Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perihal kartu undangan
Fiola tersenyum lebar menatap wajah layu adiknya ketika mereka berhadapan di depan kamar adiknya. Dia memang sengaja menunggu di sana.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan tukang bohong sepertimu sekarang," tukas Febi ketika kakaknya berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
"Kenapa? Malammu buruk, ya?" ejek Fiola, masih dengan senyum lebarnya.
Febi tidak menjawab. Dia berusaha menahan kekesalannya karena kakaknya masih juga tidak mau bergeser dari pintunya.
Padahal dia ingin segera membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya untuk meredakan semua gemuruh kekesalan dan ketakberdayaan yang memenuhi hati dan kepalanya.
'Minggir, kak. Aku mau tidur. Besok aku mau kerja." Febi masih mencoba sabar.
Fiola malah melipat tangannya dan menyandarkan punggungnya di pintu.
"Kapan kalian akan menikah?"
Febi meraih satu satunya undangan yang diberikan Cakra padanya. Kemudian mengulurkannya pada Fiola.
"Minggirlah, kak."
"Wow, udah ada undangannya," ucapnya dengan suara menyebalkan sambil menerima undangan dari adiknya. Dia pun menggeserkan tubuhnya hingga adiknya bisa membuka pintu kamarnya.
Fiola tersenyum penuh kemenangan ketika melihat undangan yang sudah ada di tangannya. Dia tidak mempedulikan adiknya yang sekarang sudah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Dengan mata penuh binar Fiola membuka lembaran undangan itu dan membaca nama yang tertera di sana dengan hati amat sangat senang.
Senyumnya terukir manis. Nggak lama lagi rupanya pernikahan adiknya dengan Cakra. Tinggal enam hari lagi dia harus bersabar
"Fiola......."
Fiola menatap papanya yang tadi memanggil namanya. Sepasang matanya menangkap undangan yang sama di tangan beliau.
"Papa baru mau memberikan kamu undangannya. Ternyata kamu sudah menerimanya."
"Emm... Febi yang memberikannya, pa."
Anggareksa tersenyum bijak.
"Setelah adikmu menikah, mungkin kamu juga akan menikah."
"Benarkah, pa?" Kebahagiaan yang diterima Fiola saat ini begitu beruntun.
Ternyata Jetro hanya pura pura menolaknya.
"Papa sudah bicara dengan Ibu Adriana tentang ini?" tanyanya dengan sinar mata yang penuh harap.
"Papa akan bicarakan setelah adikmu menikah. Sekarang keluarga Bu Adriana juga sedang sibuk karena keponakannya akan menikah beberapa hari ini," jelas Anggareksa seolah meminta pengertian pada putri pertamanya
"Oooh....." Binar binar di dalam sepasang matanya mulai meredup.
Anggareksa memegang pundak putrinya dengan tatapan dan senyum bijaknya.
"Sabar, ya."
"Iya, pa." Fiola berusaha memaklumi walaupun dalam hatinya dia merasa kecewa, karena harapan tingginya kalo Jetro sudah menerimanya ternyata salah.
Anggareksa menatap putrinya lekat, seolah sedang menakar perasaan Fiola.
"Ada yang mau papa sampaikan."
"Apa, pa?' Fiola merasa papanya akan mengatakan sesuatu yang sangat serius.
Anggareksa menghela nafas perlahan.
"Begini, sayang. Setelah Febi dan Cakra menikah, papa harap kamu agak menjauh dari Cakra, ya," ucapnya hati hati.
Fiola tersenyum.
"Iya, pa. Lagi pula aku juga sudah jarang, kok, bertemu Cakra. Kan, aku sibuk terbang," kilahnya cepat.
Anggareksa menganggukkan kepalanya.
"Papa hanya ingin kamu lebih bijak bersikap dengan Cakra nanti, ya. Ingat, Cakra suami adikmu."
"Iya, papa. Papa jangan khawatir." Fiola memeluk lengan papanya dengan manja.
"Ya, ya. Papa percaya sama kamu." Anggareksa mengusap lembut puncak kepala putrinya.
