NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: JANGAN YANG TIDAK TERLIHAT

 

Matahari baru saja terbit, menyelinap melalui celah tirai beludru kamar tidur Putri dan Rizky. Suasana di dalam kamar masih hening, hanya terdengar suara napas teratur Rizky yang masih terlelap di sampingnya. Putri sudah bangun sejak dini hari, matanya terbuka menatap langit-langit kamar, pikirannya bekerja keras menyusun strategi.

Hari ini adalah hari di mana kapal kargo yang membawa kontainer biru tua—penuh dengan bukti kejahatan—akan meninggalkan pelabuhan. Putri tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Dia harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang bisa menghentikan pengiriman itu, tapi tidak akan menyisakan jejak yang mengarah padanya.

Perlahan, Putri bangun dari kasur, berusaha tidak membangunkan Rizky. Dia mengenakan gaun tidurnya dan berjalan menuju meja rias. Dia membuka laci rahasia, mengambil laptop khusus yang tidak terhubung ke internet, dan memutar kembali rekaman yang dia ambil kemarin. Gambar di dalam kontainer itu jelas: tumpukan kayu ilegal dan kotak-kotak mencurigakan.

Putri menghela napas. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu betul bagaimana prosedur kepolisian dan bea cukai bekerja. Dia tahu bahwa laporan anonim bisa memicu inspeksi mendadak, asalkan laporan itu cukup kredibel dan menyertakan bukti yang cukup.

Dia tidak bisa menggunakan ponsel atau laptop yang terhubung dengan identitasnya. Dia butuh cara yang benar-benar tak terlacak.

Putri menutup laptopnya dan menyimpannya kembali dengan aman. Dia melihat sekilas ke arah Rizky. Pria itu tidur dengan damai, wajahnya terlihat begitu polos tanpa beban. Hati Putri terasa perih lagi. Maafkan aku, Rizky, batinnya berbisik. Aku harus melakukan ini.

Pagi itu, saat sarapan, suasana di ruang makan keluarga Adinata terasa formal seperti biasa. Pak Hidayat membaca koran sambil menyeruput kopi, sementara Rizky sedang memotong buah di piringnya. Putri duduk di samping suaminya, tampak tenang, meski di dalamnya dia sedang gelisah.

"Hari ini kapal akan berangkat tepat waktu, kan?" tanya Pak Hidayat tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari koran.

"Sudah dipastikan, Ayah. Semua persiapan selesai kemarin sore," jawab Rizky. "Semuanya berjalan lancar."

Putri menyendok nasi perlahan. Lancar? Belum tentu, batinnya.

"Bagus," sahut Pak Hidayat, akhirnya menaruh korannya dan menatap Putri. "Bagaimana denganmu, Putri? Masih terasa lelah setelah kemarin?"

"Tidak, Ayah. Saya sudah segar kembali," jawab Putri dengan senyum sopan. "Kemarin adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya."

"Syukurlah. Semoga ke depannya kamu bisa lebih aktif membantu Rizky dalam urusan bisnis. Aku melihat potensi besar di dalam dirimu," kata Pak Hidayat, lalu kembali melanjutkan makannya.

Putri hanya mengangguk, tapi di dalam hatinya, dia merinding. Apakah Pak Hidayat benar-benar tidak tahu apa-apa? Atau ini hanya cara dia mengujinya?

Setelah sarapan, Rizky harus pergi ke kantor untuk rapat pagi. Sebelum pergi, dia mendekati Putri yang sedang berdiri di teras depan.

"Aku pergi dulu, ya," kata Rizky lembut, lalu mengecup kening Putri. "Jangan keluar rumah sembarangan, ya. Jika butuh apa-apa, hubungi aku atau Nina."

"Iya, hati-hati, Rizky," balas Putri, mencoba memberikan senyum paling tulus yang dia bisa.

Saat mobil Rizky menghilang dari pandangan, Putri segera bergerak. Dia menemui Nina yang sedang mengatur jadwal di ruang kerja kecilnya di lantai bawah.

"Nina," panggil Putri pelan saat memastikan tidak ada orang lain di sekitar. "Aku butuh bantuanmu lagi. Sekarang."

