Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG KE PELUKAN LEMBANG
Jakarta di belakang sana mulai memudar, berubah menjadi sekumpulan noktah cahaya yang semakin mengecil di spion tengah. Namun, bagi Rangga, bau kota itu masih tertinggal di kerah kemejanya—campuran antara asap knalpot, keringat acara peresmian, dan aroma pengkhianatan yang baru saja ia cium di parkiran hotel. Ia mencengkeram kemudi SUV hitamnya dengan urat-urat tangan yang menonjol kuat, seolah-olah setir itu adalah leher musuh yang ingin ia remas.
Di sampingnya, Syakira tampak seperti bayangan yang rapuh. Tangannya yang dingin terus memainkan ujung sabuk pengaman, sementara matanya yang sembab menatap hampa ke arah kegelapan di luar jendela. Hujan gerimis Jakarta tadi telah berhenti, meninggalkan jejak air yang meluncur di kaca mobil seperti air mata yang enggan berhenti.
"Mas, kita beneran nggak pamit dulu sama Galih dan tim di gerai?" bisik Syakira. Suaranya pecah, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil yang dipacu dalam kecepatan tinggi di atas jalan tol layang MBZ.
"Nggak usah, Dek. Galih sudah Mas kasih instruksi lewat pesan singkat. Dia tahu apa yang harus dilakukan," jawab Rangga datar. Matanya tidak lepas dari jalanan di depan, namun setiap beberapa detik, lirikan tajamnya menyambar spion samping dan tengah. "Jakarta sudah terlalu gerah buat kita. Mas nggak mau kamu dan Rinjani lebih lama lagi di sana."
Di kursi belakang, Rinjani sudah terlelap dengan kepala bersandar pada bantal leher bermotif kucing. Nafasnya teratur, kontras sekali dengan suasana tegang yang menyelimuti kabin mobil yang beraroma kopi premium. Rangga merasa dadanya seperti dihimpit beton seberat satu ton. Kehadiran foto Syakira bersama Anwar—putra Pak Haji Sobirin—di parkiran tadi benar-benar merusak segalanya. Ia merasa seperti ada ribuan mata yang mengintai dari balik gedung-gedung beton Jakarta yang angkuh.
"Mas tahu nggak..." Syakira memulai lagi, suaranya lebih pelan sekarang, nyaris menyerupai bisikan angin. "Dulu waktu kita pertama kali ketemu... waktu Mas jualan di pinggir jalan dengan gerobak tua yang rodanya sering bunyi itu... aku nggak pernah merasa setakut ini. Kemudian kita hidup sederhana, Mas, tapi kita tenang karena nggak ada yang mengincar kita. Sekarang, setelah Mas sukses besar dan punya nama, rasanya kok banyak sekali yang mau narik kita jatuh ke lumpur lagi."
Rangga menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat. Ia meraih tangan Syakira dengan tangan kirinya, meremas jemari istrinya yang terasa sedingin es. Syakira hanya tahu Rangga adalah lelaki pekerja keras yang merintis dari gerobak nasi goreng. Ia tidak pernah menceritakan babak paling gelap dalam hidupnya; saat ia menjadi kuli panggul di pasar induk, memikul beban ratusan kilogram hingga kulit punggungnya terkelupas dan berdarah demi kepingan koin. Ia menyimpan luka itu rapat-rapat, tak ingin Syakira melihat sisi "binatang beban" yang pernah ia jalani.
"Mas janji, Dek. Lembang itu benteng kita. Di sana ada Ayah Mansyur yang selalu doakan kita. Mas nggak akan biarkan orang-orang masa lalu itu menyentuh seujung rambutmu pun. Mas sudah kenyang dihina dulu, sekarang Mas punya kekuatan buat jaga kalian," ucap Rangga dengan nada yang dalam dan penuh otoritas.
Tiba-tiba, mata Rangga menyipit tajam. Pupil matanya mengecil, memfokuskan pandangan pada spion tengah.
Dari kejauhan di belakang, sebuah sedan berwarna perak melaju zig-zag dengan kecepatan yang tidak wajar di antara kendaraan lain. Mobil itu seolah-olah memiliki magnet yang terhubung dengan SUV Rangga. Saat Rangga berpindah ke lajur kanan untuk menyalip bus, sedan itu ikut ke kanan. Saat Rangga berpindah ke lajur tengah, sedan itu mengikuti dengan gerakan yang agresif.
Sial. Ini bukan kebetulan, batin Rangga. Gerahamnya beradu.
"Dek, pegangan yang kencang. Rinjani... dia pakai sabuk pengaman, kan?" Suara Rangga mendadak berubah menjadi nada komando yang dingin. Naluri "bertahan hidup" yang dulu ia gunakan untuk menghindari kejaran petugas ketertiban atau preman pasar kini mendadak aktif kembali.
"Kenapa, Mas? Ada apa?" Syakira menoleh ke belakang dengan panik, matanya membelalak melihat wajah Rangga yang mendadak mengeras seperti batu karang.
"Ada yang ngikutin kita sejak pintu tol tadi. Pegangan yang kuat!"
Rangga menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin SUV berkapasitas besar itu meraung keras, memberikan dorongan instan yang membuat tubuh mereka terhempas ke sandaran kursi. Jarum speedometer bergerak cepat melewati angka seratus dua puluh, seratus empat puluh. Sedan perak di belakang sana tidak mau kalah; ia memacu mesinnya hingga mengeluarkan suara bising, bahkan kini berani menyalakan lampu jauh berkali-kali—dim, dim, dim!—cahaya putihnya memantul di spion, berusaha membutakan pandangan Rangga.
"Mas, bahaya! Depan ada truk gandeng!" teriak Syakira histeris sambil menunjuk ke depan.
Dua buah truk gandeng sedang berjalan berdampingan, menutup hampir seluruh lajur jalan tol yang menyempit karena perbaikan jalan. Rangga melihat celah sempit di bahu jalan sebelah kiri, di antara badan truk dan pembatas beton. Dalam hitungan detik, ia harus membuat keputusan.
Sisa-sisa kelincahannya saat dulu membawa beban berat berlari di sela-sela lorong pasar yang sempit dan licin kini ia tumpahkan pada setir. Ia memutar kemudi dengan gerakan yang sangat presisi. SUV itu melesat masuk ke celah sempit tersebut. Suara angin yang terbelah berderu kencang di telinga mereka—wuuusshhh!—disertai bunyi ban yang melindas garis kejut di bahu jalan. Syakira memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram handle pintu hingga buku jarinya memutih pasi.
Setelah berhasil menyalip truk, Rangga tidak berhenti. Ia melakukan manuver tipuan yang cerdik. Di sebuah persimpangan menuju jalur keluar darurat, ia sengaja menyalakan lampu sein kanan, namun di detik terakhir, ia membanting setir ke kiri menuju jalan arteri lama yang jarang dilalui. Sedan perak itu tertipu; ia melesat lurus dengan kecepatan tinggi ke arah gerbang tol utama, sementara Rangga kini melambat di jalanan gelap yang dinaungi pepohonan pinus dan bambu yang rimbun.
"Mas... sudah, cukup," bisik Syakira, air matanya mulai menetes deras. "Aku mau pulang ke rumah Ayah saja. Aku nggak mau sukses kalau ujung-ujungnya kita dikejar-kejar kayak penjahat begini. Aku takut, Mas... aku takut buat Rinjani."
Rangga menepi sejenak di bawah pohon beringin besar yang gelap. Ia mematikan lampu utama agar mobil mereka tidak terlihat menonjol dari kejauhan. Nafas Rangga memburu, keringat dingin membasahi dahi dan membasahi kerah kemeja sutranya. Ia menoleh ke belakang, memastikan Rinjani masih tertidur lelap, meski bocah itu sedikit gelisah karena guncangan tadi.
"Maafin Mas, Dek," Rangga meraih wajah Syakira, mengusap pipinya yang basah dengan ibu jari yang kasar. Bau adrenalin yang tajam bercampur dengan aroma malam pegunungan yang mulai menusuk masuk lewat celah ventilasi. "Mas cuma mau mastiin kita aman. Jakarta memang bukan tempat kita. Kita pulang ke Lembang sekarang, lewat jalur bawah yang lebih aman."
