NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05 Harga yang Mulai Terlihat

Aruna menyadari satu hal sejak pagi itu: semua orang mulai memperhatikannya.

Bukan dengan terang-terangan, bukan dengan bisik-bisik kasar. Justru dengan tatapan yang terlalu cepat dialihkan, percakapan yang terhenti ketika ia mendekat, dan senyum formal yang terasa lebih dingin dari biasanya.

Ia tahu reputasi itu sedang dibangun pelan-pelan.

Perempuan legal yang tidak keberatan saat keputusan besar dijatuhkan.

Di mejanya, setumpuk berkas menunggu tanda tangan. Tapi fokus Aruna terpecah pada satu email yang masuk tiga puluh menit lalu.

From: Calvin Aryasatya

Subject: Review Kontrak Divisi Legal

Singkat. Dingin. Tidak ada basa-basi.

Dan anehnya, bukan itu yang membuat dadanya mengencang.

Sejak pertemuan di ruang direktur dua hari lalu, Calvin tidak pernah bersikap berbeda di depan umum. Tidak menyudutkan. Tidak menekan. Bahkan nyaris terlalu profesional. Seolah panggilan pribadi itu tak pernah terjadi.

Namun Aruna tahu, seseorang seperti Calvin tidak melakukan apa pun tanpa alasan.

Di ruang rapat kecil lantai dua puluh satu, Calvin sudah duduk lebih dulu. Jasnya hari ini abu-abu gelap, kemejanya tanpa dasi. Santai, tapi tetap berjarak. Ia menutup laptop ketika Aruna masuk.

“Duduk,” katanya.

Aruna menuruti tanpa suara.

“Kamu tahu kenapa aku memintamu meninjau ulang kontrak ini?” tanya Calvin, menyorongkan satu map cokelat ke arahnya.

Aruna membukanya. Matanya bergerak cepat membaca klausul demi klausul. Tidak ada yang aneh. Terlalu bersih.

“Secara hukum, aman,” jawabnya jujur. “Tidak ada celah yang bisa dipermasalahkan.”

Calvin menatapnya beberapa detik. Lalu berkata, “Bagus. Karena kontrak ini akan menggantikan perjanjian lama yang… bermasalah.”

Jari Aruna berhenti.

Ia menutup map perlahan. “Masalah yang sama seperti proyek Eastbay?”

Senyum tipis muncul di sudut bibir Calvin. Bukan senyum hangat. Lebih seperti pengakuan diam-diam.

“Kamu cepat menangkap maksudnya.”

Ruangan kembali sunyi. Kali ini bukan karena tegang, tapi karena ada terlalu banyak hal yang tak diucapkan.

“Pak Calvin,” ucap Aruna akhirnya. “Kalau tujuan Bapak hanya memastikan sisi legal, saya sudah jawab.”

“Bukan,” potong Calvin. “Aku ingin tahu satu hal.”

Ia bersandar ke kursinya. Tatapannya lurus, tajam, dan—untuk pertama kalinya—tidak sepenuhnya dingin.

“Kalau situasinya terulang,” lanjutnya pelan, “kamu akan tetap memilih diam?”

Pertanyaan itu jatuh tanpa amarah. Tanpa tekanan. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.

Aruna menarik napas dalam. Ia sadar, jawaban ini tidak akan tercatat di notulen mana pun. Tapi akan diingat.

“Aku akan memilih opsi yang paling sedikit menghancurkan,” jawabnya akhirnya.

Calvin mengangguk pelan. “Jawaban yang aman.”

“Atau realistis,” balas Aruna.

Untuk sesaat, sesuatu bergerak di mata Calvin. Penghargaan. Atau mungkin ketertarikan yang belum semestinya muncul.

“Mulai hari ini,” katanya kemudian, “kamu akan menangani kontrak strategis langsung di bawah pengawasanku.”

Aruna terdiam.

“Itu promosi?” tanyanya hati-hati.

“Beban,” jawab Calvin singkat. “Dan risiko.”

Aruna tersenyum tipis. “Saya terbiasa.”

Calvin berdiri. Percakapan selesai. Tapi sebelum Aruna sempat bangkit, ia menambahkan satu kalimat yang membuat langkah Aruna terhenti.

“Diammu waktu itu,” katanya tanpa menoleh, “menyelamatkan perusahaan. Tapi mungkin… tidak menyelamatkan dirimu.”

Pintu ruang rapat tertutup.

Aruna berdiri sendiri, menyadari satu hal yang kini tak bisa dihindari lagi.

Harga dari diamnya mulai terlihat.

Dan ia baru saja masuk lebih dalam ke wilayah Calvin Aryasatya—wilayah yang tidak memberi jalan keluar dengan mudah.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!