"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - KEMBALINYA LENNA
Tiga bulan kemudian, kehidupan mulai kembali ke ritme yang lebih tenang.
Kirana sekarang sudah lima bulan, tumbuh menjadi bayi yang sehat dan aktif. Berat badannya sudah mencapai enam kilogram, jauh dari bayi prematur kecil yang dulu. Dia mulai bisa tersenyum, tertawa, bahkan mencoba meraih mainan.
Dara mulai merasa untuk pertama kalinya, seperti ibu normal. Bukan dokter mafia yang kabur. Bukan wanita yang diburu kelompok kriminal. Hanya ibu yang fokus pada bayinya.
Laporan dari para profesor juga sudah selesai. Dokumen setebal dua ratus halaman yang membedah penelitian Salma, menunjukkan cacat metodologi, pelanggaran etika, dan bahaya dari eksperimennya. Dokumen itu sudah diserahkan ke pengadilan sebagai bukti tambahan.
Salma masih di penjara, tapi pengacaranya terus mengajukan banding.
Sementara itu, Lenna...
Tidak ada kabar tentang Lenna sejak malam dia kabur dari halaman belakang rumah.
Sampai hari itu.
Dara sedang menggendong Kirana di taman depan, membiarkan bayinya merasakan sinar matahari pagi ketika satuan pengamanan mendekat.
"Nyonya Kiara, ada tamu di gerbang. Dia bilang kenal dengan Nyonya."
"Siapa?"
"Wanita muda. Namanya Lenna."
Dara membeku.
"Usir dia."
"Sudah, Nyonya. Tapi dia bilang punya informasi penting tentang Salma. Dia bilang itu menyangkut keselamatan Nyonya."
Dara menatap Kirana yang tertidur damai di gendongannya.
Lenna dan Salma?
Ada hubungan apa?
Rasa penasaran mengalahkan kewaspadaan.
"Bawa dia masuk. Tapi dia harus diperiksa dulu, tidak boleh bawa senjata atau apapun yang berbahaya. Dan panggilkan Regan. Aku mau dia ada saat aku bicara dengan Lenna."
Lima belas menit kemudian, Lenna duduk di ruang tamu dengan Dara di seberangnya, Regan berdiri di samping dengan tangan siap di saku (menyimpan pistol kecil).
Lenna berubah drastis.
Rambutnya panjang lagi tapi kusam. Wajahnya kurus, mata cekung. Bajunya murahan, tidak terawat. Tidak ada lagi gadis cantik yang dulu, hanya wanita hancur yang tersisa.
"Kak Kiara," katanya pelan. Suaranya serak, lelah.
"Jangan panggil aku Kakak. Kita bukan keluarga lagi." Dara menatapnya dingin. "Lima menit. Kamu punya lima menit untuk bilang apa yang mau kamu bilang. Setelah itu, keluar."
Lenna mengangguk, seperti sudah mengharapkan sambutan seperti ini.
"Aku... aku datang untuk peringatkan Kakak... maksudku, Kiara. Tentang Salma."
"Aku sudah tahu tentang Salma. Apa yang baru?"
"Dia hubungi aku. Dari penjara. Dua minggu lalu."
Dara tersentak. "Kenapa dia hubungi kamu?"
"Karena dia tahu aku benci padamu. Dia pikir aku bisa direkrut untuk..." Lenna berhenti, menelan ludah, "...untuk bunuh kamu."
Hening.
"Dan?" tanya Dara dengan suara berbahaya tenang.
"Aku menolak." Lenna mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu aku sudah buat banyak kesalahan. Aku sudah coba sakiti kamu berkali-kali. Tapi..." dia menatap ke arah Kirana yang tidur di ayunan otomatis di sudut ruangan, "...aku tidak akan bunuh seorang ibu. Aku tidak akan bikin anak itu yatim."
Dara tidak yakin harus percaya atau tidak. "Kenapa tiba-tiba kamu punya hati nurani?"
"Karena ibuku mati sendirian. Tidak ada yang menjaganya saat dia sekarat. Dan aku tahu, itu karma untukku." Lenna menangis, kali ini tangis yang tulus. "Aku tidak mau jadi orang yang bikin anak lain mengalami hal yang sama."
Regan menatap Dara, mencari petunjuk bagaimana harus bersikap. Dara mengamati Lenna, mencari tanda kebohongan. Tapi yang dia lihat hanya...
Penyesalan.
Penyesalan yang terlambat, tapi tulus.
"Baiklah. Aku percaya kamu untuk sekarang. Lanjutkan. Apa lagi yang Salma bilang?"
"Dia bilang... dia akan keluar dari penjara dalam tiga bulan. Pengacaranya sudah atur semuanya. Dan begitu keluar, dia akan lanjutkan eksperimennya. Tapi kali ini..." Lenna menatap Dara dengan mata ketakutan, "...dia tidak akan coba tangkap kamu lagi. Dia akan langsung bunuh kamu. Karena kamu sudah jadi bukti yang cukup. Dia tidak butuh kamu hidup lagi."
Dara merinding.
"Tiga bulan?"