Nina langsung waspada, melihat ekspresi serius di wajah Putri. "Ada apa, Putri? Apakah ada bahaya?"

"Bukan bahaya langsung, tapi aku butuh akses ke warnet atau komputer publik yang tidak terhubung dengan identitas kita. Dan aku butuh uang tunai, cukup banyak untuk menyewa taksi atau pergi ke tempat yang jauh sedikit dari sini," kata Putri cepat.

Nina mengerutkan kening, tapi tidak bertanya banyak. Dia tahu ini pasti berkaitan dengan rencana Putri. "Aku punya ide. Di kota tua, ada sebuah warnet kecil yang biasa digunakan oleh anak-anak sekolah dan orang-orang yang tidak ingin dilacak. Tidak ada CCTV yang jelas, dan pendaftarannya tidak ketat. Aku bisa memberimu uang dan mengantar kamu ke sana dengan mobil dinas, tapi aku harus menunggu di tempat yang agak jauh agar tidak terlihat."

"Terima kasih, Nina. Kamu penyelamatku," ucap Putri lega.

Sepanjang perjalanan, Putri duduk diam di kursi belakang mobil, menutupi wajahnya dengan syal agar tidak dikenali. Pikirannya terus melayang pada Bang Rio. Kenapa pria itu melepaskannya kemarin? Apakah dia akan melaporkannya sekarang? Atau dia benar-benar diam saja? Pertanyaan itu terus menghantuinya, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.

Sesampainya di kota tua, Nina menurunkan Putri di sebuah gang sempit tidak jauh dari warnet yang dimaksud.

"Aku akan menunggu di parkiran pasar induk dua blok dari sini. Hubungi aku jika sudah selesai," bisik Nina.

Putri mengangguk, lalu turun dan berjalan cepat menuju warnet yang terlihat kumuh dan berdebu itu. Di dalamnya, hanya ada beberapa orang yang sedang bermain game atau mengetik di depan komputer. Putri menyewa satu komputer di sudut ruangan yang paling gelap dan terhalang rak buku.

Jantungnya berdegup kencang saat dia menyalakan komputer. Dia tidak menggunakan akun pribadi apa pun. Dia membuka layanan email anonim yang dia pelajari caranya saat kuliah hukum—layanan yang tidak memerlukan verifikasi identitas yang ketat.

Dia menulis sebuah email. Penerimanya adalah alamat resmi pengaduan bea cukai dan juga satu alamat email khusus unit tindak pidana korupsi dan kejahatan terorganisir yang dia temukan dari internet.

Di dalam email itu, dia tidak menulis namanya. Dia hanya menulis sebagai "Warga Peduli". Dia menjelaskan secara rinci tentang pengiriman kontainer nomor tertentu (yang dia dapatkan dari Nina), kapal apa yang membawanya, dan jam keberangkatannya. Dia menuduh bahwa di dalam kontainer tersebut terdapat kayu ilegal dan kemungkinan barang selundupan lainnya yang tidak sesuai dengan dokumen manifest.

Dan yang paling penting, dia melampirkan beberapa foto yang dia ambil kemarin—foto yang cukup jelas untuk membuktikan isi kontainer, tapi tidak menampilkan wajahnya atau lokasi spesifik pengambilan gambarnya.

Sebelum mengirimnya, dia memeriksa ulang semuanya. Tidak ada jejak digital yang mengarah padanya. Email ini akan terlihat seperti datang dari server acak di luar negeri.

"Dengan ini... semoga pengiriman ini terhenti," bisik Putri pelan, lalu jari-jarinya menekan tombol "Kirim".

Selesai.

Rasa lega yang luar biasa menyelimuti dirinya, disusul dengan ketegangan yang baru. Sekarang, dia hanya bisa menunggu. Apakah email itu akan dipercaya? Apakah bea cukai akan bertindak cukup cepat sebelum kapal berangkat?

Putri segera menghapus riwayat penjelajahan, menutup semua tab, dan keluar dari warnet dengan langkah cepat. Dia menghubungi Nina untuk menjemputnya di titik pertemuan yang sudah disepakati.

