Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Jarak yang Mulai Terasa
...Kami masih saling menatap, tapi masa depan kami tidak lagi berdiri di titik yang sama....
Happy Reading!
...----------------...
Jarak itu datang pelan. Begitu pelan, sampai aku hampir tidak menyadarinya.
Hampir seperti kabut tipis yang turun tanpa suara—tidak langsung menutup pandangan, tapi perlahan membuat semuanya terlihat samar.
Jarak tidak muncul dalam bentuk pertengkaran, atau kata-kata tajam yang melukai. Tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada pesan panjang yang berakhir dengan perpisahan.
Hari-hari kami masih diisi rutinitas yang sama. Pagi dengan buku dan catatan, siang dengan pesan singkat tentang materi ujian, malam dengan panggilan yang kadang hanya berisi diam.
Kami masih menyiapkan ujian akhir bersama.
Masih saling bertanya soal rumus yang lupa.
Masih mengeluh tentang waktu yang terasa terlalu cepat.
Tapi entah sejak kapan, rasanya berbeda.
Raven masih membalas pesanku—tidak pernah lama, tidak pernah benar-benar menghilang. Tapi balasannya lebih singkat. Lebih seperlunya. Seolah ia sedang menghemat sesuatu yang tak kasatmata.
“Aku belajar bentar lagi,” tulisnya suatu malam.
Biasanya, kalimat itu diikuti dengan, “Nanti aku kabarin lagi ya,” atau “Jangan tidur dulu.”
Malam itu tidak.
Aku menatap layar ponsel cukup lama. Ibu jariku menggantung di atas keyboard, mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya lagi. Pada akhirnya aku hanya membalas, “Oke.”
Satu kata. Sama singkatnya.
Aku meletakkan ponsel di samping bantal, tapi beberapa detik kemudian meraihnya lagi—seolah berharap ada pesan susulan yang tidak pernah datang.
Aku tidak marah. Aku hanya bingung.
Karena jika aku jujur pada diriku sendiri, tidak ada satu pun kejadian besar yang bisa kusebut sebagai awal mula jarak ini. Tidak ada salah paham. Tidak ada konflik yang meledak. Tidak ada pertengkaran yang bisa dijadikan penanda bahwa sesuatu sedang retak.
Semuanya terasa… memudar. Perlahan. Hampir tidak terasa.
Mungkin karena pembahasan kami kemarin tentang kuliah. Tapi bahkan percakapan itu pun tidak pernah benar-benar selesai. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada keputusan. Tidak ada kalimat yang menandai bahwa jarak akan datang, apalagi secepat ini.
Di sekolah, kami masih duduk berdekatan. Masih saling menyapa seperti biasa. Namun obrolan kami tidak lagi mengalir tanpa jeda seperti dulu. Ada keheningan-keheningan kecil yang terasa asing, seolah kami sama-sama mencari kata yang tepat tapi tidak pernah benar-benar menemukannya.
Saat aku tertawa, ia tetap ikut tersenyum—namun matanya tidak selalu tertuju padaku. Kadang pandangannya berhenti di meja, di jendela kelas, atau pada buku yang bahkan tidak sedang ia baca. Seperti ada hal lain yang terus berputar di kepalanya, sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.
Aku juga mulai sering menangkap Raven melamun di tengah pelajaran. Tatapannya kosong, penanya diam di tangannya, berputar pelan di antara jemarinya tanpa pernah benar-benar menyentuh kertas, sementara papan tulis terus dipenuhi tulisan yang bahkan tidak ia salin.
Dan setiap kali melihatnya seperti itu, ada perasaan aneh yang muncul di dadaku—perasaan seperti sedang berdiri di dekat seseorang, tetapi perlahan kehilangan cara untuk benar-benar menjangkaunya.
“Kamu kenapa?” tanyaku suatu kali.
Ia tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Capek aja.”
Aku mengangguk. Menerima jawaban itu, meski ada sesuatu di dadaku yang terasa tidak pas.
Malam-malam menjelang ujian akhir seharusnya penuh dengan kepanikan bersama. Dengan keluhan receh, tawa lelah, dan saling menyemangati.
Tapi malam-malam itu justru terasa sunyi.
Aku mulai bertanya-tanya, dalam diam.
Apa aku yang berubah? Atau memang kami sedang bergerak ke arah yang berbeda?
Pertanyaan itu mengusikku lebih sering dari yang kuinginkan.
Dan tanpa kusadari, pikiranku kembali ke satu masa yang jauh lebih awal. Masa ketika jarak itu pertama kali muncul—juga tanpa alasan yang jelas.
