NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Awal dari sebuah jarak

Dunia seolah berhenti berputar di taman belakang sekolah itu. Brian berdiri dengan napas yang memburu, menatap dua orang di depannya dengan pandangan yang tidak lagi sama. Rasa percaya yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik setelah mendengar pengakuan itu.

Brian pun pergi meninggalkan Bara dan Aluna yang masih terdiam di taman. Langkahnya terasa berat, namun kemarahan mendorongnya untuk terus menjauh.

Sebelum benar-benar menghilang, ia sempat berbalik, meneriakkan seluruh rasa sesaknya.

"Kalian berdua benar benar jahat, kalian tega bohongi aku," ucap Brian dengan suara pecah, lalu dia berlari sekuat tenaga. Ia tidak ingin mereka melihat air mata yang mulai jatuh di pipinya.

Bara tersentak. Melihat punggung sahabatnya menjauh, ia seolah tersadar dari mimpi buruk. Ia mencoba mengejar, namun langkahnya tertahan oleh rasa sesak di dada.

"Brian, tunggu maafin aku," ujar Bara dengan nada putus asa yang menggantung di udara.

Bara berhenti, bahunya merosot layu. Rasa bersalah mulai menggerogoti jiwanya. Ia merasa benar-benar gagal sebagai seorang sahabat. Ia merasa sangat berdosa karena sudah membohongi sahabatnya sendiri tentang perasaan yang ia pendam lama—perasaan yang ia pikir bisa ia simpan selamanya, namun nyatanya justru menghancurkan segalanya.

Di sisi lain, Aluna hanya bisa diam mematung tanpa sepatah kata. Matanya menatap kosong ke arah kepergian Brian. Baginya, ini sangat menyakitkan. Ia terjebak di tengah kehancuran dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

Tiba-tiba, pertahanan Bara runtuh sepenuhnya. Laki-laki yang biasanya terlihat kuat dan keras itu jatuh berlutut di tanah.

"Lun..Luna maafin aku," ujar Bara sambil bersujud di kaki Aluna. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. "Aku gak nyangka Brian bakal semarah itu."

Aluna menunduk, menatap Bara yang tampak begitu rapuh di bawah kakinya. Hatinya perih melihat Bara seperti itu, namun ia tahu meratapi kesalahan tidak akan mengembalikan keadaan. Dengan perlahan, ia menyentuh bahu Bara, mencoba memberi kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.

"Sudah bar, jangan menangis ini sudah terjadi, kita lewati ini semua bareng bareng," ujar Luna lirih.

Bara menatap Aluna yang masih tampak pucat dan lemas. Ia mencoba menguatkan dirinya sendiri demi gadis di depannya.

"Lun, sebaiknya kita pulang dulu, besok kita bicara baik baik lagi sama Brian siapa tau dia mau dengerin kita," ucap Bara dengan suara parau, mencoba menyelipkan sedikit harapan di tengah keputusasaan yang melanda.

Aluna hanya menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah. Pikirannya masih tertuju pada teriakan Brian yang menyebut mereka jahat. Kata-kata itu terus terngiang, menusuk-nusuk kesadarannya. Namun, ia tahu Bara benar. Tidak ada gunanya mereka tetap di sini saat Brian sudah menjauh entah ke mana.

"Iya bar," jawab Luna lirih.

Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak ada percakapan di sepanjang jalan. Langkah mereka terasa sangat sunyi, berbeda jauh dengan biasanya saat tawa Brian selalu mengisi setiap sudut jalanan sekolah ini. Bara dan Aluna pun pulang dengan membawa beban rahasia yang kini sudah terbongkar sepenuhnya.

******

Malam yang panjang berlalu, namun sisa-sisa kehancuran di taman kemarin masih membekas jelas di wajah Bara dan Aluna. Pagi ini, sekolah tidak lagi terasa seperti biasanya. Lorong-lorong bangunan yang biasanya riuh dengan candaan mereka bertiga kini terasa asing dan dingin.

Bara berjalan di samping Aluna menuju kelas. Langkah mereka pelan, seolah-olah sedang menyeret beban yang amat berat. Sebelum masuk ke pintu kelas, Bara berhenti sejenak, menatap Aluna yang tampak sangat kuyu.

