Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Garis yang Tidak Dilangkahi
"Ini sudah bukan soal data lagi." Kata Sinta sambil meletakkan tablet di meja.
Nadira menggeser kursi mendekat. "Apa lagi?"
"Opini personal. Blog. Akun anonim." Sinta membuka layar.
Judul-judulnya kasar, tapi cerdik...
"NADIRA CERDAS ATAU LICIK?"
"DARI KORBAN KE PEMAIN APA BEDANYA?"
Nadira membaca cepat. Dadanya terasa berat, tapi wajahnya tetap tenang.
"Mereka menggiring ke motif pribadi." Gumamnya. "Bukan kerja."
Koordinator mengangguk. "Itu cara paling mudah menjatuhkanmu. Membuat orang ragu pada niat."
"Dan kalau aku diam?" Tanya Nadira.
"Diam bisa ditafsirkan macam-macam." Jawab koordinator. "Tapi bicara juga berisiko."
Nadira bersandar. "Mereka tidak menyerang dataku. Mereka menyerang aku."
"Karena datamu kuat." Kata Sinta.
Hening sejenak.
"Apa aku harus klarifikasi?" Tanya Nadira pelan.
Koordinator menatapnya lama. "Klarifikasi apa?"
Nadira menghela napas. "Aku lelah menjelaskan diriku."
"Kalau begitu." Kata koordinator, "Jangan! Kita jawab dengan konsistensi."
Siang itu, Nadira berjalan pulang sendirian. Langkahnya lebih cepat dari biasanya. Ponselnya bergetar terus menerus menampilkan pesan, notifikasi, permintaan wawancara.
Dia berhenti di bawah pohon, menarik napas panjang. "Aku tidak boleh runtuh sekarang." Gumamnya.
Ponsel berdering, Raka.
'Kamu di mana?" Tanya Raka.
"Jalan."
"Kedengaran capek."
"Karena aku sedang jadi bahan diskusi." Jawab Nadira singkat.
Raka terdiam sebentar. "Kamu mau ditemani?"
Nadira menggeleng, meski Raka tak bisa melihat. "Tidak. Tapi terima kasih sudah menawarkan."
Ada jeda sunyi. "Nad." Kata Raka pelan. "Aku tahu kita tidak..."
"Kita tidak?" Potong Nadira lembut. "Dan itu tidak apa-apa."
Raka tersenyum kecil di seberang. "Aku hanya mau kamu tahu... aku ada sebagai manusia."
"Itu cukup." Jawab Nadira.
***
Hujan deras malam itu. Bengkel bocor di beberapa titik. Raka dan Pak Jaya menggeser ember.
"Rak." Kata Pak Jaya. "Kalau kondisi begini terus, aku mungkin harus menjual alat."
Raka berhenti bergerak. "Kalau Bapak jual alat." Katanya pelan. "Bengkel ini selesai."
Pak Jaya mengangguk. "Aku tahu."
Raka duduk di lantai, punggungnya basah. "Pak." Suaranya serak. "Kalau aku pergi sekarang… Bapak marah?"
Pak Jaya menatapnya lama. "Kamu bukan tanggung jawabku." Kata Pak Jaya jujur. "Tapi aku akan kecewa... kalau kamu pergi bukan karena pilihan, tapi karena putus asa."
Raka menutup mata. "Aku capek." Katanya lirih. "Aku merasa bodoh menolak semua jalan mudah."
Pak Jaya duduk di sampingnya. "Bodoh itu menolak berpikir. Kamu sedang berpikir."
Raka tertawa pahit. "Berpikir tidak bayar sewa."
"Tidak." Jawab Pak Jaya. "Tapi karakter yang bertahan lama yang bayar hidup."
Malam itu, Raka kembali ke kos. Lampu kembali menyala.
Dia duduk di kasur, menatap dinding. Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadira.
[Aku tahu kamu lagi berat. Jangan menjauh hanya karena kamu merasa gagal.]
Raka mengetik lama.
[Aku tidak menjauh. Aku hanya tidak mau jadi beban.]
Balasan datang cepat.
[Kamu tidak bertanggung jawab atas hidupku. Dan aku tidak bertanggung jawab atas hidupmu. Itu sebabnya kita bisa saling peduli tanpa saling menuntut.]
Raka menutup mata. "Terima kasih." Bisiknya.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti... Dia dan Nadira sudah tidak saling memiliki. Tapi mereka masih bisa saling menghormati.
***
'Kamu kira setelah sidang selesai, semuanya akan diam?"
Ibunya menyeduh teh di dapur. Aluna duduk di meja, menatap tangannya sendiri.
"Aku berharap begitu." Katanya jujur.
Ibunya tersenyum lelah. "Kamu baru masuk tahap paling sunyi."
"Apa maksud Ibu?"
"Tanggung jawab sosial." Jawab ibunya. "Bukan yang tertulis, tapi yang terasa."
Aluna menghela napas. "Ada orang yang masih takut melihat namaku."
"Dan itu tidak bisa kamu paksa sembuh." Kata ibunya.
Aluna terdiam. "Aku ingin memperbaiki." Katanya pelan. "Tapi aku tidak tahu caranya tanpa terlihat pura-pura."
Ibunya menatapnya lembut. "Kalau niatmu benar, kamu akan terlihat kikuk. Itu tanda kamu tidak manipulatif lagi."