*
*
*
"Kencan kamu dengan Fiola bagaimana?" tanya Adriana ketika mereka sekeluarga sedang sarapan.
"B aja, mam."
Kalandra tersenyum mendengarnya. Adriana juga.
"Ya, udah." Adriana menyahut santai.
Hening, mereka melanjutkan makan lagi.
Jetro menatap mami dan papinya setelah beberapa kali suapan nasi goreng masuk ke mulutnya.
"Mam, pi...."
"Ya...?" Kedua orang tuanya menghentikan aktivitas makan mereka dan menatap heran pada wajah Jetro yang tampak beda. Tidak terlalu tenang tapi sangat serius. Mereka menunggu yang ingin disampaikan Jetro. Biasanya kalo sudah model begini, Jetro akan membicarakan hal yang sangat serius.
"Bolehkah kita menggagalkan pernikahan seseorang?"
Adriana dan Kalandra saling tatap, ngga menyangka mendengar pertanyaan Jetro. Sesaat kemudian keduanya tersenyum penuh arti.
"Kalo pengantin perempuannya mau sama kamu, sah sah saja," sahut Kalandra santai. Dia kemudian meneruskan makannya dengan wajah cerah.
Calonmu, ya? tebak Kalandra dalam hati.
"Memangnya pernikahan siapa yang mau kamu gagalkan?" tanya Adriana sambil mencoba menebak nebak dalam hati.
"Cuma nanya aja, mam," sahut Jetro tenang. Dia kemudian menunduk, menatap sarapannya yang tinggal separuh dengan bibir menyunggingkan senyum samar.
"Kalo itu kejadiannya di kamu, mami ngga ada masalah. Pokoknya yang penting kamu nikah." Adriana menatap lekat putranya.
Kalandra tersenyum lebih lebar, begitu juga Jetro mendengar ucapan serius maminya.
"Oh iya, jangan lupa ambil jas kamu di rumah Tante Nidya. Sekalian jas papi," titah Adriana setelah mereka menyelesaikan makanannya.
"iya, mam."
"Kayaknya masih ada lebihan kebaya di rumah Tante Nidya. Mungkin buat calon pengantin perempuan yang akan digagalkan pernikahannya," cetus Kalandra membuat senyum Jetro jadi melebar.
Adriana-maminya bahkan melepaskan tawa ketika mendengar celutukan suaminya.
Ada ada aja, batinnya.
"Ngga perlu, pi," sangkal Jetro kemudian.
"Benar ngga perlu?" selidik papinya penuh canda.
"Enggak, pi," sangkal Jetro .
Tawa Adriana makin berderai.
*
*
*
Cakra bermaksud menemui Jetro siang ini, tapi sayangnya CEO muda itu sedang meeting di luar perusahaannya.
"Masih lama bos kamu balik?"
Gadis pegawai resepsionis itu saling pandang dengan temannya.
"Maaf, pak. Pak Jetro tidak memberitau saya. Mungkin ada pesan, akan saya sampaikan nanti," ucapnya ramah. Dalam hati muncul banyak pertanyaan karena yang datang mencari salah satu bosnya adalah seorang laki laki berpakaian seragam poli si.
Setelah cukup lama menimbang, akhirnya Cakra berikan undangan yang sudah dia tenteng tadi
"Tolong berikan ini pada Pak Jetro."
"Baik, pak, kalo begitu."
Setelah kartu undangannya diterima, Cakra segera berbalik pergi dengan seringai kemenangannya di wajahnya.
*
*
*
"Beraninya dia ngasih kartu undangan pernikahan palsunya," kekeh Abiyan sambil menimang kartu undangan yang mereka terima dari pegawai resepsionis.
"Dia tau kamu rivalnya, ya. Merasa menang." Baim juga tergelak.
"Kalo tadi ketemu dia, apa kamu akan langsung serahkan video itu, Jet?" tanya Fadel yang sudah diberitau jalan ceritanya.
"Mungkin," jawab Jetro kalem.
"Pasti dia kaget, ya. Poli si, kok, bisa dikadalin," ejek Abiyan.
Ketiga sepupunya tergelak.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