Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelicikan Broto
Siang itu, matahari seolah berhenti bersinar di atas rumah mewah Paman Broto. Di dalam ruang tengah yang kini dipenuhi barang-barang elektronik mahal, Broto duduk termenung sambil memutar-mutar surat asli dari Aditya di tangannya. Sebuah ide licik telah matang di kepalanya, sebuah rencana untuk mematahkan semangat Mirasih secara total agar keponakannya itu tidak lagi memiliki harapan untuk lari, melainkan pasrah sepenuhnya menjadi budak pesugihannya.
"Siska! Sini kamu!" panggil Broto dengan suara yang ditekan agar tidak terdengar sampai ke kamar depan.
Siska yang sedang asyik memoles kukunya dengan kutek merah mahal, datang dengan langkah malas. "Ada apa sih, Pak? Lagi asyik juga."
"Ambil kertas dan pulpen. Kamu kan sekolahnya lebih tinggi, tulisanmu bagus. Tuliskan surat untuk Mirasih," perintah Broto.
"Surat apa?" tanya Siska bingung.
"Tulis surat atas nama Aditya. Tapi isinya... buat Mirasih merasa dibuang," Broto tersenyum licik, menampakkan deretan giginya yang kuning. "Tulis begini: Mirasih, maaf aku tidak bisa menepati janji. Jakarta terlalu luas dan hidup di sini sangat keras. Aku sudah menemukan jalan hidupku sendiri di sini. Jangan menungguku lagi karena aku tidak tahu kapan akan pulang, atau bahkan mungkin aku tidak akan pernah kembali ke desa. Cari saja laki-laki lain yang bisa menjagamu, karena aku tidak bisa menjamin perasaan ini akan tetap sama."
Siska tertegun sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya yang menor. "Wah, Bapak jahat banget. Tapi seru juga sih. Biar si kurus itu makin nangis sesenggukan di kamarnya."
Siska pun mulai menulis. Dengan teliti, ia meniru gaya bahasa yang kira-kira akan digunakan oleh seorang perantau. Ia menambahkan kata-kata "sayang" di awal paragraf hanya untuk memberikan rasa sakit yang lebih dalam saat Mirasih membaca kalimat penolakannya di akhir. Setelah selesai, Siska melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop putih yang baru, lalu merekatkannya dengan rapat hingga tampak seolah-olah surat itu masih murni dan belum tersentuh.
"Ini, Pak. Sudah jadi. Dijamin si Mirasih bakal merasa hancur hidupnya," ucap Siska sambil menyerahkan surat palsu itu.
Paman Broto berjalan menuju kamar depan dengan wajah yang diset sedemikian rupa agar terlihat seperti paman yang penuh perhatian. Ia mengetuk pintu kamar Mirasih dengan pelan.
"Mirasih... Nduk, kamu sudah bangun?"
Mirasih, yang sejak tadi hanya duduk termenung di tepi tempat tidur empuknya, menoleh. "Iya, Paman. Ada apa?"
Broto membuka pintu sedikit. "Tadi Siti, adiknya Aditya, datang kemari. Dia menitipkan surat ini untukmu. Katanya dari kakaknya di Jakarta."
Mendengar nama Aditya, seolah ada aliran listrik yang menghidupkan kembali sel-sel tubuh Mirasih yang layu. Matanya yang semula redup seketika berbinar terang. Ia langsung berdiri dan menghampiri pamannya.
"Surat dari Mas Aditya, Paman?" tanya Mirasih dengan suara yang bergetar karena kegembiraan yang luar biasa.
"Iya, ini. Masih tertutup rapat, Paman tidak berani membukanya. Ini hakmu," ucap Broto sambil menyerahkan amplop itu. Ia sengaja menekankan bahwa surat itu masih tertutup agar Mirasih percaya sepenuhnya bahwa isinya murni dari sang kekasih.
Mirasih menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia menatap amplop putih itu seolah-olah itu adalah batangan emas yang paling berharga di dunia. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
Di balik pintu, Broto kembali ke dapur menemui Sumi dan Siska. Mereka bertiga berdiri berkerumun, saling berpandangan, lalu tawa tertahan pecah di antara mereka.
"Lihat mukanya tadi? Senang banget ya? Kayak habis dapet lotre," bisik Siska sambil tertawa pelan.
"Biarkan saja," sahut Bibi Sumi dengan senyum sinis. "Biarlah dia terbang tinggi dulu dengan harapannya, supaya nanti jatuhnya makin sakit. Kalau dia sudah benci sama Aditya, dia tidak akan punya alasan lagi untuk menolak Ki Ageng. Dia akan sadar kalau hanya kita dan 'Tuan' itu yang dia punya."
