NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - Garis yang Tidak Dilangkahi

"Ini sudah bukan soal data lagi." Kata Sinta sambil meletakkan tablet di meja.

Nadira menggeser kursi mendekat. "Apa lagi?"

"Opini personal. Blog. Akun anonim." Sinta membuka layar.

Judul-judulnya kasar, tapi cerdik...

"NADIRA CERDAS ATAU LICIK?"

"DARI KORBAN KE PEMAIN APA BEDANYA?"

Nadira membaca cepat. Dadanya terasa berat, tapi wajahnya tetap tenang.

"Mereka menggiring ke motif pribadi." Gumamnya. "Bukan kerja."

Koordinator mengangguk. "Itu cara paling mudah menjatuhkanmu. Membuat orang ragu pada niat."

"Dan kalau aku diam?" Tanya Nadira.

"Diam bisa ditafsirkan macam-macam." Jawab koordinator. "Tapi bicara juga berisiko."

Nadira bersandar. "Mereka tidak menyerang dataku. Mereka menyerang aku."

"Karena datamu kuat." Kata Sinta.

Hening sejenak.

"Apa aku harus klarifikasi?" Tanya Nadira pelan.

Koordinator menatapnya lama. "Klarifikasi apa?"

Nadira menghela napas. "Aku lelah menjelaskan diriku."

"Kalau begitu." Kata koordinator, "Jangan! Kita jawab dengan konsistensi."

Siang itu, Nadira berjalan pulang sendirian. Langkahnya lebih cepat dari biasanya. Ponselnya bergetar terus menerus menampilkan pesan, notifikasi, permintaan wawancara.

Dia berhenti di bawah pohon, menarik napas panjang. "Aku tidak boleh runtuh sekarang." Gumamnya.

Ponsel berdering, Raka.

'Kamu di mana?" Tanya Raka.

"Jalan."

"Kedengaran capek."

"Karena aku sedang jadi bahan diskusi." Jawab Nadira singkat.

Raka terdiam sebentar. "Kamu mau ditemani?"

Nadira menggeleng, meski Raka tak bisa melihat. "Tidak. Tapi terima kasih sudah menawarkan."

Ada jeda sunyi. "Nad." Kata Raka pelan. "Aku tahu kita tidak..."

"Kita tidak?" Potong Nadira lembut. "Dan itu tidak apa-apa."

Raka tersenyum kecil di seberang. "Aku hanya mau kamu tahu... aku ada sebagai manusia."

"Itu cukup." Jawab Nadira.

***

Hujan deras malam itu. Bengkel bocor di beberapa titik. Raka dan Pak Jaya menggeser ember.

"Rak." Kata Pak Jaya. "Kalau kondisi begini terus, aku mungkin harus menjual alat."

Raka berhenti bergerak. "Kalau Bapak jual alat." Katanya pelan. "Bengkel ini selesai."

Pak Jaya mengangguk. "Aku tahu."

Raka duduk di lantai, punggungnya basah. "Pak." Suaranya serak. "Kalau aku pergi sekarang… Bapak marah?"

Pak Jaya menatapnya lama. "Kamu bukan tanggung jawabku." Kata Pak Jaya jujur. "Tapi aku akan kecewa... kalau kamu pergi bukan karena pilihan, tapi karena putus asa."

Raka menutup mata. "Aku capek." Katanya lirih. "Aku merasa bodoh menolak semua jalan mudah."

Pak Jaya duduk di sampingnya. "Bodoh itu menolak berpikir. Kamu sedang berpikir."

Raka tertawa pahit. "Berpikir tidak bayar sewa."

"Tidak." Jawab Pak Jaya. "Tapi karakter yang bertahan lama yang bayar hidup."

Malam itu, Raka kembali ke kos. Lampu kembali menyala.

Dia duduk di kasur, menatap dinding. Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadira.

[Aku tahu kamu lagi berat. Jangan menjauh hanya karena kamu merasa gagal.]

Raka mengetik lama.

[Aku tidak menjauh. Aku hanya tidak mau jadi beban.]

Balasan datang cepat.

[Kamu tidak bertanggung jawab atas hidupku. Dan aku tidak bertanggung jawab atas hidupmu. Itu sebabnya kita bisa saling peduli tanpa saling menuntut.]

Raka menutup mata. "Terima kasih." Bisiknya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti... Dia dan Nadira sudah tidak saling memiliki. Tapi mereka masih bisa saling menghormati.

***

'Kamu kira setelah sidang selesai, semuanya akan diam?"

Ibunya menyeduh teh di dapur. Aluna duduk di meja, menatap tangannya sendiri.

"Aku berharap begitu." Katanya jujur.

Ibunya tersenyum lelah. "Kamu baru masuk tahap paling sunyi."

"Apa maksud Ibu?"

"Tanggung jawab sosial." Jawab ibunya. "Bukan yang tertulis, tapi yang terasa."

Aluna menghela napas. "Ada orang yang masih takut melihat namaku."

"Dan itu tidak bisa kamu paksa sembuh." Kata ibunya.

Aluna terdiam. "Aku ingin memperbaiki." Katanya pelan. "Tapi aku tidak tahu caranya tanpa terlihat pura-pura."

Ibunya menatapnya lembut. "Kalau niatmu benar, kamu akan terlihat kikuk. Itu tanda kamu tidak manipulatif lagi."