Perjalanan berlanjut melewati jalur pegunungan yang berkelok-kelok tajam. Bau tanah basah dan aroma pinus yang segar mulai menggantikan bau pengap polusi Jakarta yang menyesakkan batin. Hati Rangga mulai sedikit tenang saat udara dingin khas Lembang mulai merembes masuk, mendinginkan suhu kabin dan emosinya. Bagi Rangga, setiap jengkal tanah menuju rumah Pak Mansyur adalah wilayah kekuasaannya, tempat di mana ia merasa benar-benar terlindungi.
Di sana, ia bukan lagi "Rangga sang bos angkringan" yang menjadi incaran para oportunis dan musuh lama. Di sana, ia adalah Rangga, menantu Pak Mansyur yang dihormati warga karena kesopanannya dan kerja kerasnya membangun ekonomi desa.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari saat SUV itu perlahan memasuki kawasan pemukiman asri tempat rumah mereka berdiri. Kabut tipis mulai turun, memberikan selimut putih yang menenangkan jiwa yang lelah. Rangga menghela napas lega saat melihat gerbang kayu jati besar rumahnya yang kokoh.
"Lihat, Dek. Sudah sampai. Kita di rumah sekarang," ujar Rangga dengan suara yang melembut, berusaha menghapus trauma perjalanan tadi.
Syakira membuka matanya yang sembab, menatap rumah mereka yang berdiri anggun di antara pepohonan. Namun, saat lampu utama mobil menyorot lurus ke arah gerbang kayu tersebut, Rangga mendadak menginjak rem dengan sangat keras—ciitttt! Bunyi ban berdecit di atas aspal membelah kesunyian malam.
"Ya Allah... Mas! Apa itu?!" Syakira menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri.
Gerbang kayu yang biasanya bersih dan dirawat dengan baik itu kini dirusak oleh coretan cat semprot berwarna merah darah yang berantakan dan mengerikan.
"LELAKI SAMPAH!"
Di bawah tulisan besar itu, terdapat coretan simbol lingkaran dengan silang di tengahnya—sebuah tanda yang Rangga kenali sebagai peringatan keras dari "kelompok" Pak Haji Sobirin yang merasa dipermalukan tahun lalu. Tidak hanya itu, sebuah bangkai ayam hitam tanpa kepala tergeletak tepat di depan gerbang, dengan darah yang masih tampak basah membasahi aspal hitam.
Rangga merasakan amarah yang murni dan panas membakar dadanya, menjalar hingga ke ujung jarinya. Ini bukan lagi soal persaingan bisnis atau gertakan di jalan tol. Ini adalah penghinaan langsung di depan pintu rumahnya, di tempat di mana Syakira, Rinjani, dan calon anak mereka di kandungan seharusnya merasa paling aman di dunia ini.
"Mas, jangan turun... aku mohon jangan turun," Syakira memegang lengan Rangga dengan gemetar hebat. "Pak Haji... mereka beneran tahu kita tinggal di sini. Mereka sudah sampai sini, Mas."
Rangga tidak menjawab. Matanya berkilat tajam di balik kegelapan kabin mobil, sepasang mata predator yang sedang terpojok. Ia merogoh ke bawah jok pengemudi, memastikan sebuah besi pendek pengait—senjata darurat yang selalu ia simpan—berada dalam jangkauan tangannya. Bau amis darah ayam itu seolah mampu menembus kaca mobil yang tertutup rapat, beradu dengan wangi melati dari halaman rumahnya yang kini terasa mencekam.
Rangga menyadari satu hal yang pahit: kepulangannya ke Lembang kali ini tidak membawa kedamaian yang ia impikan. Sebaliknya, ia baru saja memasuki babak peperangan yang jauh lebih pribadi dan mematikan.
Ia membuka pintu mobil dengan gerakan pelan namun pasti, mengabaikan tarikan tangan Syakira yang memohon. Sepatunya menginjak aspal yang dingin dan lembap. Rangga berdiri tegak di depan tulisan merah itu, punggungnya lurus sekeras batu karang di tengah badai. Ia menghirup udara malam Lembang yang dingin, membiarkan oksigen itu mendinginkan otaknya agar tetap bisa berpikir jernih.