NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Pak Dekan menatap Riko dengan tajam.

“Saudara Riko, untuk sementara Anda diminta keluar ruangan. Kami akan memanggil Anda kembali setelah pemeriksaan awal terkait dugaan perusakan kendaraan dosen.”

Wajah Riko mengeras. “Tapi, Pak—”

“Keluar.” Nada suara itu tidak memberi ruang bantahan.

Riko mengepalkan tangan, lalu melangkah keluar dengan langkah berat. Pintu tertutup sedikit lebih keras dari seharusnya.

Ruangan kembali hening.

Kini hanya tersisa para dosen, pihak pimpinan dan dua orang yang berdiri dalam sorotan. Pak Dekan menatap Kaisar dan Shelina bergantian.

“Sekarang kita bicara inti masalah.”

Wakil Dekan membuka berkas lain. “Berdasarkan data administrasi, Saudari Shelina telah resmi menjadi dosen tetap sejak dua tahun lalu.”

Shelina mengangguk pelan.

“Dan pernikahan Saudara berdua tercatat beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Kalimat itu membuat beberapa dosen senior menghela napas berat.

“Artinya,” kata salah satu dosen senior dengan nada kecewa, “pernikahan terjadi setelah Saudari Shelina berstatus dosen aktif, dan Saudara Kaisar masih mahasiswa aktif.”

Tak ada yang menyangkal, karena itu fakta.

Pak Dekan menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Peraturan kampus Pratama secara etika internal memang melarang relasi personal antara dosen dan mahasiswa aktif dalam satu institusi, apalagi dalam satu fakultas.”

Suasana terasa makin berat.

Shelina menegakkan bahunya. “Kami tidak pernah menyalahgunakan posisi akademik.”

“Masalahnya bukan hanya itu,” sahut dosen senior lain.

“Ini menyangkut citra institusi.”

Kaisar akhirnya angkat suara, nadanya tetap tenang meski rahangnya menegang.

“Kalau ada konsekuensi akademik untuk saya, saya siap.” Semua mata beralih padanya.

Pak Dekan mengangguk pelan. “Anda tentu harus mempertanggungjawabkan keputusan pribadi Anda, Saudara Kaisar. Dan Saudari Shelina sebagai tenaga pendidik juga demikian.”

Wakil Dekan menutup mapnya.

“Karena ini menyangkut kebijakan yayasan, keputusan tidak berada di tangan kami sepenuhnya.”

Pak Dekan melanjutkan, suaranya lebih formal.

“Sore ini pukul empat, Saudara Kaisar dan Saudari Shelina diminta menghadap langsung pemilik Yayasan Pratama.” Jantung Kaisar berdetak lebih keras.

Pemilik yayasan, itu bukan lagi ranah fakultas, itu pucuk tertinggi dan tentu nantinya keluarga Pramudya akan terlibat.

Beberapa dosen terlihat tegang. Jika sampai yayasan turun tangan, konsekuensinya bisa jauh lebih besar, mutasi, pemecatan, bahkan pencabutan status akademik.

Shelina menarik napas panjang. Wajahnya tetap tenang, tapi jemarinya saling menggenggam lebih erat.

“Kami akan hadir,” jawabnya tegas.

Pak Dekan mengangguk. “Sampai ada keputusan resmi, Saudari Shelina tidak diperkenankan mengajar. Saudara Kaisar tetap mengikuti perkuliahan seperti biasa, namun akan diawasi secara administratif.”

Keputusan sementara.

Satu per satu dosen keluar ruangan, menyisakan keheningan yang canggung.

Kini hanya tinggal Kaisar dan Shelina berdiri beberapa langkah terpisah.

Langit sore berwarna jingga keemasan ketika Shelina berdiri di parkiran kampus.

Angin berembus pelan, menggerakkan ujung rambutnya yang tergerai rapi di balik blazer yang masih ia kenakan sejak pagi. Area parkir sudah mulai sepi. Mahasiswa satu per satu meninggalkan kampus, tapi hari itu terasa berbeda.

Kaisar berjalan cepat, tasnya tersampir di bahu. Wajahnya masih tegang, tapi ketika melihat Shelina, sorot matanya melunak.

