Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: KEBENARAN YANG MENGHANCURKAN
Tubuhnya terasa sangat panas, seolah-olah ada cairan lava yang mendidih dan mengalir deras di dalam pembuluh darahnya, membakar setiap jengkal kesadarannya.
Rasa panas itu begitu menyiksa, seperti berada tepat di jantung gunung berapi yang siap meledak.
'Apa ini? Apa yang terjadi padaku, kenapa tubuhku seperti ini? Apa aku minum minuman beralkohol? Bukankah aku memesan minuman non alkohol?' batinnya.
Dalam kepungan suhu yang tak tertahankan itu, satu-satunya yang ia rasa bisa menyelamatkannya, satu-satunya dermaga tempatnya bersandar, hanyalah pria yang kini berada tepat di hadapannya.
Kirana mencengkeram erat kulit pria itu. Terasa dingin dan halus, memberikan kontras yang luar biasa terhadap panas yang membakar dirinya sendiri.
Kulit pria itu terasa sekeras dan seanggun bongkahan marmer yang dipahat sempurna. Dalam keadaan terdesak antara hidup dan mati, insting bertahan hidup Kirana tidak memberinya pilihan lain.
Ia menyerahkan dirinya sepenuhnya, membiarkan akal sehatnya hanyut ditelan gelombang keinginan yang asing.
Setelah rasa sakit yang tajam itu perlahan memudar, sebuah sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai berterbangan di benaknya.
Rasanya seperti ribuan kembang api yang meledak serentak di dalam pikirannya, menciptakan spektrum warna-warni yang membutakan, namun di saat yang sama membuatnya merasa seolah-olah ia sedang menari di tengah lautan api.
Ia merasa terombang-ambing, hanyut terbawa arus yang sangat kuat, dan hilang dalam labirin gairah tanpa jalan keluar. Benar-benar tak ada jalan keluar.
"Hei, bangun... Bangun, Nona. AC di sini sangat dingin. Jangan tidur di sini, nanti Anda bisa masuk angin."
Sebuah tepukan lembut namun terasa berat di pundaknya seketika menarik Kirana kembali dari alam mimpi.
Matanya terbuka dengan tatapan bingung, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang terang.
Ia melihat seorang perawat berseragam putih berdiri di depannya dengan raut wajah cemas. Kirana merasa sedikit malu saat menyadari bahwa ia baru saja melamunkan hal yang tidak pantas di tempat umum.
Wajah kecilnya yang cantik seketika memerah, memanas hingga ke telinga. Ia segera membuang muka, tak berani menatap langsung mata perawat tersebut karena rasa canggung yang luar biasa.
Astaga, itu sudah terjadi begitu lama. Mengapa aku masih memimpikannya? batinnya dalam hati.
Kilasan kejadian malam itu—malam di mana ia mabuk berat dan berakhir bercumbu dengan Aditya—memang sering kali muncul tanpa diundang dalam mimpinya.
Karena pengaruh alkohol yang terlalu kuat malam itu, Kirana sebenarnya tidak mengingat banyak detail tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ia hanya tahu bahwa setelah malam itu, dunianya berubah. Dan sekarang, ia sering merasa tidak tahu bagaimana cara harus menghadapi Kakak Aditya lagi setelah apa yang mereka lakukan.
Perawat itu, menyadari bahwa pasiennya sudah benar-benar sadar, menyodorkan selembar kertas yang sejak tadi dipegangnya.
"Anda lupa membawa laporan kehamilan Anda! Dokter Rike ingin Anda kembali lagi minggu depan untuk kontrol rutin. Jangan sampai meninggalkannya di sini lagi, ya!" ujar perawat itu mengingatkan.
Kirana menerima laporan medis itu dengan senyum manis yang dipaksakan untuk menutupi kegugupannya.
Ia melipat kertas itu dengan hati-hati dan menyimpannya di bagian terdalam tasnya, seolah-olah itu adalah harta karun yang paling berharga sekaligus rahasia yang paling menakutkan.
Aditya saat ini sedang menempuh studi di luar negeri dan dijadwalkan akan kembali ke Indonesia hari ini.
Ketika Kirana membayangkan pertemuan mereka malam nanti, jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Ada rasa rindu, namun lebih banyak rasa cemas yang menghimpit dadanya.
Karena Aditya pergi ke daerah yang sangat terpencil untuk penelitian lapangannya, Kirana sama sekali tidak bisa menghubunginya selama berbulan-bulan.