"Iya. Dan dia punya rencana. Rencana yang detail. Dia sudah rekrut orang-orang baru, pengganti Rani yang kamu tangkap. Dia punya jaringan yang lebih besar dari yang kamu kira."
"Bagaimana kamu tahu semua ini?"
"Karena dia coba rekrut aku. Dia jelasin semua rencananya, pikir aku akan tertarik dengan uang yang dia tawarkan." Lenna mengeluarkan ponsel lama yang retak. "Aku rekam percakapannya. Aku tahu kamu tidak akan percaya kata-kataku. Jadi aku bawa bukti."
Dia menyodorkan ponsel. Regan mengambilnya, memutar rekaman.
Suara Salma terdengar jelas... menjelaskan rencana untuk keluar penjara, untuk membunuh Dara, untuk melanjutkan eksperimen dengan subjek baru.
Dara mendengarkan dengan wajah semakin keras.
"Kenapa kamu bawa ini ke aku? Kenapa tidak ke polisi?"
"Karena aku tahu polisi tidak akan gerak cukup cepat. Mereka akan proses, investigasi, birokrasi. Sementara Salma sudah gerak." Lenna menatapnya. "Tapi kamu, aku tahu kamu akan langsung bertindak. Karena kamu bukan cuma dokter atau ibu rumah tangga biasa. Kamu..." dia berhenti, "...kamu adalah Dara Alvarino. Dokter mafia yang bertahan di dunia paling kelam."
Dara tersentak. "Bagaimana kamu tahu nama itu?"
"Salma cerita. Dia bilang kamu bukan Kiara yang asli. Kamu jiwa lain yang mengambil alih tubuh Kiara." Lenna tersenyum pahit. "Sejujurnya itu menjelaskan banyak hal. Kenapa tiba-tiba Kiara yang lemah jadi sekuat ini."
Dara dan Regan bertukar pandang.
"Lenna," kata Dara pelan. "Kalau aku terima bantuanmu, apa maumu sebagai balasan?"
"Aku tidak mau apa-apa."
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Apa maumu?"
Lenna terdiam lama. "Aku... aku cuma mau... maafkan aku. Tidak harus sekarang. Tapi suatu hari. Aku mau kamu maafkan aku untuk semua yang aku lakukan."
Dara menatapnya, melihat wanita hancur yang dulu mencoba membunuhnya, yang dulu merebut suaminya. Sebagian besar dari Dara masih marah. Masih ingin membalas. Tapi sebagian kecil, bagian yang mungkin Kiara merasa kasihan.
"Aku tidak bisa janjikan maaf. Tapi aku bisa janjikan, aku akan pertimbangkan. Suatu hari."
Lenna mengangguk... seperti itu sudah lebih dari yang dia harapkan.
"Terima kasih."
"Sekarang ceritakan semua yang kamu tahu tentang rencana Salma. Detail. Tidak ada yang dilewatkan."
Satu jam kemudian, setelah Lenna pergi dengan uang transport yang diberikan Regan, Dara duduk dengan Arkan dan Regan merencanakan langkah selanjutnya.
"Tiga bulan," kata Arkan. "Itu tidak banyak waktu."
"Cukup. Kalau kita pintar." Dara menatap rekaman dari ponsel Lenna. "Rekaman ini adalah bukti Salma mengancam akan bunuh aku. Itu melanggar syarat pembebasan bersyaratnya. Kalau kita berikan ini ke pengadilan..."
"Dia tidak akan keluar," lanjut Regan. "Tapi pengacaranya bisa bilang rekaman itu dipalsukan..."
"Makanya kita perlu ahli forensik audio. Untuk verifikasi rekaman ini asli." Dara sudah berpikir cepat. "Arkan, kamu kenal ahli forensik?"
"Aku kenal satu. Mantan polisi yang sekarang konsultan swasta. Dia bisa verifikasi dalam seminggu."
"Lakukan. Dan Regan aku butuh kamu lacak siapa saja yang Salma rekrut. Rani sudah ditangkap. Tapi Lenna bilang ada yang lain."
"Aku akan coba, tapi Kak apa kita bisa percaya Lenna?"
Dara terdiam. "Sejujurnya? Aku tidak tahu. Tapi rekaman ini terdengar asli. Dan Lenna... dia berubah. Entah karena penderitaan atau karena penyesalan. Tapi dia berubah."
"Atau dia akting lagi. Seperti dulu."
"Mungkin. Makanya kita tetap waspada. Tapi untuk sekarang, kita gunakan informasi yang dia beri." Dara menatap mereka berdua. "Salma pikir dia selalu selangkah lebih maju. Tapi kali ini... kita yang akan selangkah lebih maju. Kita akan hentikan dia sebelum dia keluar dari penjara. Selamanya."
Arkan menggenggam tangannya. "Apapun yang kamu butuhkan, aku akan dukung."
"Aku juga," tambah Regan.
Dara tersenyum merasakan kehangatan yang jarang dia rasakan.
Keluarga...
Bukan keluarga yang terikat darah. Tapi keluarga yang dipilih, yang berjuang bersama, yang melindungi satu sama lain.
Dan dengan keluarga ini...
Dara tahu dia bisa menghadapi apapun.
Bahkan Salma.
👻👻👻👻