"Lun, sebaiknya kita pulang dulu, besok kita bicara baik baik lagi sama Brian siapa tau dia mau dengerin kita," ujar Bara dengan suara rendah. Ada nada keputusasaan yang tertahan di sana, sebuah harapan kecil bahwa waktu semalam cukup untuk meredam amarah Brian.

Aluna hanya sanggup mendongak sedikit, matanya yang sembab menatap pintu kelas dengan ragu. "Iya bar," sahutnya singkat.

Namun, kenyataan di dalam kelas jauh lebih menyesakkan dari yang mereka bayangkan.

Brian sudah duduk di bangkunya. Ia tidak lagi menatap ke jendela atau melamun. Ia memakai earphone dan menunduk dalam, seolah-olah sedang membangun tembok tinggi yang tak bisa ditembus oleh siapa pun.

Bara mencoba duduk di kursi sebelahnya. Ia menaruh tas dengan pelan, berharap Brian akan menoleh atau setidaknya menunjukkan tanda bahwa dia menyadari keberadaan Bara. Namun, Brian tetap diam. Pengabaian itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan keras.

Aluna yang duduk di belakang mereka hanya bisa terpaku. Ia melihat bagaimana Brian sengaja membuang muka saat ia lewat. Tidak ada sapaan "pagi" yang hangat, tidak ada senyuman yang biasanya menenangkan hatinya. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam di antara mereka bertiga.

Seluruh penghuni kelas mulai merasakan aura aneh itu. Teman-teman yang biasanya melihat mereka tertawa bersama kini hanya bisa berbisik-bisik. Di tengah keriuhan kelas, bangku mereka bertiga seperti zona mati.

Bara berkali-kali melirik Brian dari sudut matanya, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan, namun aura dingin Brian seolah meneriakkan kata "pergi". Aluna di belakang hanya bisa meremas pulpennya, menatap punggung Brian dengan air mata yang hampir jatuh.

Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kelas . Biasanya, suara ini adalah awal dari tawa dan rencana makan siang mereka bertiga. Namun kali ini, bel itu terdengar seperti lonceng Kematian.

Brian beranjak dari tempat duduknya. Tanpa sepatah kata pun, ia melepas earphone-nya, memasukkan buku ke dalam tas dengan kasar, dan langsung berdiri. Gerakannya sangat cepat, seolah-olah setiap detik yang ia habiskan di dekat Bara dan Aluna adalah siksaan.

Bara tidak ingin membiarkan kesempatan ini hilang. Ia teringat niatnya sejak pagi tadi. Dengan cepat, ia menahan lengan Brian sebelum sahabatnya itu melangkah lebih jauh.

"Bri, tunggu. Kita perlu bicara sebentar," ucap Bara dengan nada memohon.

Brian berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Ia menarik lengannya dengan sentakan kasar, melepaskan cengkeraman Bara seolah-olah kulit mereka tidak boleh bersentuhan.

"Gak ada lagi yang perlu diomongin, Bar," sahut Brian dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, yang justru terasa lebih menyakitkan daripada teriakannya kemarin.

Aluna yang sejak tadi memperhatikan dari kursinya, memberanikan diri untuk berdiri dan mendekat. Wajahnya tampak memelas, matanya berkaca-kaca menatap punggung Brian yang tegap namun terasa sangat jauh.

"Bri, tolong... kasih kita waktu lima menit aja buat jelasin," rintih Aluna pelan.

Brian akhirnya menoleh, namun hanya setengah wajah. Sorot matanya yang dulu selalu penuh kehangatan saat menatap Aluna, kini hanya menyisakan kekosongan yang dingin.

"Penjelasan apa lagi, Lun? Penjelasan soal gimana kalian kompak bohongin gue selama ini?" Brian tertawa getir, sebuah suara yang membuat hati Aluna mencelos. "Gue butuh udara segar. Dan udara di sekitar kalian berdua... bikin gue sesak."

Setelah mengatakan itu, Brian melangkah pergi meninggalkan kelas tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya terdengar tegas di lorong sekolah, menjauh dan semakin menjauh.

Bersambung.......

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!