NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Rahasia keluarga Cila.

Malam itu, rumah Cila sunyi. Lampu jalan dari luar menyinari jendela dengan cahaya temaram yang bergetar di dinding, sementara angin malam membawa bisikan daun yang bergesekan di luar. Aki melangkah masuk, langkahnya pelan tapi tegas, seperti bayangan yang merayap di tengah malam. Di belakangnya, Chika mengikuti, masih menyesuaikan diri dengan dunia baru ini. Tak terlihat, kloning Aki yang sebelumnya menjaga mereka, perlahan menghilang, seolah tertelan oleh bayangan gelap di sudut rumah.

Aki tiba-tiba mendekati Cila dari belakang. Tanpa aba-aba, ia memeluknya. Kejut, Chika terhenti di tangga dan berseru, “Eh?! Tiba-tiba banget?!”

Cila, sedikit terkejut, menoleh ke belakang, wajahnya memerah. “Ada apa, Aki?”

Aki menunduk, suaranya bergetar namun lembut, “Cila… maafkan aku selama ini… aku…”

Cila mengerutkan alisnya, bingung. “Eh? Minta maaf kenapa?”

Aki menarik nafas panjang, pipinya menegang. “Aku… seperti cowok yang tidak baik buatmu…”

Cila tersenyum, lembut tapi menenangkan, dan meletakkan tangan hangatnya di tangan Aki. “Eh… Aki… Kamu lupa ya… Aku kan cinta pertamamu… Dan laki-laki pertama yang membuatku… merasa lebih hidup…”

Senyum itu membuat ruangan terasa hangat sekejap, namun Chika yang berdiri di belakang mereka, tidak tahan menahan kepolosan dan kepenasaran, bersuara dengan nada jahil, “Aki memang pernah salah ya?”

Cila menatap Chika, mata berkaca-kaca tapi tetap menenangkan. “Oh… banyak sih… karena dia manusia… Dan itu yang membuat cinta pertamaku sempurna.”

Aki menelan ludah, melepaskan pelukannya sejenak, lalu berkata dengan suara datar namun berat, “Cila… aku pulang dulu ya…” Ia menatap Chika sebentar, memberi kode yang langsung dipahami oleh Chika. “Eh… hehe… iya… aku harus belajar… biar besok nggak bodoh!”

Cila menoleh, tawanya lembut, “Yaudah… mau aku temani?”

Aki menggeleng, menundukkan kepala. “Tidak… kamu istirahat saja…” Ia membuka pintu, dan Chika mengikuti dari belakang.

Cila duduk di sofa, tangan terulur melambai, senyumnya lembut namun aneh. Tapi tiba-tiba, pandangan Chika menangkap sesuatu yang membuat darahnya beku. Dunia di sekeliling mereka seperti melayang dalam glitch: tangan Cila yang terulur kini terlihat memanjang dan transparan, senyum yang sebelumnya hangat berubah menjadi sedikit mengerikan, matanya bersinar merah samar, dan bayangan seperti roh mengelilinginya, melayang dengan gerakan melingkar yang menakutkan.

Chika menjerit, tubuhnya gemetar hebat. “Ahhhh… bukan… bukan ini…!”

Seketika, dunia kembali normal, lampu temaram dan bayangan angin di jendela kembali seperti semula. Cila menoleh ke arah Chika, wajah polosnya kembali, mata hangat menatap. “Chika? Ada apa?”

Chika, masih menggigil, menunduk dan menelan ludahnya. “Bukan… bukan apa-apa… hanya saja… aku kelelahan… yaudah… Cila… sampai jumpa besok…” Ia memalingkan muka, tak mampu menatap senyum yang kini terasa menakutkan itu.

Aki, yang memegang pintu, menyadari ketegangan Chika. Ia menatap sahabatnya itu, alisnya sedikit menurun, namun tetap datar. “Chika… jangan terlalu panik. Kau bukan dari dunia ini… jadi beberapa hal bisa terlihat berbeda.” Ia menutup pintu rumah Cila, suara klik kunci terdengar tegas di ruangan yang senyap.

Namun setelah pintu tertutup, hal yang sama terjadi lagi. Dunia di depan rumah Cila berulang glitch, gerakan, suara, dan bentuk orang-orang sekitar seperti terhenti, berjalan lambat, lalu membeku. Cila yang masih duduk di sofa kini terlihat lagi dengan senyum sedikit mengerikan, tangan terulur, mata merah yang kosong, bayangan roh yang berputar di sekitarnya. Chika menelan ludah, napasnya tersengal, dan matanya tidak berkedip.