Kelas satu SMA.
Saat itu semuanya masih baru. Gedung sekolah terasa terlalu besar, seragam masih kaku, dan kami masih belajar membaca satu sama lain.
Raven waktu itu belum menjadi seseorang yang terlalu dekat denganku. Kami baru mulai sering berbicara. Baru mulai terbiasa duduk bersebelahan. Baru mulai merasa nyaman.
Sampai suatu hari, semuanya berubah pelan.
Ia mulai datang lebih pagi. Duduk di bangku paling belakang, dekat jendela yang tirainya sering dibiarkan setengah terbuka. Cahaya sore biasanya jatuh tepat di mejanya, tapi ia jarang menoleh keluar. Bahkan ia lebih sering bersama teman-temannya. Tidak lagi menungguku di depan kelas seperti biasanya.
Awalnya aku mengira itu hanya perasaanku.
Mungkin aku terlalu berharap. Mungkin aku terlalu cepat merasa dekat. Tapi hari demi hari berlalu, dan perubahan itu tetap ada.
Raven tidak menjauh secara terang-terangan. Ia masih menyapaku. Masih menjawab jika aku bertanya. Tapi ada tembok tipis yang tiba-tiba berdiri di antara kami.
Aku ingat satu sore sepulang sekolah.
Kami berjalan di koridor yang sama, tapi tidak berdampingan. Langkahnya sedikit lebih cepat dariku.
“Raven,” panggilku.
Ia menoleh. “Kenapa?”
“Lo pulang sekarang?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Oh,” kataku. “Bareng?”
Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, “Kayaknya enggak dulu.”
Kalimat itu diucapkan pelan, tanpa menatapku lama. Tangannya sudah lebih dulu masuk ke saku celana, seolah bersiap pergi bahkan sebelum aku sempat merespons.
Tidak ada alasan. Tidak ada penjelasan.
Aku hanya mengangguk, memaksakan senyum, lalu melihat punggungnya menjauh.
Hari itu aku pulang dengan perasaan aneh—bukan sedih, bukan marah. Hanya kosong.
Aku tidak berani bertanya. Takut terdengar menuntut. Takut kalau ternyata aku bukan siapa-siapa untuk bertanya sejauh itu.
Dan jarak itu bertahan cukup lama.
Sampai suatu hari, tanpa aba-aba, Raven kembali seperti semula. Mengajakku bicara. Duduk di sampingku. Seolah tidak pernah ada jarak di antara kami.
Kami tidak pernah membicarakan masa itu. Tidak pernah mencari penjelasan.
Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, perasaan yang sama kembali menghampiriku.
Jarak yang tidak diumumkan.
Jarak yang tidak dijelaskan.
Bedanya, kali ini aku tahu—jarak ini bukan soal salah paham kecil.
Ini tentang masa depan.
Tentang pilihan.
Tentang arah yang pelan-pelan menjauh.
Aku menatap Raven di seberang meja. Ia sedang fokus pada bukunya. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, menciptakan jarak kecil di antara kami—jarak yang dulu biasanya ia tutup tanpa sadar.
“Kamu kenapa diem?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tersenyum kecil. “Enggak. Lagi mikir aja.”
“Mikir apa?”
Aku ingin menjawab jujur.
Tentang jarak. Tentang rasa takut. Tentang ingatan yang kembali.
Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
“Ujian,” jawabku akhirnya.
Raven tertawa kecil. “Iya, bikin pusing.”
Aku ikut tersenyum. Tapi di dalam, ada perasaan yang sulit kuabaikan.
Kami masih di sini. Masih belajar. Masih bersama.
Tapi entah sejak kapan, aku mulai merasa—aku sedang bersiap kehilangan sesuatu, bahkan sebelum itu benar-benar pergi.
Dan jarak itu…kali ini terasa lebih nyata dari sebelumnya.
...----------------...
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama.
Pagi dengan ujian, siang dengan diskusi singkat, sore dengan kelelahan yang tidak diucapkan. Raven tetap ada di sekitarku, tapi kehadirannya terasa berbeda—seperti bayangan yang tidak lagi sejajar dengan langkahku.
Kami duduk di bangku yang sama saat try out, tapi jarak di antara lutut kami terasa lebih lebar dari biasanya. Tangannya yang dulu sering tak sengaja menyentuh lenganku kini selalu berada rapi di pangkuannya.
Pendingin ruangan terasa terlalu dingin, membuat tanganku sesekali menggosok lengan sendiri. Dulu, Raven sering menyodorkan jaketnya tanpa diminta.
