Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Maya mulai memperhatikan hal-hal kecil cara Raka menatap ponselnya, senyum tipis saat menerima pesan, tertawa lebar menerima telpon. Dan cara bicaranya penuh antusias "Laras bilang..." menurut Laras,". Fakta baru juga menunjukkan Raka mulai makan siang di luar kantor—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Maya tidak bertanya, tapi mencatat seperti suhu pasien, mengamati tanaman mulai berubah warna.
Jumat pagi, Maya datang ke kantor Raka tanpa memberitahu, membawa bekal—nasi liwet dengan ayam goreng kuning, favorit Raka sekedar memastikan perasaannya apakah benar atau ia hanya cemburu buta.
Apakah Tuhan yang menunjukkan kebenaran atau iblis tukang provokator ? ia melihat Raka dan Laras berdiri di dekat elevator terlalu dekat.
Gadis itu mengatakan sesuatu, tangannya melayang di lengan dan Raka tersenyum hangat dan malu malu, seperti Maya membangunkan nya dari tidur siang molor .
Maya berdiri di balik pilar marmer, bekal di tangannya terasa berat seperti barbel angkat besi
"May?"
Ia terkejut menoleh, Dika teman satu kantor Raka berdiri dengan kopi di tangan.
"Lo ngapain di sini May?"
"Eh..lu Dik...gue antar bekal," jawabnya singkat datar. "Raka lupa."
Dika melirik ke arah elevator, kedua makhluk itu sudah masuk menutup pintu.
"Oh," kata Dika. Nada yang mengatakan segalanya.
"Apa 'oh'?" tanya Maya lebih tajam dari maksudnya.
Ia mengangkat bahu. "Nggak apa apa, May, gue cuma beritahu ma lo Laras itu mantan Raka? Mereka pacaran sejak lama."
" Gue tahu kok, cuma yang menjadi pilihan Raka tetap Kinan, bukan tiang listrik itu. "
"Lho? " Dika mengernyit, kenapa Lo yang sewot ?"
" Eh..gak pa - pa gue ingin Raka menjaga perasaan istrinya."
" Kinan udah meninggal, May...apa yang harus dijaga?"
Maya merasa sesuatu jatuh di perutnya, dingin seperti batu es, ia sendiri tidak tahu.
"Menurut Lo mereka deket?"
Dika mengangguk polos, seolah tidak berdosa, "Gue liat mereka makan siang bareng hampir tiap hari, pulang bersama kadang. Temen-temen kantor pada bisik bisik aneh." Dika menyeruput kopinya. "Tapi gue nggak percaya. Raka masih... lo tahu betapa sayangnya dia ama Kinan."
Maya tidak menjawab. menatap elevator yang sudah kosong.
"Thanks, Dika ," kata Maya bergegas keluar. "Gue pergi dulu."
Sesampainya di luar gedung ia berdiri di trotoar, menatap gedung kantor tinggi lantai tiga. Jendela terbuka ada bayangan di sana dua bayangan.
Maya membuang bekal ke tempat sampah terdekat. Nasi liwet dengan ayam goreng kuning—empat jam ia masak pagi ini—jatuh di antara botol plastik dan kertas bekas.
Ia tidak menangis belum bisa.
Sore itu, Maya datang ke rumah Raka seperti biasa.membawa sapu dan kain pel, rutinitas. biasa dapat bisa kendalikan ketika dunia terasa goyah.
Raka pulang jam enam terkejut melihat Maya—karena ia tidak mengharapkan? Atau karena ia lupa?
"May," kata Raka, melepas sepatu. "Gue kira lo nggak datang hari ini."
"Gue juga kira," jawabnya terus menyapu. "Tapi gue ada waktu."
Raka duduk di sofa terlihat lelah, konflik yang menggerogoti dari dalam.
"Ada apa?" tanya Maya langsung tanpa basa-basi.
"Maksud lo?"
"Mohon maaf gue gak ingin mengatur hidup lo, dengan siapa lo dekat, Sinta, Tiwi, Laras." Ia berhenti menyapu menatap lurus. "Gue liat lo dan Laras di elevator."
Raka membuka mulut menutup, membuka lagi.
"Itu nggak apa-apa. May, Kita cuma... ngomong soal kerjaan."
"Dengan tangan di lengan, tertawa seperti itu?"Suaranya naik. Maya tidak biasanya seperti ini, ia selalu tenang, mengalah. Tapi sesuatu terpendam sejak lama—meledak.
"May, gue—"
"Lo bilang ke gue lo nggak tahu apa yang lo rasa," potongnya. "Lo bilang Lo bingung. Tapi sekarang lo deket dengannya, pulang bareng, makan siang bareng. Lo pikir gue nggak tahu?"
Raka berdiri. "Gue nggak bilang gue deket. Gue cuma—"
"Cuma apa?"Sapunya jatuh di lantai "cuma jatuh cinta? cuma lupa ama Kinan? pilih dia yang hidup, bukan orang yang juga hidup di sini, nungguin, jagain."