Sekarang, usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan. Sebuah rahasia besar yang tumbuh di dalam rahimnya.
Mengingat kemungkinan reaksi Aditya nanti—keterkejutan yang mungkin akan dialami pria itu saat mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang ayah—Kirana merasa seluruh tubuhnya menjadi tegang.
Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang membuatku menjadi agak sensitif dan gelisah? pikir Kirana mencoba menenangkan diri.
Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, Kirana merasa ada sesuatu yang janggal. Ia merasa seolah Aditya tidak akan sebahagia dirinya saat mendengar kabar ini.
Meskipun para dokter di rumah sakit ini selalu meyakinkannya bahwa bagi pria yang akan menghadapi anak pertama, mereka memang sering kali tampak acuh tak acuh, bingung, atau berada dalam tahap penyangkalan pada awalnya.
'Namun… soal pernikahan, aku tidak mungkin langsung membicarakannya sekarang, kan? Rasanya terlalu terburu-buru,' batinnya ragu.
Saat ia melangkah meninggalkan gedung rumah sakit, pemandangan Jakarta menyambutnya dengan langit yang sangat cerah tanpa awan.
Matahari bersinar dengan sangat terik, seolah-olah ingin memanggang aspal jalanan. Sinar ultraviolet yang menyengat membuat Kirana menyipitkan mata.
Sambil menopang pinggulnya yang mulai terasa berat dengan satu tangan—sebuah refleks alami bagi wanita yang sedang hamil besar—Kirana berdiri di tepi jalan, bersiap untuk memanggil taksi.
Namun tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna merah mencolok melaju kencang, membelah kemacetan dengan raungan mesin yang memekakkan telinga, menuju tepat ke arahnya.
Jantung Kirana seolah melompat ke tenggorokan. Dengan rasa ngeri yang membeku, ia segera menyeret kakinya mundur secepat mungkin.
Suara rem yang berdecit nyaring dan menyakitkan telinga menggema di udara saat mobil sport merah itu berhenti mendadak. Moncong mobil itu berhenti hanya beberapa milimeter dari ujung pakaiannya.
Kirana sangat ketakutan. Untuk sesaat, ia merasa jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Seluruh persendiannya lemas, dan ia hampir tidak bisa berdiri tegak jika tidak berpegangan pada tiang lampu jalan.
Dari dalam mobil mewah tersebut, muncullah seorang wanita dengan gaun merah ketat yang sangat berani, memperlihatkan belahan dada yang mencolok.
Wanita itu membuka pintu dengan gaya dramatis. Itu adalah Aruna.
"Aruna, apakah kamu sudah gila?!" teriak Kirana dengan suara bergetar.
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Kirana, Aruna justru tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin dan penuh arti.
Sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, ia berjalan dengan angkuh, melenggang ke arah Kirana. Dengan sepatu hak tingginya yang runcing, ia berdiri tegak dan memandang rendah ke arah Kirana yang berperut buncit.
"Apa? Kau takut aku akan menabrakmu dan membunuh bajingan kecil yang ada di dalam perutmu itu?" tanya Aruna dengan nada meremehkan.
Mendengar kata-kata kasar itu, Kirana secara refleks langsung melindungi perutnya dengan kedua tangan. Ia mundur beberapa langkah lagi, menatap Aruna dengan tatapan waspada dan penuh kecemasan.
"Aruna, jangan melewati batas! Kau sudah keterlaluan!" ujar Kirana memperingatkan.
Kirana selalu tahu bahwa sejak ia kembali ke keluarga ini, Aruna selalu bersikap bermusuhan dan penuh kebencian terhadapnya.
Namun, Kirana tidak pernah menyangka bahwa Aruna bisa setega itu mengucapkan kata-kata yang begitu beracun terhadap janin yang tidak berdosa.
"Aku yang melewati batas? Lucu sekali. Seharusnya kau yang berkaca, siapa yang sebenarnya melewati batas!" Aruna mencibir, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Mabuk-mabukan di malam hari, lalu hamil anak orang asing yang tidak jelas asal-usulnya. Dan hebatnya, kau masih berencana ingin menjadikan Aditya sebagai ayah pengganti untuk menutupi aibmu. Ck, ck… Kirana, apakah kau benar-benar sudah tidak punya muka lagi?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Kirana. Ia terdiam mematung, lidahnya terasa kelu. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia bertanya,
"Apa… apa yang baru saja kau katakan?"
"Kau, apakah kau benar-benar sebodoh itu sampai percaya bahwa orang yang tidur denganmu malam itu adalah Aditya?" Aruna tertawa lagi, kali ini terdengar histeris dan penuh ejekan.
"Kau selalu membanggakan bahwa kau tumbuh besar bersama Aditya, bahwa kalian adalah kekasih masa SMA yang tak terpisahkan, namun kau bahkan tidak tahu seperti apa bentuk tubuh pria yang kau cintai itu?"
Setiap kata yang keluar dari mulut Aruna terasa seperti belati yang menghujam jantung Kirana.
Wajahnya yang semula merona karena panas matahari, kini semakin pucat seputih kertas setiap kali Aruna melanjutkan kalimatnya.
Berdiri di bawah terik matahari Jakarta yang membara seperti ini, Kirana justru merasa seluruh tubuhnya menjadi sedingin es.
Benar sekali, pikirannya mulai berputar liar. Pria malam itu…
Dulu, ia berpikir bahwa mungkin karena efek pubertas atau karena mereka sudah lama tidak bertemu, tubuh Aditya menjadi jauh lebih besar dan lebih kuat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, setelah diingatkan secara kejam oleh Aruna, sebuah ingatan yang selama ini ia tekan muncul ke permukaan.
Ia tiba-tiba tersadar bahwa selain perawakannya yang tegap, tidak ada satu pun detail lain pada pria itu—aroma tubuhnya, suaranya yang parau, hingga sentuhannya—yang menyerupai Aditya yang ia kenal.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu sekarang juga, mumpung aku sedang berbaik hati!" Aruna mendekat, berbisik tepat di telinga Kirana dengan nada jahat.
"Malam itu, kau minum yang sudah kucampur dengan sesuatu yang sangat spesial. Kau terlihat begitu bernafsu dan sama sekali tidak puas, sehingga aku berniat mencarikan dua pria jalanan yang baik untuk melayanimu."
"Siapa sangka kau justru tidak menghargai kebaikanku? Kau malah menerobos masuk ke kamar orang asing secara acak dan memanfaatkan pria malang itu untuk memuaskan dirimu sendiri…"
Aruna menatap Kirana dengan tatapan jijik yang amat sangat.
"Bang Aditya terlalu lembut dan terlalu baik hati untuk orang sepertimu. Ketika kau terbangun dalam keadaan kacau, dia merasa kasihan."
"Dia takut kau tidak akan sanggup menerima kenyataan pahit bahwa kau telah dinodai oleh orang asing, jadi dia memutuskan untuk berbohong dan memberitahumu bahwa dialah pelakunya malam itu!"
"Kau…" Kirana mulai gemetar hebat. Seluruh sendinya bergetar karena amarah dan rasa hancur yang bercampur menjadi satu. Ia akhirnya tidak tahan lagi dan dengan emosi yang meluap, ia meraih lengan Aruna dengan kencang.
"Kenapa kau tega memperlakukanku seperti ini? Kenapa?! Bukankah selama ini kau sudah cukup menyiksaku dan memperlakukanku dengan buruk di rumah itu?"
Aruna mengerutkan kening karena lengannya dicengkeram, dan tepat saat ia hendak mendorong Kirana pergi dengan kasar, sudut matanya menangkap sosok Aditya yang sedang berjalan mendekati mereka dari kejauhan, tepat di belakang posisi Kirana berdiri.
Dalam sekejap, ekspresi wajah Aruna berubah drastis. Suaranya yang semula tajam langsung melunak menjadi rintihan kecil, dan wajahnya berubah menjadi sangat memilukan, seolah-olah dialah korbannya.
"Kak Kirana, aku tahu aku salah. Aku minta maaf… Jika Kakak ingin memukulku atau memarahiku untuk meluapkan kemarahanmu, lakukan saja padaku. Aku akan menerimanya. Tapi tolong, jangan salahkan Bang Aditya… dia hanya ingin melindungimu…"
Kirana terdiam sejenak, bingung dengan perubahan sikap Aruna yang tiba-tiba. Namun sedetik kemudian, tanpa peringatan, Aruna menjatuhkan dirinya ke aspal jalanan dengan dramatis, seolah-olah Kirana baru saja mendorongnya dengan tenaga yang sangat kuat.
"Kirana! Apa yang kau lakukan?!" Sebuah suara bariton yang penuh nada menuduh terdengar dari arah belakang.
Kirana tersentak dan berbalik. Di sana berdiri Aditya, pria yang selama ini ia tunggu-tunggu, kini menatapnya dengan pandangan yang sama sekali tidak ramah, bahkan cenderung penuh amarah.
Aditya segera melewati Kirana begitu saja, bahkan bahu mereka sempat bersenggolan, dan langsung menghampiri Aruna untuk membantunya berdiri.
"Aruna, apakah kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanya Aditya dengan nada sangat cemas.
Aruna menempelkan hampir seluruh tubuhnya ke pelukan Aditya, terisak kecil yang dibuat-buat.
"Bang Aditya, aku tidak bermaksud memancing kemarahan Kakak Kirana. Aku benar-benar tahu aku salah… semua ini terjadi hanya karena aku merasa sangat bersalah telah berbuat buruk pada Kak Kirana di masa lalu…"
"Cukup! Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, kau punya aku sekarang. Aku yang akan menjagamu!" Aditya menepuk-nepuk bahu Aruna dengan lembut dan membimbingnya masuk ke dalam mobil sport merah itu dengan penuh perhatian.
"Tunggulah di dalam. Aku akan menjelaskan semuanya pada Kirana."
Pikiran Kirana mendadak kosong, seperti televisi yang kehilangan sinyal. Ia hanya bisa berdiri mematung saat melihat Aditya melangkah kembali mendekatinya. Pria itu membuka mulutnya dan mulai berbicara.
Aditya berbicara cukup lama di bawah terik matahari itu.
Ia mulai bercerita tentang masa lalu mereka, tentang kenangan masa SMA yang ia sebut sebagai 'kebahagiaan semu'.
Ia bercerita tentang perjuangan batin yang luar biasa berat yang ia lalui ketika ia menyadari bahwa sebenarnya ia telah jatuh cinta pada Aruna.
Ia bercerita tentang bagaimana kemarahan dan amarahnya sempat meluap ketika ia pertama kali mengetahui bahwa Aruna telah bersekongkol untuk menjebak Kirana malam itu.
Namun kemudian, Aditya melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
Ia bercerita tentang rasa takut dan penyesalan yang mendalam yang ia rasakan ketika mengetahui Kirana ternyata hamil akibat kejadian salah kamar itu.
Ia bercerita tentang bagaimana ia akhirnya tidak bisa membenci Aruna dan memilih untuk menerima permintaan maaf wanita itu karena cintanya yang terlalu besar.
Pada akhirnya, dengan tatapan dingin, ia berkata, "Kirana, maafkan aku. Aku tidak bisa menikahimu. Ini bukan hanya karena kejadian malam itu, atau karena anak di kandunganmu yang sejak awal memang tidak kuinginkan."
"Alasan utamanya adalah karena aku tidak bisa berbuat salah pada Aruna dengan tetap bersamamu, dan karena aku tidak bisa terus membohongi diriku sendiri tentang perasaanku yang sebenarnya."
Aditya menjelaskan bahwa selama beberapa bulan terakhir saat mereka berada di luar negeri, ia dan Aruna telah menghabiskan waktu bersama siang dan malam.
Kedekatan itu membuat perasaannya pada Aruna semakin dalam, sehingga kini lebih sulit baginya untuk berpisah dari wanita itu.
Meskipun awalnya ia berniat meringankan penderitaan Kirana dengan berpura-pura menjadi pria yang menghamilinya, namun di dalam lubuk hatinya, ia sudah lama memilih Aruna.
Itulah sebabnya, tak lama setelah mengetahui Kirana hamil, ia sebenarnya sudah diam-diam menemui keluarga besar mereka dan menjelaskan semuanya kepada Tuan Kedua keluarga tersebut.
Meskipun ia sudah jujur pada keluarga, ia justru pengecut karena belum berani mengatakan yang sebenarnya kepada Kirana sampai hari ini.
"Jadi maksudmu... Aditya... sejak awal, kau sudah tahu bahwa Aruna-lah yang membiusku? Kau tahu dia yang merusak kepolosanku dan menghancurkan hidupku?"
Suara Kirana akhirnya keluar, namun terdengar sangat hampa.
Ia hanya bisa menatap Aditya dengan pandangan kosong yang menyakitkan. "Hanya karena kau ingin melindunginya, kau memilih untuk berbohong dan membiarkan aku percaya bahwa orang itu adalah kau?"
"Kirana, tolong mengertilah. Aruna tidak bermaksud jahat seperti itu. Dia masih sangat muda saat itu, dia hanya bertindak impulsif karena emosi sesaat…"
"Lalu bagaimana denganku?!" Kirana memotong dengan teriakan yang penuh keputusasaan. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apakah kau tidak pernah sekalipun, bahkan sedetik saja, mempertimbangkan bagaimana hancurnya perasaanku jika aku yang harus mengalami semua penderitaan ini?"
Aditya terdiam. Terjadi keheningan yang cukup lama dan menyesakkan di antara mereka. Aditya tampak ragu, sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan untuk mencoba meraih tangan Kirana, mungkin sebagai bentuk simpati terakhir.
"Mataharinya terlalu panas, Kirana. Sebaiknya ayo kita pulang dulu, kita bicarakan ini di rumah…"
"Jangan sentuh aku!" Kirana segera menepis tangan Aditya dengan kasar. Ia mundur selangkah dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
Tawa yang terdengar sangat getir dan menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Pada saat itu, Kirana merasa bahwa seluruh hidup yang ia jalani hingga detik ini hanyalah sebuah lelucon besar yang sangat buruk.
Demi Aditya, ia telah bekerja keras siang dan malam, belajar hingga larut demi bisa menembus seleksi di Universitas Gajah Mada agar bisa berada di kota yang sama dengan pria itu.
Demi Aditya, ia bahkan rela mengubur mimpinya yang paling besar untuk menjadi seorang aktris terkenal, karena ia tahu keluarga Aditya tidak menyukai wanita yang bekerja di dunia hiburan.
Agar status sosial keluarga mereka dianggap setara oleh orang-orang di lingkaran elit Jakarta, ia bahkan tega mengesampingkan orang tua angkatnya yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang di desa, hanya demi kembali ke keluarga biologisnya yang dingin, Keluarga Yudhoyono.
Ia dengan bodohnya mencoba segala cara untuk menyenangkan hati orang-orang yang disebut kelas atas itu, hanya agar ia layak bersanding di samping Aditya.
Dan sebagai hasil dari semua pengorbanan dan cinta butanya, apa yang ia terima? Ia hanya menerima satu kalimat kejam: "Aku tidak bisa berbuat salah pada Aruna."
Aruna tidak hanya mencuri identitas aslinya sebagai putri kandung keluarga ini selama bertahun-tahun, tidak hanya mencuri kasih sayang orang tua kandungnya, tetapi hari ini… wanita itu bahkan mencuri pria yang paling ia cintai di dunia ini.
Aruna memang masih muda, tapi apakah usia bisa menjadi alasan untuk membenarkan tindakan sekeji itu?
Jika Kirana harus memaafkannya, lalu kepada siapa ia harus menimpakan kesalahan atas segala kemalangan dan kehancuran hidupnya?
Ia bahkan tidak tahu siapa identitas pria yang telah menidurinya malam itu!
Kirana menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya gemetar hebat, bahunya terguncang karena ia telah benar-benar mencapai batas terbawah dari keputusasaannya.
Dunia di sekitarnya seolah runtuh.
Aditya memperhatikan Kirana yang tampak linglung dan mulai berjalan tanpa arah.
Tanpa sadar, Kirana mulai menyeberang jalan raya yang padat tanpa memperhatikan lampu lalu lintas.
Aditya yang melihat itu panik dan hendak mengejarnya, namun dari belakang, Aruna segera menarik lengan bajunya dengan kuat.
"Bang Aditya, kau mau pergi ke mana? Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!" rengek Aruna.
Saat Aditya ragu-ragu sejenak antara mengejar Kirana atau menenangkan Aruna, tiba-tiba terdengar suara dentuman logam yang sangat keras.
Tubuh Kirana terpelanting ke tengah jalan setelah ditabrak oleh sebuah kendaraan yang melaju kencang. Ia menghantam aspal dengan sangat keras.
"Tolong! Tolong! Ada wanita hamil tertabrak mobil!" teriak orang-orang di sekitar lokasi kejadian.
Dalam cahaya matahari yang menyilaukan dan kesadaran yang mulai menipis, Kirana masih sempat melihat dua siluet manusia yang berdiri tak jauh darinya.
Bayangan wajah-wajah itu membuatnya merasa mual dan ingin muntah di saat terakhirnya. Ia merasakan perutnya mengalami kram yang luar biasa hebat, rasa sakit yang seolah-olah merobek tubuhnya menjadi dua.
Perlahan, ia mulai kehilangan kesadaran. Kirana berkedip pelan, merasakan darah hangat yang menetes dari dahinya mulai mengalir masuk ke matanya, mengaburkan pandangannya dengan warna merah tua, sebelum akhirnya ia benar-benar memasuki dunia kegelapan yang sunyi.
Bersambung.....