Aki tetap di sisi Chika, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia hanya merasakan atmosfer yang berubah, udara menjadi lebih dingin, gelap, dan tidak wajar. Tubuhnya tegang, tetapi raut wajahnya tetap datar. Dalam hati, ia sadar: ini bukan sekadar halusinasi Chika, namun sesuatu yang dunia ini tidak ingin mereka alami.

Chika menunduk, menahan rasa takutnya, sementara Aki mengamati sekeliling, tidak mengerti apa yang terjadi—dan yang paling menakutkan, mereka berdua tahu, apa yang Chika lihat itu tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat dunia lama ini.

----------------

Lima menit setelah memasuki rumah Aki, mereka berdua sudah berada di kamar Aki. Ruangan itu kecil tapi rapi, dinding dipenuhi layar hologram biru yang berdenyut lembut seperti jantung elektronik. Di sudut, Aki telah memasang alat penyadap suara, memastikan setiap pembicaraan mereka tidak terdengar oleh bunda Aki yang mungkin saja menguping dari ruang tamu.

Aki duduk di depan meja kerja, jarinya menari-nari di atas panel hologram, memunculkan berbagai file yang berkilau seperti bintang mini. “Jadi… aku akan mem-paste data pribadi kedua orang tua Cila yang sudah kita kunci dengan soflen mata itu,” ucapnya dengan suara tenang, tapi matanya fokus menatap setiap baris data yang bergerak cepat.

Chika, duduk di kursi di sebelahnya, menyeruput teh hangat dengan santai, matanya memantul-pantul mengikuti gerakan hologram. Ia tersenyum sambil berkata, “Wah… udah mirip detektif nih, Aki. Kalau kau pake topi fedora, kayak Sherlock Holmes versi hi-tech gitu.”

Tiba-tiba, wajah Chika berubah pucat, matanya menatap kosong ke arah hologram. Ingatan tentang tatapan Cila barusan muncul, senyum yang lembut tapi aneh, dengan mata yang seolah kosong—sedikit menakutkan.

Aki menoleh sekilas, alisnya mengernyit, lalu berkata, “Oi? Ada apa lagi? Jangan bermenung… nanti kau bisa kesurupan atau tiba-tiba loncat ke dunia lain lagi.”

Chika cepat menggeleng, menelan ludah, dan berkata, “Oh… nggak… aku hanya belum terbiasa di dunia lama kamu, Aki… jadi… apakah sudah selesai?”

Aki menggerakkan tangan di atas panel hologram lagi, cahaya biru menari di wajahnya. “Sedikit lagi… file sudah hampir selesai di-ekstrak…”

Hening sesaat, lalu Aki menoleh ke Chika dengan wajah datar tapi tegang, suaranya rendah tapi terdengar berat. “Chika… aku… telah membunuh papa-nya Cila.”

Chika tersedak, teh hangat yang ia hirup hampir meluncur keluar. “Eh! Kan tadi aku bilang, kita tidak boleh membunuhnya…” Suaranya bergetar, mata membesar.

Aki menghela napas panjang, matanya tajam menatap layar hologram. “Hanya itu jalan… supaya memperlambat penderitaan Cila empat tahun mendatang….”

Chika menunduk, jarinya menggenggam cangkir teh, menelan ludah, “Aku kurang suka sih… tapi kalau memang itu jalannya…”

Aki menatap Chika sekilas, suara lebih lembut namun penuh tegas. “Dia sama seperti invader yang tak lama ini menguasai kerajaan Gurial Tempest… Jangan merasa salah, meskipun aku yang melakukannya.”

Chika mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri, lalu tersenyum canggung. Ia membuka ponsel barunya, layar menyala dengan lampu lembut, dan ia mulai memainkan game untuk menenangkan jiwanya. “Oke lah… setidaknya aku masih punya game…” gumamnya sambil tersenyum kecil.

Lalu Chika mengangkat mata, menatap Aki dengan serius. “Oh ya, Aki… kamu kan di rawat sama nenekmu, Nifty, saat pertama kali mati di dunia ini dan reinkarnasi, kan?”

Aki mengerutkan alis, sedikit terkejut. “Iya… Memangnya kenapa?”

Chika mencondongkan tubuh, serius tapi santai sambil menyeruput teh, “Aku rasa… sikap Nifty pas marah itu mirip… mirip Cila.”

