desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Jejak Ular
Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Atau mungkin memang tidak pernah baik-baik saja.
Raka duduk di ruang kerjanya—ruang kerja yang kini terasa seperti penjara. Jendela besar menghadap ke selatan, ke arah gedung-gedung pencakar langit di SCBD. Di salah satu gedung itu, perusahaannya berada. Perusahaan yang ia bangun dari nol, yang kini goyah diterpa badai.
Seminggu sudah sejak kabar buruk itu datang. Seminggu Raka menjalani cuti paksa. Seminggu ia tidak bisa keluar rumah karena wartawan masih berjaga di lobi apartemen. Seminggu ia hanya bisa diam, menonton perusahaannya hancur lebur dari layar televisi.
Harga saham turun 23%. Empat klien besar hengkang. Dua proyek strategis batal. Polisi masih melakukan penyelidikan. Dan namanya, Raka Pramana, disebut-sebut sebagai tersangka utama di setiap pemberitaan.
"Idiot," gumamnya sambil mematikan televisi.
Aira masuk membawa nampan berisi segelas jus jeruk dan sepiring roti bakar. Ia tersenyum, meskipun matanya lelah. Seminggu ini ia bolak-balik Tanah Abang–The Rosewood. Mengurus Arka, mengurus Raka, mengurus butik dari jarak jauh.
"Makan dulu," katanya lembut.
Raka menatapnya. "Kau tak capek? Bolak-balik terus?"
Aira menggeleng. "Aku kuat. Yang penting kau makan."
Raka meraih tangannya. "Aira, duduk dulu."
Aira duduk di sampingnya. Raka menggenggam tangannya erat.
"Maaf, Aira. Kau jadi ikut susah."
"Jangan bilang maaf terus. Kita sudah sepakat jalani bersama."
Raka tersenyum tipis. "Iya. Bersama."
Tapi di matanya, ada keputusasaan. Aira bisa melihatnya. Ia tahu Raka sedang berusaha kuat, tapi beban ini terlalu berat.
"Aku mau cari Lita," kata Raka tiba-tiba.
Aira terkejut. "Cari Lita? Buat apa?"
"Ajak bicara. Tanya langsung. Apa maunya."
"Raka, itu berbahaya. Lita sudah terbukti licik. Dia bisa saja menjebakmu lagi."
"Aku tak peduli. Aku harus tahu. Aku harus hentikan ini."
Aira menggenggam tangannya lebih erat. "Kalau kau pergi, bagaimana dengan Arka? Dia butuh bapaknya."
Raka diam. Arka. Ya, Arka.
"Aku akan temani," kata Aira. "Tapi jangan sekarang. Kita harus siap dulu. Kumpulkan bukti. Cari tahu di mana Lita. Lalu kita datangi bersama."
Raka menatap Aira. "Kau mau ikut? Ini berbahaya."
"Aku tak takut. Selama denganmu."
Raka tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia merasa ada harapan.
---
Malam harinya, Aira duduk di kamar kost. Ia membuka laptop. Mulai mencari informasi tentang Lita. Media sosial, profil, teman-teman, siapa pun yang bisa memberi petunjuk.
Lita punya akun Instagram yang sudah lama tak diupdate. Foto terakhir dua tahun lalu, saat ia masih di Singapura. Di foto itu, ia bersama seorang pria bule. Richard, mungkin.
Aira mencari lebih dalam. Akun LinkedIn Lita juga sudah lama tak aktif. Tapi ada satu hal menarik: di kolom pendidikan, Lita tercatat pernah kuliah di sebuah universitas di Jakarta, jurusan Manajemen Bisnis. Dan di kolom teman sekelas, ada nama yang familiar: Andre Kurniawan.
Aira mengernyit. Nama itu pernah disebut Raka. Andre adalah mantan teman kuliah Raka, juga mantan rekan bisnis yang sempat berseteru. Mereka punya konflik soal proyek beberapa tahun lalu.
"Apa Lita kenal Andre?" gumam Aira.
Ia mencari nama Andre. Pria itu sekarang CEO sebuah perusahaan kompetitor. Perusahaan yang belakangan ini sering disebut-sebut sebagai kandidat pembeli saham perusahaan Raka jika harganya terus turun.
Aira teringat sesuatu. Pesan Lita dulu: "Aku punya orang di belakangku."
Mungkin orang itu Andre.
Aira mengambil ponsel. Menelpon Raka.
"Raka, aku menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Aku lihat di LinkedIn, Lita satu kampus dengan Andre Kurniawan. Teman sekelas. Mungkin mereka kenal."
Raka diam. Lalu berkata, "Andre... dia musuh lamaku. Kami berebut proyek besar lima tahun lalu. Dia kalah, dan sejak itu dendam."
"Aku curiga, Raka. Mungkin Andre di belakang Lita. Mungkin mereka bekerja sama. Lita curi data, Andre pakai untuk hancurkan perusahaankau."
