Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA DARI NERAKA DAN RUNTUHNYA HARGA DIRI
Langit di atas pegunungan Sekte Awan Langit biasanya berwarna biru porselen yang jernih, simbol kesucian dan kedamaian bagi ribuan murid yang bernaung di bawah panji sang Leluhur Yun-Tian. Namun, pagi itu, warna biru itu perlahan terkikis. Sebuah noda hitam yang pekat, seperti tinta yang tumpah di atas kanvas air, mulai menyebar dari arah barat. Bukan awan mendung, melainkan sebuah vakum masif yang mulai menyedot cahaya matahari.
Di Gerbang Luar ke-1, yang dikenal sebagai Gerbang Penjaga Langit, atmosfer terasa mencekam. Gerbang yang terbuat dari baja meteorit setinggi tiga puluh meter itu dijaga oleh dua ribu prajurit elit dan tiga tetua ranah Sovereign Tahap Menengah. Mereka adalah baris pertahanan pertama yang tidak pernah tertembus selama tiga ratus tahun terakhir.
"Apa itu? Fenomena alam?" Tetua Gao menengadah, matanya yang tua menyipit penuh kecurigaan. Tangannya yang memegang tongkat giok gemetar tipis. Getaran itu bukan berasal dari usianya, melainkan dari insting purba yang memperingatkannya akan datangnya predator puncak yang belum pernah ia temui seumur hidupnya.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar bunyi langkah kaki yang ritmis. Tap. Tap. Tap.
Langkah itu pelan, namun setiap kali kaki itu menyentuh tanah, sebuah gelombang kejut gravitasi merambat melalui kerak bumi, menghancurkan formasi pertahanan bawah tanah yang telah terpasang selama ratusan tahun. Di cakrawala, empat sosok terlihat berjalan dengan tenang di tengah jalan utama yang menuju ke gerbang. Mereka tidak terbang, mereka tidak berlari. Mereka berjalan seolah-olah seluruh dunia ini adalah halaman belakang rumah mereka sendiri.
Arkan berada di depan. Jubah hitamnya tidak berkibar ditiup angin, melainkan tampak diam, seolah-olah jubah itu sendiri adalah lubang di realitas yang menyerap segala sesuatu di sekitarnya. Di belakangnya, Cici, Liem-Banyu, dan Srikandi-Tan berjalan dengan aura yang sudah berubah total setelah menyerap esensi Vaelen di Bab sebelumnya.
"Berhenti!" teriak Tetua Gao, suaranya diperkuat dengan tenaga dalam hingga menggelegar ke seluruh lembah. "Ini adalah wilayah suci Sekte Awan Langit! Siapa pun kalian, berlututlah atau hadapi kemurkaan formasi penghancur bintang kami!"
Arkan berhenti tepat seratus langkah dari gerbang raksasa itu. Ia mendongak, menatap plakat emas bertuliskan 'Awan Langit' yang menggantung angkuh di atas sana. Tatapannya kosong, namun di balik kekosongan itu, ada badai yang siap menghancurkan segalanya.
"Suci?" Arkan berbisik. Suaranya tidak keras, namun berkat kekuatan Black Hole yang memanipulasi frekuensi udara, suaranya teramplifikasi langsung ke dalam gendang telinga setiap orang di sana, membuat beberapa murid lemah langsung muntah darah. "Tempat yang dibangun di atas darah anak-anak yatim piatu yang kalian buang... tempat yang subur karena pupuk dari pengkhianatan... tidak pantas disebut suci."
"Lancang! Pemanah, lepaskan!"
Dua ribu pemanah sihir melepaskan anak panah mereka secara serempak. Langit tertutup oleh ribuan kilatan energi elemen cahaya yang mampu menembus zirah terkuat sekalipun. Namun, Arkan bahkan tidak mengangkat kepalanya. Ia terus menatap plakat emas itu dengan rasa jijik yang mendalam.
"Srikandi," ucap Arkan pendek.
Srikandi-Tan maju satu langkah. Tubuhnya yang kini memiliki Indestructible Void Body mengeluarkan aura perunggu yang gelap dan padat. Ia tidak menghindar. Ia justru merentangkan tangannya lebar-lebar, membiarkan ribuan anak panah itu menghujam tubuhnya.
Ting! Ting! Ting!
Suara logam beradu terdengar seperti simfoni yang mengerikan. Anak-anak panah itu hancur berkeping-keping begitu menyentuh kulit Srikandi. Tidak ada satu goresan pun, bahkan pakaian tempurnya pun terlindungi oleh lapisan tipis gravitasi. Srikandi kemudian mengepalkan tinjunya, memusatkan massa gravitasi yang ia pinjam dari Arkan ke tangan kanannya.
"Enyahlah dari jalan tuanku," gumam Srikandi.
Satu pukulan dilepaskan ke udara kosong. Udara di depan kepalannya meledak, menciptakan tekanan angin yang begitu masif hingga meratakan barisan depan prajurit sekte dalam sekejap. Tanah terbelah dua, menciptakan parit raksasa yang memanjang hingga ke kaki gerbang.
Tetua Gao memucat. "Sovereign Fisik Puncak?! Bagaimana mungkin... Siapa kalian sebenarnya?!"
"Kami?" Liem-Banyu maju, pedang hitam di pinggangnya berdengung dalam frekuensi yang menyakitkan telinga. "Kami adalah mimpi buruk yang kalian ciptakan sendiri di dasar jurang bertahun-tahun yang lalu. Kami datang untuk menagih bunga dari penderitaan kami."
