NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan Dunia Kerja

🕊

Aku, Alea Senandika Kaluna, menatap meja belajarku yang kini penuh dengan tumpukan CV, portofolio desain yang di print rapi, dan beberapa catatan tentang perusahaan yang ingin kuikuti. Setelah kelulusan, langkah pertama menuju dunia nyata adalah mencari pekerjaan—dan aku tahu ini tidak akan mudah.

Aku menarik napas panjang, menatap CV yang baru kubuat. “Oke… Alea, ini pertama kalinya kamu benar-benar masuk ke dunia kerja nyata. Jangan takut… ini hanya tantangan pertama.” Chandrika, adik bungsuku yang selalu penasaran, mengintip dari pintu kamar. “Kaka… kamu mau kemana hari ini?”

Aku tersenyum tipis. “Aku akan sebarkan CV ke beberapa tempat, Ara. Mungkin aku bisa ketemu tempat yang cocok buat aku kerja.” Chandrika mengangguk, matanya berbinar. “Semoga dapat kerjaan, Kaka! Aku doa-in!” Aku mengangguk, menepuk kepala nya. “Terima kasih, Ara… doa kamu pasti membantuku.”

Setelah sarapan, aku mulai menata CV dan portofolio ke dalam tas. Aku menulis beberapa catatan tentang perusahaan dan toko yang ingin kutuju, beberapa di antaranya butik lokal, beberapa studio desain kecil, dan beberapa cafe yang mencari staff kreatif.

Perjalanan pertama menuju butik lokal terasa menegangkan. Aku menatap pintu kaca butik itu dan menarik napas panjang. “Alea… ini pertama kalinya kamu melangkah ke dunia nyata. Santai, tapi yakin.”

Aku membuka pintu dan disambut aroma parfum kain dan suara kasir yang sibuk. Aku berjalan ke arah meja resepsionis. “Selamat pagi… saya Alea Senandika Kaluna, ingin menyerahkan CV untuk posisi asisten desain dan jahit.”

Resepsionis menatapku sebentar, lalu tersenyum sopan. “Tentu… boleh tinggalkan CV di sini. Kami akan menghubungi jika sesuai kualifikasi.” Aku tersenyum tipis, menunduk. “Terima kasih, Bu.”

Keluar dari butik itu, aku menatap CV yang tersimpan di tas. Rasanya campur aduk—lega karena sudah berani mencoba, tapi juga sedikit cemas karena aku belum tahu apakah mereka akan menghubungi.

Perjalanan berlanjut. Aku menyebarkan CV ke beberapa tempat—toko butik lain, studio kecil, dan kafe yang butuh staff kreatif. Setiap tempat menimbulkan perasaan yang berbeda. Ada yang ramah, ada yang menatapku skeptis. Ada yang bilang, “Kami akan hubungi kalau cocok,” tapi aku tahu ini bukan jaminan.

Saat menunggu antrian di salah satu butik, aku mendengar seorang wanita paruh baya berbicara dengan kasir. “Dunia kerja memang keras, ya. Anak muda sekarang harus punya skill lebih dari sekadar ijazah.”

Aku tersenyum tipis dalam hati. Benar… dunia nyata memang berbeda dengan sekolah. Semua teori dan nilai baik tidak cukup. Kita harus membuktikan diri dengan skill, etos kerja, dan ketekunan.

Di perjalanan pulang, aku duduk di pojok bus, menatap keluar jendela. Jalanan ramai dengan orang-orang yang pergi bekerja, anak-anak yang sibuk ke sekolah, dan penjual kecil yang menawarkan dagangan. Hati terasa campur aduk. Aku tahu ini baru permulaan. Tantangan pertama memang sulit, tapi aku optimis.

Sesampainya di rumah, aku menata CV dan portofolio kembali. Ayu, kakakku, menatapku sambil menyeduh teh. “Alea… bagaimana hari pertamamu menyebarkan CV?”

Aku tersenyum tipis, menyeruput teh hangat. “Lumayan, Kak… beberapa tempat menerima CV, tapi belum ada yang pasti. Rasanya agak sulit, tapi aku optimis. Aku yakin akan ada tempat yang sesuai.”

Ayu menepuk pundakku. “Aku tahu, Alea… dunia kerja nyata memang tidak mudah. Aku juga butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat kerja. Tapi kamu berbeda. Kamu punya tekad dan skill yang sudah matang.”

Aku menunduk, menatap teh hangat. “Iya, Kak… aku hanya ingin mulai sekarang, belajar dari pengalaman, dan membangun skill sendiri. Aku nggak takut meski sulit.” Chandrika melompat ke sofa, tersenyum lebar. “Kaka… semangat ya! Aku yakin kamu pasti dapat kerjaan bagus!”

Aku menepuk kepalanya. “Terima kasih, Ara… doa kamu selalu bikin aku lebih semangat.” Dika masuk dari kamar, menatapku sambil tersenyum tipis. “Alea… kamu hebat. Baru lulus, tapi sudah berani menghadapi dunia nyata. Aku salut sama kamu.”

Aku tersenyum, sedikit malu. “Terima kasih, Dik… tapi aku tahu ini baru permulaan. Tantangan ini baru pertama, tapi aku harus berani.”