Raka diam lebih lama. Lalu suaranya berat, "Bisa jadi. Andre cukup licik untuk melakukan itu."
"Kita harus selidiki."
"Tapi bagaimana?"
Aira berpikir. Lalu dapat ide.
"Kita bisa lacak Lita lewat Andre. Cari tahu di mana dia. Lalu kita hadapi."
"Tapi Andre pasti akan lindungi dia."
"Maka kita harus punya bukti cukup. Rekaman, pesan, apa saja."
Raka menghela nafas. "Aira, kau hebat. Terima kasih."
"Kita bersama, Raka. Ingat itu."
---
Dua hari kemudian, Aira berhasil mendapatkan informasi penting. Dari seorang teman jurnalis yang meliput kasus ini, ia tahu bahwa Lita terakhir terlihat di sebuah apartemen di kawasan Kemang. Apartemen itu milik Andre.
"Jadi mereka tinggal bersama?" tanya Aira.
"Sepertinya begitu," jawab temannya. "Mereka sudah lama dekat. Bahkan sebelum Lita kembali ke Jakarta."
Aira terperanjat. "Jadi, sebelum Lita datang ke Raka, dia sudah tinggal dengan Andre?"
"Iya. Mereka pasangan. Sumberku bilang, Andre yang biayai Lita selama ini."
Aira mengucap terima kasih. Telepon ditutup. Ia duduk diam mencerna informasi.
Lita dan Andre pasangan. Andre biayai Lita. Lita datang ke Raka bukan karena rindu Arka, tapi karena disuruh Andre. Dan data perusahaan Raka dicuri, lalu dipakai Andre.
Ini konspirasi.
Aira segera telepon Raka. Menceritakan semuanya.
Raka diam. Lama. Lalu berkata, "Aira, kita harus ke polisi."
"Tapi bukti kita belum cukup. Hanya informasi dari teman jurnalis. Belum bukti hukum."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Aira berpikir. Lalu berkata, "Kita harus dapat pengakuan Lita. Rekam dia bicara."
"Bagaimana caranya?"
"Aku akan temui Lita. Ajak bicara. Rekam diam-diam."
Raka terkejut. "Jangan! Itu berbahaya! Lita bisa apa-apain kau!"
"Raka, aku harus lakukan ini. Demi kita. Demi Arka."
"Tapi—"
"Percaya sama aku."
Raka diam. Lalu berkata lirih, "Aira, aku takut kehilangan kau."
Aira tersenyum meski Raka tak melihat. "Kau tak akan kehilangan aku. Aku janji."
---
Keesokan harinya, Aira pergi ke Kemang. Sendiri. Tanpa memberi tahu Raka alamat pastinya. Ia hanya bilang akan coba hubungi Lita.
Di depan apartemen milik Andre, Aira menunggu. Ia tahu Lita pasti keluar suatu saat. Dan ia benar.
Sore itu, sekitar jam empat, Lita keluar. Sendiri. Naik taksi. Aira mengikuti dari belakang.
Taksi Lita berhenti di sebuah kafe di kawasan Blok M. Lita masuk. Aira menunggu beberapa menit, lalu masuk. Ia duduk di meja yang agak jauh, tapi cukup untuk melihat Lita.
Lita duduk sendiri. Memesan kopi. Beberapa menit kemudian, seorang pria datang. Andre.
Aira mengenali dari foto yang ia cari. Pria itu tinggi, berkacamata, berpakaian rapi. Mereka duduk berhadapan. Tampak akrab.
Aira mengeluarkan ponsel. Menyalakan perekam suara. Kamera foto siap.
Mereka bicara. Aira tak bisa mendengar jelas dari jarak itu. Tapi sesekali ia bisa menangkap potongan kalimat.
"Perusahaan Raka... jatuh..."
"Data kita... jual ke kompetitor..."
"Lita, kau hebat..."
Aira merekam semuanya. Foto, video, suara. Berharga.
Setelah sekitar satu jam, mereka berpisah. Lita keluar lebih dulu. Aira mengikuti. Di luar, ia mendekati Lita.
"Lita."
Lita berbalik. Terkejut.
"Aira? Kau... kau ngapain di sini?"
Aira tersenyum. "Aku ingin bicara."
Lita curiga. "Bicara apa?"
"Tentang Andre. Tentang data perusahaan Raka. Tentang konspirasimu."
Lita berubah wajah. Pucat.
"Aira, jangan macam-macam. Aku bisa—"
"Kau bisa apa? Ngancem lagi?" Aira mengeluarkan ponsel. "Aku sudah punya rekaman. Kau dan Andre di kafe tadi. Bicara tentang rencana jahat kalian."
Lita terbelalak. "Kau... kau rekam?"
"Ya. Dan ini akan jadi bukti di polisi."
Lita gemetar. Tapi cepat ia menguasai diri.