Dalam sekejap mata, Liem-Banyu menghilang. Ia bukan lagi bergerak dengan kecepatan angin, melainkan dengan kecepatan petir hitam yang mampu melintasi ruang dalam hitungan milidetik.
Sring!
Hanya terdengar satu suara pedang yang dicabut dan disarungkan kembali dalam satu gerakan halus. Di detik berikutnya, Liem-Banyu sudah berdiri di belakang barisan tetua. Tiga kepala tetua, termasuk Tetua Gao, jatuh ke tanah dengan ekspresi yang masih penuh kebingungan. Darah mereka bahkan tidak sempat menyemprot karena luka potongnya telah hangus terbakar oleh energi Void yang ditinggalkan pedang Liem.
Kini, giliran Cici yang melangkah maju. Matanya yang kini berwarna ungu-emas menatap Gerbang Penjaga Langit dengan penuh kebencian. Memori saat dia diseret melewati gerbang ini, dipisahkan dari Arkan untuk dijadikan kelinci percobaan racun, kembali membakar jiwanya.
"Gerbang ini..." Cici mengangkat tangannya ke atas. Di punggungnya, sayap kristal abadi membentang luas, memancarkan api ungu yang suhunya melampaui logika api biasa. "Adalah saksi bisu tangisanku saat aku memohon ampunan yang tidak pernah kalian berikan. Hari ini, aku akan menghapusnya dari muka bumi."
[Teknik Ratu Perang: Inferno Void Singularity]
Bola api ungu berukuran kecil terbentuk di ujung jari Cici. Meskipun ukurannya kecil, daya tariknya begitu kuat hingga batu-batu besar di sekitar gerbang mulai terangkat dan hancur di dalamnya. Cici menjentikkan bola itu ke arah gerbang baja meteorit tersebut.
Begitu bola itu menyentuh gerbang, tidak ada ledakan besar yang memekakkan telinga. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam saat baja meteorit setebal lima meter itu mulai "mencair" dan terhisap ke dalam sebuah titik hitam kecil. Dalam hitungan detik, pertahanan terkuat Sekte Awan Langit itu lenyap, menyisakan lubang besar yang menganga di dinding gunung.
Arkan berjalan melewati puing-puing yang masih membara. Ia berhenti tepat di depan plakat emas 'Awan Langit' yang sudah jatuh ke tanah dan patah menjadi dua. Ia menginjak plakat itu dengan sepatu laras hitamnya, menghancurkan simbol kebanggaan sekte tersebut menjadi debu.
"Cici," panggil Arkan.
Cici mendekat, auranya yang meledak-ledak langsung meredup, kembali menjadi sosok gadis setia di samping Arkan. "Ya, Kak?"
"Kau merasakan itu?" Arkan menatap ke arah puncak gunung, di mana sebuah istana megah berdiri di atas awan. "Leluhurmu sudah terbangun. Dia sedang gemetar di singgasananya, mencoba mengumpulkan keberanian yang sudah lama hilang."
Di puncak gunung, di dalam ruang meditasi terdalam, seorang pria tua dengan rambut putih panjang membuka matanya. Inilah Leluhur Yun-Tian. Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia bisa merasakan melalui formasi sekte bahwa dua ribu murid dan tiga tetuanya lenyap dalam hitungan menit. Tapi yang lebih menakutkan adalah aura yang kini mendekat—sebuah aura "kehampaan" yang dulu ia anggap sebagai sampah tak berguna.
"Arkan..." bisik Yun-Tian dengan suara gemetar. "Bagaimana mungkin 'cacat lahir' sepertimu bisa memiliki kekuatan yang menentang hukum alam ini?"
Arkan, yang kini sudah berada di pelataran dalam sekte, mengangkat kepalanya ke langit. Ia menggerakkan tangan kanannya, dan tiba-tiba sebuah lubang hitam raksasa terbuka di langit, menutupi seluruh matahari. Kegelapan total menyelimuti Sekte Awan Langit di tengah hari bolong.
"Dunia membuang kita ke dalam kegelapan, Cici," Arkan mengulang kalimatnya dengan nada yang dingin namun penuh otoritas. "Tetapi mereka lupa bahwa di dalam kegelapanlah bintang-bintang paling terang dilahirkan. Hari ini, tidak akan ada fajar bagi Awan Langit. Hanya akan ada kehampaan yang abadi bagi mereka yang berkhianat."
Arkan menghantamkan telapak tangannya ke tanah pelataran utama.
[Domain Kosmik: Penjara Gravitasi Sembilan Langit]
Seluruh bangunan, kuil, dan menara di sekte itu mulai retak secara bersamaan. Murid-murid berteriak saat mereka merasa tubuh mereka ditarik ke pusat bumi oleh beban jutaan ton. Ini bukan lagi sekadar penyerangan; ini adalah penghapusan sebuah eksistensi dari peta dunia.
Arkan terus melangkah, diikuti oleh tiga pilar kekuatannya. Di depan sana, ribuan anak tangga menuju istana utama telah menunggu. Dan di setiap anak tangga, Arkan bersumpah akan meninggalkan jejak darah dari mereka yang pernah menertawakan penderitaannya.
"Ayo," ajak Arkan dingin. "Waktunya menagih hutang nyawa yang sudah menunggak terlalu lama."
\*jangan lupa like nya kak \*\*