Aluna tersenyum tipis. "Jadi... aku harus menerima kalau aku tidak disukai."

"Tidak disukai bukan hukuman." Jawab ibunya. "Itu konsekuensi."

Beberapa hari kemudian, Aluna mengunjungi sebuah komunitas kecil tanpa kamera, tanpa pengumuman. Dia berdiri canggung di depan pintu.

"Saya Aluna." Katanya pada koordinator. "Saya tidak datang sebagai pembicara. Saya datang untuk membantu. Kalau boleh..."

Koordinator menatapnya curiga. "Kenapa kami harus percaya?"

Aluna menunduk. "Tidak harus. Saya akan tetap datang. Atau pergi kalau diminta."

Hening.

'Kita butuh orang merapikan arsip." Kata koordinator akhirnya. "Tidak dibayar."

Aluna mengangguk. "Tidak apa-apa."

Saat dia mulai bekerja, tangannya gemetar bukan karena takut terlihat, tapi karena ini pertama kalinya ia tidak memegang kendali.

***

"Ini bukan wawancara." Kata seorang jurnalis di telepon. "Ini profil."

"Profil tentang apa?" Tanya Nadira.

"Tentang kamu, kehidupanmu dan relasimu."

Nadira menutup mata. "Saya menolak."

"Kenapa?" Desak sang jurnalis. "Bukankah transparansi penting?"

"Transparansi tidak berarti telanjang." Jawab Nadira tegas. "Kerja saya terbuka. Hidup saya tidak."

Telepon ditutup.

Nadira duduk lama di kursi. Dia merasa telanjang tanpa membuka apa pun.

Pintu diketuk. Arvin.

"Kamu tidak membalas pesanku." Katanya lembut.

"Aku sedang menyelamatkan batas." Jawab Nadira jujur.

Arvin tersenyum kecil.

"Itu pekerjaan penuh waktu."

Mereka duduk berhadapan.

"Kamu aman?" Tanya Arvin.

"Tidak." Jawab Nadira. "Tapi aku sadar... aku tidak sendirian."

Arvin menatapnya lama. "Aku tidak datang untuk memperbaiki apa pun."

"Aku tahu."

"Aku datang karena aku ingin berada di sisimu." Katanya pelan. "Kalau kamu izinkan."

Nadira terdiam. "Aku tidak butuh diselamatkan." Katanya.

"Aku tidak menawarkan itu." Jawab Arvin. "Aku menawarkan kehadiran."

***

Pagi itu, Raka menerima pesan dari pemilik kos. Kalau belum bayar minggu ini, saya terpaksa minta kamu pindah. Raka duduk lama, menatap layar. Dia menghela napas, lalu berdiri.

Dia menemui Pak Jaya di Bengkel.

"Pak." Katanya. "Aku mungkin harus cari kerja malam.”

Pak Jaya mengangguk. "Aku bisa kenalkan ke teman. Bersih. Capek."

"Aku mau." Jawab Raka tanpa ragu.

Pak Jaya tersenyum kecil. "Kamu tidak lari."

Raka menggeleng. "Aku hanya butuh menyesuaikan diri."

Malam itu, Raka dan Nadira bertemu di warung kecil. Pertama kali setelah lama hanya berbicara lewat telepon.

"Kamu kelihatan kurus." Kata Nadira.

"Kamu kelihatan lebih keras." Balas Raka.

Mereka tertawa kecil.

"Nad." Kata Raka tiba-tiba. "Aku mau bilang sesuatu, biar semua terlihat lebih jelas." Lanjutnya.

Nadira mengangguk.

"Aku peduli. Tapi aku tidak ingin kembali ke tempat lama. Aku tidak ingin kamu merasa terikat."

Nadira menatapnya tenang. "Aku juga tidak ingin kembali. Dan aku tidak merasa ditinggalkan."

Raka menghela napas lega. "Kita baik-baik saja." Kata Nadira. "Karena kita tidak saling menggenggam."

Raka tersenyum. "Terima kasih sudah tumbuh bersamaku. Walau arahnya beda."

***

Saat Nadira pulang, Arvin menunggunya di depan rumah dengan dua gelas kopi.

"Ini tidak romantis." Kata Nadira.

"Aku tahu." Jawab Arvin. "Makanya aku melakukannya."

Mereka duduk di tangga.

"Aku tidak akan mengejarmu." Kata Arvin. "Aku akan berjalan di sampingmu, kalau kamu mau."

Nadira menatapnya lama. "Aku belum siap mencintai." Katanya jujur.

"Aku tidak minta itu." Jawab Arvin. "Aku minta izin untuk hadir, sisanya biar waktu yang menjawab."

Nadira tersenyum kecil. "Kamu berbahaya."

"Karena aku sabar?" Tanya Arvin.

"Karena kamu tidak memaksa."

***

Di tengah tekanan yang makin personal...

Nadira belajar menjaga batas tanpa menghilang.

Raka hampir menyerah, tapi memilih bertahan tanpa menyandarkan diri.

Aluna menyadari bahwa tanggung jawab sejati adalah hadir tanpa panggung.

Dan Arvin, tanpa janji besar, mulai menempati ruang yang tidak memaksa.

Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada kemenangan dramatis. Hanya orang-orang yang memilih tetap jujur ketika dunia meminta mereka menyerah atau berpura-pura. Dan itu, untuk saat ini... sudah cukup untuk mereka.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!