Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6# Nafas Dari Masalalu
Suasana di dalam laboratorium bawah tanah yang baru saja mereka temukan itu terasa sangat dingin, jauh lebih dingin daripada udara di hutan luar. Cahaya biru neon dari peti kapsul yang ditemukan Rayden menjadi satu-satunya sumber penerangan di sudut ruangan yang gelap itu. Ketujuh remaja berusia 18 tahun itu berdiri mengelilingi peti kaca tersebut dengan napas yang tertahan.
Di dalam sana, seorang wanita dewasa terbaring kaku. Wajahnya tenang, kulitnya seputih porselen, dan ia mengenakan jas putih profesor yang masih bersih.
"Dia... dia mayat, kan?" bisik Rayden dengan suara gemetar. Ia bersembunyi di balik bahu Finn, matanya tidak berkedip menatap sosok di balik kaca berembun itu. "Arlo, katakan padaku itu mayat. Jangan sampai dia tiba-tiba bangun dan meminta jantung kita sebagai sarapan."
"Dia terlalu utuh untuk menjadi mayat yang sudah lama di sini," sahut Arlo. Ia menyentuh permukaan kaca kapsul yang sangat dingin, dan tiba-tiba sebuah denyut aneh muncul di pergelangan tangannya, tepat di posisi gelangnya berada.
Harry maju dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Matanya menyipit menatap wanita di dalam peti. "Sembilan tahun aku di sini... dan aku tidak pernah membayangkan ada manusia lain yang 'diawetkan' seperti ini. Jika dia benar-benar sudah di dalam sana sejak fasilitas ini hancur, berarti dia sudah membeku selama tujuh belas tahun."
"Tunggu, lihat ini," Naya, si otak tim, berlutut di samping panel kontrol kapsul. Matanya yang jeli menangkap sebuah layar kecil yang menampilkan grafik detak jantung yang sangat lambat, namun tetap berdenyut. "Dia tidak mati. Ini adalah sistem cryogenic. Tubuhnya dibuat tertidur agar tidak menua atau membusuk."
Naya menemukan sebuah tombol merah besar yang terlindungi penutup plastik transparan di samping peti. Di sana terukir instruksi teknis yang rumit. Dengan kecerdasannya, Naya segera mengerti apa yang harus dilakukan. "Jika aku menekan tombol ini, proses pencairan akan dimulai. Kita bisa membangunkannya."
"Jangan, Naya! Kita tidak tahu siapa dia!" seru Zephyr sambil mengangkat kayu tajamnya. "Bisa saja dia adalah orang yang bertanggung jawab atas semua kegilaan ini!"
"Tapi dia mungkin punya jawaban, Zephyr!" balas Naya tegas. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Naya membuka penutup plastik itu dan menekan tombol merahnya dengan mantap.
KLIK!
Seketika, suara desisan keras terdengar dari seluruh sisi peti. PSSSSHHHHHH! Gas putih pekat menyembur keluar dari katup pembuangan, menutupi seluruh ruangan laboratorium dengan asap dingin yang tebal. Mereka semua terlonjak kaget. Rayden bahkan sempat berteriak pendek dan hampir lari jika Finn tidak menarik kerah bajunya.
"Semuanya mundur!" perintah Arlo.
Mereka menunggu dalam ketegangan yang luar biasa. Tiga menit berlalu. Asap mulai menipis perlahan, menyingkap tutup kaca kapsul yang bergeser terbuka secara otomatis. Suara mesin yang berdengung keras mulai meredup, digantikan oleh suara tarikan napas yang berat dan serak dari dalam peti.
Wanita itu bergerak. Jemarinya yang kaku mulai bergetar. Ia perlahan membuka matanya—sepasang mata cokelat yang tampak cerdas namun linglung. Ia terbatuk, mengeluarkan sisa gas dari paru-parunya, lalu menatap satu per satu orang yang mengelilinginya. Saat matanya berhenti pada Arlo, ia tampak tersentak.
"Arlo...?" suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Kau... kau sudah sebesar ini?"
"Kau mengenalku?" tanya Arlo dengan suara tercekat. Rasa waspada dan bingung bercampur menjadi satu.
Wanita itu mencoba duduk dengan tubuh yang masih sangat lemah. "Namaku... Luz. Aku seorang profesor di sini. Dan kau... aku mengenalmu lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri."
Meskipun Luz tampak baik dan tidak berbahaya, Harry tetap menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan kewaspadaan. "Tujuh belas tahun kau tidur dengan nyenyak di sini, sementara kami menderita di atas sana! Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak di sini," ucap Luz dengan nada mendesak. "Menara... Menara sudah tahu aku bangun. Kita harus segera pergi."
Dengan rasa curiga yang masih sangat kental, Arlo memutuskan untuk membawa Luz bersama mereka. Zephyr dan Harry menjaga Luz di tengah barisan dengan senjata terhunus, sementara Naya mencoba menanyakan beberapa hal teknis di sepanjang jalan.
Namun, perjalanan kembali ke camp Saka menjadi mimpi buruk. Hutan yang tadi diam kini seolah mengamuk. Dari balik kegelapan kabut, tiga ekor Phenix Omega muncul secara mendadak.
"Lari!" teriak Arlo.
Kekacauan pecah. Mereka berlari sekuat tenaga menembus semak hitam. Rayden, yang paling panik, tidak melihat akar besar yang melintang. Ia tersandung dan jatuh tersungkur. Sebelum ia sempat bangkit, salah satu Phenix Omega melompat dan mencengkeram pinggang Rayden dengan kaki raksasanya.
"RAYDEN!" jerit Lira dengan histeris. Ia berhenti berlari, wajahnya pucat pasi melihat Rayden diangkat tinggi ke udara oleh monster bermata tiga itu. Makhluk itu membuka mulutnya, siap untuk mengoyak tubuh Rayden yang meronta-ronta.
"TOLONG! AKU TIDAK MAU MATI!" teriak Rayden.
Zephyr, dengan kecepatan yang luar biasa, melompat ke arah monster itu. Dengan satu gerakan akrobatik yang nekat, ia menghujamkan senjatanya tepat ke mata tengah makhluk itu. Monster itu menjerit kesakitan dan melepaskan Rayden. Arlo dan Finn segera menangkap Rayden sebelum jatuh ke tanah.
Mereka kembali berlari hingga akhirnya sampai di keamanan gua Saka. Begitu masuk ke dalam, Harry segera menutup mulut gua. Hening sejenak. Rayden duduk bersimpuh di tanah, tubuhnya gemetar hebat.
"Rayden, kau tidak apa-apa?" tanya Lira sambil mendekat.
Namun, Lira dan Finn terdiam saat melihat celana Rayden yang basah kuyup. Bau pesing menyengat perlahan menguar. Rayden, saking takutnya karena hampir mati dikoyak monster tadi, telah kencing di celana tanpa ia sadari.
Rayden menutupi wajahnya dengan tangan, bahunya terguncang karena tangis malu dan trauma. "Aku... aku sangat takut... aku benar-benar hampir mati..."
Lira langsung memeluknya tanpa peduli pada bau tersebut. Di sisi lain, Dokter Luz berdiri menatap mereka dengan wajah penuh duka. Arlo menatap Luz, lalu menatap teman-temannya yang hancur. Ia tahu, kehadiran wanita ini membawa jawaban, tapi juga membawa maut yang lebih besar.