"Aira, kau pikir polisi akan percaya? Rekaman bisa direkayasa. Lagipula, kau siapa? Hanya desainer murahan yang kepincut sama Raka."
Aira tersenyum tenang. "Kata orang, kebenaran itu seperti minyak. Meski dipress, akan naik juga ke permukaan. Biar waktu yang bicara, Lita."
Aira berbalik. Meninggalkan Lita yang terpaku.
---
Di apartemen The Rosewood, Aira menunjukkan semua bukti pada Raka.
Raka melihat foto-foto itu. Mendengar rekaman suara. Matanya berkaca-kaca.
"Aira, kau... kau hebat."
Aira tersenyum. "Aku hanya melakukan yang bisa kulakukan."
Raka memeluknya. Erat.
"Terima kasih. Terima kasih banyak."
Malam itu, mereka pergi ke polisi. Melaporkan semua temuan. Rekaman, foto, pesan-pesan ancaman. Semua diserahkan.
Polisi menerima laporan. Janji akan menyelidiki.
---
Tiga hari kemudian, kabar baik datang. Polisi menangkap Andre dan Lita. Mereka terbukti melakukan pencurian data, pemerasan, dan konspirasi jahat. Andre juga terbukti menyuap beberapa oknum untuk menjatuhkan perusahaan Raka.
Nama Raka bersih. Semua tuduhan palsu dicabut. Perusahaannya mulai bangkit. Klien-klien yang hengkang mulai kembali. Saham naik lagi.
Raka kembali bekerja. Tapi kini ia lebih banyak di rumah. Menemani Arka. Menemani Aira.
Suatu malam, saat Arka sudah tidur, mereka duduk di balkon apartemen. Memandangi lampu-lampu Jakarta.
"Aira," kata Raka pelan.
"Iya?"
"Ada yang ingin kutanyakan."
"Apa?"
Raka menatapnya. "Maukah kau... menjadi bagian dari keluarga ini? Secara resmi?"
Aira terkejut. "Maksud Raka?"
Raka tersenyum. Ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dibuka. Di dalamnya, sebuah cincin emas sederhana.
"Aira, aku mencintaimu. Arka juga. Kami ingin kau menjadi istriku. Menjadi ibu bagi Arka. Maukah kau?"
Aira menatap cincin itu. Air matanya jatuh.
"Raka... aku... aku cuma wanita biasa. Aku—"
"Kau bukan wanita biasa. Kau wanita terhebat yang pernah kutemui. Kau pelindung cinta kami. Kau pahlawan tak terduga dalam kisah ini."
Aira menangis. Tapi tangis bahagia.
"Iya, Raka. Aku mau."
Raka memakaikan cincin itu di jari Aira. Mereka berpelukan. Di bawah langit Jakarta yang berkelap-kelip.
---
Keesokan paginya, Arka melihat cincin di jari Aira. Ia berteriak kegirangan.
"Aira jadi Mama Aira! Aira jadi Mama Aira!"
Ia berlari memeluk Aira. Aira tertawa. Raka ikut tertawa. Bi Inah menangis haru di dapur.
Kebahagiaan itu sederhana. Tapi nyata.
Dan di balik kebahagiaan itu, masa lalu yang kelam telah terkubur. Lita dan Andre di penjara. Menerima hukuman setimpal.
Tapi Aira tak pernah dendam. Ia hanya bersyukur. Bersyukur pada takdir yang mempertemukannya dengan Raka dan Arka.
---
Epilog
Enam bulan kemudian...
Di sebuah butik kecil di Tanah Abang, Aira duduk di kursi goyang. Di pangkuannya, seorang bayi perempuan mungil tertidur lelap. Arka duduk di lantai, menggambar.
"Mama, lihat! Aku gambar adik!"
Aira melihat gambar itu. Arka, Aira, Raka, dan bayi kecil. Satu keluarga.
"Bagus sekali, Nak."
Raka masuk dari dapur, membawa susu hangat. Ia menatap keluarganya. Tersenyum.
Jakarta di luar tetap sibuk. Macet. Hiruk pikuk. Tapi di dalam butik kecil ini, ada kedamaian.
Kadang, cinta datang dari tempat tak terduga. Dari seorang anak kecil yang bertanya, "Kamu mau jadi mama aku?" Dari seorang pria yang hancur tapi tetap berusaha. Dan dari seorang wanita sederhana yang memilih untuk bertahan.
Aira menatap Raka. Mereka tersenyum.
"Terima kasih sudah mau jadi bagian dari hidupku," bisik Raka.
Aira menggeleng. "Bukan aku yang jadi bagian hidupmu. Tapi kalian yang jadi bagian hidupku. Dan aku bersyukur."
Di luar, hujan turun. Jakarta basah lagi. Tapi di hati mereka, matahari selalu bersinar.
Karena cinta, sejatinya, adalah pelindung yang tak tergoyahkan.
---
[