berwarna gelap itu.

“Pakai saja sampai masuk rumah.”

“Tapi Bapak—”

“Saya tidak kedinginan,” potong Raka pelan.

Nayla terdiam, lalu mengangguk.

“Terima kasih,” katanya sekali lagi.

Raka memandangnya beberapa saat. “Simpan nomor saya.”

Nayla mengernyit.

“Kalau ada apa-apa,” lanjut Raka, “kalau Arga datang dan membuat kamu merasa tidak aman, atau kalau kamu hanya butuh bantuan, hubungi saya.”

Nayla ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin mengganggu. Namun kalimat itu terasa terlalu akrab. Terlalu menenangkan.

Akhirnya ia hanya mengangguk.

Raka menyebutkan nomornya. Nayla menyimpannya dengan nama **Pak Raka**.

Setelah itu, Raka masuk kembali ke mobil. Sebelum pintu mobil tertutup, Nayla memanggilnya.

“Pak Raka.”

Raka menoleh.

“Terima kasih karena tidak membuat saya merasa sendirian malam ini.”

Tatapan pria itu melunak sedikit.

“Kamu tidak sendiri, Nayla.”

Mobil hitam itu perlahan menjauh dari depan rumah.

Nayla berdiri di dekat pagar sampai lampu belakang mobil Raka menghilang di ujung jalan. Baru setelah itu ia menarik napas dalam dan melangkah menuju pintu.

Tangannya belum sempat mengetuk ketika pintu terbuka.

Ibunya berdiri di sana.

Bu Ratih mengenakan daster panjang dengan cardigan tipis. Rambutnya diikat sederhana, tetapi wajahnya tampak cemas. Sepertinya sejak tadi beliau menunggu di ruang tamu.

“Nayla?” panggilnya pelan.

Hanya satu panggilan.

Hanya nama Nayla diucapkan dengan nada lembut.

Namun pertahanan yang ia bangun sepanjang malam langsung runtuh.

“Ma,” suara Nayla pecah.

Ia melangkah masuk dan memeluk ibunya erat-erat.

Tangis yang tadi ia tahan kembali pecah. Kali ini lebih keras. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, dan air mata membasahi bahu ibunya.

Bu Ratih tidak bertanya apa-apa pada awalnya.

Beliau hanya mengusap punggung Nayla pelan-pelan.

“Sudah, Sayang,” bisiknya. “Mama di sini.”

Kalimat itu membuat Nayla semakin menangis.

Sudah terlalu lama ia berusaha kuat sendirian. Terlalu lama ia berpura-pura rumah tangganya baik-baik saja saat berbicara dengan orang tuanya. Terlalu lama ia menutupi kekecewaan pada Arga karena takut membuat Mama dan Papa khawatir.

Kini, semua rasa sakit itu keluar begitu saja.

Setelah beberapa menit, Bu Ratih membimbing Nayla duduk di sofa ruang tamu. Rumah itu masih sama seperti yang Nayla ingat. Ada vas bunga di atas meja kecil, bingkai foto keluarga di dinding, dan aroma minyak kayu putih yang samar dari arah kamar orang tuanya.

“Duduk dulu,” kata Bu Ratih. “Mama buatkan teh hangat.”

Nayla menggeleng. “Tidak usah, Ma.”

“Kamu belum makan?”

Nayla terdiam.

Bu Ratih langsung tahu jawabannya.

“Mama hangatkan nasi, ya.”

“Ma, aku tidak lapar.”

“Kamu boleh tidak lapar. Tapi tubuh kamu tetap perlu makan.”

Nada ibunya lembut, tetapi tidak memberi ruang untuk ditolak. Nayla hanya mengangguk kecil.

Bu Ratih pergi ke dapur. Nayla memandangi ruang tamu dengan mata sembap. Di sudut ruangan, ada foto pernikahannya dengan Arga. Foto itu diambil dua tahun lalu, ketika mereka baru sebulan menikah.

Nayla mengenakan kebaya putih.

Arga berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

Saat itu, Nayla yakin pria tersebut akan menjadi pasangan hidupnya sampai tua.

Ia masih ingat janji yang Arga ucapkan di depan penghulu.

Janji untuk setia.

Janji untuk menjaga.

Janji untuk tidak meninggalkan.

Kini, semua janji itu terasa seperti kata-kata yang diucapkan tanpa pernah benar-benar ingin ditepati.

“Lho, Nayla?”

Suara ayahnya membuat Nayla menoleh.

Pak Hendra keluar dari kamar dengan kaus lengan panjang dan sarung. Wajahnya terlihat mengantuk, tetapi langsung berubah serius ketika melihat Nayla duduk di ruang tamu.

“Kamu kenapa datang malam-malam?” tanyanya.

Nayla berdiri perlahan.

“Pa…”

Pak Hendra mendekat. “Arga mana?”

Pertanyaan itu membuat air mata Nayla kembali menggenang.

Bu Ratih keluar dari dapur sambil membawa segelas teh hangat. Ketika melihat wajah putrinya, beliau langsung meletakkan gelas itu di meja.

“Hendra,” ucap Bu Ratih pelan. “Jangan langsung tanya macam-macam.”

Pak Hendra menatap Nayla, lalu duduk di kursi seberang sofa. Wajahnya tegang, tetapi ia berusaha menahan diri.

“Baik,” katanya. “Papa tidak akan memaksa. Tapi kamu cerita kalau sudah siap.”

Nayla menunduk.

Ia memegang jemari sendiri yang dingin. Butuh beberapa saat sampai ia bisa membuka mulut.

“Arga selingkuh, Pa.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Ruang tamu mendadak sunyi.

Pak Hendra tidak bergerak.

Bu Ratih menutup mulutnya dengan tangan.

Nayla menarik napas gemetar dan mencoba melanjutkan.

“Aku sudah curiga beberapa bulan. Dia sering pulang malam, selalu pegang ponsel, dan marah kalau aku tanya.” Air mata menetes kembali. “Semalam aku lihat pesan dari perempuan lain. Pagi tadi aku lihat perempuan itu masuk ke mobilnya.”

“Siapa perempuan itu?” tanya Pak Hendra. Suaranya mulai berubah.

“Rekan kantornya. Namanya Siska.”

Pak Hendra mengepalkan tangan di atas lutut.

“Mereka sudah berapa lama?” tanya Bu Ratih lirih.

“Arga bilang dua bulan.”

Bu Ratih menunduk. Matanya juga berkaca-kaca.

“Lalu kamu ke sini sendiri?” tanya Pak Hendra.

Nayla terdiam sesaat.

“Tadi saya bertemu atasan Arga di kantor,” jawabnya. “Beliau yang membantu saya pulang.”

Pak Hendra langsung mengangkat wajah. “Atasan Arga?”

“Namanya Pak Raka. Beliau hanya mengantar karena Arga marah di kantor.”

“Arga marah kepada kamu?” Suara Pak Hendra meninggi sedikit.

Nayla cepat-cepat menggeleng. “Dia tidak memukul saya, Pa.”

“Dia mencoba melakukan apa?”

“Dia cuma mau menarik tangan saya. Pak Raka menghentikannya.”

Wajah Pak Hendra semakin tegang.

“Papa akan temui dia besok.”

“Jangan, Pa.” Nayla segera meraih tangan ayahnya. “Tolong jangan datang ke apartemen atau kantor. Aku tidak mau masalah ini jadi lebih besar.”

“Dia sudah membuat masalah besar,” kata Pak Hendra. “Dia menyakiti kamu.”

“Aku tahu.” Nayla menunduk. “Tapi aku ingin memutuskan semuanya dengan kepala dingin.”

Bu Ratih duduk di samping Nayla dan menggenggam tangannya.

“Kalau kamu mau bertahan, Mama dan Papa akan bantu kamu berpikir. Kalau kamu mau pergi, Mama dan Papa juga akan ada.” Suara Bu Ratih terdengar tenang. “Tapi jangan pernah merasa kamu harus bertahan hanya karena takut memulai lagi.”

Kata-kata itu membuat Nayla menatap ibunya.