Aki menatap jauh ke depan, menghela napas panjang. “Memang… tapi Nifty tetap Nifty, dan Cila tetaplah Cila. Jangan campur aduk… mereka berbeda.”

Chika tersenyum lembut, menepuk bahu Aki. “Benar juga… Semangat ya, Aki… Supaya kamu bisa membuat Cila tetap hidup.”

Aki menatap Chika, mata yang biasanya tenang itu kini sedikit berkilat, bibirnya menegang. “Terima kasih, Knight-ku… Aku akan berjuang, dan akan terus berada di sisimu sebagai Hero keenam dari Hero Sword.”

Chika tertawa kecil, lalu menatap Hero Sword yang tergantung di dinding. Ia menggenggam pedang itu sebentar, lalu melepasnya. “Eh… padahal aku mau ngelawan monster dengan pedang ini… Lupakan saja deh…”

Aki menghela napas, matanya memandang langit-langit, “Hidupmu selalu tentang bertarung ya…”

Chika menoleh sambil tersenyum nakal, “Hehe… Soalnya aku dibesarkan sama Kapten Emila, kapten para Knight di Gurial Tempest… jadi, bertarung itu udah kayak napas buatku.”

Aki tersenyum tipis, matanya berkilat, tapi masih menahan emosi. Ia tahu… Chika memang polos tapi luar biasa, dan kehadirannya membuat Aki tetap berpegang pada misi yang sulit ini. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara hologram dan teh yang masih mengepul, tapi ketegangan antara misi berat Aki dan sikap polos tapi tangguh Chika terasa hidup, bercampur rasa absurd tapi hangat.

---

Di kamar Aki, udara malam terasa hangat tapi penuh ketegangan dari layar hologram yang berdenyut lembut. Suara elektronik terdengar sekali ketika sebuah file data menampilkan notifikasi: “File data berhasil diekstrak.”

Aki menatap cepat, mata biru gelapnya menyorot layar, sedangkan Chika segera melompat duduk di sampingnya, kaki menggantung sebentar di udara sebelum menyentuh lantai. Rambut pirangnya sedikit berantakan, kepang panjangnya jatuh di bahu, dan tangannya memegang cangkir teh yang masih mengepul.

“Wah… cepat banget ya, Aki… kayak hacker profesional,” kata Chika sambil mencondongkan tubuh ke depan, matanya berbinar, tapi ada sedikit raut tegang di wajahnya—ingat tatapan Cila barusan yang membuatnya merinding.

Aki menarik napas panjang, jarinya menari di atas hologram. “Oke… mari kita lihat… Mama Cila, Ratih Mutia… lahir tahun 1980 di Bekasi. Sebelum menikah dengan Roni… dia bekerja di hampir semua toko kue kota itu.”

Chika mengangkat alis, menunduk sedikit, lalu menatap layar, “Eh… cukup rumit ya… Bekasi sama Padang itu jauh, kan?”

“Ya… beda pulau,” jawab Aki sambil menatap data berikutnya. “Dan di sini… mereka menikah tanggal 2 Januari 2005… tapi… nikah sirih.”

Chika menatap bingung, mata hijau mudanya melebar. “Nikah sirih itu apa, Aki?”

Aki menekankan kata-katanya, bibir menegang, jari menekan hologram seolah menandai setiap informasi penting. “Nikah paksa, atau pernikahan yang dilakukan meskipun orang tua melarang… si Roni tolol ini nekat menikahi Ratih tanpa restu orang tua.”

Chika menggeleng, setengah tertawa tapi penuh rasa iba. “Eh… cinta terlarang, ya…”

Aki mengangkat bahu, wajahnya serius tapi datar, “Kurang lebih begitu… tapi masalahnya tidak berhenti di situ. Konflik ekonomi, ego, dan pertengkaran terus muncul setelah pernikahan mereka.”

Chika memiringkan kepala, menyeruput teh, “Wah… kayak drama korea tapi versi horor nyata ya…”

Aki mengabaikan komentar itu dan melanjutkan, “Cila Mulyanti… lahir 4 September 2006. Kau tahu, Chika… di dunia ini kau lahir 1 Juli 2007.”

Chika mendengus, sedikit cemberut tapi kemudian tersenyum nakal. “Berarti Cila lebih tua… tipe Aki memang suka yang lebih tua, ya… Hehe…”

Aki hanya tersenyum tipis, matanya kembali fokus ke layar hologram. “Nah… ini puncak masalahnya. Sejak lahir, Cila memiliki kelainan jantung—katupnya rusak. Dia harus dioperasi di usia 18 tahun ke atas.”

