Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan tapi Terasa Hangat
Langit Yogyakarta sore itu gelap banget, awan hitam menumpuk tebal seperti mau jebol. Fira masih di Kafe Senja, ia masih merapikan meja terakhir, sambil sesekali melirik jendela. Hujan belum turun, tapi udara sudah lembab, angin kenceng banget sampai daun-daun pohon di luar ikut bergoyang.
"Fir, kayaknya bakal hujan deres nih. Lo bawa payung nggak?" tanya Anna sambil mengunci kasir.
"Aku nggak bawa payung, soalnya tadi pagi keliatan cerah."
"Waduh, ala lo mau pinjam payung gue? Gue sih naik motor, lagian, gue juga ada jas hujan."
"Nggak usah, ntar kamu susah. Gue tunggu aja dulu, siapa tau hujannya cuma sebentar."
Tapi baru lima menit kemudian, langit benar-benar jebol. Hujan turun deres banget, angin semakin kenceng, suara gemuruh petir terdengar menyambar. Air hujan mengguyur kenceng sampai jalanan di depan kafe langsung banjir sedikit.
"Gila, deres banget!" Anna teriak sambil menutup pintu kafe rapat-rapat. "Fir, lo yakin nggak mau pinjem payung gue?"
Fira melihat hujan yang semakin deras. Payung juga kayaknya nggak bakal membantu banyak, bakal basah kuyup juga jadinya.
"Gue tunggu aja deh, siapa tau nanti reda."
Tapi setengah jam berlalu, hujan nggak ada tanda-tanda bakal berhenti. Malah semakin deres. Fira sudah mulai pasrah, mikir mau nelpon ojek online aja, meski bakal mahal gara-gara hujan.
Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari Ditya.
...📩...
Ditya: Fir, kamu sudah pulang belum? Hujannya deres banget nih.
Zafira tersenyum saat membaca pesan itu, Ditya selalu perhatian sama dia.
^^^Zafira: Belum, masih di kafe. Aku nunggu hujannya reda dulu.^^^
Ditya: Kamu bawa payung gak?
^^^Zafira: Nggak.^^^
Ditya: Tunggu di sana, aku ke sana sekarang.
^^^Zafira: Hah? Nggak usah, Dit. Hujannya deras banget, bahaya.^^^
Ditya: Sudah, tunggu saja. Aku segera datang kesana.
Fira melihat ponselnya sambil menghela nafas. Kenapa sih, Ditya selalu kayak gini? Selalu datang pas Zafira butuh.
***
Lima belas menit kemudian, Fira melihat motor masuk ke halaman kafe. Ditya turun dari motor sambil terburu-buru, jaketnya basah, celananya basah, tapi Ditya membawa payung besar di tangannya.
Fira langsung keluar dari kafe, berdiri di teras sambil melihat ke arah Ditya yang lagi memarkirkan motornya.
"Dit! Kamu gila apa, hujan-hujan begini?!"
Ditya tersenyum lebar sambil jalan mendekat, bawa payung. "Aku nggak bisa meninggalkan kamu sendirian, Fir. Ayo, aku anterin pulang."
"Tapi hujannya deras banget, bahaya."
"Makanya kita nggak langsung pulang. Kita berteduh dulu di warung angkringan sebelah situ, tunggu hujannya agak reda. Gimana?"
Fira melihat warung angkringan yang Ditya tunjuk. Warung kecil di pinggir jalan, ada tenda terpal buat berlindung dari hujan.
"Oke deh. Ayo."
Ditya menggenggam tangan Fira pelan, menarik dia ke bawah payung. Jarak mereka deket banget, bahu Fira menempel pada bahu Ditya. Fira bisa merasakan hangatnya tubuh dari Ditya. Yang kontras banget sama dinginnya hujan.
Mereka jalan cepet cepet ke warung angkringan sambil berbagi payung. Tapi tetep aja basah dikit gara gara angin yang nyemprot air hujan ke samping.
Sampe di warung, mereka duduk di bangku kayu kecil. Bapak bapak penjual angkringan langsung nyamperin sambil senyum ramah.
"Waduh, hujannya deres ya, Mas, Mbak. Mau pesen apa?"
"Wedang jahe dua pak," pesen Ditya cepat.
"Siap mas."
Fira melihat ke arah Ditya, rambutnya terlihat basah, jaketnya basah menempel di badan. Fira mengambil tissue dari tas, lalu memberikannnya pada Ditya.
"Nih, lap dulu. Kamu basa banget."
"Makasih Fir," ucap Ditya sambil menerima tissue lalu mengelap wajah sama rambut. "Kamu gimana? Basah nggak?"
"Dikit sih, tapi nggak papa."
Bapak-bapak itu bawa dua gelas wedang jahe yang masih ngepul panas. Aroma jahe sama gula merah nyengat langsung berasa anget di hidung.
"Ini, Mas, Mbak, wedang jahe anget. Enak buat ngusir dingin."
"Makasih pak," kata Fira sambil menerima gelas nya.
Mereka minum wedang jahe sambil ngeliatin hujan yang masih deres di luar. Suara gemuruh petir masih terdengar sesekali, tapi di dalam tenda angkringan ini berasa aman dan hangat.
"Dit," panggil Fira pelan.
"Hm?"
"Makasih udah jemput aku. Padahal hujannya segede gini."
Ditya senyum sambil melihat Fira. "Sama-sama Fir. Aku nggak tega ngebayangin kamu pulang sendirian kehujanan. Apalagi jalanan sepi, bahaya."
"Kamu terlalu baik, Dit."
"Emang salah ya baik ke orang yang penting buat kita?"
Penting buat kita.
Kata-kata itu bikin jantung Fira berdetak kenceng. Dia penting buat Ditya?
"Apa aku sepenting itu buat kamu?" tanya Fira pelan, agak malu.
Ditya diem sebentar, melihat gelas wedang jahe di tangannya. Nafasnya berat.
"Iya Fir. Kamu penting banget buat aku. Aku nggak tau sejak kapan, tapi kamu udah jadi bagian penting dalam hidup aku."
Fira nggak tau harus jawab apa. Dadanya sesak, hangat, campur aduk.
"Ditya."
"Aku tau kita baru kenal beberapa bulan. Aku tau mungkin ini kedengerannya lebay. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan aku. Tiap hari aku pengen ketemu kamu, pengen ngobrol sama kamu, pengen liat kamu senyum. Dan gak tau kenapa aku nyaman saat berada di dekat kamu."
Air mata Fira mulai berkumpul di pelupuk mata. Kenapa? Kenapa ada orang yang sebaik ini? Yang peduli sama dia yang udah hancur kayak gini?
"Ditya, aku..."
"Kamu nggak usah jawab apa-apa Fir. Aku cuma pengen kamu tau, kalau kamu nggak sendirian. Aku ada, dan aku bakal selalu ada buat kamu."
Fira nggak bisa nahan air mata nya lagi. Netes jatuh begitu aja. Dia cepet cepet ngusap pake punggung tangan sambil ketawa kecil.
"Kenapa aku nangis sih, bodoh banget."
Ditya mengulurkan tangan, lalu menghapus air mata Fira pake jempolnya pelan. Sentuhan lembut yang bikin Fira makin sesak.
"Nangis nggak papa, Fir. Keluarin aja kalau emang kamu pengen nangis."
Dan Fira nangis. Nangis lega, nangis terharu, nangis karena dia nggak pernah ngerasain perhatian sekeras ini sejak Angga pergi.
Ditya nggak ngomong apa-apa, cuma duduk di samping sambil sesekali mengelus punggung Fira pelan. Ngasih kenyamanan tanpa kata kata.
Setelah beberapa menit, Fira udah agak tenang. Dia mengusap air mata terakhir terus senyum malu.
"Maafin aku Dit, aku jadi kayak anak kecil."
"Nggak papa. Aku seneng kok kamu mau nangis di depan aku. Berarti kamu percaya sama aku."
Percaya.
Kata itu lagi.
Fira melihat Ditya lama. Mata coklatnya yang lembut, senyumnya yang tulus, dan saat tersenyum Fira baru sadar. Kalo Ditya punya lesung pipi.
"Dit, aku mau bilang sesuatu sama kamu."
"Apa?"
"Aku merasa nyaman banget sama kamu. Terlalu nyaman malah. Dan itu membuat aku takut."
Ditya mengerutkan kening. "Takut kenapa?"
"Takut kalau aku terlalu bergantung sama kamu. Takut kalau kamu tiba-tiba pergi kayak orang itu."
Ditya tau siapa orang yang Fira maksud. Anggara. Mantan yang meninggalkan Fira tanpa kabar.
"Fir," ucap Ditya, sambil menggenggam tangan Fira yang dingin. "Aku nggak akan pernah pergi, aku janji."
"Tapi semua orang juga bilang begitu. Bahkan dia juga bilang janji. Tapi akhirnya pergi juga."
"Nggak semua sama seperti dia, Fir. Aku Aditya, orang yang kamu panggil Ditya ini. Dia nggak sama seperti mereka yang udah meninggalkan kamu. Dan aku janji nggak akan pernah meninggalkan kamu."
Tangan mereka masih bertautan. Hangatnya tangan Ditya begitu terasa pada tangan Fira yang dingin. Dan Fira ngerasain sesuatu. Sesuatu yang kayak listrik. Percikan kecil yang bikin bulu kuduk merinding.