Selama ini, ia takut orang tuanya akan menyuruhnya bersabar demi menjaga pernikahan. Ia takut mereka akan berkata semua suami bisa khilaf dan istri harus memaafkan.

Namun Mama justru memberinya pilihan.

Dan untuk pertama kalinya, Nayla merasa ia berhak memilih dirinya sendiri.

Ponsel Nayla bergetar.

Nama Arga kembali muncul.

Kali ini, panggilan masuk.

Nayla menatap layar itu cukup lama.

Pak Hendra melihatnya. “Tidak usah diangkat.”

Nayla menggeleng. “Aku harus bicara. Kalau tidak, dia akan terus menelepon Mama dan Papa juga.”

Ia menarik napas, lalu menekan tombol terima.

“Halo.”

“Nayla, kamu di mana?” suara Arga terdengar cepat dan tegang.

“Aku di rumah Mama.”

“Kenapa kamu ke sana? Kamu membuat semua orang khawatir.”

Nayla menutup mata sesaat.

Lagi-lagi Arga mengatakan ia membuat orang khawatir, seolah ia yang pergi tanpa kabar selama berbulan-bulan.

“Aku butuh waktu,” jawab Nayla.

“Kamu pulang sekarang. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Aku tidak mau pulang malam ini.”

“Nayla, jangan seperti anak kecil.”

“Yang seperti anak kecil itu kamu, Arga.” Suara Nayla mulai bergetar, tetapi kali ini ia tidak mundur. “Kamu berbohong, kamu selingkuh, lalu kamu marah karena aku tahu.”

Di seberang sana, Arga terdiam.

“Aku sudah minta maaf,” katanya akhirnya.

“Kamu baru minta maaf setelah ketahuan.”

“Aku akan putus sama Siska.”

“Itu bukan keputusan yang cukup untuk membuat semuanya kembali seperti semula.”

“Nayla, kita bisa memperbaiki ini.”

Nayla memejamkan mata.

Dulu, ia mungkin akan langsung percaya.

Dulu, ia mungkin akan pulang, memaafkan, lalu berusaha menjadi istri yang lebih baik agar Arga tidak mencari perempuan lain.

Namun malam ini, ia sudah terlalu lelah menyalahkan dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu apakah aku masih ingin memperbaikinya,” ujar Nayla jujur.

“Nayla…”

“Jangan datang ke rumah Mama malam ini. Jangan memaksa aku pulang. Aku akan bicara kalau aku sudah siap.”

Lalu Nayla mengakhiri panggilan.

Tangannya gemetar hebat setelah menekan tombol merah itu.

Bu Ratih langsung memeluknya lagi.

“Bagus,” bisik ibunya. “Kamu sudah berani bicara.”

Nayla tidak merasa kuat.

Ia justru merasa sangat rapuh.

Namun mungkin keberanian bukan berarti tidak takut.

Mungkin keberanian adalah tetap memilih diri sendiri, meski tangan masih gemetar dan hati masih hancur.

Malam itu Nayla tidur di kamar lamanya.

Kamar yang sudah tidak banyak berubah sejak ia menikah. Ada lemari kayu kecil, meja belajar lama, dan beberapa buku yang masih tertata di rak. Di atas meja, terdapat foto dirinya saat wisuda.

Nayla duduk di tepi ranjang sambil memandangi ponselnya.

Ada pesan baru dari Arga.

**Arga:** Aku akan buktikan kalau aku bisa berubah.

Nayla tidak membalas.

Beberapa saat kemudian, muncul pesan lain dari nomor yang tidak dikenal.

**Nomor tak dikenal:** Kalau kamu mau tahu semuanya tentang Arga dan Siska, jangan percaya pada pengakuan Arga saja.

Nayla menatap pesan itu dengan jantung berdebar.

Lalu pesan kedua masuk.

**Nomor tak dikenal:** Besok pagi, datang ke kafe Madero dekat kantor Arunika. Datang sendiri.

Nayla menggenggam ponselnya.

Siapa orang itu?

Dan kebenaran apa lagi yang selama ini disembunyikan Arga darinya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!