Chika menatapnya, mulut sedikit terbuka. “Apa… sakitnya parah, ya?”

Aki menunduk, menatap layar dengan serius, suara beratnya terdengar lebih lembut dari biasanya. “Ya… sangat parah. Sebelumnya, sebelum aku masuk Isekai, saat aku masih pacaran dengannya… orang tuanya menyembunyikan ini. Aku baru tahu tanggal 22 Juli 2024, dan mama-nya tidak bisa menghindar lagi… mengakui semuanya.”

Chika menelan ludah, tangannya menggenggam cangkir teh erat-erat. “Eh… berarti sakitnya serius banget… Aki…”

Aki menoleh, matanya menatap jauh ke depan seolah menembus layar hologram. “Ya… Chika. Ini misi terakhir kita.”

Chika mencondongkan tubuh ke depan, mata bersinar, “Apa itu, Aki?”

Aki menghela napas panjang, “Kita akan pindah ke tanggal 2 Agustus 2024… tepat saat Cila dioperasi. Setelah kematian ayahnya, kemungkinan jantungnya tidak rusak parah. Kita bisa menyelamatkannya.”

Chika tersenyum antusias, “Wah… baiklah! Tapi… Aki… sebelum kita pindah waktu… mau minta izin dulu ke Makmu?”

Aki menepuk kepala Chika cepat, ekspresinya datar tapi ada kilatan lucu di matanya. “Kamu bodoh ya? Di dunia ini kalau aku bilang ke bunda, aku malah dikira sering nonton kartun dan film… Sebenarnya hal-hal di Isekai ini tidak pernah terjadi di dunia nyata.”

Chika meringis tapi tersenyum, “Ehh… ga asik banget dunia ini! Tapi kalau kita tinggal di sini… kita bisa jadi manusia terkuat kan? Hehe!”

Aki mengangkat alis, lalu tersenyum tipis dan tertawa kecil, “Benar juga ya… Eh tunggu! Kok aku malah tertawa seperti menguasai dunia ini?”

Chika menepuk bahu Aki, “Ehh! Keliatan banget antagonisnya! Kamu raja iblis, kan?”

Aki mencondongkan badan, matanya berkilat tajam, suara rendah tapi penuh semangat. “Yoi… Raja iblis yang berusaha mengubah takdir mantan kekasihnya… yang sangat aku cintai!”

Chika menatapnya, tertawa kecil, “Cakep… Tapi aku bilang ini bukan pantun kocak, Aki!”

Aki menoleh, ekspresinya serius tapi ada kilatan hangat di matanya. “Kalau kau Knight-ku, Chika… kau harus siap menghadapi apapun… termasuk aku yang kadang terlihat jahat ini.”

Chika hanya mengangkat bahu, tersenyum sambil menyesap teh hangatnya, matanya bersinar—antara takut, antusias, dan penuh rasa penasaran. Kamar itu hening sebentar, hanya terdengar suara hologram, teh mengepul, dan detak jantung Chika yang cepat, tapi terasa absurd dan hangat—kombinasi lucu dari ketegangan misi dan sikap polosnya.

---

Malam itu, di kamar kecil yang dipenuhi layar hologram biru redup, udara hangat bercampur dengan aroma kopi sisa dari meja samping. Mesin waktu yang Aki rakit berdengung lembut, menimbulkan suara elektronik bzzzt… bzzzt… seakan menunggu perintah.

Aki menoleh ke Chika, matanya serius tapi lembut, menatap wajah pirang pucat yang masih tersisa sisa keceriaan dan rasa gugup. “Nah, Chika… udah siap?”

Chika menempelkan tangannya ke pundak Aki, menatap matanya dalam-dalam dengan tatapan penuh semangat. “Untuk salah satu Hero-ku… aku siap!” suaranya ringan tapi bergetar oleh antisipasi. Rambutnya yang kepang panjang sedikit berantakan, mata hijau mudanya berbinar, bahu sedikit menegang—siap untuk aksi.

Aki mengangguk, menepuk pundak Chika. “Kalau begitu… ayo masuk.”

