Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTUMBUHAN DAN ANCAMAN BARU
Enam bulan berlalu sejak Garp pergi.
Kehidupan kembali ke rutinitas—bangun pagi, latihan dengan Yamamoto, jaga Luffy, latihan lagi, tidur. Berulang setiap hari tanpa henti.
Tapi perbedaannya sangat terlihat.
Aku sekarang berusia empat tahun, tapi tubuhku sudah seperti anak tujuh tahun. Otot terbentuk jelas—hasil dari latihan brutal selama hampir dua tahun penuh. Tinggi badanku juga melampaui anak seusiaku.
Sabo berkembang lebih cepat lagi—dia sekarang hampir setinggi anak sepuluh tahun meski baru berusia tujuh tahun. Gerakannya cepat, lincah, seperti predator yang siap menyerang kapan saja.
Dan Luffy—bocah kecil yang sekarang sudah bisa berjalan dan bicara dengan lancar—selalu mengikuti kami kemana-mana dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Ace-nii! Sabo-nii! Main!" Luffy berlari ke arah kami dengan senyum lebar khas yang tidak pernah hilang.
"Tidak bisa, Luffy. Kami mau latihan," aku menjawab sambil mengambil pedang kayu.
"Luffy ikut latihan!"
"Kau masih kecil. Nanti kalau sudah besar."
"Luffy sudah besar! Lihat!" dia mengangkat batu kecil dengan kedua tangan seperti itu pencapaian luar biasa.
Sabo tertawa. "Itu batu kecil, Luffy. Coba angkat yang sebesar kepala."
Luffy mencoba—dan tentu saja gagal. Jatuh dengan pantat duluan.
"Aduh! Berat!"
"Makanya latihan dulu. Makan banyak, istirahat cukup, baru kuat," aku menjelaskan sambil membantu dia berdiri.
"Oke! Luffy makan banyak! Terus jadi kuat kayak Ace-nii!"
Semangat tidak pernah surut. Itu yang kusukai dari Luffy—tidak peduli berapa kali gagal, dia selalu bangkit dengan senyum.
"Ace! Sabo! Latihan dimulai!" Yamamoto memanggil dari area latihan.
"Ayo," Sabo sudah berlari duluan.
Aku menyusul tapi berhenti sebentar untuk mengelus kepala Luffy. "Kau main sama Dadan-san ya. Nanti sore kami ajak main."
"Janji?"
"Janji."
Luffy berlari ke gubuk dengan senang. Aku ikut Sabo ke area latihan.
Yamamoto berdiri dengan dua pedang besi sungguhan—bukan kayu lagi.
"Mulai hari ini, kalian akan latihan dengan senjata sungguhan," dia melempar dua pedang pada kami. "Hati-hati. Ini tajam. Kalau kena, darah akan keluar."
Aku menangkap pedang dengan hati-hati. Berat. Lebih berat dari pedang kayu. Tapi balancenya lebih bagus.
"Stance dasar. Sekarang!"
Kami mengambil posisi—kaki selebar bahu, pedang di depan, mata fokus pada lawan.
"Sparring. Full contact. Tapi jangan bunuh. Kalau sampai luka parah, kalian yang rawat satu sama lain. Mengerti?"
"Mengerti!"
"Mulai!"
Sabo menyerang duluan—slash horizontal dari kanan. Aku block dengan pedang—CLANG!—suara logam bertabrakan terdengar nyaring.
Getaran lebih kuat dari saat pakai pedang kayu. Tanganku hampir lepas pegangan.
Tapi aku sudah terlatih. Langsung counter dengan thrust ke depan.
Sabo parry dan slash dari atas. Aku sidestep dan slash ke arah kaki.
Pertarungan berlangsung cepat—setiap gerakan diperhitungkan, setiap serangan harus presisi. Satu kesalahan kecil bisa berarti luka serius.
Lima menit kemudian, kami berdua punya goresan kecil di lengan dan kaki—tanda pedang sempat menyentuh kulit.
"Stop!" Yamamoto berteriak. "Bagus. Kalian berdua makin tajam. Tapi masih ada celah."
Dia menunjuk posisi kaki Sabo. "Terlalu lebar. Kalau musuh tendang, kau akan kehilangan balance."
Lalu menunjuk posisi pedangku. "Terlalu rendah. Kalau musuh feint atas lalu serang bawah, kau tidak sempat block."
Kami mencatat semua koreksi. Setiap detail penting untuk bertahan hidup di dunia ini.
"Sekarang latihan Haki. Ace, tunjukkan Armament Hardening-mu."
Aku fokus. Energi spiritual mengalir ke tangan kanan. Warna hitam pekat muncul—jauh lebih gelap dari enam bulan lalu.
"Bagus. Sekarang maintain selama satu menit."
Aku pertahankan. Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tiga puluh detik—mulai terasa berat. Empat puluh detik—keringat bercucuran. Lima puluh detik—gemetar sedikit. Enam puluh detik—
Warna hitam hilang. Aku terengah-engah.
"Satu menit penuh. Kemajuan besar dari tiga bulan lalu yang cuma dua puluh detik," Yamamoto memuji. "Target berikutnya, lima menit. Lalu sepuluh menit. Lalu satu jam. Sampai akhirnya bisa maintain sepanjang hari tanpa lelah."
Sepanjang hari?! Itu level monster!
"Sabo, tunjukkan Observation Haki-mu."
Sabo menutup mata. Yamamoto mengambil beberapa batu kecil dan—tanpa peringatan—lempar ke arah Sabo dari berbagai sudut.
Sabo menghindar semua tanpa membuka mata—gerakan minimal, efisien, seperti sudah tahu kemana batu akan datang.
"Sempurna. Range-nya?"
"Lima belas meter radius. Bisa rasakan semua presence dalam jarak itu," Sabo menjawab sambil membuka mata.
"Luar biasa untuk anak seusiamu. Bahkan beberapa Marine Captain tidak setajam itu."
Pujian besar. Tapi Yamamoto tidak pernah membesar-besarkan.
"Kalian berdua berkembang di jalur berbeda tapi saling melengkapi. Ace—tipe attacker dengan kekuatan besar. Sabo—tipe defender-counter dengan presisi tinggi. Kalau kalian kerja sama, bahkan musuh jauh lebih kuat bisa kalah."
"Kapan kami bisa bertarung dengan musuh sungguhan lagi?" aku bertanya. "Sejak Bluejam, tidak ada lawan yang benar-benar serius."
Yamamoto tersenyum tipis. "Sabar. Musuh akan datang dengan sendirinya. Dunia ini tidak pernah kekurangan bajak laut bodoh yang cari masalah."
Seolah menjawab kata-katanya, salah satu anak buah Dadan berlari dengan wajah panik.
"YAMAMOTO-SAN! DADAN-SAN! ADA BAJAK LAUT BERLABUH DI PANTAI!"
Yamamoto dan kami langsung serius.
"Berapa orang?"
"Sekitar tiga puluh! Dan kapal mereka besar—punya bendera tengkorak dengan dua pedang menyilang!"
"Deskripsi kapten?"
"Pria tinggi dengan bekas luka di wajah, rambut hitam panjang, bawa pedang besar di punggung!"
Yamamoto wajahnya berubah serius. "Itu... Kurohige no Daiki. Bajak laut dengan bounty delapan puluh juta berry. Bukan lawan main-main."
Delapan puluh juta?! Itu level bajak laut yang sudah masuk Grand Line dan bertahan!
"Kenapa dia kesini?" Sabo bertanya khawatir.
"Entah. Tapi tidak mungkin cuma kebetulan. Pasti ada tujuan."
Yamamoto berlari ke gubuk. Kami mengikuti.
Di dalam, Dadan sudah berkumpul dengan semua anak buah. Wajah semua terlihat tegang.
"Yamamoto, bagaimana? Apa kita lari?"
"Kemana mau lari? Kalau mereka datang kesini dengan tujuan spesifik, lari tidak akan membantu. Kita harus tahu dulu apa maunya."
"Bagaimana kalau maunya... anak-anak?" Dadan melirik ke arah aku, Sabo, dan Luffy yang berdiri di pojok.
Hening.
Kemungkinan itu ada. Terutama kalau mereka dengar soal bocah dengan Devil Fruit yang mengalahkan gorila raksasa—cerita itu mungkin sudah menyebar.
"Kalau begitu kita pertahankan dengan nyawa," Yamamoto menjawab tegas. "Aku tidak akan biarkan anak-anak diserahkan pada bajak laut."
"Tapi Kurohige no Daiki bukan Bluejam. Dia jauh lebih kuat—"
"Aku tahu. Tapi tidak ada pilihan lain."
Aku melangkah maju. "Biarkan aku bicara dengan mereka."
"HAH?! Kau gila?!" Dadan berteriak. "Kau mau nyerahin diri?!"
"Bukan. Tapi kalau mereka memang cari aku, lebih baik aku tahu langsung apa maunya. Daripada semua orang disini celaka gara-gara aku."
"Ace—" Sabo mencoba protes.
"Sabo. Percaya padaku. Kalau memang harus bertarung, aku tidak akan kalah mudah. Latihan dua tahun ini bukan untuk main-main."
Yamamoto menatapku lama. Menimbang.
"Baiklah. Tapi aku ikut. Sebagai pengawal. Dan kalau situasi bahaya, kita langsung mundur. Setuju?"
"Setuju."
"Ace! Jangan pergi!" Luffy tiba-tiba memeluk kakiku dengan erat. Air mata mulai keluar. "Luffy tidak mau Ace-nii pergi!"
Dadaku sesak melihat wajahnya yang takut.
Aku jongkok dan menatap mata Luffy langsung. "Luffy. Kakak harus pergi. Untuk melindungi semua orang disini. Termasuk kamu."
"Tapi... tapi..."
"Percaya pada kakak. Kakak janji akan pulang. Dengan selamat. Oke?"
Luffy mengusap air mata dengan tangan kecilnya. "Janji?"
"Janji. Kakak tidak akan mati. Tidak akan ninggalin Luffy sendirian."
Aku mengangkat kelingking. Luffy mengaitkan kelingkingnya dengan milikku—janji yang tidak boleh dilanggar.
"Sabo, jaga Luffy dan Dadan. Kalau terjadi sesuatu, kabur ke hutan dalam. Oke?"
Sabo mengangguk—meski terlihat tidak rela.
Aku dan Yamamoto berjalan keluar gubuk. Menuju pantai dimana kapal bajak laut berlabuh.
Setiap langkah terasa berat. Bukan karena takut. Tapi karena aku tahu—ini akan jadi pertarungan yang menentukan.
Kalau menang, kami aman.
Kalau kalah... semuanya berakhir.
Tapi aku tidak boleh kalah.
Tidak setelah semua latihan ini.
Tidak setelah semua janji yang kubuat.
Api takdir menyala lebih terang.
Siap membakar siapapun yang menghalangi.
Kurohige no Daiki.
Bajak laut dengan bounty delapan puluh juta.
Mari kita lihat seberapa kuat kau sebenarnya.
BERSAMBUNG