NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Sisa Napas di Balik Luka

BAB 8: Sisa Napas di Balik Luka

Pintu kayu tua bernomor 09 itu terbuka dengan decitan pelan yang terdengar seperti rintihan. Rangga melangkah masuk, membiarkan tetesan air hujan dari jas mahalnya jatuh membasahi lantai keramik yang kusam. Ruangan itu kecil, lembap, dan hanya diterangi oleh lampu neon kuning yang sesekali berkedip, memberikan kesan suram yang mencekik.

Di tengah ruangan, di atas ranjang besi yang catnya sudah mengelupas, sosok itu terbaring.

Rangga berhenti bernapas selama beberapa detik. Jantungnya seolah dihantam godam besar melihat pemandangan di depannya. Wanita yang selama tiga bulan ini ia cari dengan sisa kewarasannya, kini tampak seperti bayang-bayang dari dirinya yang dulu. Arini terlihat begitu kecil, begitu ringkih, seolah-olah embusan angin yang agak keras saja bisa menghancurkannya menjadi debu.

Wajah Arini pucat pasi, nyaris transparan hingga pembuluh darah kebiruan terlihat di pelipisnya. Pipinya yang dulu ranum kini cekung, meninggalkan tulang pipi yang menonjol tajam. Dan yang paling menghancurkan hati Rangga adalah kain penutup kepala yang dikenakan Arini—sebuah upaya sia-sia untuk menyembunyikan kenyataan bahwa rambut hitam panjang yang dulu selalu Rangga belai kini telah hilang tak berbekas.

"Arini..." suara Rangga keluar dalam bisikan yang pecah.

Mendengar suara yang sangat ia kenal, sosok di atas ranjang itu bergerak sedikit. Dengan usaha yang tampak sangat berat, Arini membuka kelopak matanya. Pandangannya sayu, tertutup kabut kelelahan yang luar biasa. Saat matanya bertemu dengan mata Rangga yang memerah dan basah, Arini tersentak.

"Rangga...?" suaranya hanya berupa embusan napas yang lemah, nyaris tak terdengar di balik masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya.

Rangga menghambur ke samping ranjang. Ia jatuh berlutut, mengabaikan celana kain mahalnya yang kini kotor terkena lantai klinik. Ia meraih tangan Arini—tangan yang kini hanya berupa kulit yang membungkus tulang, sangat dingin dan gemetar.

"Aku di sini, Sayang. Aku di sini," Rangga mencium punggung tangan itu berulang kali, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. "Maafkan aku... maafkan aku karena terlambat menemukanmu."

Arini menatap Rangga dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kerinduan yang mendalam di sana, namun segera berganti dengan ketakutan yang luar biasa. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Rangga, namun ia bahkan tidak punya tenaga untuk menekuk jemarinya.

"Pergi... Rangga, pergi..." rintih Arini. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal yang keras. "Jangan lihat aku... aku jelek. Aku... aku bukan Arini-mu lagi."

"Diam, Rin. Jangan bicara begitu," potong Rangga tegas, meskipun suaranya bergetar hebat. Ia melepaskan jasnya yang basah dan menyampirkannya di kursi, lalu ia duduk di pinggir ranjang, merengkuh wajah Arini dengan kedua tangannya yang hangat. "Kamu tetap wanita tercantik di mataku. Mau kamu botak, mau kamu kurus, mau kamu nggak punya tenaga sekalipun... kamu tetap satu-satunya alasan aku bertahan hidup selama tiga bulan ini."

"Kamu seharusnya sukses... Mama bilang... kalau aku pergi, kamu bakal bahagia," isak Arini. Napasnya mulai tersengal, membuat mesin monitor jantung di samping ranjang mengeluarkan bunyi beep yang lebih cepat dan tidak teratur. "Lihat dirimu sekarang... kamu sudah jadi manajer... kamu hebat, Ga. Jangan hancurkan semuanya lagi karena aku yang hampir mati ini."

Rangga menggeleng dengan keras. Kemarahan mulai membakar dadanya saat nama Ibunya disebut. "Kesuksesanku itu sampah, Rin! Semuanya nggak ada artinya kalau aku nggak punya kamu untuk merayakannya. Mama salah. Kamu salah.

Kalian semua salah karena menganggap aku pria lemah yang hanya bisa bahagia kalau punya karier!"

Rangga berdiri, matanya menyapu sekeliling ruangan yang tidak layak itu. Amarahnya memuncak melihat fasilitas klinik yang minim. "Siapa yang membawamu ke tempat seperti ini? Kenapa kamu membiarkan dirimu membusuk di sini sendirian?!"

