NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

David tak bisa bergerak. Mata nya masih terpaku pada jejak lampu merah mobil yang membawa Aisyah pergi, hati nya seperti direnggut perlahan-lahan. Tanpa sadar, kakinya melangkah keluar dari balkon, turun tangga satu demi satu dengan langkah yang goyah. Pikirannya hanya satu , dia harus melihatnya lagi, harus berkata apa yang belum sempat dia ucapkan dua tahun lalu.

Ia keluar dari hotel, menyusuri trotoar yang penuh dengan orang-orang yang sibuk menjalani malam mereka. Suara kota yang biasanya ramai kini hanya terdengar seperti deru jauh di telinganya. Matanya terus mencari sosok itu, meskipun sudah tahu mobilnya pasti jauh melaju.

Ketika sampai di persimpangan jalan yang ramai, David tiba-tiba berhenti. Di sudut jalan tempat Aisyah berdiri beberapa saat yang lalu, ada sehelai kain putih yang terjatuh di tanah , bagian dari baju yang dikenakannya. Tanpa berpikir panjang, dia melangkah ke tengah jalan untuk mengambilnya.

"Hati-hati!"

Sebuah teriakan keras menyambar telinganya, namun terlambat. Sebuah mobil truk besar dengan kecepatan tinggi sedang menghujam langsung ke arahnya. David hanya bisa membeku, mata nya membulat tak bisa bergerak sama sekali.

Tiba-tiba, sebuah sosok putih melesat dari sisi jalan. Tangan kuat namun lembut mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga, menjatuhkannya ke tepi jalan yang aman. Sebelum David bisa berkata apa-apa, suara benturan yang keras menusuk malam, diikuti dengan deru ban yang terhenti mendadak.

"AISYAH!!!"

Jeritan David menusuk udara malam, penuh dengan rasa sakit yang membuat orang-orang di sekitarnya berbalik melihat. Dia merangkak menuju sosok yang terbaring tak bergerak di atas aspal, baju putihnya kini bernoda merah pekat. Rambut panjangnya yang indah tertutup darah dan kotoran jalanan, wajahnya yang dulu begitu lembut kini pucat seperti kertas kosong.

"Sayangku... Aisyah..." David meraih tangannya dengan gemetar, air mata menyiram wajahnya tanpa bisa di kendalikan. "Kenapa kamu... kenapa kamu melakukan ini?"

Dari kejauhan, sebuah mobil mewah terparkir di depan sebuah toko kue. Seorang pria tampan dengan wajah penuh ketakutan berlari cepat ke arah mereka , Rain, suami Aisyah. Ia jongkok di sisi lain sang istri, tangan gemetar menyentuh dahinya yang terus mengeluarkan darah.

"Aisyah! Sayang, apa yang terjadi?!" Suara Rain pecah berkeping-keping, matanya penuh dengan ketakutan dan kesedihan yang mendalam. "Panggil ambulans! Segera panggil ambulans!"

Dalam beberapa saat, sirine ambulans menghiasi malam kota dalam keramaian. David dan Rain berdiri bersama-sama di luar ruang gawat darurat rumah sakit, kedua wajah pria itu penuh dengan kesedihan yang sama. Tanpa berkata apa-apa, mereka saling memandang , dalam pandangan itu terkandung segala rasa sakit, kecemasan, dan pertanyaan yang tak bisa diucapkan.

"Bagaimana kondisi, Aisyah..?" Tanya Mayang dengan suara bergetar setelah tiba disalah satu rumah sakit di Bandung tempat Aisyah di rawat kini.

Rain dan David menoleh ke arah yang sama di mana Mayang berdiri dengan raut wajah penuh kecemasan .

" Dokter sedang menangani nya." Jawab Rain .

Setelah beberapa jam yang terasa sangat panjang, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Dokter mengenakan jas pelindung yang bernoda darah keluar dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Kondisi pasien sangat kritis," ujar dokter dengan suara rendah namun jelas. "Kita berhasil menghentikan perdarahan nya, tetapi kepalanya mengalami benturan yang kuat. Ia masih dalam keadaan belum sadar. Kita perlu memantau perkembangannya selama beberapa hari ke depan."

Hati David dan Rain seolah terhenti sejenak sebelum kemudian terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Mayang menutup mulutnya dengan tangan, menangis terdiam sambil menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.

"Bisakah kami melihatnya?" tanya Rain dengan suara yang hampir tak terdengar.

" Bisa, tapi setelah pasien berada di ruang perawatan," jawab dokter.

Di dalam ruangan perawatan intensif, Aisyah terbaring dengan mata tertutup, wajahnya masih pucat dengan beberapa jahitan di dahinya. Sebuah alat bantu napas terpasang di mulutnya, dan monitor di samping ranjang menunjukkan denyut jantungnya yang tetap berdenyut namun lemah.

David meraih tangan Aisyah yang dingin dengan hati-hati, air mata kembali mengalir deras di pipinya. "Maafkan aku... semuanya karena aku. Kalau saja aku tidak berada di tempat itu..." bisiknya penuh dengan rasa bersalah.

Rain berdiri di belakangnya, dengan perasaan campur aduk." Lepaskan tangan mu dari istriku ." ujar Rain dengan suara getar menahan amarah." Aku tidak mengizinkanmu mendekati nya."

Menyadari kehadiran pria lain di ruangan itu ,membuat David tersadar akan status Aisyah kini." Aku tidak perlu izin mu untuk mendekatinya." Ujar David menantang Rain yang kini berdiri di hadapannya.

" Dia istriku ..."

" Tapi dia mencintai ku." Balas David dengan suara bergetar, melihat bagaimana pengorbanan Aisyah padanya malam ini membuatnya tersadar dan semakin yakin kalau Aisyah masih begitu mencintainya.

"Mencintaimu?" Rain menjerit dengan suara yang pecah, matanya merah karena menahan air mata dan amarah. " Tapi dia istriku sekarang ,dia milikku dan hanya aku yang berhak atas dirinya."

David mengangkat dagunya, meskipun tangannya masih gemetar dan air mata terus mengalir di pipinya. " Ya , kamu memang memiliki raganya tapi tidak dengan ganti dan cintanya karena semua itu hanya di berikan padaku,untukku dan kejadian ini adalah buktinya."

Kata-kata itu membuat Rain terdiam sejenak, wajahnya berubah dari marah menjadi pucat seperti kertas kosong. Ia menoleh ke arah ranjang Aisyah, melihat wajah istri nya yang terbaring tidak sadarkan diri, dan rasanya seolah ada batu besar yang menghantam dadanya.

" Omong kosong..." bisik Rain dengan suara yang lemah, tetapi dalam hatinya ia tahu apa yang di katakan oleh David adalah kebenaran.

" Omong kosong katamu!" David mendekat ke arah Rain, tangannya masih menggenggam tangan Aisyah. " Ingatlah satu hal sebesar apapun kamu berusaha tapi Aisyah akan tetap mencintai ku!" Air mata mulai menggenang di wajahnya, campuran rasa sakit dan kemarahan membuat suaranya memecah kedamaian ruangan. " Kejadian ini menyadarkan ku akan satu hal, Aisyah masih menyimpan rasa yang sama padaku dan aku yakin dia begitu tersiksa dengan pernikahan paksa ini. Jadi apa yang harus kulakukan, Rain? apa aku hanya berdiri diam dan melihatnya tersiksa menjalani pernikahan tanpa cinta seumur hidupnya?!"

Mayang yang selama ini hanya diam menangis, akhirnya berdiri di tengah mereka berdua. "Cukup !" jeritnya dengan suara yang penuh kesedihan. "Kalian berdua sedang berteriak-teriak di sini padahal Aisyah sedang terbaring dalam kondisi kritis! Apakah ini yang ingin kalian berikan padanya?!"

Keduanya terdiam, melihat Mayang yang menangis sambil menutupi wajahnya. David melepaskan tangan Aisyah dengan hati-hati, kemudian mundur ke sudut ruangan, duduk di kursi dengan badan membungkuk dan menangis terdiam. Rain juga jongkok di sisi ranjang, meraih tangan istri nya yang lain dengan hati-hati, dan akhirnya air mata yang sudah lama ditahan pun menetes deras di pipinya.

"Aku mencintainya dengan sepenuh hati..." bisik Rain dengan suara bergetar, menatap wajah Aisyah. "Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik baginya. Tapi apakah itu tidak cukup?"

David mengangkat kepalanya, matanya merah dan bengkak karena menangis. "Aku juga mencintainya lebih dari apapun di dunia ini. Itulah sebabnya aku kembali , untuk mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpa dia."

Ketika itu, monitor di samping ranjang tiba-tiba berbunyi dengan nada berbeda. Denyut jantung Aisyah yang tadinya stabil mulai naik turun dengan cepat. Ketiganya langsung mendekati ranjang, melihat bagaimana kelopak mata Aisyah mulai bergerak perlahan.

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!