Sepanjang perjalanan pulang, Putri merasa seolah-olah semua orang sedang menatapnya. Dia merasa rentan. Tapi dia tahu dia sudah melakukan langkah yang tepat. Cara hukum. Tanpa kekerasan. Sesuai dengan prinsipnya demi Rara dan dirinya sendiri.

Sore harinya, saat Putri sedang bermain dengan Rara di taman belakang rumah, ponselnya bergetar. Itu pesan dari Nina.

[Berita penting. Kapal yang membawa kontainer itu dicegah berangkat oleh tim gabungan bea cukai dan polisi. Mereka melakukan inspeksi mendadak. Belum ada berita resmi, tapi sumber di pelabuhan bilang mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan.]

Jari-jemari Putri berhenti mengelus rambut Rara. Matanya terbelalak. Itu berhasil! Pengiriman itu gagal!

"Kakak? Kenapa berhenti?" tanya Rara polos, menatap kakaknya.

Putri tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar tulus, senyum kemenangan kecil. "Tidak apa-apa, sayang. Kakak hanya... senang. Ayo, kita lanjutkan mainnya."

Namun, belum lama berselang, suasana di kediaman Adinata berubah drastis. Suara mobil yang melaju kencang terdengar memasuki halaman rumah. Tidak lama kemudian, terdengar suara gebrakan pintu depan dan suara teriakan marah yang sangat familiar—suara Pak Hidayat.

Putri segera menyuruh Rara masuk ke dalam rumah dan menemui pengasuhnya. Dia sendiri berdiri di dekat koridor, mengintip ke arah ruang tamu utama.

Di sana, Pak Hidayat sedang mondar-mandir dengan wajah merah padam menahan amarah. Di depannya, Rizky berdiri dengan wajah pucat dan cemas, serta Pak Darmawan yang terlihat murung dan sedikit berkeringat.

"Bagaimana bisa ini terjadi?!" teriak Pak Hidayat, membanting sebuah majalah di atas meja. "Kontainer itu diperiksa! Dicegah berangkat! Bagaimana bisa polisi tahu?!"

"Ayah, tenanglah. Kami sedang menyelidiki," kata Rizky pelan, tapi tegas. "Kemungkinan besar ada laporan anonim. Tim bea cukai bilang mereka mendapatkan email dengan bukti foto."

"Foto?!" Pak Hidayat menatap Rizky tajam. "Foto apa? Bagaimana bisa ada foto isi kontainer itu bocor? Hanya orang-orang dalam yang tahu detailnya!"

Mata Pak Darmawan tiba-tiba menyipit, lalu dia menatap ke arah koridor di mana Putri sedang bersembunyi, seolah merasakan kehadiran gadis itu. Putri segera mundur perlahan, bersembunyi di balik dinding.

"Atau mungkin... ada mata-mata di antara kita?" ucap Pak Darmawan pelan, nadanya penuh sindiran. "Ingat kemarin siapa saja yang ada di pelabuhan? Selain kita, ada Putri. Dan dia sempat hilang beberapa waktu."

Jantung Putri mencelos. Dia tahu Pak Darmawan akan mencurigainya.

"Jangan menuduh sembarangan, Pak Darmawan!" suara Rizky terdengar keras, membela Putri. "Putri tidak tahu apa-apa tentang bisnis ini! Dia baru saja menikah denganku! Dia tidak mungkin melakukan itu!"

"Benarkah?" tantang Pak Darmawan. "Dia wanita yang cerdas, Rizky. Jangan meremehkannya hanya karena dia cantik dan lembut. Ingat, kita tidak tahu banyak tentang masa lalunya."

"Aku percaya pada Putri!" tegas Rizky. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menuduh istriku tanpa bukti!"

Putri menahan napas di balik dinding. Air mata mulai menggenang di matanya mendengar pembelaan Rizky yang begitu tegas. Pria itu membelanya dengan sepenuh hati, bahkan di tengah situasi kritis ini, sementara dialah—Putri—yang menjadi penyebab semua kekacauan ini. Rasa bersalah itu kembali menghantamnya, lebih kuat dari sebelumnya.

"Diam kalian berdua!" bentak Pak Hidayat. "Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah! Rizky, kamu dan Bang Rio selidiki dari mana asal laporan itu! Pastikan tidak ada bukti yang tertinggal yang bisa menjerat kita! Dan Darmawan, kamu urus pihak bea cukai! Gunakan koneksi apa pun, uang apa pun, tapi pastikan masalah ini selesai dan tidak meluas! Mengerti?!"

"Baik, Ayah/Hidayat," jawab Rizky dan Pak Darmawan serempak.

Putri mendengar langkah kaki. Dia buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju tangga, seolah-olah dia baru saja turun dari atas. Saat dia berpapasan dengan Rizky yang keluar dari ruang tamu, suaminya itu terlihat kaget.

"Putri? Kamu dari mana?" tanya Rizky, masih dengan napas yang memburu karena emosi.

"Aku baru saja mengantar Rara main di taman, lalu mendengar suara keributan. Ada apa, Rizky? Kenapa Ayah marah sekali?" tanya Putri, berusaha memasang wajah polos dan khawatir.

Rizky menghela napas panjang, lalu mendekati Putri dan menggenggam tangannya. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Sayang. Hanya ada sedikit masalah di pelabuhan. Urusan bisnis yang rumit. Aku akan menyelesaikannya." Dia menatap mata Putri dalam-dalam, seolah ingin mencari sesuatu di sana. "Pak Darmawan tadi menuduhmu terlibat. Tapi aku tahu itu tidak mungkin, kan? Kamu tidak tahu apa-apa soal itu, kan?"

Putri menatap Rizky. Di depan matanya yang tulus dan penuh kepercayaan, Putri hampir saja mengaku semuanya. Tapi dia ingat pada orang tuanya, pada Rara, pada keadilan yang harus ditegakkan.

"Tentu saja tidak, Rizky," jawab Putri lembut, meski suaranya sedikit bergetar. "Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Kenapa aku harus terlibat?"

Rizky menatapnya lama, lalu menghela napas lega dan menarik Putri ke dalam pelukan hangatnya. "Aku tahu. Aku percaya padamu, Putri. Abaikan saja omongan Pak Darmawan. Dia hanya sedang panik."

Putri membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Rizky. Maafkan aku, batinnya berteriak. Aku berbohong padamu lagi. Tapi aku harus melakukan ini.

Saat Rizky pergi untuk menangani masalah itu, Putri kembali ke kamarnya. Dia merasa lelah secara mental. Dia berhasil menggagalkan pengiriman, tapi dia juga menarik perhatian yang lebih berbahaya ke dirinya sendiri, terutama dari Pak Darmawan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi kali ini isinya sangat singkat dan membuat darah Putri berdesir:

[Kamu pintar, Nyonya muda. Tapi jangan meremehkan serigala tua. - BR]

BR. Bang Rio.

Dia tahu. Pria itu tahu itu ulah Putri. Tapi kenapa dia mengirim pesan ini? Apakah ini peringatan? Atau... apakah ini cara dia memberi tahu bahwa dia diam saja dan tidak akan melaporkannya?

Putri menatap layar ponselnya dengan bingung dan takut. Permainan bayangan ini ternyata jauh lebih rumit dari yang dia kira. Dia punya musuh di depan mata (Pak Darmawan), tapi mungkin juga punya sekutu tak terduga dalam bayang-bayang (Bang Rio).

Apa yang harus kulakukan selanjutnya? batin Putri bertanya-tanya, merasa semakin terjebak dalam labirin intrik dan cinta yang mematikan ini.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri berhasil menggagalkan pengiriman lewat jalur hukum tanpa terdeteksi, tapi Pak Darmawan mulai mencurigainya dan Bang Rio mengirim pesan misterius yang menunjukkan dia tahu segalanya. Rizky membelanya mati-matian, membuat rasa bersalah Putri semakin besar. Menurutmu, apa yang harus Putri balas atau lakukan terhadap pesan dari Bang Rio? Apakah dia harus membalas untuk mencari tahu niat pria itu, atau dia harus mengabaikannya dan bersiap menghadapi kecurigaan Pak Darmawan?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!