Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Rempah dan Debat di Balik Apron
Lantai koridor menuju laboratorium kuliner Akademi Sakura terasa lebih dingin siang ini, namun udara di sekitarnya mulai menghangat oleh uap air dan aroma masakan yang mulai menguar dari balik pintu ganda. Pelajaran praktikum memasak selalu menjadi momen yang bising bagi siswa kelas tiga, namun bagiku, ini adalah tempat di mana variabel rasa dan teknik bertemu dalam sebuah simfoni yang bisa kukendalikan sepenuhnya.
Aku melangkah masuk, menyampirkan tas di loker pinggir ruangan, dan mulai mengenakan apron putih bersih. Gerakanku teratur, efisien, tanpa ada satu pun lipatan yang sia-sia—sebuah cerminan dari keahlian [Master] yang telah terpatri dalam memori ototku.
"Ren-kun! Di sini!"
Yui Yuigahama melambaikan tangannya dengan antusias dari meja nomor empat. Di sampingnya, berdiri Yukinoshita Yukino yang sedang merapikan ikat rambutnya dengan ekspresi yang jauh dari kata senang. Sepertinya nasib (atau mungkin Hiratsuka-sensei) memutuskan untuk menempatkanku dalam kelompok yang paling kontras di kelas ini.
Aku berjalan mendekat, menyampirkan handuk kecil di bahuku. "Sepertinya meja ini akan menjadi medan tempur yang menarik antara antusiasme dan perfeksionisme," ujarku dengan nada santai sembari menatap mereka berdua bergantian.
"Halo, Ren-kun! Wah, kau terlihat sangat cocok memakai apron," puji Yui dengan rona merah tipis di pipinya. "Yukino-non bilang kita akan membuat Omu-rice hari ini, tapi aku... aku sedikit takut dengan penggorengannya."
"Ketakutan adalah tanda bahwa kau menghormati api, Yuigahama-san," balasku sembari mengambil pisau dapur dan memeriksa ketajamannya. "Tapi jangan biarkan dia mengendalikanmu. Memasak adalah tentang dominasi atas bahan makanan."
Yukino mendengus, matanya menatapku dengan tatapan menilai yang tajam. "Dominasi? Istilah yang sangat kasar untuk sebuah seni yang mengutamakan ketelitian. Saiba-kun, jika kau berencana menggunakan gaya 'pahlawan' mu di dapur ini, lebih baik kau mundur dan biarkan aku yang menangani bagian teknisnya. Aku tidak ingin nilaiku hancur karena kecerobohanmu."
Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai mataku namun memberikan kesan misterius. "Ketelitian tanpa insting hanyalah sebuah prosedur medis, Yukinoshita-san. Mari kita lihat, apakah 'prosedur' milikmu bisa mengalahkan 'insting' yang kubawa."
[Keahlian Memasak: Master - Aktif]
[Misi Sampingan: Ciptakan Keselarasan dalam Kelompok]
[Hadiah: Peningkatan Afinitas dengan Yui & Yukino]
Praktikum dimulai. Yui bertugas memotong bawang bombay, sebuah tugas sederhana yang segera berubah menjadi bencana kecil saat matanya mulai berair. Dia terisak kecil, mencoba mengusap matanya dengan punggung tangan yang masih kotor.
Sebelum Yukino sempat melontarkan komentar pedasnya, aku sudah berada di belakang Yui. Aku memegang tangannya dengan lembut, menghentikan gerakannya, lalu mengambil pisau dari jemarinya yang gemetar.
"Bernapaslah lewat mulut, Yuigahama-san. Jangan biarkan gas dari bawang itu masuk ke hidungmu," bisikku pelan tepat di samping telinganya. Kehadiranku yang tiba-tiba dan sentuhan lembut di tangannya membuat Yui terpaku sejenak, wajahnya memerah lebih cepat daripada reaksi bawang tersebut.
Aku mulai memotong bawang itu dengan kecepatan dan presisi yang tidak manusiawi. Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar seperti ketukan metronom yang sempurna—tak, tak, tak, tak. Dalam hitungan detik, bawang bombay itu telah berubah menjadi potongan-potongan kecil yang ukurannya identik.
