Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Hadiah Rahasia
Malam itu, pondok di lereng bukit terasa lebih hangat dari biasanya. AL duduk di depan perapian, memperhatikan tangannya sendiri yang kini memegang sekantong kecil uang kertas dan logam hasil jerih payahnya mengangkut apel selama beberapa hari terakhir. Di dekat kakinya, Ocan—kucing ras oranye dengan bulu setebal karpet mahal—sedang duduk dengan posisi angkuh. Ocan menatap AL dengan mata bulatnya yang berwarna tembaga, ekspresinya seolah mengatakan bahwa AL hanyalah pelayan baru yang kebetulan berbadan besar di rumah ini.
"Kau melihat ini, Kucing?" bisik AL pada Ocan. "Ini adalah hasil kerja keras. Paman Silas bilang, jika aku punya ini, aku bisa membuat Moa senang. Kau? Kau hanya bisa tidur dan memakan biskuit mahal yang dibeli Moa dari hasil menjual pupuk."
Ocan hanya mendengus, lalu mulai menjilat cakarnya dengan gerakan cuek, sama sekali tidak terintimidasi oleh tinggi badan AL. Bagi Ocan, dunia ini berputar di sekelilingnya, dan manusia (serta raksasa lugu di depannya) hanyalah pelayan penyedia makanan.
"Aku akan memberinya kejutan besok," gumam AL lagi. "Moa bilang dia suka bunga, tapi bunga di kebun Paman Silas semuanya sama. Aku ingin sesuatu yang berbeda."
---
Keesokan paginya, setelah Esme berangkat ke desa untuk urusan dokter tumbuhan, AL segera memulai misinya. Dia tidak pergi ke kebun Paman Silas hari ini karena dia sudah meminta izin untuk mengambil cuti setengah hari. Di dalam kepalanya yang polos, AL berpikir bahwa kejutan terbaik adalah sesuatu yang besar dan berkesan.
Dia teringat saat di pasar kemarin, dia melihat seorang wanita membawa burung di dalam sangkar emas yang sangat cantik. Wanita itu terlihat sangat bahagia. AL menyimpulkan: Moa + Sesuatu di dalam kotak \= Bahagia.
AL pun pergi ke arah hutan yang lebih dalam, tempat yang sebenarnya dilarang oleh Esme. Namun, insting predatornya mengatakan bahwa hadiah terbaik untuk Moa ada di sana. Dengan gerakan yang sangat gesit, melompati batang pohon dan bebatuan, AL mencari sesuatu yang "indah".
Beberapa jam kemudian, Esme kembali ke rumah dengan perasaan lelah. Dia membawa beberapa botol kimia baru untuk penelitian cairan penyemprotnya. Begitu masuk ke rumah, ia dikejutkan oleh suasana yang berantakan.
"Aleksander? Kau di mana?" panggil Esme panik.
"Aku di sini, Moa! Di halaman belakang!" teriak AL dengan suara penuh semangat.
Esme segera berlari ke halaman belakang. Matanya hampir keluar saat melihat pemandangan di sana. AL berdiri dengan bangga di samping sebuah kotak kayu besar yang dia rakit sendiri dari sisa-sisa kayu gudang. Di dalamnya, terdapat seekor anak babi hutan yang masih liar, sedang mendengkur ketakutan. Tak hanya itu, di tangan AL ada seikat besar tanaman hias yang akarnya masih penuh tanah, bercampur dengan bunga-bunga liar yang sebenarnya adalah tanaman beracun jika tidak diolah dengan benar.
"Kejutan!" seru AL dengan wajah berseri-seri. "Paman Silas bilang istri suka hadiah. Aku menangkapkan ini untukmu. Ini bisa menjadi teman Ocan agar dia tidak sombong lagi, dan bunga-bunga ini warnanya sama dengan jas lab-mu yang lama."
Esme mematung. Dia menatap anak babi hutan itu, lalu menatap AL yang bajunya penuh lumpur dan sobek di bagian bahu. "Aleksander... kau membawa babi hutan ke dalam rumah kita?"
"Iya! Dia sangat kuat, seperti aku! Kita bisa memeliharanya," jawab AL tanpa beban.
"TIDAK! Lepaskan sekarang juga! Itu babi hutan, Aleksander! Dia akan merusak seluruh kebun kita dan mungkin menggigit Ocan!" Esme berteriak frustasi, namun kemudian melihat wajah AL yang seketika berubah murung. Binar di mata kuningnya meredup, bahunya yang lebar merosot.
