NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: ARMOR NAGA DAN DERAK TULANG

Kesadaran Rimba kembali perlahan-lahan, seperti cahaya fajar yang menyelinap di sela-sela kelopak mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah keempukan luar biasa dari kasur sutra di kamar tidurnya yang baru. Tampaknya, sesi pemahaman Seribu Satu Pikiran kemarin benar-benar menguras seluruh energi mentalnya hingga ia jatuh pingsan karena kelelahan tepat setelah menyantap masakan Lara. Ia bahkan tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke tempat tidur.

Rimba duduk tegak, meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku namun anehnya sangat bertenaga. Di sampingnya, Cesar ikut terbangun. Serigala kecil itu menggeliat malas, menunjukkan perutnya yang berbulu lembut, lalu menguap lebar menampakkan taring-taring kecilnya yang mulai nampak mengilap. Dengan satu lompatan lincah, Cesar turun dari kasur, ekornya mengkibas-kibas menabrak kaki Rimba seolah sedang menagih janji untuk latihan pagi.

"Segar sekali," gumam Rimba sambil memutar lehernya hingga terdengar bunyi krak yang memuaskan. Ia merasa otaknya lebih jernih, sisa-sisa kelelahan mental kemarin telah menguap sepenuhnya.

Rimba segera melangkah keluar kamar, berjalan menyusuri lorong rumah mewah yang interiornya didominasi kayu gaharu dan marmer putih. Tujuannya satu: lapangan indoor. Ia merasa begitu dekat untuk menyelesaikan modul "Seribu Satu Pikiran" dan tidak sabar untuk segera duduk di atas altar batu hitam.

Namun, baru saja jemarinya hendak menyentuh pintu geser menuju aula latihan, sebuah bayangan muncul di sampingnya. Lara sudah berdiri di sana, tampak sangat anggun dengan gaun putihnya yang seolah tidak pernah tersentuh debu sedikit pun. Rambut hitamnya terikat rapi, memberikan kesan seorang instruktur yang disiplin.

"Rimba, sebelum melanjutkan latihan mental, ada sesuatu yang jauh lebih fundamental yang harus kamu lakukan," ucap Lara. Suaranya tenang, namun ada nada otoritas yang membuat Rimba menghentikan langkahnya.

Rimba menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi bertanya. "Oh ya? Apalagi? Bukannya kemarin kita sudah sepakat aku akan fokus pada perpustakaan mental?"

Lara menggeleng pelan. "Itu sebelum aku memeriksa kondisi fisikmu secara detail. Satu hari ini, fokusmu harus beralih. kamu akan melakukan penguatan kulit dan pembersihan tulang. Tanpa fondasi fisik yang kuat, tubuhmu akan hancur berantakan saat energi kultivasimu meledak ke tingkat yang lebih tinggi. kamu seperti mencoba memasang mesin jet pada sebuah rangka sepeda kayu. Itu berbahaya."

Rimba terdiam, mencoba mencerna analogi Lara. "Oh... ada yang begitunya? Kenapa kamu nggak bilang waktu pertama kali aku sampai di sini?"

"Aku pikir saat pertama kali masuk, kamu akan langsung beristirahat karena luka-luka dari pengeroyokan itu. Namun kamu justru langsung memaksakan diri bermeditasi. Sekarang, selagi tubuhmu sudah pulih sepenuhnya, ini adalah waktu terbaik," jawab Lara. Kemampuannya menggunakan bahasa 'aku-kamu' kini terdengar jauh lebih alami, meski wajahnya tetap menjaga ekspresi datar.

"Oke, oke. Aku mengerti logic-nya. Jadi sekarang aku mesti gimana?" tanya Rimba pasrah.

"Pertama-tama, kembalilah ke kamar. Lepas semua pakaianmu hingga tidak selembar benang pun tersisa. Gunakan jubah mandi yang ada di lemari, lalu aku akan menunggumu di tepi Telaga Penyempurnaan," jawab Lara. Tanpa menunggu respon lebih lanjut, ia berbalik dan melangkah dengan anggun menuju kolam jernih yang terletak di samping altar batu hitam.

Cesar, yang tampaknya memiliki insting tajam, segera berlari mengikuti Lara. Ia sempat menoleh ke arah Rimba sejenak, menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek tuannya yang masih mematung di tengah ruangan.

"Jadi aku benar-benar harus telanjang, Lara?!" teriak Rimba, suaranya bergema di lorong.

"Iya," jawab Lara singkat tanpa menoleh sedikit pun.

Rimba berdiri membeku. Wajahnya mulai terasa panas. "Masa harus telanjang total sih? Kan malu!" batinnya berteriak histeris. Sebagai pemuda yang tumbuh besar dengan rasa rendah diri karena kemiskinan, ia sangat menjaga privasinya. Ia belum pernah berdiri tanpa busana di hadapan siapa pun, apalagi di hadapan wanita secantik Lara. Namun, di sisi lain, ia tahu ini adalah bagian dari jalan menjadi kuat.

Dengan langkah berat, Rimba kembali ke kamarnya. Di depan cermin besar, ia perlahan melepas kemeja flanelnya, kaosnya, hingga celana jeans-nya yang robek. Ia melihat tubuhnya di cermin; jangkung, dengan otot-otot yang mulai terbentuk namun masih tampak kurus. Ia segera menyambar jubah mandi sutra berwarna biru tua dan mengikatnya erat-erat di pinggang, seolah jubah itu adalah benteng pertahanan terakhir harga dirinya.

Ia melangkah menuju area telaga dengan wajah yang berganti-ganti antara merah padam dan pucat. Setiap langkah kakinya yang bersentuhan dengan lantai marmer seolah menghitung mundur waktu menuju momen memalukan itu.

"Rimba, di sebelah sini," panggil Lara.

Rimba sampai di tepi telaga. Airnya begitu jernih hingga dasar kolam yang bertabur batu kristal terlihat jelas. Di tangan Lara, terdapat selembar benda yang tampak seperti kain kulit yang cukup lebar. Warnanya gelap namun memiliki pendaran biru laut yang misterius.

"Sekarang, buka jubah mandinya," perintah Lara tanpa basa-basi.

Rimba tersentak, tangannya refleks memegang erat ikatan jubahnya. "Hah? Di hadapanmu? Malu dong aku! Maksudku... tidak adakah tirai atau setidaknya kamu bisa berbalik?"

Lara menatap Rimba dengan tatapan yang sangat profesional, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sedikit binar geli di matanya. "Prosedur ini menuntut presisi, Rimba. Aku harus memastikan pelapisan kulit ini sempurna ke seluruh pori-porimu tanpa ada gelembung udara atau lipatan. Ayo cepat, jangan bersikap seperti anak kecil."

"Kamunya nggak buka juga?" tanya Rimba, mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan negosiasi konyol.

Lara sedikit memicingkan mata, aura di sekitarnya mendingin. "Yang ingin dilapisi kulit naga agar kuat menahan serangan senjata tajam itu kamu, bukan aku. Mengapa aku harus ikut telanjang?"

"Yey... nggak adil dong! Kamu bisa melihat 'onderdilku' dengan bebas, sedangkan aku nggak bisa melihat punya kamu. Itu namanya ketidakadilan gender dalam dunia kultivasi!" jawab Rimba, mencoba bercanda meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Ini bukan masalah adil atau tidak adil, Rimba. Ini masalah keamanan nyawamu," Lara menyela dengan tegas. "Pelapisan ini menggunakan Kulit Naga Asura. Ini adalah kulit terkuat yang pernah ada di dimensi ini. Begitu menyatu, kulitmu akan memiliki pertahanan setingkat armor baja, namun tetap terasa selembut kulit manusia biasa. Sekarang, buka."

Rimba menelan ludah. Kata-kata 'Kulit Naga Asura' dan 'Setingkat Baja' akhirnya meruntuhkan pertahanan mentalnya. Baiklah, demi masa depan di mana ia tidak akan lagi bisa dipukuli oleh preman-preman pasar, ia harus berkorban.

Dengan sangat perlahan, Rimba melepaskan ikatan jubah mandinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya sudah semerah kepiting rebus yang baru diangkat dari kuali. Ia membiarkan jubah itu jatuh ke lantai, sementara kedua tangannya dengan sigap menutupi bagian paling pribadinya.

"Bentangkan tanganmu ke samping," perintah Lara lagi. Suaranya terdengar sedikit bergetar kali ini, menandakan bahwa ia pun sebenarnya tidak sedingin yang ia perlihatkan.

Rimba merentangkan tangannya dengan kaku. Ia bisa merasakan hawa dingin ruangan menyentuh kulitnya yang telanjang. Ia sempat membuka mata sedikit dan melihat Lara berdiri tepat di depannya. Wajah Lara juga nampak memerah hebat, namun tangannya tetap stabil saat ia membentangkan Kulit Naga Asura yang tipis namun kuat itu.

Begitu kain kulit naga itu menyentuh dada Rimba, sebuah sensasi hangat yang menjalar seperti aliran listrik statis segera menyebar. Kulit naga itu seolah memiliki nyawa sendiri; ia bergerak, melilit, dan menyesuaikan diri dengan setiap inci lekuk tubuh Rimba secara otomatis. Awalnya, seluruh tubuh Rimba tampak tertutup sisik-sisik biru safir yang berkilauan indah, memberikan kesan mistis yang luar biasa. Namun, dalam beberapa kejap, sisik-sisik itu meresap masuk ke bawah pori-pori. Kulit Rimba kini nampak lebih cemerlang, bersih, dan memancarkan pendaran sehat yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

"Selesai," bisik Lara, suaranya terdengar lega. "Sekarang, masuklah ke dalam telaga. Jangan takut tidak bisa bernapas. Air telaga ini telah dimurnikan dengan energi langit, paru-parumu akan beradaptasi secara otomatis. Pembersihan tulang dan sumsum dilakukan di dasar sana. Selama proses itu, kamu bisa melanjutkan pemahaman ilmumu agar fokusmu tetap terjaga."

"Berapa lama aku harus di bawah sana?" tanya Rimba sambil melangkah masuk ke air telaga yang hangatnya pas, seperti air mandi yang disiapkan dengan cinta.

"Tidak ada waktu pasti. Ketika tubuhmu sudah menyerap seluruh nutrisi telaga dan tulangmu sudah mencapai kepadatan maksimal, kamu akan mengambang sendiri ke permukaan," jawab Lara sambil memberikan isyarat agar Rimba segera menyelam.

Rimba menarik napas panjang, lalu membenamkan dirinya ke dalam air jernih itu. Ia berenang menuju dasar telaga dan berbaring terlentang di atas hamparan kristal. Benar kata Lara, ia tidak merasa sesak. Sebaliknya, setiap kali ia mencoba bernapas, ada sensasi segar yang mengalir ke paru-parunya.

Karena belum ada tanda-tanda perubahan fisik, Rimba berinisiatif untuk masuk ke dalam perpustakaan mentalnya. Ia kembali fokus pada modul Seribu Satu Pikiran. Di dalam air, ternyata koneksi mentalnya menjadi jauh lebih stabil dan cepat.

50%... 65%... 70%... 80%...

Namun, tepat saat pemahamannya menyentuh angka 92%, ketenangan itu pecah.

KRAAAK!

Suara itu terdengar seperti dahan pohon besar yang patah di tengah badai. Namun, suara itu tidak berasal dari luar, melainkan dari dalam dadanya. Rasa hangat telaga seketika berubah menjadi rasa sakit yang membakar.

KRAK! KRAK! KRAK!

Satu per satu tulang rusuknya terasa seperti dipukul palu besar. Rimba mencoba berteriak, namun di dalam air, yang keluar hanyalah gelembung-gelembung udara besar. Mulutnya menganga, matanya melotot menahan penderitaan yang tak terlukiskan. Rasanya seolah-olah seluruh kerangka tubuhnya sedang dihancurkan menjadi debu untuk kemudian dicetak ulang menjadi sesuatu yang baru.

Pembersihan sumsum telah dimulai, dan penderitaan itu baru saja mencapai puncaknya. Di dasar telaga yang tenang, Rimba Dipa Johanson sedang bertarung melawan rasa sakit yang bisa membunuh manusia biasa, demi mencapai tahap yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

1
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!