Aluna tersenyum tipis. "Jadi... aku harus menerima kalau aku tidak disukai."
"Tidak disukai bukan hukuman." Jawab ibunya. "Itu konsekuensi."
Beberapa hari kemudian, Aluna mengunjungi sebuah komunitas kecil tanpa kamera, tanpa pengumuman. Dia berdiri canggung di depan pintu.
"Saya Aluna." Katanya pada koordinator. "Saya tidak datang sebagai pembicara. Saya datang untuk membantu. Kalau boleh..."
Koordinator menatapnya curiga. "Kenapa kami harus percaya?"
Aluna menunduk. "Tidak harus. Saya akan tetap datang. Atau pergi kalau diminta."
Hening.
'Kita butuh orang merapikan arsip." Kata koordinator akhirnya. "Tidak dibayar."
Aluna mengangguk. "Tidak apa-apa."
Saat dia mulai bekerja, tangannya gemetar bukan karena takut terlihat, tapi karena ini pertama kalinya ia tidak memegang kendali.
***
"Ini bukan wawancara." Kata seorang jurnalis di telepon. "Ini profil."
"Profil tentang apa?" Tanya Nadira.
"Tentang kamu, kehidupanmu dan relasimu."
Nadira menutup mata. "Saya menolak."
"Kenapa?" Desak sang jurnalis. "Bukankah transparansi penting?"
"Transparansi tidak berarti telanjang." Jawab Nadira tegas. "Kerja saya terbuka. Hidup saya tidak."
Telepon ditutup.
Nadira duduk lama di kursi. Dia merasa telanjang tanpa membuka apa pun.
Pintu diketuk. Arvin.
"Kamu tidak membalas pesanku." Katanya lembut.
"Aku sedang menyelamatkan batas." Jawab Nadira jujur.
Arvin tersenyum kecil.
"Itu pekerjaan penuh waktu."
Mereka duduk berhadapan.
"Kamu aman?" Tanya Arvin.
"Tidak." Jawab Nadira. "Tapi aku sadar... aku tidak sendirian."
Arvin menatapnya lama. "Aku tidak datang untuk memperbaiki apa pun."
"Aku tahu."
"Aku datang karena aku ingin berada di sisimu." Katanya pelan. "Kalau kamu izinkan."
Nadira terdiam. "Aku tidak butuh diselamatkan." Katanya.
"Aku tidak menawarkan itu." Jawab Arvin. "Aku menawarkan kehadiran."
***
Pagi itu, Raka menerima pesan dari pemilik kos. Kalau belum bayar minggu ini, saya terpaksa minta kamu pindah. Raka duduk lama, menatap layar. Dia menghela napas, lalu berdiri.
Dia menemui Pak Jaya di Bengkel.
"Pak." Katanya. "Aku mungkin harus cari kerja malam.”
Pak Jaya mengangguk. "Aku bisa kenalkan ke teman. Bersih. Capek."
"Aku mau." Jawab Raka tanpa ragu.
Pak Jaya tersenyum kecil. "Kamu tidak lari."
Raka menggeleng. "Aku hanya butuh menyesuaikan diri."
Malam itu, Raka dan Nadira bertemu di warung kecil. Pertama kali setelah lama hanya berbicara lewat telepon.
"Kamu kelihatan kurus." Kata Nadira.
"Kamu kelihatan lebih keras." Balas Raka.
Mereka tertawa kecil.
"Nad." Kata Raka tiba-tiba. "Aku mau bilang sesuatu, biar semua terlihat lebih jelas." Lanjutnya.
Nadira mengangguk.
"Aku peduli. Tapi aku tidak ingin kembali ke tempat lama. Aku tidak ingin kamu merasa terikat."
Nadira menatapnya tenang. "Aku juga tidak ingin kembali. Dan aku tidak merasa ditinggalkan."
Raka menghela napas lega. "Kita baik-baik saja." Kata Nadira. "Karena kita tidak saling menggenggam."
Raka tersenyum. "Terima kasih sudah tumbuh bersamaku. Walau arahnya beda."
***
Saat Nadira pulang, Arvin menunggunya di depan rumah dengan dua gelas kopi.
"Ini tidak romantis." Kata Nadira.
"Aku tahu." Jawab Arvin. "Makanya aku melakukannya."
Mereka duduk di tangga.
"Aku tidak akan mengejarmu." Kata Arvin. "Aku akan berjalan di sampingmu, kalau kamu mau."
Nadira menatapnya lama. "Aku belum siap mencintai." Katanya jujur.
"Aku tidak minta itu." Jawab Arvin. "Aku minta izin untuk hadir, sisanya biar waktu yang menjawab."
Nadira tersenyum kecil. "Kamu berbahaya."
"Karena aku sabar?" Tanya Arvin.
"Karena kamu tidak memaksa."
***
Di tengah tekanan yang makin personal...
Nadira belajar menjaga batas tanpa menghilang.
Raka hampir menyerah, tapi memilih bertahan tanpa menyandarkan diri.
Aluna menyadari bahwa tanggung jawab sejati adalah hadir tanpa panggung.
Dan Arvin, tanpa janji besar, mulai menempati ruang yang tidak memaksa.
Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada kemenangan dramatis. Hanya orang-orang yang memilih tetap jujur ketika dunia meminta mereka menyerah atau berpura-pura. Dan itu, untuk saat ini... sudah cukup untuk mereka.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