Maya membeku tangan di mulutnya seolah kata-kata itu baru saja keluar tanpa izin.
Raka menatap dengan mata melebar. Terkejut. Atau... terbuka?
"May," bisik Raka. "Lo... lo bilang apa?"
Ia mundur satu langkah, dua langkah menabrak meja."Gue... gue nggak..." ia menggeleng, air matanya jatuh "Gue nggak bermaksud, gue cuma...capek, Ra. Gue cuma mau... mau lo liat gue sekali aja."
Ia berbalik berlari ke arah pintu.
"May!"
Tapi Ia sudah pergi. Motor menyala, suara menjauh, semakin samar, lalu hilang.
Raka duduk di lantai tempat sapu jatuh dimana Maya berdiri.
Ia tidak mengejar belum bisa, tubuhnya terasa berat, penuh dengan sesuatu tidak bisa ia namakan.
"Gue nggak deket sama Laras," bisiknya ke udara kosong. "Gue cuma... gue cuma..."
Ia tidak tahu apa yang ia maksud, apa yang ia cuma.Ponselnya bergetar, "Laras."
"Kita makan siang di luar lagi besok ? Gue tahu tempat soto baru dekat sini."
Raka menatap layar sampai matanya kabur
mengetik:
Raka: "Mohon maaf Ras, gua nggak bisa, ada urusan."
Laras: "Oke. Lain kali?"
Ia tidak menjawab menyimpan ponsel, menatap langit-langit, dan mencoba tidur.
Tidur yang tidak datang.
Maya tidak datang hampir seminggu, Raka mencoba telepon tidak diangkat, pesan tidak dibalas. Ia pergi ke rumahnya—kosong, lampu mati, tetangga bilang ia pulang kampung.
Ia duduk di teras sendirian. Tanaman mulai layu—tidak disiram selama beberapa hari. Ia menyiram, tapi terlambat daunnya sudah kuning.
"Aku gagal sebagai ayah merawat kalian," katanya tergugu, "Gagal menjaga, menjadi ayah yang baik
Angin bertiup tidak ada bau bunga mawar, tanda dan Kinan hanya diam. Atau mungkinkah dia juga marah.
Hari ke enam Maya kembali tampak berbeda—rambut di kuncir lebih rapi, wajah sedikit lebih berisi seolah kampung menyembuhkan sesuatu atau menyembunyikan.
"May," ucap Raka berdiri di pintu ingin memeluk menjelaskan, tapi ia tidak tahu caranya.
"Izinkan gue mengambil beberapa barang," katanya masuk melewatinya dengan dingin, terasa jauh "Gue akan tinggal di rumah ibu beberapa minggu."
"Lo menjauh membuat jarak dari gue?"
Ia berhenti di dalam kamar mengambil beberapa pakaian dari lemari yang dulu ia tinggalkan di sini—untuk apa? Untuk saat-saat seperti ini?
"Jarak dari semuanya," jawabnya getir "Dari lo. Kinan. Dari... dari perasaan yang tidak pernah lo lihat."
Raka meraih tangannya tapi ia menarik cepat
"Jangan, jangan buat ini lebih sulit."
"Gue nggak deket sama Laras," kata Raka cepat. "Gue sudah tolak. Gue... gue nggak tahu apa yang gue rasa, May. Tapi gue nggak mau lo pergi. Itu... itu yang gue tahu."
Maya menatapnya mencari-cari kebohongan tapi tidak ia temukan.
"Tapi lo juga nggak mau gue stay,"balasnya pelan. "Lo cuma nggak mau sendiri, beda, Ra, Itu beda."
Ia pergi dan Raka tidak mengejar. ia tahu—mengejar tidak akan cukup. Kata-kata tidak akan pernah cukup untuk hati.
Di Ruang Tunggu, Kinan menatap jendela, jiwanya memberontak tertekan.
"Mereka berantem,"
"Karena kamu,"
"Karena Aku?"
"Kamu ganggu Laras, dan ia takut. Raka berusaha jaga jarak. Maya melihat, curiga, marah. Efek domino, jatuh satu satu.
Kinan melihat Maya di atas motor, pergi dengan mata merah. Raka di teras dengan kekosongan.
" Aku harus perbaiki,"
"Kamu sudah intervensi terlalu banyak. Energimu—"
"Aku tahu, tapi aku nggak bisa lihat mereka hancur gara gara aku."
"Kamu akan punah, kalau kamu terus begini. tanpa jejak, kenangan. Bahkan di hati Raka sendiri lama-lama akan pudar."
"Kalau gue punah berarti itu harga yang harus gue bayar."
"Pergilah, tapi ingat—cinta sejati bukan cuma tentang memiliki terkadang melepaskan."
Raka masih di teras, sekarang menangis diam-diam. Seperti dulu, saat ia pertama kali tiada.
"Gue belum siap melepaskan," bisiknya
mampir 🤭