NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puisi Dari Kejauhan

Hari itu, Ayah Amy memutuskan untuk membawa Amy ke sebuah acara pameran seni rupa kontemporer di galeri paling bergengsi di kota.

Tujuannya jelas, menunjukkan pada Amy lingkungan kelas atas yang seharusnya ia tempati.

Amy berdiri di tengah galeri yang dingin dan minimalis itu. Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan, rambutnya disanggul rapi.

Di sampingnya, ayahnya sedang berbincang dengan seorang kolektor seni, sementara pengawal pribadi berdiri tak jauh dari sana.

Amy merasa seperti lukisan di dinding itu, indah, tapi mati.

Sampai akhirnya, ia melihat sebuah pergerakan di dekat pintu masuk galeri.

Zayden berdiri di sana.

Si Panglima Jalanan itu tampak sangat tidak pada tempatnya. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, memperlihatkan sedikit bekas luka di pergelangan tangannya.

Ia datang bersama Dio dan Gara yang tampak sangat kebingungan melihat lukisan abstrak.

"Bos, ini lukisan apa? Kok kayak bekas tumpahan oli di bengkel tapi harganya ratusan juta?" bisik Dio dengan suara yang untungnya pelan.

Zayden tidak menjawab, Matanya menyapu ruangan untuk mencari satu-satunya karya seni yang ingin ia lihat. Dan ia menemukannya.

Mata mereka bertemu di antara kerumunan orang-orang berjas. Jarak mereka sekitar dua puluh meter, terpisah oleh sekat kaca dan barisan patung marmer.

Amy tertegun, Jantungnya berpacu. Ia tidak menyangka Zayden akan nekat datang ke acara sekaku ini. Ia ingin berlari, tapi ia tahu ayahnya hanya berjarak dua langkah darinya.

Zayden melihat Amy, Ia terpana melihat betapa cantiknya gadis itu dalam balutan gaun formal. Namun, ia juga melihat gurat kesedihan di mata Amy. Zayden tidak mendekat, Ia tahu batas.

ia tidak ingin merusak penyamaran Amy atau memancing amarah ayahnya.

Zayden perlahan mengangkat tangannya, lalu menyentuh dada kirinya, tepat di jantungnya. kemudian ia menunjuk ke arah Amy. Sebuah pesan bisu, Hatiku ada di sana.

Amy yang melihat itu hampir saja menjatuhkan gelas jus di tangannya. Ia menahan tawa sekaligus rasa haru yang membuncah. Ia kemudian memberikan balasan kecil, ia merapikan rambutnya, lalu menyelipkan tangannya di balik punggung, memberikan simbol finger heart yang sangat kecil, hanya untuk Zayden.

Zayden tersenyum lebar. Bukan senyum sangar, tapi senyum tulus yang membuat matanya menyipit.

Dio yang melihat bosnya senyum-senyum sendiri langsung menyenggolnya. "Bos, lo kesambet penunggu galeri? Liat tuh, bapaknya Amy nengok ke sini!"

Zayden segera memutar tubuhnya, berpura-pura sangat serius mengamati sebuah lukisan garis lurus berwarna merah.

"Oh, lukisan ini... sangat mendalam," ucap Zayden keras-keras agar terdengar puitis.

"Garis merah ini melambangkan garis takdir yang memisahkan kita, namun tetap berada dalam satu kanvas yang sama."

Gara menepuk jidatnya. "Itu garis pembatas Jangan Disentuh, Bos! Bukan lukisan!"

Amy yang mendengar sayup-sayup suara Zayden di seberang ruangan tidak bisa lagi menahan diri. Ia menunduk, berpura-pura batuk untuk menutupi senyumnya yang merekah luas.

Sesaat kemudian, ponsel di dalam tas kecil Amy bergetar. Sebuah pesan masuk,

Toko Buku (Zayden):

"Lo cantik banget malam ini. Gaun lo putih, tapi di mata gue, lo satu-satunya warna yang paling terang di ruangan ini. Gue nggak bisa deketin lo sekarang, tapi anggep aja setiap embusan AC di sana itu bisikan puisi gue yang lagi bilang kalo Gue kangen lo, Satu Derajat Celcius."

Amy melirik ke arah Zayden lagi, Pemuda itu sedang dikawal keluar oleh petugas galeri karena Dio tidak sengaja menyentuh salah satu instalasi seni. Sebelum benar-benar keluar, Zayden menoleh sekali lagi, mengedipkan sebelah matanya, dan memberikan hormat ala panglima.

Amy tersenyum lebar, menatap punggung Zayden yang menghilang di balik pintu kaca. Pameran seni yang membosankan itu mendadak menjadi momen paling indah dalam hidupnya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍🥰🥰

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!