Hal-hal kecil itu yang membuatku sadar.
Bukan karena ia berubah drastis. Justru karena ia terlalu tenang.
Suatu sore, aku menunggunya selesai mengerjakan soal tambahan. Biasanya, ia akan langsung mengeluh, menutup bukunya dengan napas panjang, lalu berkata, “Capek, tapi untung ada kamu.”
Hari itu, ia hanya menutup bukunya, memasukkannya ke tas, lalu berdiri.
“Aku pulang dulu ya,” katanya.
“Iya,” aku refleks berdiri juga. “Bareng?”
Raven ragu sesaat. Sangat singkat, tapi cukup untuk kutangkap.
“Nggak dulu. Aku mau mampir bentar.”
Aku mengangguk, lagi-lagi mengangguk. Gerakan yang belakangan terlalu sering kulakukan.
“Oke. Hati-hati.”
“Kamu juga.”
Ia berjalan lebih dulu. Tidak menoleh. Tidak menunggu. Bahunya terlihat sedikit menegang, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.
Aku berdiri di tempatku cukup lama, sampai koridor mulai sepi dan langkah-langkah kaki lain terdengar jauh.
Perasaan ini… aku mengenalnya.
Perasaan ketika seseorang masih memilih untuk tinggal, tapi tidak lagi sepenuhnya bersamaku.
Malamnya, aku membuka chat lama kami. Pesan-pesan beberapa bulan lalu terasa seperti suara dari kehidupan lain—lebih hidup, lebih hangat.
Aku menemukan satu pesan lama darinya.
Aku nggak tau masa depan gimana, tapi selama kamu di sini, aku ngerasa cukup.
Dadaku terasa sesak. Aku menekan layar ponsel sedikit lebih lama dari seharusnya, seolah kata-kata itu bisa berubah jika kutatap cukup lama.
Bukan karena kata-kata itu bohong.
Tapi karena sekarang, “di sini” kami mungkin tidak lagi berarti tempat yang sama.
Aku ingin bertanya.
Ingin membuka pembicaraan yang selama ini hanya berputar di kepalaku.
Tentang Jawa.
Tentang Balikpapan.
Tapi setiap kali aku hampir melakukannya, ada rasa takut yang menahan. Takut kalau pembicaraan itu justru akan mempercepat jarak yang saat ini masih bisa kuabaikan.
Esoknya, wali kelas kami kembali menyinggung soal rencana kuliah.
“Raven,” panggil beliau, “jadi kamu mau kuliah di jawa?”
Beberapa teman menoleh sambil berbisik pelan. Kursi berderit ketika mereka mengubah posisi duduk, menciptakan suara kecil yang terasa jauh lebih keras di telingaku.
Raven tersenyum sopan. “Masih dipertimbangin, Bu. Antara Balikpapan atau Jawa.”
Tidak ada yang terkejut. Seperti yang memang sudah jadi rahasia umum.
Aku meliriknya. Ia tidak melihat ke arahku.
Balikpapan. Dua jam dari Samarinda.
Masih bisa pulang. Masih bisa bertemu.
Jawa. Pulau yang berbeda. Jarak yang tidak bisa ditempuh dengan rencana dadakan.
Untuk pertama kalinya, perbedaan itu terasa begitu nyata di kepalaku.
Sepulang sekolah, kami berjalan berdampingan, tapi sunyi. Aku memperhatikan langkah kakinya, mencoba menyesuaikan dengan iramaku—atau mungkin aku yang tanpa sadar menyesuaikan diri dengannya.
“Shaira,” katanya tiba-tiba.
“Hm?”
“Kamu capek?”
Aku tersenyum kecil. “Sedikit.”
Ia mengangguk, lalu kembali diam.
Aku hampir tertawa. Ironis sekali—kami lelah pada hal yang sama, tapi tidak lagi saling bersandar.
Malam itu, aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Aku akhirnya mengerti.
Jarak ini bukan karena kurangnya rasa.
Bukan karena salah satu dari kami berhenti peduli.
Jarak ini muncul karena kami mulai memikirkan hidup setelah ini—dan untuk pertama kalinya, gambaran itu tidak sepenuhnya sama.
Dan mungkin, itulah yang paling menyakitkan.
Bukan ketika seseorang benar-benar pergi. Tapi ketika ia masih duduk di sampingmu… sementara pikirannya sudah berjalan jauh lebih dulu.
...----------------...
...Shaira — Aku mulai belajar kehilangan, bahkan sebelum benar-benar ditinggalkan....
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/