Yukino, yang tadinya hendak memprotes, terdiam. Matanya melebar melihat teknik pisaunya. "Kecepatan itu... kau bukan sekadar amatir, kan?"
"Aku hanya seorang pria yang tidak suka membuang waktu untuk hal-hal yang bisa diselesaikan dalam hitungan detik," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari penggorengan yang mulai kupanaskan.
Aku menuangkan sedikit minyak, lalu memasukkan mentega. Aroma gurih mulai memenuhi udara saat aku memasukkan nasi dan bumbu-bumbu rahasia yang tidak ada dalam buku panduan sekolah. Aku bergerak dengan keanggunan seorang konduktor orkestra; sedikit banting, sedikit goyang, dan aroma yang keluar dari penggorengan itu seketika membuat seluruh kelas menoleh ke arah meja kami.
Bahkan Hiratsuka-sensei yang sedang berkeliling berhenti di depan meja kami, hidungnya kembang kempis menghirup aroma masakan tersebut. "Aroma ini... Saiba, apa yang kau masukkan ke dalam sana?"
"Sedikit kenangan dan banyak logika, Sensei," jawabku puitis sembari mulai menyiapkan telur untuk bagian penutupnya.
Namun, di tengah kesuksesan kecil ini, aku merasakan sepasang mata mengawasi dari kejauhan. Di meja seberang, Yukana Yame dan Ranko Honjo sedang memperhatikan kami. Yukana memberikan kedipan mata yang nakal ke arahku, seolah memberikan kode bahwa dia akan menemuiku setelah kelas ini berakhir.
Aku menarik napas panjang, fokus kembali pada telur di depan mataku. Mengelola bahan makanan ternyata jauh lebih mudah daripada mengelola perasaan gadis-gadis di ruangan ini. Namun, di situlah letak tantangannya. Aku akan menunjukkan pada mereka, bahwa di dapur ini—dan di dunia ini—aku adalah variabel yang tidak bisa mereka prediksi.
Uap panas mengepul dari penggorengan saat aku melakukan gerakan flipping terakhir pada nasi goreng bumbu merah itu. Di sampingku, Yukino masih terpaku menatap konsistensi telur dadar yang sedang kusiapkan. Teknikku bukan teknik restoran yang kaku, melainkan gerakan yang lahir dari efisiensi murni—lembut di luar, namun matang sempurna di dalam.
"Yuigahama-san, piringnya," ujarku pendek, namun tetap lembut.
Yui tersentak dari lamunannya, segera menyodorkan piring porselen putih dengan tangan sedikit gemetar. "A-ah, iya! Ini, Ren-kun!"
Dengan satu gerakan halus, telur dadar itu mendarat di atas gundukan nasi, membungkusnya dengan sempurna seperti selimut sutra kuning. Aku mengambil pisau kecil, menggores bagian tengah telur tersebut hingga isinya yang setengah matang meleleh keluar, menutupi nasi dengan tekstur yang sangat menggoda.
"Selesai. Omu-rice dengan variabel rasa yang seimbang," ucapku sembari meletakkan sendok perak di samping piring.
Yukino mendekat, ia mengambil sendok cadangan dan mencicipi sedikit bagian ujungnya. Aku memperhatikannya; bagaimana matanya sedikit membelalak, lalu ia segera menutup mulutnya dengan tangan, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya yang hampir runtuh.
"Bagaimana, Yukinoshita-san? Apakah 'insting' ini memenuhi standar 'prosedur' milikmu?" tanyaku dengan nada sarkastik yang halus.
Yukino terdiam sejenak sebelum meletakkan sendoknya kembali. "Teksturnya... bisa diterima. Dan bumbunya tidak berlebihan. Aku harus mengakui, Saiba-kun, kau memiliki bakat yang terbuang jika hanya digunakan untuk pamer di kelas memasak sekolah."
"Pujian dari seorang Yukinoshita? Aku harus mencatat tanggal hari ini di buku harianku," balasku yang hanya dijawab dengan dengusan dingin olehnya, meski aku bisa melihat sedikit rasa hormat muncul di matanya.
