NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Utang Baru

---

Hari ke-1.551. Pagi itu, Aryo bangun dengan perasaan aneh. Bukan karena utang baru yang ditemukannya semalam. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Jam 4 subuh. Masih gelap. Lampu minyak di samping dipan masih menyala redup. Aryo duduk perlahan. Kaki kirinya digerakkan hati-hati. Masih pincang. Tapi sudah biasa.

Ia menoleh ke dipan. Dewi tidur dengan posisi miring. Wajahnya tenang. Di sampingnya, Risma. Risma 5 tahun 2 bulan. Terbaring dengan mata terbuka. Menatap Aryo. Seperti biasa. Seperti sudah menunggu dari tadi.

"Pagi, Nak."

Risma tak jawab. Tak bisa. Tapi sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Senyum itu. Senyum yang selalu membuat Aryo lupa semua masalah.

Di sisi lain, Budi. Budi 3 tahun 2 bulan. Tidur dengan mulut terbuka. Ngorok kecil. Lucu. Tangannya masih memegang tangan Risma. Sejak bayi, Budi selalu begitu. Setiap tidur, ia pasti pegang tangan kakaknya.

Aryo tersenyum. Lalu ingat surat itu. Surat dari bank lain. 8 juta.

Tangannya mengepal.

---

Dari dapur, suara Mbah Kar. "Mas, udah bangun? Aku bikin kopi."

Aryo keluar. Bau kopi hitam menyengat. Wangi yang setiap pagi setia menemani. Mbah Kar duduk di kursi bambu. Wajahnya tua, tapi matanya masih tajam.

"Mas, kok udah bangun? Masih pagi."

Aryo duduk di sampingnya. Terima cangkir kopi. Pahit. Tapi hangat.

"Mbah, semalam aku nemu surat."

Mbah Kar berhenti minum. "Surat apa?"

"Bank. Utang 8 juta. Atas namaku."

Mbah Kar diam. Lama. Lalu berkata, "Mas, kamu udah lewati yang lebih berat. Ini juga pasti bisa."

Aryo hela napas. "Tapi Mbah, capek. Capek banget. Tiap kali rasa tenang, selalu ada aja yang datang."

"Itu namanya hidup, Mas. Nggak ada yang mudah. Tapi kamu nggak sendiri."

Mereka diam. Menikmati kopi pahit di pagi buta.

---

"PA! PA! Aku laper!"

Budi lari dari kamar. Masih pake piyama. Rambutnya berantakan. Matanya masih setengah melek, tapi semangatnya udah full.

Aryo tertawa. "Iya, Nak. Nanti Bapak buatin susu."

Budi duduk di pangkuannya. Badannya hangat. Wangi anak kecil.

"Pa, kok muka Pa sedih?"

Aryo kaget. Budi masih 3 tahun. Tapi ia peka.

"Nggak, Nak. Bapak nggak sedih."

"Bohong. Budi tahu. Muka Pa kayak mau nangis."

Aryo diam. Ia peluk Budi. Erat.

"Pa cuma capek, Nak. Capek aja."

Budi diam. Lalu berkata, "Pa, nanti Budi bantu. Budi udah gede."

Aryo nangis. Nangis di depan Budi. Di depan Mbah Kar. Tapi ia tak malu.

---

Dewi keluar dari kamar. Risma di kursi, didorongnya pelan.

"Mas, ada apa?"

Aryo usap air mata. "Nggak apa-apa, Ri."

Dewi tahu. Ia tahu suaminya. Ia duduk di samping Aryo.

"Cerita, Mas."

Aryo keluarkan surat itu. Berikan ke Dewi.

Dewi baca. Matanya membelalak. "8 juta? Mas... ini dari mana?"

"Bank lain, Ri. Kata suratnya, utang lama. Sistem baru nemu."

Dewi diam. Tangannya gemetar.

"Mas... kita baru aja selesai..."

"Iya, Ri. Aku tahu."

Mereka berdua diam. Budi bingung. Risma di kursi, matanya ke mereka. Lalu... tangannya bergerak. Gerakan tak terkontrol. Meraih ke arah Aryo.

Aryo lihat. Ia pegang tangan Risma.