Mereka bertiga menunggu dengan penuh kemenangan di dapur, membayangkan kehancuran mental yang sebentar lagi akan meledak di kamar depan.
Di dalam kamar, Mirasih duduk di lantai, bersandar pada pintu kayu yang tertutup. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia memeluk surat itu di dadanya, mencium aromanya yang hanya berbau kertas, namun bagi Mirasih, itu adalah aroma kehadiran Aditya.
"Mas Adit... akhirnya kamu ingat aku..." bisiknya dengan air mata yang mulai menetes karena haru.
Ia menciumi amplop itu berkali-kali. Selama berhari-hari dalam penderitaan menjadi pengantin ghaib, hanya bayangan Aditya yang membuatnya kuat. Ia membayangkan Aditya di Jakarta sedang bekerja keras, menabung setiap sen demi menjemputnya. Surat ini, baginya, adalah bukti bahwa ia tidak sendirian.
Dengan sangat hati-hati, seolah takut akan merusak benda keramat, Mirasih merobek ujung amplop itu. Ia mengeluarkan selembar kertas di dalamnya. Tangannya masih gemetar saat ia mulai membuka lipatan kertas itu. Air matanya terus mengalir, namun kali ini adalah air mata rindu yang berbunga-bunga.
Ia mulai membaca baris pertama.
"Untuk Mirasih yang di sana..."
Mirasih tersenyum kecil. Ia bisa membayangkan suara berat Aditya saat mengucapkannya. Namun, saat matanya mulai bergeser ke baris-baris berikutnya, senyum itu perlahan memudar. Dahinya berkerut.
"...Jakarta ini luas, Mir. Hidup di sini mengubah banyak hal, termasuk cara pandangku tentang masa depan kita. Aku baru sadar bahwa janji di bawah pohon randu itu mungkin terlalu kekanak-kanakan."
Mirasih berhenti sejenak. Napasnya mulai terasa sesak. Ia menggelengkan kepala, mencoba meyakinkan diri bahwa ia salah membaca. Namun, kalimat berikutnya justru menghujam jantungnya lebih dalam.
"...aku tidak bisa berjanji kapan akan pulang, atau apakah aku akan tetap menjadi Aditya yang dulu kamu kenal. Jangan menungguku lagi, Mir. Hidupmu terlalu berharga untuk dihabiskan menunggu seseorang yang tidak jelas seperti aku. Cari saja laki-laki lain di desa yang bisa memberimu kepastian sekarang juga."
Kertas di tangan Mirasih bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya. Kalimat demi kalimat terasa seperti sembilu yang menyayat batinnya tanpa ampun. Tidak ada lagi janji menjemput. Tidak ada lagi kata-kata penguat. Yang ada hanyalah penolakan yang dingin dan penghianatan atas janji suci mereka.
"Tidak mungkin... ini tidak mungkin mas Adit yang tulis..." isak Mirasih.
Ia membaca ulang surat itu, berharap menemukan pesan tersembunyi atau setidaknya satu tanda bahwa ini adalah paksaan. Namun, tulisan Siska yang rapi dan kalimat yang disusun Broto itu begitu meyakinkan. Di mata Mirasih yang sedang hancur, surat itu tampak seperti akhir dari segalanya.
Brak!
Mirasih lemas. Ia terduduk di lantai, membiarkan kertas itu jatuh dari tangannya. Dunia di sekelilingnya seakan runtuh dan hancur berkeping-keping. Harapan yang selama ini ia peluk erat-erat sebagai pelindung dari kekejaman sang Genderuwo, kini musnah ditiup badai pengkhianatan.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu tega?" raungnya tanpa suara. Suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa terbakar.
Ia merasa dikhianati oleh dua dunia. Di rumah ini, paman dan bibinya menjual tubuhnya kepada setan. Dan di perantauan, laki-laki yang ia cintai dengan seluruh jiwanya, membuangnya seperti sampah tak berguna. Ia merasa benar-benar sampah. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk mencuci badannya, tidak ada lagi alasan untuk menjaga hatinya.
Rasa sakit yang ia rasakan saat melayani Genderuwo belum seberapa dibandingkan rasa sakit membaca surat ini. Mirasih merasa seluruh keberadaannya sebagai manusia telah berakhir. Jika Aditya saja sudah membuangnya, maka ia memang pantas menjadi budak kegelapan selamanya.
Mirasih meringkuk di lantai kamar yang mewah itu, menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya terguncang hebat. Di luar, suara tawa kecil dari dapur masih terdengar samar, merayakan keberhasilan mereka merobek satu-satunya cahaya di hati Mirasih.
"Ibu... Bapak... bawa Mirasih ikut saja..." rintihnya di sela isakan yang memilukan.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk