NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Sisi Gelap Arfan

Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah, udara terasa mendadak membeku. Arfan masih mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol tajam. Matanya yang biasanya teduh, kini menyala karena amarah yang dingin.

Ia menyaksikan setiap detik kejadian tadi. Mulai dari Aura yang tergelincir, hingga tangan Rio yang lancang mendarat di pinggang gadis itu. Bagi Arfan, Aura bukan sekadar orang yang ia sayangi, Aura adalah miliknya, barang berharga yang sudah ia jaga dan ia incar sejak lama.

"Berani-beraninya dia menyentuhmu, Ra," gumam Arfan dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman.

Arfan mendidih. Ia merasa seperti ada orang asing yang baru saja mengotori mahakarya yang ia rawat dengan sepenuh hati. Di matanya, Rio bukan pahlawan, melainkan pencuri yang berani memegang sesuatu yang bukan haknya. Arfan bahkan tidak peduli kalau tadi Rio berniat membantu, yang ia tahu, tangan kotor cowok itu tidak seharusnya berada di sana.

"Sabar, Arfan... sabar," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan debar jantungnya yang liar. "Bima mungkin bisa menjagamu untuk saat ini, Ra. Tapi pengecut itu... dia harus sadar kalau ada tangan yang seharusnya patah karena sudah lancang menyentuh milik orang lain."

Arfan kembali menatap ke arah gerbang sekolah melalui kaca spion. Aura sudah naik ke motor Bima dan perlahan menjauh. Namun, tatapan Arfan kini beralih sepenuhnya pada Rio yang masih berdiri di trotoar.

Senyum tipis yang mengerikan muncul di sudut bibir Arfan. Sebuah rencana mulai tersusun rapi di kepalanya. Baginya, siapa pun yang berani masuk ke dalam lingkaran antara dia dan Aura, harus siap untuk disingkirkan.

Arfan masih menatap Rio dari kejauhan. Amarahnya tidak lagi meledak-ledak, melainkan mendingin menjadi sebuah rencana yang presisi. Ia melihat Rio hendak menuju parkiran motor siswa yang berada di area menurun dan masih sangat licin karena genangan air hujan.

​Arfan turun dari mobilnya dengan sangat tenang. Ia tidak mendekati Rio. Alih-alih melabrak, Arfan justru berjalan menuju area belakang parkiran yang sepi. Di sana, terdapat sebuah keran air yang memang sedikit bocor, tepat di jalur yang harus dilewati Rio untuk keluar dari sekolah.

​Dengan gerakan yang sangat natural, seolah hanya sedang merapikan tali sepatunya, Arfan menendang sebuah botol plastik berisi sisa oli bekas yang entah sejak kapan ada di sana mungkin milik petugas kebersihan yang tertinggal. Ia membiarkan cairan hitam pekat itu tumpah dan menyatu dengan genangan air hujan yang bening. Di atas aspal yang basah, oli itu tidak terlihat, hanya menciptakan lapisan licin yang mematikan.

​Arfan kembali ke mobilnya, masuk ke dalam, dan memasang sabuk pengaman dengan rapi. Ia menunggu.

​Tak lama, Rio muncul dengan motornya. Cowok itu tampak terburu-buru, mungkin ingin segera pulang. Saat motor Rio melewati tikungan tajam yang sudah "disiapkan" Arfan, ban depannya mendadak kehilangan cengkeraman.

​BRAK!

​Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat motor Rio terseret beberapa meter dan menghantam tiang listrik di pinggir jalan. Rio terjatuh cukup keras, meringis menahan sakit saat kakinya tertindih beban motor. Orang-orang di sekitar langsung berlari menolong, berteriak bahwa jalanan itu memang sangat licin karena hujan.

Sementara itu di sebrang sana, ​Arfan menyandarkan punggungnya di jok mobil, matanya tak berkedip menatap kerumunan orang yang sedang menolong Rio di kejauhan. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati pemandangan itu seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah mahakarya yang sempurna.

​Senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. Suaranya terdengar rendah, nyaris seperti bisikan doa yang mengerikan di dalam kesunyian mobil.

​"Anggap saja ini peringatan kecil, Rio. Kamu seharusnya tahu batas," bisik Arfan dengan tatapan yang sangat tajam.

​"Salahmu sendiri berani menyentuh wanita yang bukan mahrammu... apalagi berani menyentuh wanita milikku. Tanganmu itu perlu belajar caranya menghargai aturan, sebelum aku sendiri yang harus mematahkannya."

​Tanpa ada rasa bersalah sedikit pun, Arfan memutar kemudinya. Ia pergi dengan sangat tenang, meninggalkan kekacauan yang ia buat tanpa meninggalkan jejak. Baginya, itu bukan sekadar kecelakaan, itu adalah karma yang ia kirimkan secara langsung.

...****************...

​Begitu pintu kamar rawat terbuka, langkah Aura yang tadinya terburu-buru mendadak melambat. Di atas bangsal yang dikelilingi bau antiseptik itu, Bunda Syakirah sudah bersandar pada tumpukan bantal. Matanya yang tadinya terpejam, kini perlahan terbuka dan langsung berbinar saat melihat sosok putri bungsunya.

​"Bunda..." bisik Aura. Suaranya bergetar. Ia langsung berlari kecil dan memeluk bundanya dengan sangat hati-hati, takut menyakiti selang infus yang masih menempel di tangan Bunda.

​Bunda tersenyum lemah, tangannya yang terasa dingin namun menenangkan itu mengusap lembut kepala Aura yang masih terbalut kerudung sekolah. "Anak Bunda sudah pulang... gimana ujiannya tadi? Bisa?"

​Aura mendongak, matanya berkaca-kaca tapi bibirnya mengukir senyum lebar. "Bisa, Bunda! Berkat doa Bunda. Tadi Aura sempet pusing sedikit, tapi sekarang pas liat Bunda udah bangun, pusingnya langsung hilang terbang ke langit!"

​Bunda terkekeh pelan, suara tawa yang sangat Aura rindukan. "Kamu ini, bisa saja. Maafin Bunda ya, kemarin sempat bikin kalian panik."

​"Bunda nggak boleh minta maaf," potong Aura manja, ia menyandarkan dagunya di pinggir tempat tidur sambil menggenggam tangan Bunda erat. "Bunda cuma harus fokus sehat. London itu jauh, Bun. Kalau Aura berangkat nanti, Aura harus tahu kalau Bunda di sini sehat-sehat saja, biar Aura tenang belajarnya."

​Bunda terdiam sejenak, menatap wajah Aura dengan kasih sayang yang mendalam. "Aura sayang... London itu impian besar kamu. Bunda bangga sekali. Tapi tadi, pas Bunda tidur, Bunda mimpi ketemu Ayah."

​Suasana mendadak hening. Aura tertegun mendengar nama Ayahnya disebut.

​"Ayah bilang apa, Bun?" tanya Aura pelan.

​"Ayah cuma senyum. Beliau titip salam buat kamu dan Bima. Ayah bilang, jaga diri baik-baik, jangan pernah tinggalin shalat, dan tetap jadi Aura yang lembut hatinya," Bunda mengusap pipi Aura yang mulai basah oleh air mata. "Bunda rasa, Ayah juga mendukung kamu ke London. Tapi Ayah juga pasti ingin kamu ada yang jagain."

​Aura tersenyum kecut, teringat pembicaraan soal Arfan kemarin. Tapi kali ini, ia hanya ingin menikmati momen manis ini. "Ayah selalu tahu yang terbaik ya, Bun. Aura janji bakal jaga diri."

​Bima yang sedari tadi berdiri di dekat pintu sambil bersedekap, akhirnya mendekat. Ia mencoba menutupi matanya yang merah. "Udah, jangan sedih-sedihan terus. Bunda harus makan biar cepet pulang. Ini Bima udah beliin bubur yang enak banget, bukan bubur dari cowok itu."

​Bunda dan Aura tertawa bersamaan mendengar kecemburuan Bima yang tak kunjung hilang.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!