Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Nyala Lentera yang Padam dan Pengakuan Gila di Altar Pertemuan
Malam puncak Pertemuan Umum akhirnya tiba.
Aula utama istana yang biasanya megah kini diselimuti atmosfer yang teramat tegap dan formal.
Para penyihir agung dari seluruh penjuru negeri, termasuk Master Baek Si On dan Master Kang—mantan guru Han Seol yang terkenal skeptis—telah mengambil tempat duduk mereka di barisan kursi batu melingkar.
Di atas panggung utama, di bawah sorot cahaya bulan yang menembus atap kaca aula, suasana mendadak senyap saat gerbang luar dibuka lebar.
Sesosok wanita berjalan masuk dengan anggun mendampingi ibunya, Jin Hwa Young. Itu Jin So Hwa.
Kemunculannya sontak membuat semua orang yang hadir di dalam aula tercengang. Selain karena kecantikannya yang luar biasa menawan malam itu, ekspektasi para penyihir akan kekuatan besar yang mendekam di dalam diri Jin So Hwa berhasil membuat tokoh-tokoh besar seperti Master Baek Si On dan Master Kang menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman.
Kekaguman itu berangkat dari cerita sejarah beberapa tahun yang lalu, Saat di mana Jin So Hwa yang saat itu masih berusia sepuluh tahun dikabarkan sukses menemukan kembali Batu Es yang legendaris.
Melihat reaksi kagum dari seisi aula, Jin Hwa Young tersenyum puas. Ia akhirnya berjalan menuju barisan kursi kehormatan, bergabung bersama para penyihir lainnya.
Di atas panggung tengah yang luas, kini hanya menyisakan Jin So Hwa seorang diri, berdiri tegak di bawah tekanan jeruji benang mistis yang tersembunyi di balik pundaknya.
Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Langkah kaki yang konstan dan berat terdengar bergema dari arah pintu masuk. Sosok berjubah hitam yang auranya sedingin malam berjalan melangkah maju.
Han Seol.
Kedatangannya yang tiba-tiba membuat Jin So Hwa terkejut setengah mati, begitupun dengan para penyihir lainnya yang langsung menahan napas.
Pria itu berjalan dengan tenang, matanya mengunci lurus pada So Hwa. Di tangan kanannya, Han Seol membawa sebuah lampu lentera istimewa pemberian Jinyowon—lampu lentera yang kini sudah ia hidupkan kembali dengan energi gichul-nya.
Setelah mereka berdiri saling berhadap-hadapan di tengah panggung, Han Seol mengangkat lentera itu sejajar dengan dada mereka.
"Lampu istimewa ini... sempat padam sesaat setelah kepergianmu dari rumahku, Jin So Hwa," ucap Han Seol, suaranya menggema rendah namun penuh penekanan, menembus sunyinya aula.
"Oleh karena itu, untuk memastikan apakah kekuatan spiritualmu yang agung benar-benar telah kembali, aku memintamu untuk memadamkan lampu ini sekali lagi di depan mataku. Dan sebagai imbalannya, jika kau berhasil... aku bersumpah akan membawamu pergi dari tempat ini sekarang juga."
Jin So Hwa menatap mata Han Seol, mencari celah keraguan namun hanya menemukan keseriusan yang mutlak. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia mengulurkan tangannya yang gemetar karena rasa sakit dari benang di pundaknya. So Hwa memegang tangan Han Seol yang sedang mencengkeram gagang lentera tersebut.
Wusss... Ssshh.
Seketika itu juga, keajaiban terjadi. Api biru abadi yang ada di dalam lampu lentera itu mendadak surut dan langsung padam total, menyisakan sumbu hitam yang dingin.
Betapa terkejutnya Han Seol dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan langsung bahwa Jin So Hwa memang berhasil memadamkan lampu mistis yang mustahil dimatikan oleh penyihir biasa tersebut.
Bahkan, Jin So Hwa sendiri masih tertegun, menatap tangannya dengan rasa tidak percaya. Pasalnya, ingatan So Hwa masih kosong; ia sama sekali tidak mengingat bahwa ia pernah memadamkan lampu itu saat masih berada di rumah Han Seol tempo hari. Semuanya terjadi secara insting spiritual yang meluap dari dalam sukmanya.
Melihat bukti nyata di depan matanya bahwa kekuatan So Hwa telah bangkit, Han Seol tidak membuang waktu lagi. Ia segera membalikkan tubuh menghadap ke arah jajaran penyihir agung dan Raja, lalu membuat sebuah pengumuman dengan suara lantang yang menggelegar.
"Mulai detik ini, Jin So Hwa tidak bisa lagi ditunjuk sebagai penerus resmi Jinyowon! Hal itu disebabkan karena kami berdua... telah resmi menikah."
"APA?!"
Jin Hwa Young langsung bangkit dari kursinya dengan wajah pucat pasi.
Aula istana seketika gempar. Rupanya, di balik sikap dinginnya semalam saat menjaga Jin So Hwa yang pingsan dan kedinginan akibat serangan roh danau, Han Seol secara diam-diam telah mengambil dua cangkir arak pernikahan yang ditinggalkan So Hwa di atas meja.
Di dalam kesunyian malam itu, Han Seol meminum habis arak pernikahan tersebut, memenuhi permintaan gila So Hwa sebelumnya.
Alhasil, di bawah hukum adat mistis kuno Niskala, saat keduanya sama-sama telah meminum cairan tersebut, mereka berdua telah resmi mengikat janji sebagai pasangan suami istri yang sah.
Mendengar hal itu, semua penyihir yang semula hanya diam menyaksikan interaksi aneh di atas panggung kini mulai bereaksi keras, saling berbisik penuh kegaduhan.
Jin Hwa Young yang mendengar putrinya justru lebih memilih menyerahkan diri kepada Han Seol dibandingkan menuruti perintahnya, benar-benar tak habis pikir dengan keputusan gila putrinya tersebut. Dadanya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.
Namun apa boleh buat, Jin So Hwa yang sudah tidak mau lagi hidup terkekang dan dikurung seperti tawanan di Jinyowon sudah membulatkan tekadnya. Ia menatap ibunya dengan pandangan menantang, mempertegas posisinya di samping Han Seol.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Jin Wu yang sedari tadi berdiri di samping singgasana raja mulai melangkah maju. Matanya berkilat licik.
"Tunggu dulu, Penyihir Agung Han Seol," sela Jin Wu dengan nada meremehkan. "Jika kalian menganggap diri kalian sebagai pasangan suami istri yang sah, maka kalian dituntut untuk membuktikan pernikahan tersebut dengan mendatangkan saksi mata yang legal di hadapan pertemuan umum ini. Jika kalian tidak bisa menghadirkannya, maka kau, Han Seol, tidak memiliki wewenang hukum apa pun untuk membawa Jin So Hwa keluar dari aula pertemuan umum ini!"
Mendengar tuntutan hukum tersebut, Han Seol justru mendengus sinis. Dengan penuh kesombongan yang membubung tinggi, ia menatap Jin Wu dan seluruh penyihir di aula dengan tatapan mengintimidasi.
"Dengan kekuatan besar yang kumiliki saat ini, tak seorang pun di ruangan ini yang berhak mendebat tentang masalah wewenang kepadaku. Siapa yang berani menahanku?"
Jawaban arogan dari Han Seol lantas membuat Jin Wu tersenyum kemenangan. Mulut liciknya langsung menemukan celah untuk membuat sang Penyihir Agung terdiam di tempat.
"Hahaha! Jawabanmu yang mengandalkan otot itu justru membuktikan satu hal secara mutlak, Han Seol... bahwa kau sama sekali tidak memiliki bukti, ataupun satu pun saksi sah dalam pernikahan gaib kalian!" tekan Jin Wu dengan nada menyudutkan.
Han Seol terdiam seribu kata, rahangnya mengeras karena terjebak dalam argumen hukum istana. Suasana di dalam aula mendadak mencekam dan menemui jalan buntu.
Namun, tepat di tengah keheningan yang
menegangkan itu, Jin So Hwa tiba-tiba melangkah maju ke depan tubuh Han Seol. Dengan wajah polos namun dipenuhi binar tekad yang nekat, ia mengejutkan semua orang di dalam aula dengan kalimat yang keluar dari bibir manisnya.
"Kami memiliki saksi! Dan satu-satunya saksi pernikahan kami yang sah saat ini... adalah anak yang sedang berada di dalam perutku!"
DEG!
Mendengar pengakuan yang teramat frontal dan tak terduga itu, sontak membuat seluruh penyihir agung di dalam aula terdiam membeku dengan mata melotot. Bahkan Han Seol sendiri seketika menoleh, menatap Jin So Hwa dengan pandangan melongo dan syok yang luar biasa. Ia sama sekali tidak menduga bahwa gadis ini akan mengeluarkan jawaban sekonyol dan senekat itu di hadapan Raja.
Dari balik raut wajahnya yang berpura-pura sedih, bisa disimpulkan dengan sangat jelas bahwa Jin So Hwa tengah berbohong besar demi menyelamatkan dirinya dari kurungan Jinyowon.
Tapi terlepas dari kebohongan konyol tersebut, argumen itu adalah skakmat yang sempurna. Tidak ada satu pun penyihir atau pejabat istana yang berani mempertanyakan kesucian janji sepasang suami istri jika sudah menyangkut darah daging yang dikandung.
Alhasil, berkat jawaban konyol dan super nekat dari So Hwa, jeruji benang di pundaknya seolah melonggar. Han Seol yang langsung tanggap segera menggandeng erat tangan Jin So Hwa, lalu membawa gadis itu berjalan keluar meninggalkan aula pertemuan dengan langkah tegap, tanpa ada satu pun pengawal atau penyihir yang berani menghalangi langkah mereka lagi.
Sementara itu, setelah kepergian dramatis Han Seol dan Jin So Hwa, Pertemuan Umum Istana tetap dilanjutkan di bawah pimpinan Raja Go Haneul untuk menyelesaikan agenda yang tersisa.
Di mana, dengan adanya kejadian barusan, hasil akhir dari pertemuan tersebut memutuskan bahwa urusan penyimpanan seluruh relik dan artefak mistis berbahaya akan tetap diamanatkan dan dipercayakan penuh kepada keluarga Jinyowon.
Ya, para penyihir agung menilai bahwa dengan adanya sosok Han Seol—sang penyihir terkuat pemilik Batu Es—yang kini telah resmi berstatus sebagai menantu sah dari keluarga Jin, tentunya hal itu akan membuat posisi Jinyowon menjadi sangat perkasa, tangguh, dan tidak akan ada satu pun kekuatan hitam atau musuh luar yang berani mengusiknya.
Oleh karena itu, mereka semua menetapkan bahwa sangat pantas sekali jika relik-relik dan artefak mistis itu tetap berada di bawah perlindungan abadi Jinyowon, meninggalkan Jin Hwa Young yang terduduk di kursinya dengan perasaan campur aduk antara lega karena Jinyowon selamat, sekaligus murka karena putrinya telah direbut oleh pria yang paling ia hindari.