"Nak, Bapak lagi ada masalah. Tapi nggak apa-apa. Bapak kuat."

Risma diam. Tapi matanya... matanya berkata, "Aku tahu, Pa. Aku di sini."

---

Pukul 8 pagi, Aryo pergi ke bank. Sendirian. Mbah Kar mau ikut, tapi Aryo minta tetap di rumah jaga Dewi dan anak-anak.

Bank itu gedung besar. Dingin. AC nya keras. Aryo masuk dengan perasaan takut. Tapi ia paksakan.

Di loket, ia minta ketemu petugas.

"Ada perlu apa, Pak?"

"Saya ada surat ini. Utang 8 juta. Saya mau klarifikasi."

Petugas itu lihat surat. Lalu berkata, "Tunggu sebentar, Pak. Saya panggil atasannya."

Aryo duduk di kursi tunggu. Tangan dingin. Keringat dingin di punggung.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.

Seorang pria keluar. Setelan rapi. Wajah tegang.

"Pak Aryo? Mari masuk."

---

Di ruangan itu, pria itu jelaskan panjang lebar. Tentang utang. Tentang sistem. Tentang data lama.

Aryo dengar dengan sabar. Tapi hatinya panas.

"Pak, maksudnya, saya harus bayar 8 juta?"

"Iya, Pak. Atau kami akan ambil jaminan."

Aryo tenangkan diri. Ia ingat Pak Rahmat. Pengacara yang dulu bantu.

"Pak, saya mau konsultasi dulu. Saya punya pengacara."

Pria itu tersenyum. "Silakan, Pak. Tapi ingat, waktu 2 minggu."

Aryo keluar dari bank. Udara panas menyambut. Tapi hatinya dingin.

Ia jalan kaki ke kantor Pak Rahmat. Tanpa sadar, ia sudah di depan pintu.

---

Pak Rahmat kaget lihat Aryo.

"Pak Aryo? Ada apa? Masuk, masuk."

Aryo cerita. Panjang lebar. Tentang surat itu. Tentang 8 juta. Tentang ancaman.

Pak Rahmat dengar. Lalu berkata, "Pak, ini bank berbeda. Tapi modusnya sama. KTP Bapak dipakai lagi."

Aryo pucat. "Maksudnya, Pak?"

"Mungkin sindikat yang sama. Mereka masih punya data Bapak."

"Terus gimana, Pak?"

Pak Rahmat mikir. Lalu berkata, "Kita lapor polisi lagi. Tapi ini beda. Kita harus buktikan kalau Bapak nggak pernah pinjam."

Aryo lemas. "Pak Rahmat, saya capek. Capek banget."

Pak Rahmat pegang pundaknya. "Pak Aryo, saya tahu. Tapi Bapak nggak bisa menyerah. Anak Bapak butuh Bapak."

Aryo ingat Risma. Ingat Budi. Ingat Dewi. Ingat Mbah Kar.

"Iya, Pak. Saya nggak akan menyerah."

---

Pulang, matahari sudah tinggi. Aryo jalan kaki. Sepanjang jalan, ia mikir. Mikir keras.

Sampai di rumah, Dewi sudah nunggu di pintu. Risma di kursi. Budi di sampingnya.

"Mas, gimana?"

Aryo peluk Dewi. "Belum beres, Ri. Tapi Pak Rahmat bantu."

Dewi nangis. "Mas... sampai kapan?"

Aryo usap air matanya. "Sampai beres, Ri. Kita hadapi bareng-bareng."

Budi lari. "Pa! Pa! Aku mau bantu!"

Aryo tersenyum. "Iya, Nak. Kamu bantu doain Bapak."

Budi manggut. Serius. "Budi doain, Pa."

Risma di kursi, matanya ke Aryo. Lalu... tangannya bergerak. Meraih. Aryo mendekat.

Risma pegang jari Aryo. Erat. Gerakan tak terkontrol. Tapi erat.

"Makasih, Nak. Makasih."

---

Malam itu, mereka makan bersama. Sederhana. Nasi, tempe goreng, sayur asem. Tapi hangat.

Budi makan lahap. Berantakan. Risma disuapi Dewi.

