NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Malam tak berujung. Pekatnya seakan dapat menelan seseorang ke dalam ketakutan. Setiap detiknya bergerak sangat lambat. Seperti menghitung waktu menuju peradilan. Di rumah sakit, kegiatan tak pernah benar-benar berhenti, hanya sedikit lebih lengang. Orang-orang masih tetap berlalu lalang. Tapi tak sebanyak saat siang. Perawat sesekali datang untuk memeriksa kondisi pasien. Memantau perkembangannya. Dengan jadwal yang telah ditetapkan. Satu demi satu, tanpa terlewati, kemudian pergi.

Di luar, hujan telah berhenti beberapa waktu lalu. Meninggalkan basah yang menempel pada atap rumah sakit, pada setiap daun yang menggantung di pohon dan pada kendaraan yang terparkir.

Rama berdiri dalam diam, memandangi seseorang di dalam ruang perawatan. Tubuhnya sepenuhnya terhalangi oleh pintu, dengan celah kecil seukuran telapak tangan yang dilapisi kaca untuk melihat ke dalam. Udara yang terasa dingin semakin menekan dadanya. Membuat sesak yang tak berkesudahan.

Tak ada niat untuk mendekat, tak ada pula keinginan untuk masuk. Namun matanya tak pernah lepas dari sosok wanita yang terbaring dengan wajah pucat dan lemah diatas ranjang. Seolah waktu berhenti disekitar tubuhnya. Sang istri, Mona.

Wanita yang telah menemaninya bertahun-tahun itu dalam keadaan tak berdaya saat ini. Tak sadarkan diri. Matanya terpejam. Dengan bulu mata lentik yang menghiasi. Tak ada lagi omelan yang selalu keluar dari mulutnya, tak ada juga senyum indah yang tersungging dari bibirnya.

Beberapa waktu yang lalu dokter kembali menemuinya. Mengatakan bahwa saat kecelakaan itu terjadi, Mona sedang dalam keadaan hamil. Dengan usia kandungan menginjak tiga bulan. Hal itulah yang memperparah keadaannya.

Pada saat itu, jantung Rama seolah turun ke dasar. Ia meremas kuat tangannya. Berharap pedih yang ia rasakan akan segera hilang. Namun hal itu bahkan tak mengubah apapun. Perasaan itu masih tetap sama. Kenyataan pahit itu, seolah dapat menenggelamkannya ke dasar dalam kesakitan.

Sebelumnya, Mona tak pernah mengeluh mual, pusing atau apapun itu. Ia masih menjalani hidupnya seperti biasa. Masih energik, masih begitu lincah untuk bergerak kesana kemari. Tak ada yang tahu bahwa sesuatu telah tumbuh didalam perutnya.

Dan kini, buah hati yang selalu dinantikan mereka setelah bertahun-tahun lamanya sejak kelahiran Jeffrey, harus pergi bahkan sebelum diketahui keberadaannya. Yang lebih menyedihkan, mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk memilikinya lagi.

Rama tak menyadari bahwa sejak tadi ponselnya terus berdering. Pria itu masih tenggelam dalam dunianya yang terasa gelap. Kemudian deringnya berhenti setelah lama tak diangkat. Tetapi seseorang di ujung sana mungkin memiliki tekad yang kuat, jadi ia terus mencobanya lagi, berkali-kali. Hingga panggilan itu akhirnya berhasil membuat Rama menarik diri kembali ke kenyataan.

"Hallo."

"Oh pak Rama, akhirnya anda mengangkatnya juga." Orang diseberang sana terdengar lega.

"Ada apa Pak Karim?" Suara Rama sangat lirih. Seolah keluar tanpa tenaga, tanpa usaha.

"Seperti yang anda minta sebelumnya, kami berhasil menyelidiki penyebab kecelakaan yang anda alami."

Ada jeda sejenak sebelum Pak Karim melanjutkan ucapannya. Tarikan nafasnya terasa berat terdengar dari telepon.

Rama masih menunggu, dengan jari yang mengetuk pelan pada paha sebelah kirinya. Sebuah kemungkinan terburuk telah tertanam di kepala. Berdasarkan insting dan firasat yang ia rasakan selama ini.

Pak Karim kembali melanjutkan. Sesuai dengan hasil investigasi yang ia lakukan. Secara jelas, secara gamblang.

