NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL16. Terlalu Protektif

Pukul enam lewat lima belas menit, Qiera sudah berdiri di depan kompor dengan rambut yang diikat asal-asalan. Wajahnya masih menyimpan sisa kantuk, tetapi kedua tangannya sibuk menyiapkan sarapan. Sesekali ia melirik jam dinding, lalu menoleh ke arah ruang tengah untuk memastikan seseorang yang seharusnya masih beristirahat tidak diam-diam melakukan sesuatu yang dilarangnya.

Sejak Ravi pulang dari rumah sakit kemarin, Qiera telah menetapkan sejumlah peraturan baru di apartemen mereka. Tidak boleh bekerja, tidak boleh mengangkat barang berat, tidak boleh bergerak berlebihan, dan yang paling penting, tidak boleh menyentuh laptop sebelum dokter mengizinkan. Peraturan terakhir itu bahkan disertai tindakan nyata berupa penyitaan laptop yang kini disembunyikan di lemari kamar.

Sayangnya, memiliki banyak peraturan tidak menjamin bahwa pasiennya akan menjadi lebih penurut.

“Lily, kamu melihat kacamata saya?” terdengar suara Ravi dari ruang tengah.

Qiera segera mematikan kompor. “Kenapa, Mas? Mau apa?”

“Mencari kacamata.”

“Untuk apa?”

Ravi terdiam sejenak. “Untuk melihat.”

Qiera memejamkan mata, berusaha menahan diri agar tidak menjawab dengan sesuatu yang akan membuat mereka berdebat sejak pagi. Ia mengambil kacamata yang terletak di meja dapur, lalu berjalan ke ruang tengah.

Di sana, Ravi duduk di sofa dengan pakaian rumah yang nyaman. Wajahnya tampak lebih segar dibandingkan beberapa hari lalu, meskipun gerakannya masih terbatas dan ia harus berhati-hati ketika mengubah posisi duduk.

Qiera menyerahkan kacamata itu, tetapi tidak langsung melepaskannya ketika Ravi hendak mengambil.

“Mas mau membaca apa?”

“Buku.”

“Buku apa?”

Ravi memandangnya. “Apakah saya harus mengajukan proposal terlebih dahulu untuk membaca buku di rumah sendiri?”

“Kalau bukunya berat, tidak boleh.”

“Ini buku hukum, Lily. Bukan batu bata.”

“Mas!”

Ravi akhirnya mengambil kacamata itu sambil tersenyum tipis. “Baiklah. Saya tidak akan membaca apa pun sebelum mendapat persetujuan dari istri saya yang terhormat.”

Qiera menyipitkan mata, mencurigai nada suaminya yang terlalu patuh. Namun, ia tidak menemukan alasan untuk melarang Ravi sekadar duduk membaca. Setelah memastikan pria itu tidak berniat mengambil laptop, ia kembali ke dapur dengan langkah waspada.

Lima menit kemudian, ketika ia datang membawa sarapan, Ravi sudah membuka sebuah buku di pangkuannya.

Qiera meletakkan nampan di meja dengan suara sedikit lebih keras daripada yang diperlukan. “Katanya tadi belum membaca apa-apa!”

“Saya tidak mengatakan tidak akan membaca. Saya hanya menunggu kamu selesai memasak.”

“Mas sengaja, ya?”

“Sengaja apa?”

“Membuatku kesal!”

Ravi mengangkat wajah dari bukunya. “Kalau saya memang ingin membuat kamu kesal, saya bisa saja meminta laptop sekarang.”

Qiera langsung menunjuknya dengan sendok. “Jangan coba-coba!”

Tawa kecil Ravi terdengar sebelum ia kembali menutup bukunya. Ia tahu Qiera sedang berusaha keras mengurusnya, dan sebagian dirinya merasa tersentuh oleh perhatian itu.

Hanya saja, ia tidak terbiasa diam terlalu lama. Pekerjaan akademik, penelitian untuk program doktoralnya, dan tanggung jawab sebagai dosen sudah menjadi bagian dari rutinitas yang sulit ditinggalkan begitu saja.

Namun, setiap kali melihat wajah Qiera yang masih pucat ketika teringat kejadian di kampus, Ravi tidak tega mengeluh terlalu banyak.

Ia akhirnya meletakkan buku di meja. “Saya makan dulu.”

“Bagus.” Qiera menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Setelah itu minum obat, lalu istirahat.”

“Lalu?”

“Tidur.”

“Sampai kapan?”

“Sampai aku pulang dari kampus.”

Ravi menghela napas panjang. “Sepertinya saya lebih mudah menjalani pemeriksaan dokter daripada menghadapi jadwal harian yang kamu buat.”

Qiera tersenyum puas. “Berarti jadwalku berhasil.”

Setelah memastikan Ravi menghabiskan sarapannya dan meminum obat sesuai petunjuk dokter, Qiera bersiap pergi ke kampus. Ia sudah tiga hari tidak mengikuti perkuliahan. Walaupun telah mengabari beberapa dosen mengenai urusan keluarga yang mendesak, ia tetap harus mengejar materi yang tertinggal dan mengurus tanggung jawabnya sebagai Wakil Ketua BEM FH.

Sebelum berangkat, ia berdiri di depan sofa, memeriksa Ravi dari ujung kepala hingga kaki seolah hendak melakukan inspeksi.