Tiba-tiba, Budi bilang, "Pa, Budi mau sekolah."

Aryo kaget. "Sekolah?"

"Iya. Teman Budi sekolah. Budi mau."

Aryo lihat Dewi. Dewi tersenyum.

"Mas, Budi udah 3 tahun. Tahun depan bisa sekolah."

Aryo mikir. Biaya sekolah. Uang gedung. Seragam. Buku.

Dan utang 8 juta yang mengintai.

"Ri, kita bicarakan nanti ya."

Budi cemberut. "Pa janji?"

Aryo pegang tangannya. "Pa janji, Nak. Tahun depan, kamu sekolah."

Budi senang. Lompat-lompat. "Sekolah! Sekolah!"

Risma lihat Budi. Matanya berbinar. Senyum.

---

Malam makin larut. Aryo duduk di teras. Sendiri. Rokok murah di tangan. Asap mengepul ke langit.

Dewi keluar. Duduk di sampingnya.

"Mas, mikirin Budi?"

"Iya. Sekolahnya. Biayanya. Juga utang."

Dewi pegang tangannya. "Mas, kita udah lewati banyak. Ini pasti bisa."

"Tapi Ri, capek. Capek banget rasanya."

Dewi diam. Lalu berkata, "Mas, ingat waktu Risma lahir?"

Aryo ingat. Malam itu. Lorong rumah sakit. Lampu neon mendengung. Dewi sekarat. Risma lahir diam.

"Ingat, Ri."

"Waktu itu, kita nggak tahu apa-apa. Nggak punya apa-apa. Tapi kita bertahan."

"Iya."

"Sekarang kita punya rumah. Punya tanah. Punya Risma. Punya Budi. Punya Mbah Kar. Kita lebih kuat."

Aryo lihat istrinya. Matanya kuat. Meski lelah, matanya tetap menyala.

"Makasih, Ri. Makasih udah nggak pernah pergi."

"Pergi ke mana, Mas? Ini rumahku. Kamu suamiku. Risma dan Budi anakku. Mbah Kar keluargaku."

Mereka berpelukan. Lama. Hangat.

---

Di dalam, Risma tidur. Budi di sampingnya. Tangan Budi memegang tangan Risma.

Budi bergerak. Masih setengah tidur. "Kak... sekolah... Budi sekolah..."

Risma diam. Tapi napasnya teratur. Dadanya naik turun. Hidup.

Aryo masuk. Lihat mereka. Air matanya jatuh.

"Nak, Bapak janji. Bapak akan jagain kalian. Sampai kapan pun. Sampai utang ini lunas. Sampai Budi sekolah. Sampai Risma... sampai Risma..."

Ia tak bisa lanjutkan. Ia hanya bisa pandangi mereka.

Risma tidur. Budi tidur. Dua dunia berbeda dalam satu kamar. Tapi satu hati. Hati keluarga.

---

Besok pagi, Aryo bangun dengan tekad baru.

Ia ambil surat itu. Lipat. Masukkan saku.

"Hari ini kita lawan, Ri."

Dewi tersenyum. "Iya, Mas. Bareng-bareng."

Budi lari. "Pa! Pa! Aku ikut!"

Aryo tertawa. "Nggak, Nak. Kamu jagain Ibu dan Kakak."

Budi cemberut. Tapi kemudian manggut. "Budi jagain."

Risma di kursi, matanya ke Aryo. Lalu... tersenyum. Senyum tipis. Tapi nyata.

Aryo hampiri. Cium keningnya.

"Nak, Bapak pergi dulu. Doain Bapak ya."

Risma diam. Tapi matanya... matanya seperti bilang, "Iya, Pa. Aku doain."

Aryo berbalik. Melangkah.

Di belakangnya, Dewi, Budi, Risma, Mbah Kar. Keluarganya.

Di depannya, bank. Pengacara. Polisi. Utang 8 juta.

Tapi ia tak takut.

Karena ia tahu, ia tak sendiri.

---

[BERSAMBUNG KE BAB 21: DI ANTARA DUA DUNIA]

1
Ibu Watik
bukanya di cerita sebelumnya aryo pernah beli tanah pernah bangun rumah, lha kemana rumah itu
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!