NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Lompatan Pertama

Layar monitor di meja pelayanan kantor sekuritas berkedip cepat saat Rian menyerahkan kartu akses transaksi digital beserta dokumen konfirmasi akun kepada Dirga. Sikap Rian kini berbalik seratus delapan puluh derajat, ia menundukkan kepala dengan sangat hormat, tidak berani lagi memandang rendah pemuda berjaket ojol kusam di hadapannya.

"Seluruh dana sebesar empat puluh juta sembilan ratus ribu rupiah telah masuk dan terverifikasi secara penuh ke dalam akun Rekening Dana Nasabah Anda, Pak Dirga," ucap Rian dengan nada suara yang halus dan sangat berhati-hati. "Sistem perdagangan bursa sesi pertama telah resmi dibuka lima menit yang lalu. Apakah Anda membutuhkan pendampingan dari broker senior kami untuk memilih saham blue-chip yang aman?"

Dirga menarik kartu akses digital tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Ia menatap layar monitor utama yang menampilkan pergerakan indeks saham gabungan.

"Saya tidak membutuhkan konsultan atau saran portofolio dari siapa pun," jawab Dirga dingin dan lugas. "Tolong buka terminal transaksi mandiri di layar portal ini sekarang."

Rian sigap mengetikkan perintah di papan ketik. "Tentu, Pak. Terminal transaksi Anda sudah siap. Saham apa yang ingin Anda masukkan ke dalam daftar pantau?"

"Bukan daftar pantau," potong Dirga tegas, jemarinya yang kasar langsung memegang mousenya. "Saya akan melakukan eksekusi pembelian langsung. Masukkan seluruh modal empat puluh juta sembilan ratus ribu rupiah itu ke saham PT Medika Perkasa Tbk pada harga penawaran terendah saat ini."

Rian menghentikan gerak jemarinya di atas meja. Matanya membelalak kaget saat mendengar nama emiten tersebut. Ia menatap Dirga dengan raut wajah penuh keraguan dan kecemasan.

"PT Medika Perkasa?" tanya Rian meyakinkan, suaranya sedikit meninggi. "Pak Dirga, mohon pertimbangkan kembali keputusan Anda secara rasional. Saham Medika Perkasa sedang berada di tren penurunan paling parah dalam enam bulan terakhir. Rumor pasar menyebutkan perusahaan alat kesehatan itu terancam gagal bayar utang dan menuju kebangkrutan. Investor institusi sedang berlomba-lomba membuang saham tersebut."

"Apakah ada masalah teknis yang menghalangi transaksi saya?" tanya Dirga balik tanpa bergeming sedikit pun, matanya menatap tajam ke arah Rian.

"Secara teknis tidak ada, Pak," gagap Rian. "Namun sebagai petugas, saya berkewajiban mengingatkan. Menanamkan seluruh modal tanpa sisa pada saham yang sedang anjlok seperti itu sangat berisiko tinggi. Anda bisa kehilangan separuh modal Anda dalam hitungan jam jika harga terus menyentuh batas bawah penolakan otomatis!"

Seorang pria paruh baya berpakaian setelan jas mewah yang duduk di sofa ruang tunggu sekuritas, seorang investor kawakan yang sejak tadi memperhatikan, terkekeh pelan sembari menggelengkan kepalanya.

"Anak muda," sela pria berjas itu sambil melangkah mendekat ke meja pendaftaran dengan gaya angkuh. "Mencari uang di bursa saham tidak semudah mengendarai sepeda motor di jalanan. Membeli saham yang grafik harganya jatuh bebas seperti Medika Perkasa itu sama saja membuang uangmu ke dalam jurang. Dengarkan nasihat petugas itu jika kamu tidak ingin gigit jari."

Dirga memutar tubuhnya perlahan, menatap pria berjas mewah itu dengan pandangan mata yang begitu dalam dan penuh ketenangan menekan.

"Setiap orang di ruangan ini bebas mempertaruhkan uangnya sesuai dengan analisis masing-masing," sahut Dirga tenang namun penuh wibawa. "Keuntungan atau kerugian dari transaksi ini adalah tanggung jawab penuh saya, bukan Anda."