“Obatnya diminum sesuai jadwal. Makan siang sudah aku taruh di kulkas. Kalau lapar, tinggal dihangatkan. Jangan mengangkat apa-apa, jangan membungkuk terlalu lama, dan jangan bekerja!”

Ravi menatapnya dengan sabar. “Ada lagi?”

“Kalau sakitnya bertambah, langsung hubungi dokter. Kalau pusing, jangan memaksakan diri. Kalau butuh sesuatu, telepon aku.”

“Kalau saya merindukan istri saya?”

Qiera terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Ravi akan menyelipkan pertanyaan seperti itu di tengah daftar larangannya.

Selama beberapa detik, ia hanya bisa menatap pria itu, mencoba memastikan apakah suaminya benar-benar serius atau sedang mencari cara baru untuk menggodanya.

Ravi tampak tenang, tetapi senyum kecil di sudut bibirnya mengkhianati niatnya.

“Mas bisa nggak, sih, bicara yang normal sedikit saja?”

“Saya sedang bertanya. Bukankah tadi kamu menyuruh saya menghubungimu kalau membutuhkan sesuatu?”

“Itu bukan kebutuhan!”

“Baik. Berarti saya tidak perlu menelepon.”

Qiera langsung mengerutkan kening. “Bukan begitu maksudku!”

Ravi tertawa pelan, kemudian berhenti ketika menyadari gerakan kecil itu membuat punggungnya terasa tidak nyaman.

Seketika, ekspresi Qiera berubah. Ia mendekat dan memastikan posisi duduk suaminya kembali nyaman. “Mas sakit lagi?”

“Sedikit tertarik saja. Tidak apa-apa.”

“Jangan bilang tidak apa-apa terus!”

Ravi mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. “Baik, saya akan lebih berhati-hati.”

Qiera masih tampak khawatir, tetapi akhirnya mengambil tasnya. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi.

“Mas janji tidak bekerja?”

“Janji.”

“Tidak menyentuh laptop?”

“Tidak menyentuh laptop.”

Qiera mengangguk puas, lalu melangkah menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia mendengar Ravi memanggilnya.

“Lily.”

Ia menoleh. “Apa lagi, Mas?”

“Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang.”

Senyum kecil muncul di wajah Qiera tanpa bisa dicegah. Bahkan setelah semua larangan dan perdebatan pagi itu, Ravi masih sempat mengingatkannya untuk menjaga diri sendiri.

“Iya. Mas juga jangan bandel.”

“Saya akan berusaha.”

“Bukan berusaha. Tapi harus!”

Ravi hanya tersenyum ketika pintu akhirnya tertutup. Beberapa detik kemudian, ia menyandarkan kepala ke sofa dan mengembuskan napas panjang. Apartemen kembali sunyi, tetapi anehnya, ia sudah bisa membayangkan betapa berisiknya tempat itu ketika Qiera pulang nanti.

Dan ia mendapati dirinya menantikan hal tersebut.

...🏨🏨🏨...

Begitu tiba di fakultas, Qiera langsung disambut Nisa yang sejak tadi menunggunya di dekat tangga. Sahabatnya itu melipat tangan di depan dada, memasang ekspresi yang membuat Qiera spontan memperlambat langkah.

“Selamat pagi, orang hilang.”

Qiera tersenyum canggung. “Pagi.”

“Tiga hari, Qiera. Tiga hari kamu nggak masuk kuliah dan hampir nggak bisa dihubungi. Aku harus memahami situasi ini bagaimana?”

“Aku sudah bilang ada urusan keluarga.”

“Aku tahu. Makanya aku nggak maksa kamu cerita waktu itu.” Nisa mendekat, lalu memperhatikan wajahnya dengan saksama. “Tapi sekarang kamu sudah kembali. Jadi, setidaknya beri tahu aku kalau kamu baik-baik saja.”

Sikap Nisa yang mendadak serius membuat Qiera merasa bersalah. Ia tahu sahabatnya hanya khawatir. Selama tiga hari terakhir, pikirannya begitu dipenuhi kondisi Ravi hingga ia hampir lupa bahwa orang-orang di sekitarnya juga membutuhkan kabar darinya.

“Maaf, Nis. Aku tahu aku bikin kamu khawatir.” Qiera meraih tangan sahabatnya sebentar. “Aku baik-baik saja. Ada anggota keluarga yang harus dirawat, jadi aku menemani di rumah sakit.”

Nisa menatapnya lekat-lekat. “Anggota keluarga siapa?”

Qiera langsung merasa seperti sedang menghadapi dosen penguji. “Saudara jauh.”

"Betul kok saudara jauh. Dari keturunan Nabi Adam," sambungnya dalam hati.

“Saudara jauh yang membuatmu nggak masuk kuliah selama tiga hari?”

“Iya.”

“Dan membuatmu terlihat seperti belum tidur selama seminggu?”

Qiera menyentuh pipinya sendiri. “Separah itu, ya?”

“Qiera, kamu sedang bercermin atau sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?”

Qiera tertawa kecil, lalu menarik Nisa menuju ruang kelas sebelum sahabatnya itu mengajukan pertanyaan yang lebih sulit dijawab. Untungnya, dosen mereka segera datang, sehingga percakapan tersebut harus ditunda.

Namun, Qiera tahu Nisa belum benar-benar puas. Dan ia benar-benar tidak bisa menyalahkannya.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!