Setelah jam pelajaran berakhir dan sesi bersih-bersih selesai, aku melangkah keluar dari laboratorium kuliner. Aku sengaja membiarkan Yui dan Yukino berjalan lebih dulu. Saat aku menyusuri koridor yang sedikit remang menuju loker, sesosok gadis dengan rambut pirang yang ditata modis dan seragam yang sedikit dimodifikasi sedang bersandar di dinding, memainkan ponselnya.
Yukana Yame.
Begitu dia menyadari keberadaanku, dia menyimpan ponselnya ke dalam saku rok dan berjalan mendekat dengan gaya yang berani, setiap langkahnya memancarkan kepercayaan diri seorang Gyaru yang tahu pesonanya.
"Hei, Murid Pindahan," sapanya, suaranya terdengar manis namun memiliki nada menantang. "Aroma masakanmu sampai tercium ke mejaku, tahu. Kau membuatku lapar di tengah pelajaran yang membosankan tadi."
Aku berhenti tepat di depannya, menatap matanya yang dihias dengan eyeliner sempurna. "Aroma masakan biasanya memang menggoda mereka yang tidak fokus pada pelajaran, Yame-san. Jadi, apa kau di sini untuk meminta sisa makanan, atau ada variabel lain yang ingin kau diskusikan?"
Yukana tertawa kecil, melangkah lebih dekat hingga aroma parfumnya yang manis—seperti permen karet stroberi—mulai mengusik indra penciumanku. Dia meletakkan satu tangannya di dadaku, merapikan kerah seragamku yang sedikit miring dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
"Kau bicara terlalu kaku untuk pria yang punya tangan sehebat itu di dapur," bisik Yukana, menatapku dengan tatapan menggoda. "Teman-temanku bilang kau tipe pria yang sulit didekati. Tapi menurutku, kau hanya belum bertemu dengan seseorang yang tahu cara mencairkan es di sekitarmu."
Aku memegang pergelangan tangannya, tidak kasar, namun cukup tegas untuk menghentikan gerakannya. "Es di sekitarku tidak akan cair hanya dengan rayuan standar, Yame-san. Tapi aku menghargai usahamu untuk membuat koridor ini terasa lebih... berwarna."
Yukana sedikit terkejut karena aku berani menyentuh tangannya, namun dia tidak menarik diri. Sebaliknya, dia justru tersenyum lebih lebar. "Oh? Jadi kau ingin tantangan yang lebih dari sekadar rayuan? Baguslah. Aku tidak suka hal-hal yang mudah didapatkan."
Tepat saat itu, Ranko Honjo muncul dari tikungan koridor, memperhatikan kami dengan tangan di pinggang dan ekspresi curiga. "Yukana! Jangan bilang kau sedang mencoba menggoda mangsa baru lagi."
Yukana melepaskan tangannya dari dadaku sembari mengedipkan mata padaku. "Hanya sedang berkenalan, Ranko. Saiba-kun ternyata jauh lebih menarik daripada rumornya."
Aku mengangguk kecil pada mereka berdua. "Jika kalian sudah selesai melakukan penilaian, aku harus pulang. Ada seorang adik yang akan sangat berisik jika kakaknya terlambat membawakan bahan makan malam."
Aku berjalan melewati mereka, namun saat aku berada di samping Yukana, aku berbisik pelan. "Lain kali, jika kau lapar, carilah aku di kantin. Aku lebih suka memberi makan orang yang jujur dengan keinginannya."
Aku terus berjalan tanpa menoleh, meninggalkan Yukana yang mematung dengan wajah yang mulai merona merah, sementara Ranko menatapnya dengan penuh keheranan.
[Misi Sampingan: Selesai]
[Status: Afinitas dengan Yukana Yame Terbentuk (Tingkat: Tertarik)]
[Kemajuan Pekerjaan: 68%]
Dunia ini memang mulai bersinggungan. Yukana, si Gyaru yang berani, kini masuk ke dalam narasi hidupku. Dan aku tahu, ini baru awal dari kekacauan manis yang akan terjadi di Akademi Sakura.