Sepanjang penjelasan itu berlangsung, tak ada perubahan dalam wajah Rama. Tidak ada emosi yang ditunjukkan. Pandangannya masih mengarah ke depan. Tetap datar, dingin dan rasional. Seperti sedang menilai sesuatu.

"Tolong tetap selidiki itu Pak Karim." Pinta Rama setelah pak Karim selesai bicara.

Seseorang di ujung sana menyanggupi.

Kini apa yang ia duga terbukti benar. Semuanya tak sesederhana seperti kecelakaan biasa. Seseorang telah merencanakannya. Dan ia tak tahu itu siapa.

Panggilan itu masih berlangsung. Tetapi tak ada yang berbicara. Rama kira semuanya sudah selesai, namun...

"Pak, ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan."

"Silahkan, Pak Karim."

"Beberapa investor menarik pendanaan pada proyek kita kali ini. Perusahaan sedang mengalami krisi keuangan yang cukup serius. Pengembangan produk baru, serta rencana ekspansi pasar terpaksa harus ditunda. Lebih seriusnya mungkin bisa dihentikan."

Tubuh Rama hampir jatuh ke lantai. Cobaan seakan datang bertubi-tubi. Menghantamkannya tanpa ampun. Tanpa memberinya waktu untuk bernafas.

***

Pukul 03.00 pagi.

Mobil Chandra baru saja memasuki pelataran rumah sakit. Berjejer bersama mobil-mobil lain yang terparkir. Suasana sunyi menyambut, bersama dinginnya malam yang semakin terasa.

Chandra membuka pintu mobil dengan tergesa. Lalu bergerak memutar untuk membuka pintu disamping istrinya. Kali ini gerakannya lebih pelan, lebih halus dan lebih hati-hati.

Dalam pangkuan Sarah, Lily tidur sangat pulas sampai suara dengkurannya terdengar jelas. Suara itu bahkan lebih keras dari biasanya hingga dapat memecah sunyi di pagi buta. Gurat lelah tercetak di wajah kecilnya, akibat terlalu lama menangis. Bajunya berantakan, tersingkap disana sini. Juga sedikit lebih kusut dari terakhir kali.

Sejak kejadian di meja makan di rumah sang mertua, gadis kecil itu menjadi semakin lengket padanya. Seolah tak terpisahkan. Kemanapun ia pergi, Lily akan menempel seperti siput.

Sarah membiarkannya. Membiarkan putrinya melakukan apapun yang disukainya. Karena Sarah tahu anak itu hanya sedang berusaha mencari perlindungan karena ketakutannya, ia sedang berusaha mencari tempat yang aman.

Baju yang mereka kenakan masih sama seperti tadi pagi. Belum di ganti. Saat di rumah orangtua Chandra, suasananya tidak mengenakkan. Terasa sesak bahkan untuk bergerak. Jadi tak sempat. Sementara untuk kembali ke rumah terasa merepotkan.

Untungnya baju bersih telah tersedia di dalam mobil setelah kejadian gagal menginap di rumah nenek. Jadi mereka bisa berganti di kamar mandi rumah sakit nanti.

Kaki Sarah berhasil menyentuh tanah dengan susah payah. Di bantu oleh Chandra yang dengan sigap mengambil Lily.

"Andra, bangun sayang. Kita sudah sampai." Tangan Sarah menepuk pipinya pelan. Berharap anak itu segera membuka mata.

Jejak air mata masih tertinggal, sedikit mengering. Setelah mendengar bahwa Jeffrey mengalami kecelakaan, ia langsung menangis keras. Meninggalkan Risma dan Tasya di teras dalam kebingungan.

Andra tak menyangka hal seperti itu akan keluar dari mulut ayahnya. Kabar buruk yang menimpa Jeffrey yang tak pernah ingin ia dengar. Tubuhnya hampir limbung. Sementara rasa takut akan ditinggalkan terus membayangi. Sepanjang perjalan, air mata terus keluar hingga ia merasa kelelahan dan tertidur.

Lorong rumah sakit terasa panjang, seperti tak ada akhir. Keluarga dengan empat anggota itu terus berjalan menelusuri. Mencoba mencari keberadaan Rama.

Lily telah terbangun dari tidurnya. Wajahnya setengah mengantuk. Namun tak lagi disembunyikan. Tatapannya terasa kosong dan bingung. Ia menatap ibunya, kemudian menarik-narik bajunya pelan, meminta penjelasan.

