Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Gala Premiere The Bitter Script di Lincoln Center malam itu adalah definisi dari kemegahan New York. Ratusan lampu strobe menyambar karpet merah, menciptakan kilatan putih yang memicu adrenalin.
Ribuan penggemar berjejal di balik pagar pembatas, meneriakkan nama Andreas dan Seraphina seolah-olah mereka adalah dewa-dewi yang turun ke bumi.
Veris Cloth hadir di sana, mengenakan gaun couture berwarna perak yang sangat mencolok. Ia berdiri di zona VIP dengan mata elang, memantau setiap gerak-gerik Andreas.
Sejak unggahan foto tangan misterius itu, Veris dihantui rasa penasaran yang membakar. Ia yakin Andreas dan Sera berpacaran, dan ia datang malam ini untuk membuktikannya, untuk mencari satu saja celah kesalahan yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan Sera.
Namun, apa yang dilihat Veris dan seluruh dunia malam itu adalah sebuah pertunjukan profesionalisme yang sempurna.
Andreas keluar dari limusin hitamnya, tampil sangat maskulin dengan tuxedo klasik. Tak lama kemudian, Sera muncul dengan gaun hitam elegan yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Saat mereka berdiri berdampingan di depan dinding sponsor, tidak ada pegangan tangan. Tidak ada pelukan mesra. Mereka berdiri dengan jarak sepuluh sentimeter yang sopan, tipikal dua aktor besar yang sedang mempromosikan karya mereka.
"Mereka benar-benar hanya rekan kerja," bisik seorang jurnalis di barisan depan. "Lihat, Andreas bahkan tidak menyentuh pinggangnya saat berpose."
Veris yang melihat itu dari kejauhan mulai merasa ragu. Apakah aku salah? Apakah wanita misterius itu benar-benar orang lain? Pikirnya dalam hati.
Namun, bagi Andreas dan Sera, setiap detik di karpet merah adalah perjuangan untuk menahan diri. Di balik wajah datar dan senyum formal untuk kamera, ada arus listrik yang terus mengalir di antara mereka.
Saat mereka harus berjalan beriringan menuju teater, Andreas melangkah sedikit lebih lambat agar Sera bisa menyamakan langkah. Saat itulah, dalam sepersekian detik yang luput dari jepretan paparazzi, ujung jari Andreas menyentuh punggung tangan Sera yang tersembunyi di balik lipatan gaunnya. Hanya sebuah sentuhan kecil, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Sera meremang.
Sera menoleh sedikit, dan matanya bertemu dengan mata Andreas. Andreas tidak tersenyum, tapi sorot matanya yang tajam seolah sedang berkata, "Kau cantik sekali malam ini, dan aku benci harus berbagi pemandangan ini dengan mereka."
Sera hanya membalas dengan senyum tipis yang sangat samar, sebuah senyuman yang ia tujukan hanya untuk pria itu.
Di dalam gedung, saat lampu mulai meredup untuk pemutaran film, Andreas duduk di sebelah Sera. Meskipun ada sandaran tangan besar yang memisahkan kursi mereka, Andreas meletakkan tangannya di sana, sedekat mungkin dengan lengan Sera. Setiap kali ada adegan romantis mereka muncul di layar, Andreas akan menggeser jarinya sedikit hingga menyentuh kulit lengan Sera. Sebuah komunikasi tanpa kata yang mengatakan, Ini nyata, Sera. Hanya kau.
Selama sesi tanya jawab pasca-film, Andreas yang biasanya dingin dan tidak banyak bicara, berkali-kali memberikan panggung kepada Sera. Setiap kali Sera berbicara, Andreas akan menatapnya dengan intensitas yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Bukan tatapan seorang rekan kerja, melainkan tatapan seorang pria yang memuja setiap kata yang keluar dari bibir wanitanya.
Saat Sera sedikit tersedak karena haus setelah menjawab pertanyaan panjang, Andreas tanpa diminta dan tanpa ekspresi berlebihan mengambilkan botol air mineral di bawah kursinya, membukakan tutupnya, dan menyerahkannya pada Sera. Ia melakukan itu dengan gerakan yang sangat alami, seolah-olah menjaga Sera sudah menjadi insting dasarnya.
Tindakan kecil itu membuat Sera tersenyum tipis. Ia merasa sangat dihargai. Andreas tidak perlu memproklamirkan cinta mereka di depan mikrofon untuk membuatnya merasa dicintai, perhatian kecil seperti membukakan tutup botol atau menjaga jarak agar ia tetap nyaman adalah cara Andreas mencintainya dalam diam.
Saat acara after-party dimulai, kerumunan semakin padat. Andreas selalu memastikan posisinya berada di belakang Sera, seolah menjadi perisai hidup dari dorongan orang-orang.
Di suatu momen saat mereka berdiri di dekat meja minuman, Andreas berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar, tepat di dekat telinga Sera sambil berpura-pura sedang membicarakan naskah.
"Gaun ini... aku ingin segera melihatmu melepaskannya setelah kita sampai di apartemen nanti," bisik Andreas dengan suara baritonnya yang dalam.
Napas hangat Andreas di lehernya membuat Sera tersipu. Ia segera menyesap minumannya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona merah. "St. Clair, kendalikan dirimu. Veris sedang melihat kita dari arah jam dua," balas Sera dengan bisikan yang sama.
Andreas melirik sekilas ke arah Veris, lalu kembali menatap Sera dengan tatapan meremehkan bagi siapa pun yang bukan Sera. "Biarkan dia melihat. Dia hanya melihat apa yang ingin aku perlihatkan. Tapi dia tidak akan pernah tahu lagi rasanya menjadi pemilik hatiku."
Sepanjang malam, mereka terus memainkan peran itu. Di mata publik, mereka adalah rekan kerja yang brilian. Di mata Veris, mereka adalah teka-teki yang membuatnya frustrasi karena ia tidak menemukan bukti kemesraan yang ia cari.
Namun bagi Andreas dan Sera, malam itu adalah kemenangan. Mereka berhasil menjaga rahasia mereka tetap suci di tengah kota yang haus akan skandal. Saat acara berakhir dan mereka harus berjalan menuju mobil masing-masing sesuai rencana agar tidak dicurigai, Andreas sempat menahan pintu mobil untuk Sera.
Sebelum pintu tertutup, Andreas meremas jari Sera sekali lagi dengan erat. "Aku akan menyusulmu dalam sepuluh menit. Pakai kode lama," ucapnya dengan nada perintah yang seksi.
Sera hanya mengangguk, menutup pintu mobil dengan senyum puas yang paling lebar malam itu. Dunia mungkin masih mengira mereka hanya rekan kerja, tapi Sera tahu, saat pintu apartemen terkunci nanti, ia bukan lagi aktris lawan main Andreas, melainkan satu-satunya wanita yang membuat sang St. Clair berlutut.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