"Ini tempat yang tenang, Ga... di sini nggak ada yang kenal aku," bisik Arini.

"Tempat ini tempat kematian, Arini! Bukan tempat untuk sembuh!" Rangga segera berbalik saat seorang perawat masuk ke ruangan membawa baki obat.

"Suster, siapkan dokumen kepulangannya sekarang juga. Aku akan memindahkannya ke Rumah Sakit Internasional di Jakarta," perintah Rangga dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Perawat itu tertegun. "Tapi Pak, kondisi pasien sangat tidak stabil. Beliau baru saja melewati masa kritis tadi sore. Memindahkannya di tengah hujan deras seperti ini sangat berisiko."

"Risikonya jauh lebih besar jika dia tetap di sini!" Rangga mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, Dokter Bram? Siapkan ambulans VVIP dari rumah sakitmu. Kirim ke Bogor sekarang juga. Aku tidak peduli berapa biayanya, siapkan tim medis terbaik. Aku membawa pasien kanker stadium akhir. Ya, sekarang!"

Arini memegang ujung kemeja Rangga dengan sisa tenaganya. "Jangan, Ga... biayanya mahal... tabunganmu..."

Rangga kembali duduk dan memeluk tubuh Arini yang ringan itu. Ia mengecup dahi Arini yang panas karena demam. "Uangku sudah banyak sekarang, Sayang. Aku gila kerja selama tiga bulan ini hanya agar aku punya cukup uang untuk membawamu ke ujung dunia sekalipun demi kesembuhanmu. Jangan pernah pikirkan soal uang lagi. Pikirkan saja bagaimana caranya agar kamu tetap bernapas untukku."

Tak lama kemudian, ponsel Rangga bergetar. Nama ibunya, Sarah, muncul di layar. Rangga mengangkatnya dengan wajah yang mengeras seperti batu karang.

"Rangga! Kamu di mana? Maya bilang kamu lari keluar kantor seperti orang gila!" suara Sarah terdengar panik sekaligus penuh tuntutan.

"Aku sudah menemukan Arini, Ma," ujar Rangga dingin. "Dan aku tahu Mama yang menyembunyikannya di klinik kumuh ini agar dia mati pelan-pelan tanpa aku tahu."

Hening di seberang telepon.

"Rangga, dengarkan Mama. Mama melakukan itu demi masa depanmu—"

"Berhenti memakai namaku sebagai alasan untuk kekejamanmu, Ma!" bentak Rangga, membuat perawat di ruangan itu berjengit kaget. "Mulai detik ini, jangan pernah hubungi aku lagi jika tujuannya hanya untuk menyuruhku meninggalkan Arini. Aku akan membiayai pengobatannya dengan uangku sendiri. Dan jika Mama mencoba menghalangi lagi, aku tidak akan ragu untuk menghapus namaku dari keluarga besar kita. Aku lebih memilih jadi gelandangan bersama Arini daripada jadi manajer kaya raya di bawah perintah Mama."

Rangga mematikan telepon itu dan langsung mematikan ponselnya. Ia tidak ingin gangguan apa pun lagi.

Satu jam kemudian, suara sirine ambulans VVIP membelah kesunyian malam di Bogor. Tim medis berseragam lengkap masuk ke kamar nomor 09, membawa tandu dengan peralatan canggih. Rangga tidak pernah melepas tangan Arini saat petugas memindahkannya.

Di dalam ambulans yang melaju kencang menuju Jakarta, di tengah bunyi mesin monitor yang konstan, Arini menatap Rangga yang duduk di sampingnya. Rangga terlihat sangat lelah, tapi matanya memancarkan sinar protektif yang begitu kuat.

"Pusing, Ga..." keluh Arini saat mobil berguncang melewati lubang.

Rangga segera memposisikan diri untuk menopang kepala Arini agar lebih stabil. "Tahan sebentar ya, Sayang. Di Jakarta nanti, kamu akan dapat tempat yang nyaman. Kamu akan punya dokter terbaik. Aku akan tidur di sampingmu setiap malam, nggak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita."

Arini memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari tangan Rangga. Di tengah rasa sakit yang mengoyak tubuhnya, ia merasa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia punya alasan untuk berjuang melawan maut. Bukan karena ia ingin hidup, tapi karena ia tidak tega melihat laki-laki ini hancur jika ia menyerah sekarang.

Malam itu, di dalam ambulans yang menembus hujan, Rangga membuat sumpah di dalam hatinya. Ia akan memulai perang ini. Perang melawan penyakit, perang melawan ibunya, dan perang melawan takdir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!