Hari berikutnya, aku kembali menyebarkan CV. Aku mengunjungi beberapa butik, studio kreatif, dan bahkan mencoba menghubungi beberapa perusahaan melalui email dan telepon. Setiap kali ada jawaban, aku menulis catatan tentang siapa yang merespon, kapan, dan tanggapan mereka.

Saat aku duduk di kafe kecil, menunggu giliran bertemu manajer salah satu butik, aku menulis di buku catatan: "Hari ini aku belajar bahwa dunia kerja nyata lebih rumit dari yang kubayangkan. Banyak persaingan, banyak penolakan, tapi aku tetap percaya. Aku harus terus mengasah skill, menunjukkan etos kerja, dan tidak menyerah. Setiap usaha yang kulakukan adalah investasi untuk masa depan."

Manager butik itu akhirnya memanggilku. “Alea… CV kamu menarik. Tapi posisi ini membutuhkan pengalaman lebih dalam. Namun, aku akan simpan CV kamu dan hubungi jika ada kesempatan.” Aku tersenyum, menunduk sopan. “Terima kasih banyak, Pak… saya akan menunggu dan terus belajar.”

Keluar dari butik itu, aku menghela napas panjang. Sedikit kecewa, tapi tidak putus asa. Aku tahu ini bagian dari proses. Setiap penolakan adalah pelajaran, setiap usaha yang belum berhasil adalah kesempatan untuk lebih baik.

Sore itu, aku pulang ke rumah. Ayu menatapku sambil menyeduh teh hangat. “Alea… bagaimana hari ini?” Aku tersenyum tipis, menaruh tas. “Lumayan, Kak… ada beberapa toko yang menerima CV, tapi belum ada yang pasti. Rasanya sulit, tapi aku yakin akan ada yang cocok.”

Ayu menepuk pundakku. “Aku tahu… dunia nyata memang keras. Aku juga harus menunggu lama sebelum mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan. Tapi kamu punya tekad dan kesabaran, Alea. Itu yang penting.” Aku menatap kakakku, tersenyum tipis. “Iya, Kak… aku ingin belajar dari pengalaman ini. Aku ingin segera mandiri, menabung, dan membangun masa depan sendiri.”

Chandrika melompat, tersenyum lebar. “Kakak… semangat ya! Aku yakin kamu pasti dapat kerjaan yang bagus!” Aku menepuk kepalanya. “Terima kasih, Ara… doa kamu selalu bikin aku lebih semangat.”

Malam itu, aku menulis di jurnal: "Hari ini aku menghadapi dunia nyata pertama kalinya. Menyebarkan CV, bertemu manajer, dan menghadapi penolakan. Rasanya sulit, tapi aku percaya pada kemampuan sendiri. Aku ingin membangun masa depan lewat kerja keras dan pengalaman nyata. Aku tahu ini baru awal, dan setiap langkah adalah pelajaran. Aku optimis, dan aku akan terus mencoba sampai aku menemukan tempat yang tepat untukku."

Aku menutup buku catatan, menatap medali Olimpiade, penghargaan dari butik, dan catatan pengalaman kerja. Semua itu terasa seperti pijakan awal yang membantuku berdiri tegak di dunia nyata. Aku tahu, perjalanan ini panjang dan penuh tantangan, tapi aku siap.

Hari-hari berikutnya, aku kembali menyebarkan CV, menulis surat lamaran, dan menghubungi perusahaan-perusahaan. Beberapa kali aku mendapat jawaban yang mengecewakan, tapi setiap kali itu terjadi, aku menulis catatan tentang apa yang bisa diperbaiki. Aku belajar dari setiap interaksi, mulai dari cara memperkenalkan diri, menyusun CV, hingga menghadapi wawancara singkat.

Ayu menatapku suatu sore, tersenyum hangat. “Alea… aku bangga sama kamu. Kamu berani menghadapi tantangan ini sejak awal. Aku dulu harus menunggu bertahun-tahun, tapi kamu sudah memulai lebih awal. Itu luar biasa.”

Aku menunduk, tersenyum tipis. “Terima kasih, Kak… aku ingin segera mandiri. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membangun masa depan dengan usaha sendiri.” Dika menepuk pundakku. “Kaka… kita semua dukung kamu. Aku yakin suatu saat nanti, kamu akan dapat pekerjaan yang sesuai, dan skill kamu akan berkembang pesat.”

Chandrika tersenyum lebar. “Aku senang… semoga Kaka Alea cepat dapat kerjaan yang bagus!” Aku tersenyum, menatap mereka semua. “Aku akan berusaha, dan aku tahu kita saling mendukung. Rumah mungkin kadang penuh ketegangan, tapi kita tetap punya satu sama lain.”

Malam itu, sebelum tidur, aku menulis di jurnal: "Hari ini aku belajar satu hal lagi: keberanian untuk memulai adalah langkah terbesar. Dunia nyata tidak selalu ramah, tapi setiap usaha yang kulakukan akan membawaku lebih dekat ke tujuan. Aku ingin membuktikan bahwa kerja keras, tekad, dan ketekunan bisa membuka jalan. Aku optimis, dan aku tahu, dengan dukungan saudara-saudaraku, aku bisa menghadapi tantangan ini."

Aku menutup buku catatan, menarik selimut, dan menatap langit-langit kamar. Dunia nyata memang menuntut lebih banyak daripada sekolah. Tapi aku siap. Setiap langkah yang kuambil adalah pijakan menuju masa depan yang kuimpikan.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!