Mereka melangkah masuk ke mesin waktu, dan bzzzz-woooosh! udara di sekitar mereka berubah. Dunia di luar jendela kamar tiba-tiba hilang, digantikan pemandangan sore Jakarta yang remang, suara ambulans jauh terdengar, dan sinar matahari sore menembus kaca rumah sakit jantung yang besar dan dingin.

Tubuh mereka berdua mendadak sedikit membesar, kembali ke usia 17 tahun. Chika menatap tangannya, lalu menoleh ke Aki. “Wah… agak mirip dengan tubuh asli-ku, Aki!” matanya berbinar penuh takjub, senyum lebar menghiasi wajahnya.

Aki menatapnya, mencondongkan badan sedikit ke depan, matanya menajam tapi lembut. “Iya… kau benar… Chika… kau siap?”

Chika meninju ringan bahunya sendiri, menghela napas, dan berteriak penuh semangat. “Yosh! Ayo bantai operasi ini!”

Namun sebelum mereka sempat melangkah masuk ke rumah sakit, empat teman dekat Aki dari dunia lamanya muncul bak bayangan.

Seorang gadis berambut coklat panjang, Hanna, berlari ke arah Aki. Suara gemerisik langkah kakinya terdengar di trotoar, rambutnya sedikit berantakan, mata basah karena cemas. “Aki! Si Cila mau dioperasi, kan?”

Aki menoleh, menatap sahabat lamanya dengan serius tapi lembut. “Hanna… iya… kau benar…”

Hanna menunduk, menahan tangis. “Semoga… Cila selamat… Aku… aku nggak tahu… nggak tahu apa yang akan terjadi kalau Cila tiada…”

Aki menepuk bahunya, suara berat tapi menenangkan. “Semoga saja… Cila akan selamat.”

Seorang pemuda kekar dengan tato di lengan, seperti preman tapi mata berbinar penuh empati, menepuk bahu Hanna. “Hanna… mari kita kuat bersama… untuk Cila… untuk Aki…”

Dua teman lainnya, Indi dan Adhit, menatap ke arah rumah sakit dengan serius, tangan mengepal. “Sekarang… di mana Cila?” tanya mereka serentak, wajahnya tegang tapi penuh harapan.

Chika mendesah sedikit, berdiri di samping Aki, dan dengan polosnya berkata, “Cila masih di dalam… masih istirahat sebelum operasi…”

Empat teman Aki menatapnya, mata melebar. “EHH!! ADA BULE YANG LANCAR BAHASA INDONESIA!!” serentak mereka kaget, langkah kaki mereka terguncang sebentar karena kaget.

Seorang pemuda lain, Kenzi, menunjuk ke arah Chika. “Oi oi Aki! Aku sempat melihat kalian berdua berbicara… siapa dia?”

Aki menatap santai, tangan disilangkan di dada. “Dia kerabatnya Cila… dari Jepang.”

Chika tersenyum manis, sedikit menunduk, sambil menatap mereka. “Nama-ku Chika… senang bertemu dengan kalian.”

Adhit menatap dengan tatapan mencurigakan. “Bukan kah kamu… my… kisah?”

Aki mengangkat alis, ekspresinya setengah mengancam tapi santai. “Tidak, Adhit… hah… kau karbit asal klaim anak orang aja.”

Chika menatap bingung. “Karbit itu apa?”

Aki menunduk, suara berat tapi datar. “Lebih sedikit kau tahu… lebih baik.”

Mereka pun melangkah masuk ke rumah sakit. Hanna menggenggam tangan Kenzi dan Chika untuk menenangkan diri. Chika menepuk tangan Hanna, tersenyum menenangkan. “Tenang… semoga Tuhan sesuai kepercayaan kita membantu Cila menghadapi operasi ini.”

Hanna mengangguk, mata berkaca-kaca. “A… aku harap… aku benar-benar berharap dia selamat…”

Aki menatap layar hologram yang menampilkan data medis Cila, suara rendah dan tegas. “Iya… aku akan berusaha…”

Hanna menatapnya dengan bingung. “Berusaha apa, Aki?” Suaranya lembut tapi penuh rasa takut.

Aki menunduk, menguncapkan kata-kata yang berat, matanya menatap jauh ke masa depan yang akan dia ubah. “Mengubah semuanya…”

Suasana terasa tegang, hampir mencekam—suara monitor jantung terdengar, alarm medis ringan berdengung, langkah perawat terdengar dari lorong, namun di luar itu, ada aura absurd karena Chika masih sesekali menyipitkan mata dan menggigit bibir sambil menahan antusiasme heroiknya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!