Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14. Dua Penyelidikan
Elden hanya berdehem membuang muka. “Temani saja.”
Jeno menatapnya beberapa saat.
Belakangan ini, Elden memang terlihat semakin aneh. Setelah beberapa hari mengalami mual dan muntah, sekarang ia mendadak menginginkan berbagai makanan yang sebelumnya tidak disukainya.
Kemarin stroberi. Hari ini rujak. Esok entah apa lagi.
“Memangnya di rumah tidak ada makanan?” tanya Jeno.
“Ada.”
“Terus?”
“Aku lagi ingin makan rujak.”
Jeno menghela napas, berusaha memahami jalan pikiran putra dari istrinya itu.
“Baiklah. Kita cari.”
Elden segera mengambil kunci mobil. “Siapa tahu Om bisa bantu mencarikan tempat makan rujak yang paling enak di sekitar sini.”
Jeno hanya bisa menggelengkan kepala.
Ia tidak tahu apakah harus menganggap keinginan Elden itu sebagai hal yang lucu atau justru mengkhawatirkannya.
Sementara itu, Nindy sedang membantu Mireya mengurus sayuran yang baru dipanen dari kebun keluarga.
Ponselnya bergetar ketika ia sedang memilah sayuran. Sebuah pesan masuk dari Jeno, suaminya.
[ Aku pergi menemani Elden mencari rujak. ]
Nindy mengerutkan kening.
Ia membaca pesan itu dua kali sebelum memperlihatkannya kepada Mireya. “Elden sekarang lagi pergi mencari rujak bersama Bang Jeno.”
Mireya menghentikan pekerjaannya. “Apa? Rujak?”
“Iya. Apa kali ini Elden lagi ingin makan rujak?”
Mireya menghela napas. “Anak itu benar-benar membuat khawatir saja. Kemarin stroberi, sekarang rujak. Padahal sebelumnya dia tidak terlalu suka buah-buah yang asem.”
Ellea yang kebetulan berada di sana langsung menyahut.
“Tu orang sebenarnya lagi sakit apa, Bu? Kok malah lebih mirip kayak orang hamil muda, sih? Apa aku aja yang merasa ini aneh banget?”
Mireya spontan menoleh. “Ellea!”
“Apa, Bu? Aku kan hanya bertanya doang.” Ellea mengangkat bahu. “Kalau kakakku sedang sakit, harusnya kita bawa dia untuk periksa. Kalau tidak sakit, kenapa tiba-tiba ingin makan macam-macam? Aku takut, dia sakit parah, dan ternyata itu adalah permintan-permintaan terakhirnya ...” gumam Ellea yang membuat semua jadi hening.
Mireya mengerutkan wajahnya. "Ellea? Kamu jangan berpikir macam-macam gitu. Kakakmu selama ini tak memiliki masalah kesehatan."
Mireya kembali berpikir. Ucapan putrinya membuatnya teringat sesuatu yang sudah lama mengganjal di pikirannya.
Ia meletakkan sayuran yang sedang dipegangnya, lalu menatap Nindy.
“Sebenarnya, perempuan yang dulu menggantikan Linjaryani itu bagaimana hubungannya dengan Elden?”
Nindy mengerutkan kening. “Maksudmu yang namanya Dea itu?”
Mireya mengangguk.
“Dulu, Elden mengaku kepada kami bahwa perempuan itu mengusirnya setelah mereka menikah. Setelah itu, dia tidak pernah menceritakan apa-apa lagi. Setiap kali ditanya, dia selalu menghindar.”
Ellea yang tadinya masih ingin bercanda kini ikut terdiam. Ia teringat pernikahan singkat kakaknya dengan perempuan bernama Dea.
Saat itu, semuanya terjadi begitu cepat. Elden menikah, lalu hubungan mereka berakhir sebelum keluarga sempat mengenal pengganti Linjaryani lebih jauh.
Pada malam pernikahan itu juga, Elden masuk ke rumah dengan keadaan yang lelah entah karena apa. Mungkin pertengkaran dengan istri yang baru dinikahinya. Atau mungkin dia ... sempat ...
Mireya menggengkan kepala membayangkan berbagai dugaan yang mungkin saja terjadi.
Sementara Ellea sendiri juga tidak tahu banyak. Ia hanya mendengar versi cerita dari kakaknya, tanpa pernah mendapat kesempatan mendengar penjelasan dari Dea.
Tak ada yang benar-benar menggali informasi tentang Dea. Yang mereka tahu, Elden dan Dea telah berakhir di malam pernikahan kedua mempelai itu.
“Bu, kok aku punya firasat aneh ya?” gumam Ellea mengusap dagunya.
Mireya menarik napas. “Ibu juga merasa khawatir. Ibu takut, kakakmu melakukan hal-hal buruk tanpa sepengetahuan kita. Kita semua tidak ada yang tahu alasan pernikahan mereka berakhir secepat itu.”
Nindy menatap pesan di ponselnya, lalu mengembuskan napas.
“Bang Jeno juga bilang, Elden tak menceritakan apa pun tentang Dea. Yang ia lihat, Elden hanya menyibukan diri agar tidak terlalu mengingat kepergian Linjaryani.”
Mireya terdiam beberapa saat. Lalu ia menatap putrinya. “Ellea.”
“Iya, Bu?”
“Sekarang kamu bantu Ibu menyelidiki kakakmu itu. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Elden dan perempuan yang sempat menikah dengannya.”
Ellea membelalakkan mata. “Lho, kok aku?”
“Karena kamu adiknya. Kamu bisa mulai dengan mencari tahu apa yang selama ini dia sembunyikan.”
Ellea melirik Nindy, lalu kembali menatap ibunya. “Kalau Kak Elden tahu aku menyelidikinya, bisa-bisa dia menendangku dari rumah ini.”
“Kalau begitu, jangan sampai dia tahu.”
Ellea menghembuskan napas berat. Kemudian, perlahan, senyum jahil muncul di wajahnya.
“Baiklah. Sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang menarik.”
Jujur, jauh di dalam hati, Ellea juga merasa penasaran dengan apa yang dirahasiakan Elden dari keluarga mereka.
Mengapa Elden selalu menghindar setiap kali nama Dea disebut?
Ellea mengambil ponselnya. Sepertinya, ia harus mulai mencari tahu siapa sebenarnya Althea Twina Darmawan.
Tanpa mereka sadari, dua penyelidikan kini mulai berjalan dari arah yang berbeda.
Dea berusaha mengungkap apa yang terjadi pada Linjaryani.
Sementara keluarga Elden mulai mencari tahu kebenaran tentang pernikahan yang selama ini hanya mereka ketahui dari satu sisi cerita.
Dan di antara semua pertanyaan itu, satu nama perlahan menjadi semakin penting.
Dea.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella