Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 17 Luka di tanganku bahkan tak seberapa, Tuan Lucas
"Kenapa tanganmu terluka?" Lucas bertanya dengan suara bergetar seolah tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Minggu lalu terjadi kebakaran di tempat ini. Aku terjebak dan-"..
"Karena kecerobohanmu sendiri tanganmu jadi terbakar, begitu? Kau memang ahlinya menyakiti diri sendiri". Lucas berteriak marah, menganggap adik perempuannya ini terlalu bodoh dan payah.
"Tidak apa-apa, Tuan Lucas. Luka ini bahkan tidak seberapa". Lucas terkesiap. Sikap tenang adiknya membuatnya sedikit tersinggung.
"Aku akan memanggil perawat untuk mengobati lukamu". Ucap Lucas kemudian, setelah lidahnya dengan susah payah merangkai kata.
"Tidak perlu! Kurasa ini semua terlalu berlebihan, Tuan Lucas". Ervana berucap sembari menatap lukanya yang kembali basah. Ketegangan di ruangan sempit itu meningkat. Dua bersaudara itu seperti sedang saling menilai. Tidak ada sedikitpun kehangatan yang dibayangkan Lucas. Adiknya hanya menatapnya seperti orang asing dan ini sungguh menyakitinya.
"Apakah kau senang dengan tempat ini?" Ervana terkekeh pelan mendengar kalimat menyakitkan itu. Kakaknya baru saja memastikan satu hal yang membuat orang-orang berpikir jika dirinya benar-benar gila.
"Menurutmu? Apakah aku terlihat bahagia?"
"Harusnya seperti itu karena tempat ini cocok untukmu". Lucas menjawab sekenanya, masih terbawa arus amarahnya karena sikap tenang sang adik.
"Mungkin".
"Apa maksudmu?"
"Di manapun aku berada kurasa hidupku tetap seperti ini selagi aku masih menjadi bagian dari keluarga Moses". Ervana menarik kursi lalu mendudukkan tubuhnya,. mengabaikan darah segar yang menetes dari luka bakarnya.
"Kau menyesal terlahir sebagai putri Efendi Moses? Kau menyesal terlahir sebagai adikku? Begitu maksudmu?" Urat-urat di leher Lucas menegang, amarah menguasainya dalam sekejap. Ini seperti sebuah hinaan baginya! Pria yang selalu menjunjung tinggi harga diri sepertinya benar- benar merasa tersakiti karena asumsi liarnya sendiri. Pria itu membuka jaketnya dengan gerakan asal lalu menggulung lengan kemejanya dengan gerakan terukur yang sering diperlihatkannya. Sedetik kemudian pria itu melemparkan jaketnya ke atas meja kayu kecil yang tersedia di ruangan itu. Sikap yang ditunjukkannya barusan membuat Ervana berpikir bahwa seharusnya pria itu yang lebih pantas menghabiskan waktunya di rumah sakit itu.
"KATAKAN".
"Menyesal pun tidak ada gunanya, Tuan Lucas. Kumohon pergilah! Jangan membuat semuanya menjadi lebih rumit".
"Kau masih berani mengusirku? Mau memutuskan ikatan keluarga di antara kita atau bagaimana?" Lucas mendekat lalu mencekik leher sang adik dengan kemarahan yang tak dibuat-buat. Napas Ervana tersengal namun gadis itu tidak peduli. Ervana bahkan menatap netra kakaknya dengan berani, seolah menguji kesabaran seorang Lucas Moses yang jumlahnya tidak seberapa itu.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum telingaku mendengar kalimat permintaan maaf darimu".
"La-lakukan sampai aku meregang nyawa di hadapanmu". Sekali lagi ucapan Ervana menyinggung ego Lucas, membuat pria itu mendorong kasar tubuh ringkih gadis itu.
"Sialan, kenapa kau selalu menguji kesabaranku?" Lucas berteriak marah di hadapan adiknya. Ervana tidak peduli, gadis itu meraup oksigen dengan rakus. Gila! Ia nyaris mati di tangan kakaknya sendiri.
"Kau benar- benar gila, kan? Kupikir aku harus mencurigai Renita karena telah asal menuduhmu, tapi nyatanya aku sebaiknya mengucapkan terima kasih paling tulus pada gadis itu karena ia yang membuka tabir kebenaran. Kau gadis berpenyakit mental yang bisa saja menjadi ancaman bagiku. Akan sangat memalukan jika orang luar tau jika aku punya adik sepertimu. Ibu benar, dunia hanya perlu tau jika hanya Renita satu-satunya putri keluarga Moses". Amarah yang menguasai raganya membuat kalimat menyakitkan terus keluar dari bibir pria angkuh itu. Lucas tidak sadar jika lisannya telah membawanya pada sebuah jurang kehancuran yang ia bangun sendiri.
"Aku memang menjijikkan, Tuan Lucas tapi-". Ervana maju selangkah demi lebih dekat dengan kakaknya. Lucas Moses memundurkan tubuhnya seolah terlalu jijik berdekatan dengan adiknya. "Tapi aku tidak pernah sebodoh itu sampai-sampai percaya pada drama murahan yang diciptakan oleh anak pungut keluargaku. Renita adalah bintang di keluarga Moses dan aku adalah batu kerikil yang sampai kapanpun pantas bersaing dengannya. Itulah yang selalu kau ucapkan bukan? Pernahkah kau menyadari satu hal? Kau dan orang tuamu selalu percaya dengan apa yang diucapkan oleh Renita tanpa mencari tau seperti apa kebenarannya. Ini benar- benar menyedihkan! Pria sepertimu bahkan tak bisa membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Renita mengatakan banyak hal buruk tentangku dan kau langsung menelan mentah-mentah ucapannya seolah-olah aku memang seburuk itu. Lambat laun, aku menjadi sosok yang begitu jahat di matamu padahal sekalipun kau tidak pernah melihat perbuatan jahatku. Kau terlalu termakan drama murahan yang diciptakan oleh adik perempuan kesayanganmu itu. Renita mungkin berhasil menjatuhkanku! Bukan, bukan hanya itu! Ia bahkan berhasil membodohimu dan menghancurkan hubungan baik antara saudara kandung yang telah kita jaga setengah mati. Renita itu selicik rubah, namun pandai memainkan perannya sebagai malaikat di hadapan keluarga Moses. Nah, Tuan Lucas mungkin ini terakhir kalinya aku berbicara panjang lebar denganmu. Anggap saja ini sebagai kalimat perpisahan kita. Setelah ini, kumohon jangan sia-siakan waktu berhargamu untuk orang sepertiku". Ervana berbalik lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar bernomor 14 yang akhir-akhir ini seperti tempat persembunyian paling nyaman baginya.
Sementara itu, Lucas masih bertahan dalam posisinya. Ucapan adiknya bergema di udara, seperti sebuah alarm perang yang siap meledak kapan saja. Dadanya sesak namun kepalanya benar- benar kosong sekarang. Apa maksudnya? Berkali-kali pertanyaan yang sama bergaung berisik namun pria itu sama sekali tak menemukan titik terang. Pria itu terlalu sibuk dengan isi kepalanya sampai ia tidak sadar jika adiknya telah menghilang, kamar bernomor 14 telah mendekap erat kegundahan dan rasa sakitnya. Untuk pertama kalinya ia ingin menyusul adiknya lalu memeluk erat tubuh gadis yang dulu menjadi alasannya pulang, namun sisa-sisa kewarasan dan keegoisannya kembali mendominasi. Pria itu diam seolah berperang dengan isi kepalanya. Tempat itu begitu sunyi dan lengang, seolah merestuinya untuk tenggelam dalam labirin pikirannya. Lucas memutuskan pulang dengan membawa kehampaan. Ia pikir hari ini adiknya akan memeluk tubuhnya dengan erat lalu mengucapkan kalimat rindu seperti yang kerap ia lakukan dulu, saat Renita belum datang dan menjadi ancaman bagi adiknya yang manja itu.
"Tuan Lucas, aku membawakan minuman untukmu". Ema menyodorkan sebotol minuman kemasan yang sama sekali tak menarik di mata Lucas.
"Siapa namamu?"
"Ema, Tuan". Wanita itu merapikan rambutnya dengan gerakan lembut, berusaha menarik perhatian pria angkuh di depannya ini.
"Kenapa tangan adikku terluka separah itu?"
"Ah, it-itu".
"Dengar! Aku tidak segan-segan menghancurkan siapapun yang secara terang-terangan menyakiti adikku. Ingat baik-baik ucapanku ini. Obati lukanya jika kau tak ingin hidup dalam bayang-bayang ancamanku. Aku telah membayar harga yang sangat mahal untuk kenyamanan adikku, namun apa yang kulihat? Kau mau main-main denganku?" Lucas berteriak marah, melampiaskan segala amarah tertundanya pada Ema yang menunduk dalam-dalam seolah ia adalah binatang buas yang bisa mencabik-cabik tubuhnya kapan saja.