Ditya juga merasakan hal yang sama. Ia mengepalkan tangan mereka yang bertautan, hatinya berdetak kenceng banget.
"Fira."
"Hm?"
"Boleh nggak, kalo aku tetap menggandeng tangan kamu kayak gini?"
Fira nggak menjawab, tapi dia nggak menarik tangannya. Malah dia menggenggam balik tangan Ditya pelan.
Dan mereka duduk kayak gitu, gandengan tangan, ngeliatin hujan yang mulai mereda pelan pelan. Nggak ada yang ngomong, tapi keduanya ngerasain kehangatan yang sama.
Kehangatan yang bikin mereka lupa sama dingin nya hujan. Kehangatan yang bikin mereka lupa sama luka luka masa lalu. Setidaknya untuk malam ini.
***
Hujan akhirnya reda jadi gerimis. Ditya mengantarkan Fira pulang naik motor, jalan pelan di jalanan yang masih terlihat basah karena hujan. Fira memeluk pinggang Ditya dari belakang, kepalanya bersandar dikit pada punggung Ditya.
Ketika sampai di kost, Fira turun dari motor sambil mengembalikan helm milik Ditya.
"Makasih ya, Dit. Makasih sudah jemput, dan mengantarkan aku pulang."
"Sama-sama Fira. Sudah masuk sana, istirahat. Kamu pasti capek."
Fira jalan ke pintu kost, tapi sebelum masuk ia menengok ke belakang. Ditya masih berada di sana, masih tersenyum sambil melambaikan tangan.
Dan Fira merasakan sesuatu yang membuat dadanya penuh. Ia mulai sadar, kalau ia nggak cuma nyaman dengan Ditya.
Fira mulai tertarik, dan mulai suka dengan kehadirannya. Dan itu membuat Fira takut sekaligus, bahagia.
Di kamar, Fira merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sambil melihat tangannya yang tadi digenggam Ditya. Bahkan hangatnya masih begitu terasa.
Fira mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada Ditya.
...💌...
Fira: Makasih ya, Dit. Kamu selalu ada di saat aku butuh, makasih untuk semuanya.
Tak lama, Ditya pun membalas pesan dari Fira.
^^^Ditya: Sama-sama, Fir. Tidur yang nyenyak ya. Semoga mimpi indah.^^^
Fira tersenyum saat membaca pesan itu, lalu ia mulai mengetik kembali.
Fira: Kamu juga. Hati-hati di jalan ya.
^^^Ditya: Siap. Aku malah sudah sampai rumah kok. Jadi kamu gak usah khawatir.^^^
Fira menaruh ponselnya di dada, ia menutup mata sambil senyum-senyum sendiri. Tapi di saat yang bersamaan, rasa takut itu kembali muncul dalam diri Fira.
Takut jika ia jatuh terlalu dalam, takut jika ternyata Ditya juga akan pergi sama seperti Anggara. Fia takut, jika ia nggak kuat lagi kalau harus merasakan sakit untuk yang kedua kalinya.
"Ya Allah," bisiknya pelan. "Aku bingung, aku suka sama dia. Tapi aku takut, kasih aku petunjuk ya Allah, kumohon."
Dan malam itu Fira tidur dengan hati yang bercabang, antara harapan dan ketakutan. Antara rasa suka dan ragu. Fira ngin membuka hati, dan ingin menutup rapat-rapat supaya nggak sakit lagi.
Sementara di lain tempat, kini Ditya sedang duduk sendirian sambil melihat ponselnya. Ia membuka folder hidden lagi, foto-foto Jessica masih berada di sana.
Tapi kali ini Ditya merasakan sesuatu yang berbeda, ia melihat foto-foto itu tanpa ada rasa sakit seperti biasanya. Malah yang ia rasakan sekarang, cuma kenangan yang sudah lewat.
Dan untuk pertama kalinya, Ditya berpikir untuk menghapus hapus folder itu. Tapi belum sekarang, ia masih butuh waktu sedikit lagi, untuk bener-bener meninggalkan Jessica. Untuk bener-bener membuka hati penuh buat Fira.
"Sebentar lagi Fir," gumamnya pelan sambil melihat foto mereka di Alun-Alun Kidul. "Tapi... Apa aku sama Fira, menjalin hubungan HTS aja kali ya. Dan jangan sampai pakai hati, karena aku nggak mau nantinya ada yang menyakiti atau tersakiti lagi."
Entah kenapa, Ditya malah berpikir kesana, ia malah berpikir untuk menjalin HTS terlebih dahulu bersama Fira. Meskipun Ditya tahu sendiri, bahwa ia sudah mulai suka terhadap Fira.
Bahkan Fira tidak tahu, jika Ditya sebenarnya sudah stalking akun instagramnya sejak lama, sejak ia pertama kali bertemu, di Kafe Senja.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