Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Terima kasih banyak karena kalian sudah membaca novel ini! Kalian luar biasa. Tanpa pembaca seperti kalian, kisah ini gak akan punya tempat untuk tumbuh. Semoga kalian menikmati perjalanan para tokoh dan kisah mereka ya!
Jangan lupa kasih ulasan + ⭐⭐⭐⭐⭐ dan juga komentar kalian.
Sekali lagi terima kasih banyak ya atas dukungannya, semoga kalian suka! 💗
**
Malam turun perlahan di Kota Surabaya. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya ke permukaan aspal yang masih menyisakan sisa hujan sore tadi. Rumah keluarga Adytama berdiri megah di sudut kawasan elite Surabaya Barat—rumah dengan taman rapi, kaca besar, dan interior modern minimalis yang terkesan dingin, seperti orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Di ruang makan, suasananya berbeda. Bukan dingin… tapi riuh, atau tepatnya: riuh dari satu orang saja.
Gadis dua puluh tahun yang duduk di samping Mama Reva itu mengibas rambut panjangnya sambil terus bercerita, tangannya bergerak-gerak seperti seorang presenter TV.
“—terus dosen interior bilang konsepku tuh fresh banget, kayak ruang-ruang di Eropa modern itu loh, Ma. Aku kan memang suka yang aesthetic dan luxury vibe. Terus habis kelas, aku sama teman-teman mampir ke butik dan mall—“
“Kamu belanja lagi?” potong Ayah Haris dengan nada lelah.
Bianca memutar bola mata, kesal karena dipotong saat ia sedang antusias. “Ya masa aku ke butik cuma liat-liat, Ayah? Aku kan butuh buat tugas juga. Lagian, kalau nggak jaga penampilan, gimana orang mau percaya aku calon istrinya Raditya.”
Tapi Mama Reva justru tersenyum bangga. “Ayah kan tau sendiri, penampilan Bianca itu penting. Apalagi Bianca ini calon istri Raditya Mahardika. Dia harus menjaga image.”
Suasana meja makan mendadak tegang. Nama itu—Raditya Mahardika—selalu membuat suasana seperti permukaan air panas tersiram es. Ada yang meleleh, ada yang mengeras, ada yang beruap.
Raditya Mahardika. Pewaris tunggal Mahardika Group. Lajang, tampan, terkenal, kaya raya. Dan… belum pernah sekalipun menunjukkan minat pada Bianca. Atau siapa pun.
Bianca tetap percaya diri. Mama Reva pun lebih percaya daripada anaknya sendiri.
Ayah Haris menarik napas berat dan memilih menyerah. “Ya sudah. Bagaimana kuliahmu? Ada masalah?”
“Lancar banget, Yah!” jawab Bianca cepat, kembali ceria.
“Waktu magang kerjamu juga semakin dekat, kamu mau magang dimana?”
“Aku mau magang di kantor Ayah saja,” tutur Bianca tanpa ragu. “Lebih enak, nggak perlu ribet. Terus aku—“
“Jangan.” Mama Reva menggeleng pelan, namun jelas penuh keputusan. “Kamu magang di kantor Mahardika saja. Sekalian Bianca bisa melakukan pendekatan dengan Raditya. Sambil bekerja, sambil menunjukan kalau Bianca cocok jadi calon istri CEO mereka.”
Mata Bianca bersinar seperti anak kecil mendapat permen.
“Oh my God, iya bener! Ma, itu ide yang brilian banget. Aku bakal lakuin itu!”
Kirana menghela napas dalam hati. Bukan karena iri—tidak sama sekali. Tapi karena semuanya terasa terlalu memaksakan sebuah mimpi yang tidak ingin dicari fakta kebenarannya.
Ia memasukkan potongan salmon ke mulut, mengunyah perlahan, berusaha menutup telinga dari keributan yang semakin riuh.
Suasana seperti ini sudah biasa. Sejak ibunya meninggal ketika ia berusia enam belas tahun, rumah ini bukan lagi tempat nyaman. Ia dan Bianca beranjak besar bersama… tapi tak pernah benar-benar bersama. Bianca tumbuh bagaikan bunga hothouse—dirawat, dilindungi, dimanja. Kirana tumbuh seperti gulma di sela-sela tembok: kuat, mandiri, dan tidak dianggap penting.
Ayah Haris melirik Kirana yang dari tadi hanya makan dalam diam. Wajahnya ada rasa bersalah, tapi juga ragu untuk ikut campur.
“Kirana… bagaimana pekerjaanmu?”
Mama Reva langsung menanggapinya lebih cepat dari Kirana sendiri.
“Ayah itu loh, tanya Kirana. Dia kan cuma barista kafe. Mau ditanya apa?”
Nada suaranya sinisnya menusuk seperti jarum.
Kirana tetap menunduk sopan. “Baik, Yah. Semua lancar.”
“Lancar-lancar aja?” Bianca ikut menyahut, setengah heran, setengah meremehkan. “Kerja di kafe tuh nggak capek? Berdiri seharian, gaji juga nggak seberapa… Aduh, Mama sih nggak sanggup.”
Kirana menahan diri untuk tidak membalas. Sudah biasa.
Mama Reva kembali dengan komentar yang lebih tajam. “Dulu kuliah manajemen bisnis, kenapa malah kerja di kafe? Kenapa nggak kerja kantoran, biar berkembang? Kirana itu harus bisa mengubah nasib. Apa mau jadi pelayan terus?”
Kirana berhenti mengunyah.
Mama Reva belum selesai. “Lagipula, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya cuma jadi barista? Buang-buang uang kuliah aja, kalau hasilnya begitu.”
Dingin merayap ke tengkuk Kirana. Tatapan Mama Reva seperti pisau yang ingin mengiris harga dirinya.
Kirana meletakkan garpunya, mengangkat kepala, dan menatap Mama Reva lurus-lurus—tanpa takut, tanpa emosi, hanya datar… tapi dinginnya menusuk.
“Aku tidak pernah merepotkan Ayah soal biaya kuliah,” ucap Kirana perlahan namun jelas. “Aku kuliah dengan kerja kerasku sendiri. Dan aku kuliah dengan beasiswa penuh. Jadi… dari mana tepatnya aku buang-buang uang, Ma?”
Hening jatuh. Bianca berhenti mengunyah. Mama Reva membeku. Ayah Haris bahkan sempat tidak percaya apa yang baru didengarnya.
Selama ini mereka hanya tahu Kirana kuliah manajemen bisnis. Mereka tidak tahu ia lulusan S1 Farmasi dengan prestasi cumlaude, lalu mengambil manajemen bisnis untuk S2. Mereka tidak tahu Kirana memiliki perusahaan farmasi kecil bernama KiraPharma yang pelan-pelan mulai diperhatikan di dunia startup kesehatan. Yang mereka tahu hanyalah: Kirana bekerja sebagai barista di Kafe Teras Senja. Kafe miliknya sendiri.
Ayah Haris hendak bicara, namun Kirana bangkit lebih dulu. “Permisi, aku sudah selesai makan.”
“Kirana…” Ayah Haris mencoba menahannya.
Kirana tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Yah. Aku capek. Mau istirahat.”
Ia berjalan menuju tangga, meninggalkan ruang makan yang kini lebih sunyi daripada awalnya.
***