Ia kembali menghadap layar monitor, mengetikkan jumlah lot secara presisi sesuai seluruh saldo modalnya, lalu menekan tombol konfirmasi beli.

Klik.

"Transaksi eksekusi instan berhasil," bunyi notifikasi sistem perdagangan berbunyi nyaring. Seluruh dana sebesar empat puluh juta sembilan ratus ribu rupiah milik Dirga kini resmi berubah menjadi lembaran saham PT Medika Perkasa Tbk di harga pasar terendah.

Rian menarik napas panjang, menatap layar dengan tatapan prihatin. "Selesai, Pak Dirga. Seluruh modal Anda sudah masuk ke saham Medika Perkasa."

"Terima kasih atas pelayanannya," ucap Dirga singkat. Ia berbalik dan melangkah keluar dari gedung sekuritas tanpa menoleh lagi pada bisik-bisik orang di dalam ruangan.

Dua hari berlalu. Masa-masa kritis yang penuh ketegangan melanda jagat pasar modal nasional. Dirga menghabiskan waktunya dengan tetap menarik ojek di malam hari dan menenangkan jiwanya di rumah tua miliknya, membiarkan roda takdir berputar sesuai dengan penglihatan mata batinnya.

Pada hari kedua menjelang penutupan sesi perdagangan bursa, sebuah berita gempar bertajuk Breaking News meledak di seluruh stasiun televisi dan media berita finansial utama.

Konsortium raksasa kesehatan asal Singapura secara resmi mengumumkan aksi korporasi akuisisi strategis terhadap sembilan puluh persen saham PT Medika Perkasa Tbk dengan nilai transaksi mencapai triliunan rupiah. Selain akuisisi, konsortium tersebut juga menyuntikkan dana segar untuk menghapus seluruh utang perusahaan.

Efek berita kejutan itu bagaikan ledakan bom di bursa saham. Saham PT Medika Perkasa yang tadinya dipandang sebelah mata dan dituduh hampir bangkrut mendadak diserbu jutaan antrean pembeli dari investor asing maupun domestik. Harga sahamnya melesat liar melampaui batas kenaikan tertinggi harian selama dua hari berturut-turut. Kenaikan spektakuler itu persis menyentuh angka lonjakan tiga ratus persen!

Hari ketiga, Dirga kembali melangkahkan kakinya memasuki gedung sekuritas yang sama di kawasan Sudirman.

Suasana di dalam hall sekuritas tampak jauh lebih riuh dari biasanya. Para investor sedang berkumpul di depan layar proyeksi besar yang menampilkan deretan saham berkinerja fantastis minggu ini. Di posisi puncak, nama PT Medika Perkasa Tbk terpampang terang dengan warna hijau menyala.

Saat Dirga berjalan melintasi area pelayanan, Rian yang sedang berdiri di balik meja pendaftaran mendadak membeku. Mata petugas itu melotot lebar, mulutnya terbuka sedikit akibat rasa syok yang luar biasa.

"Pak... Pak Dirga!" panggil Rian dengan suara gemetar, berlari kecil keluar dari balik mejanya untuk menyambut Dirga secara langsung.

Investor berjas mewah yang dua hari lalu meremehkan Dirga kini juga berada di sana. Pria itu menatap Dirga dari jarak dekat dengan raut wajah pucat pasi dan tatapan tak percaya.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik pria berjas mewah itu seraya mendekati Dirga dengan sikap yang kini jauh dari kata angkuh. "Anak muda... bagaimana bisa Anda tahu? Dua hari lalu Anda memborong saham Medika Perkasa di harga paling dasar tepat sebelum isu akuisisi Singapura itu diumumkan ke publik! Apakah Anda memiliki informasi dari orang dalam?"

"Saya tidak memiliki koneksi atau informasi orang dalam dari siapa pun," jawab Dirga dingin, menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. "Saya hanya membaca pergerakan yang tidak sanggup Anda lihat."

Rian dengan sigap memandu Dirga menuju terminal monitor utama dengan tangan yang sedikit gemetar karena takjub.

"Pak Dirga, silakan periksa akun Anda," ucap Rian dengan nada suara yang penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. "Kenaikan saham Medika Perkasa mencapai titik puncaknya hari ini sebelum mengunci batas atas. Nilai portofolio investasi Anda... telah melipat ganda secara fantastis!"