“Kamu lama nunggu?” tanyanya pelan.

Shelina menggeleng. “Tidak.”

Sejenak mereka hanya berdiri berdampingan. Tidak ada sentuhan dan tidak ada jarak yang terlalu dekat. Seolah bahkan parkiran pun bisa menjadi saksi yang menghakimi.

“Sore ini,” ucap Shelina pelan, “kita mungkin akan diminta memilih.”

Kaisar menoleh. “Memilih apa?”

“Salah satu dari kita keluar.”

Kata-kata itu diucapkan tenang, tapi jelas sudah ia pikirkan berkali-kali.

Kaisar terdiam dan Shelina menatap lurus ke depan, bukan ke arahnya.

“Kalau memang harus begitu,” lanjutnya lirih, “biar aku saja.”

Kaisar langsung menoleh tajam. “Kenapa kamu yang harus keluar?”

“Kamu tinggal beberapa bulan lagi lulus,” jawabnya lembut. “Aku tidak mau masa depanmu terganggu karena keputusan yang kita ambil.”

Ia akhirnya menoleh, tatapannya lembut, tapi penuh tekad.

“Aku bisa mengajar di tempat lain. Reputasi bisa dibangun lagi. Tapi kamu … gelarmu hampir selesai. Jangan ambil risiko.”

Kaisar menelan ludah. Dadanya terasa sesak bukan karena takut, tapi karena perempuan di depannya selalu lebih dulu memikirkan dirinya.

“Shelina,” suaranya rendah, “kita menikah bukan untuk saling mengorbankan seperti ini.”

“Aku tidak merasa berkorban.”

“Kamu bilang begitu, tapi aku tahu kamu mencintai pekerjaanmu.”

Angin sore berembus lagi, daun-daun kecil berdesir di aspal.

Shelina tersenyum tipis. “Aku mencintai pekerjaanku. Tapi aku lebih mencintai suamiku.” Kalimat itu sederhana tetapi membuat Kaisar terdiam lama.

Ia melangkah sedikit lebih dekat. Tidak menyentuhnya, hanya berdiri cukup dekat hingga suara mereka tak perlu dikeraskan.

“Kalau bisa dipertahankan,” ucap Kaisar tegas, “maka harus dipertahankan.”

Shelina mengernyit halus. “Dan kalau tidak bisa?”

“Baru kita pikirkan jalan lain.”

Ia menatapnya dalam.

“Aku tidak mau kamu langsung menyerah sebelum kita bicara dengan yayasan. Kita belum tahu keputusan mereka.”

Shelina menghela napas panjang. “Kadang mempertahankan sesuatu justru membuat kita terlihat egois.”

“Dan kadang menyerah terlalu cepat justru bentuk ketakutan,” balas Kaisar lembut.

Mata mereka bertemu, tidak ada lagi dosen dan mahasiswa di sana. Hanya suami dan istri yang berdiri di ambang keputusan besar.

“Kalau mereka menyuruhku keluar?” tanya Shelina pelan.

“Aku akan ikut keluar.”

“Jangan konyol.”

“Aku serius.”

Shelina menatapnya lama, mencoba membaca apakah itu emosi sesaat atau keputusan yang sudah matang.

“Aku tidak akan membiarkan kamu kehilangan kariermu sendirian,” lanjut Kaisar. “Kita hadapi bersama. Kita cari jalan bersama.”

Lalu Shelina tersenyum yang jarang ia tunjukkan di kampus.

“Kamu keras kepala.”

“Kamu juga.”

Langit mulai berubah lebih gelap. Waktu pertemuan semakin dekat.

Shelina menarik napas dalam.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita pertahankan kalau masih bisa dipertahankan.”

Kaisar mengangguk mantap.

“Dan apa pun yang terjadi di ruangan itu nanti,” tambahnya, “kita tidak berdiri sebagai dosen dan mahasiswa.”

Shelina menatapnya.

“Tapi sebagai suami dan istri.”

Angin sore berembus lagi, membawa aroma hujan yang mungkin akan turun malam ini.

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!