"Tapi... aku membelinya dengan uangku... eh, maksudku aku mencarinya dengan susah payah karena aku ingin memberimu sesuatu. Aku juga beli ini di pasar tadi sebelum ke hutan," AL mengeluarkan sebuah pita rambut kecil berwarna merah dari sakunya. Pita itu terlihat sangat mungil di tangannya yang besar. "Ini untuk rambutmu agar tidak menutupi matamu saat bekerja."
Esme terdiam. Kemarahannya menguap seketika digantikan oleh rasa haru yang menyesakkan. Pria ini, seorang predator Enigma yang sanggup menghancurkan kota, baru saja pergi ke hutan dan pasar hanya untuk mencarikannya pita rambut dan "teman" untuk kucingnya.
"Maafkan aku, Moa. Aku memang bodoh ya? Aku tidak tahu apa yang disukai istri manusia," gumam AL sambil menunduk.
Esme mendekat, ia mengambil pita merah itu dari tangan AL dan langsung memakainya di rambutnya. "Tidak, kau tidak bodoh. Pitanya sangat cantik, Aleksander. Terima kasih banyak. Aku... aku sangat menyukainya."
Wajah AL kembali cerah dalam hitungan detik. "Benarkah? Kau menyukainya?"
"Iya. Tapi babi itu harus dikembalikan ke hutan, oke? Sebagai gantinya, kau boleh menemaniku memasak sore ini," ucap Esme sambil tersenyum manis.
Saat mereka masuk ke dalam rumah, Ocan sudah menunggu di depan pintu. Kucing itu menatap AL yang baru saja mandi dan harum sabun, lalu dengan gerakan sangat cuek, Ocan berjalan melewati kaki AL dan sengaja mengibaskan ekor tebalnya ke wajah AL.
"Hei! Kucing nakal!" geram AL pelan.
Ocan melompat ke atas meja, duduk dengan anggun seperti seorang raja yang sedang mengawasi rakyatnya. Dia mengeong sekali ke arah Esme, seolah sedang mengadu bahwa AL membawa bau hutan yang aneh ke rumah.
"Ocan, jangan jahat pada Aleksander. Dia baru saja membelikanku hadiah," tegur Esme sambil mengelus bulu tebal Ocan.
AL duduk di kursi dapur, memperhatikan interaksi itu dengan perasaan cemburu yang konyol. "Moa, kenapa kau lebih sering mengelus dia daripada aku? Aku juga punya bulu... eh, maksudku aku juga punya rambut yang sudah kau potong rapi."
Esme tertawa terbahak-bahak. "Kau cemburu pada seekor kucing, Aleksander? Astaga, kau ini benar-benar unik."
"Aku tidak cemburu. Aku hanya merasa... sebagai suami, harusnya aku yang mendapatkan elusan itu lebih banyak," ucap AL dengan logikanya yang sangat polos dan jujur.
Esme berhenti tertawa. Dia menatap AL yang sedang duduk dengan wajah serius namun matanya menunjukkan permohonan yang lucu. Esme mendekat, lalu dengan ragu ia mengusap kepala AL dengan lembut, seperti cara ia mengusap Ocan.
"Nah, sudah. Sekarang bantu aku potong sayuran ini. Dan ingat, pakai pisau, jangan pakai kuku!"
AL memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Esme di kepalanya. Di dalam hatinya, dia merasa jauh lebih tenang daripada saat dia berburu di hutan. Baginya, elusan tangan Moa adalah hadiah terbaik yang bisa ia dapatkan di dunia ini. Ocan yang melihat itu dari atas meja hanya memicingkan mata, seolah menandai bahwa persaingan memperebutkan perhatian sang majikan baru saja dimulai.
"Moa, apakah kita akan selalu seperti ini?" tanya AL tiba-tiba saat ia mulai memotong wortel dengan sangat hati-hati.
"Seperti apa?"
"Seperti ini. Ada aku, ada kau, dan ada kucing oranye yang menyebalkan ini. Aku tidak ingin kembali koma lagi. Aku ingin terus bangun dan melihatmu setiap pagi," ucap AL tulus.
Esme terhenti sejenak, hatinya berdenyut nyeri mengingat kebohongan yang ia simpan. "Iya, Aleksander. Selama kau tetap menjadi orang baik, kita akan terus seperti ini."
Esme ngebatin, "Semoga saja dunia tidak pernah menemukan kita di sini. Karena jika mereka datang, aku tidak tahu apakah aku sanggup melihat kebahagiaan anak-anak di mata kuning itu berubah menjadi kemarahan predator lagi."
Malam itu pun berlalu dengan penuh tawa konyol saat AL mencoba belajar bahwa babi hutan bukan hewan peliharaan yang baik, dan Ocan yang tetap bersikap seperti majikan tertinggi di pondok tersebut.