"Mama, ini dimana?" Tanyanya sembari melihat sekeliling yang terlihat putih dan putih. Dengan lampu terang diatasnya.

Sarah mengelus rambut Lily lembut. Kemudian mencium puncak kepalanya penuh sayang. "Kita di rumah sakit sekarang, mau jenguk Mas Jeffrey sama Tante Mona."

"Mereka sakit ma?"

"Iya, makanya dibawa ke dokter biar sembuh."

Ingatan Lily tertarik ke belakang. Tepat ketika ia pernah merasakan sakit pada tubuhnya. Saat itu ibu membawanya ke dokter. Ia diperiksa lalu disuntik. Rasanya sangat menyakitkan hingga membuatnya menangis dengan kencang.

"Apa mas Jeffrey akan di suntik juga ma kayak Lily?"

Sarah berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Iya dong, kan biar cepat sembuh."

Tetapi kenyataannya mungkin bisa lebih dari itu. Sarah juga tak tahu. Ia tak ingin memikirkannya karena tak akan sanggup.

Andra berjalan diantara kedua orangtuanya. Sembari berlari kecil. Berusaha menyamai langkah. Genggaman tangannya pada lengan sang ayah mengerat. Mencari kekuatan.

Tubuh seseorang terlihat sedang duduk sendirian di kejauhan. Dengan kaki lurus ke depan, mata terpejam dan tangan terlipat di dada. Tubuh itu berbalut baju rumah sakit dan perban di kepala. Tampak tak tenang, seolah sesuatu tengah mengganggunya.

"Rama, kenapa kamu ada disini?" Tanya Chandra sesampainya ia di depan pria itu.

Rama membuka matanya. Kemudian menoleh dengan senyum tipis yang tersungging di bibir. Terlalu tipis hingga tak sampai ke mata.

Penampilannya terlihat sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Terlihat lebih kuyu dan penuh beban. Tak ada semangat yang biasa Chandra lihat dari sorot matanya. Juga tak ada gairah.

"Kalian datang." Ucap Rama dengan suara serak. "Maaf, aku menganggu waktunya." Sesalnya.

"Jangan ngomong kaya gitu lah Ram. Kamu selalu bisa mengandalkan kami kok. Begitu pun sebaliknya." Kata Sarah.

Bibir Rama tertarik. Membentuk senyum tulus. "Terima kasih karena kalian selalu ada." Ujarnya.

Hubungan yang terjalin diantara mereka telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejak masa sekolah. Predikat teman yang selama ini melekat pun perlahan memudar, berganti menjadi keluarga meski tanpa hubungan darah. Mereka saling berbagi kebahagiaan dan juga kesedihan. Tak pernah saling meninggalkan.

"Kenapa kamu malah tidur disini, bukannya di dalam?" Tanya Chandra.

Tatapan Rama melembut, air mata jatuh tanpa disadari. Namun ia segera menghapusnya. "Aku nggak sanggup lihat mereka Chan." Ujarnya.

Sebelumnya Rama telah meminta dokter untuk memindahkan anak dan istrinya dalam satu ruang perawatan untuk memudahkannya menjaga mereka, karena sang pembunuh masih berkeliaran dengan bebas di luar sana.

Chandra menepuk bahu Rama pelan, mencoba menguatkan. "Jangan seperti ini. Kamu harus kuat, mereka butuh kamu."

Rama termenung sesaat, sebelum anggukan kecil terlihat. Ia menarik nafas panjang, mencoba menguatkan dirinya, lalu menghembuskannya secara perlahan.

"Ayo masuk. Kamu juga seorang pasien Rama. Jangan lupa." Kata Chandra.

Rama menahan tubuh pria itu. Lalu melirik Sarah dan anak-anak sebentar. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu." Ucapnya.

Chandra mengangguk. "Kalian masuk lah dulu. Nanti kita menyusul."

Dalam gendongan Sarah, Lily meronta minta diturunkan. Kakinya bergerak tak tenang. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah.

Ketika kakinya dapat menyentuh tanah. Gadis kecil itu segera berlari kearah Rama. Lalu memeluknya dengan erat. Kepalanya mendongak. Dengan mata seperti almond yang terus menatap tak berkedip. Sementara bibirnya tersenyum. Menampilkan deretan giginya yang rata.

"Om Rama, jangan takut. Ada Lily disini. Kalau dokternya nakal mau suntik om, bilang aja sama Lily, nanti Lily marahi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!