Dirga berdiri tegap di hadapan layar monitor. Jemarinya dengan tenang mengakses data saldo terkini pada akun Rekening Dana Nasabah miliknya.

Di atas layar kaca yang mengilap, angka saldo bersih investasi milik Dirga kini telah berubah drastis:

Total Saldo Portofolio: Rp122.700.000,00

Dari modal awal sebesar empat puluh juta sembilan ratus ribu rupiah, kini nilai kekayaan bersih Dirga dalam bentuk tunai di bursa saham telah menembus angka seratus dua puluh juta rupiah lebih hanya dalam kurun waktu dua hari!

Orang-orang di sekitar ruangan yang menyaksikan angka di layar monitor itu mendadak riuh. Bisik-bisik pujian dan rasa takjub membahana di seluruh ruangan sekuritas.

"Luar biasa... Genius!" cetus salah satu manajer investasi yang berdiri di belakang Dirga. "Membeli di titik nadir dan mencetak keuntungan tiga ratus persen dalam dua hari... Ini adalah aksi transaksi paling legendaris yang pernah saya lihat dilakukan oleh investor individu!"

Pria berjas mewah yang tadinya meremehkan Dirga menelan ludah dengan susah payah, lalu menundukkan kepalanya di hadapan Dirga.

"Anak muda... maafkan kelancangan dan kesombongan saya dua hari lalu," ujar pria berjas itu dengan nada menyesal. "Ternyata penglihatan dan analisis Anda jauh melampaui kami yang mengaku sebagai profesional di bursa ini."

Dirga tidak menyahut pujian atau permohonan maaf tersebut. Raut wajahnya tetap datar dan tenang, seolah angka seratus dua puluh juta rupiah itu memang sudah menjadi takdir yang tak terelakkan sejak awal. Sebuah senyuman tipis, dingin, dan penuh keteguhan terukir di sudut bibirnya saat menatap angka di layar monitor.

"Lakukan pencairan dana secara penuh ke rekening utama saya sekarang," perintah Dirga tenang kepada Rian.

"Siap, Pak Dirga! Seluruh proses penarikan dana tunai sebesar seratus dua puluh juta rupiah akan langsung diproses hari ini juga!" jawab Rian penuh semangat dan rasa hormat.

Namun, di saat Dirga sedang berdiri menatap layar monitor dan merasakan kebebasan finansial pertamanya dari jurang kemiskinan, keheningan di alam bawah sadarnya mendadak pecah.

Sreeek!

Sensasi dingin yang menusuk kembali menjalar cepat dari tulang belakang menuju dasar tengkoraknya. Titik di antara kedua alis Dirga berdenyut kencang. Cahaya di dalam ruangan sekuritas seolah meredup seketika, tergantikan oleh kilatan visi masa depan yang baru dan sangat liar.

Di balik matanya yang terpejam sebentar, Dirga menyaksikan bayangan kegelapan malam yang dihantam hujan lebat tak henti-henti. Suara gemuruh air bergemuruh dahsyat dari arah tanggul pembatas sungai yang membentang di dekat area perumahan tetangga sebelah rumahnya.

Brak! Bresss!

Dalam kilatan visi yang sangat presisi itu, struktur beton tanggul yang retak mendadak jebol dihantam luapan air bandang. Air keruh setinggi dada manusia meluncur deras menghancurkan dinding rumah-rumah warga yang sedang tertidur lelap di tengah malam besok. Jeritan histeris dan tangisan anak-anak bersahutan di tengah kegelapan bencana banjir.

Dirga membuka matanya dengan cepat. Dahi dan lehernya kembali dibasahi keringat dingin. Sensasi denyut pencerahan dari Sang Leluhur meninggalkan pesan yang sangat jelas di dalam benaknya.

"Bencana banjir... tanggul jebol besok malam di perumahan tetangga," bisik Dirga dalam hati, matanya mengeras penuh ketegangan.

Modal awal untuk bangkit kini telah berada di tangannya, namun ujian keberadaan mata batinnya untuk menyelamatkan nyawa orang-orang di sekitarnya baru saja dimulai.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!