Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PECAHNYA CANGKANG INGATAN
BAB 32: PECAHNYA CANGKANG INGATAN
Malam di kediaman Vashishth terasa sangat menekan. Arlan duduk di lantai paviliun, kepalanya berdenyut kencang seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Sejak kedatangan Hendra ke rumah ini untuk menemui Vanya, Arlan merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Setiap kali melihat wajah Hendra, sebuah bayangan gelap muncul: sebuah gudang tua, bau kayu yang terbakar, dan rasa sakit yang luar biasa di bagian belakang kepalanya.
"Arlan, makanlah sup ini," ucap Ibu Sujati lembut, mencoba menyuapi putranya yang masih dalam kondisi mental seperti anak kecil.
Arlan menepis tangan ibunya. Matanya merah, bukan karena marah pada Sujati, tapi karena perjuangan di dalam otaknya. "Ibu... pria itu. Pria tua yang datang menemui Vanya tadi. Aku mengenalnya. Dia... dia jahat."
Sujati membeku. Ini adalah pertama kalinya Arlan menyebut nama seseorang dengan emosi yang begitu kuat sejak kecelakaan di Simla. "Siapa yang kau maksud, Nak? Itu adalah ayah Vanya."
"Bukan!" raung Arlan tiba-tiba. Dia berdiri, memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Dia bukan sekadar ayah! Dia yang memegang kayu itu! Dia yang tertawa saat aku bersimbah darah!"
Di gedung utama, Vanya sedang berdiri di balkon, menatap kegelapan. Dia tidak tahu bahwa di paviliun, Arlan sedang mengalami pergolakan hebat. Tiba-tiba, ia mendengar suara teriakan yang sangat keras dari arah paviliun. Tanpa berpikir panjang, Vanya berlari menuruni tangga, mengabaikan Rayhan yang sedang berbicara dengan ajudannya di ruang tamu.
"Arlan! Ada apa?!" Vanya menerjang masuk ke paviliun.
Dia menemukan Arlan sedang mengamuk, melempar barang-barang ke dinding. Arlan tampak seperti singa yang terluka. Saat Arlan melihat Vanya, dia berhenti. Napasnya memburu. Dia berjalan perlahan mendekati Vanya, matanya yang tadinya kosong kini berkilat tajam—kilatan yang sangat dikenal Vanya sebagai kilatan mata "Atharva" yang dulu.
"Simla..." bisik Arlan. Suaranya tidak lagi cadel atau manja. Suaranya berat dan penuh wibawa.
Vanya terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Arlan? Kau... kau memanggilku apa?"
"Aku memanggilmu Vanya... pengantin kecilku yang malang," ucap Arlan. Dia menyentuh wajah Vanya dengan tangan yang gemetar. "Aku ingat janji di depan api suci. Aku ingat bagaimana Hendra memerintahkan orang-orangnya untuk membunuhku agar kau bisa menikahi perwira ini."
Arlan menoleh ke arah pintu, di mana Rayhan berdiri dengan wajah penuh keterkejutan.
"Arlan? Kau sudah ingat?" tanya Rayhan pelan.
Arlan tertawa, sebuah tawa getir yang menyayat hati. "Aku ingat semuanya, Mayor. Aku ingat bagaimana aku dipukuli seperti binatang. Aku ingat bagaimana Ibuku dihina. Dan aku ingat bahwa wanita yang berdiri di depanku ini... adalah milikku sebelum kau memberikan cincin dan nama belakangmu padanya."
Konfrontasi itu meledak seketika. Arlan melangkah keluar dari paviliun menuju gedung utama, menuju tempat di mana Hendra sedang duduk santai di ruang tamu sambil menyesap teh bersama Suman.
Hendra mendongak, bersiap untuk memberikan komentar sinis pada "si cacat" Arlan, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat melihat cara Arlan berjalan. Arlan tidak lagi berjalan dengan ragu. Dia berjalan dengan dada tegap dan tatapan yang mampu membunuh.
"Tuan Hendra Kashyap," sapa Arlan dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan. "Lama tidak berjumpa sejak malam di gudang Simla itu."
Hendra menjatuhkan cangkir tehnya. Gelas itu hancur berkeping-keping di lantai, sama seperti rencana jahatnya yang mulai retak. "Kau... kau sudah sembuh?"
"Aku lebih dari sekadar sembuh," Arlan berdiri di depan Hendra, menjulang tinggi. "Aku adalah saksi hidup dari setiap kejahatanmu. Kau pikir dengan menghancurkan kepalaku, kau bisa menghapus namaku? Kau pikir dengan menjual putri-mu pada keluarga Vashishth, kau bisa mencuci tanganmu?"
Suman berdiri, mencoba membela martabat rumahnya. "Beraninya kau bicara seperti itu di rumahku! Rayhan, usir dia!"
"Diam, Nyonya!" bentak Arlan, membuat Suman terkesiap. "Kau juga bagian dari ini. Kau menerima pernikahan ini karena kau ingin menutupi jejak suamimu yang pengecut. Kalian semua adalah sekelompok pembohong yang bersembunyi di balik seragam dan kekayaan!"
Rayhan melangkah di antara Arlan dan ibunya. "Arlan, kendalikan dirimu. Aku senang kau sudah ingat, tapi ini rumahku. Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan ini."
"Cara yang lebih baik?" Arlan mencengkeram kerah baju Rayhan. "Kau bicara soal cara yang baik setelah kau mengambil tunanganku saat aku tidak berdaya? Kau membiarkan istrimu menangis setiap malam karena dia merindukanku, dan kau menyebut itu 'perlindungan'?"
Vanya berlari ke tengah, mencoba melerai mereka. "Arlan, lepaskan dia! Rayhan tidak tahu apa-apa tentang rencana Ayahku! Dia juga tertipu!"
Arlan melepaskan Rayhan dengan kasar. Dia menatap Vanya dengan rasa sakit yang luar biasa. "Dan kau, Vanya... bagaimana kau bisa tetap tinggal di sini? Bagaimana kau bisa mengenakan perhiasan mereka sementara darahku masih membekas di tanah Simla?"
Vanya jatuh berlutut, terisak. "Aku melakukannya untukmu, Arlan! Hendra mengancam akan membunuhmu jika aku tidak menikah dengan Rayhan! Aku menjadi tawanan agar kau bisa tetap bernapas!"
Arlan terdiam. Pernyataan Vanya menghantamnya lebih keras daripada balok kayu manapun. Dia menyadari bahwa selama dia hidup dalam kegelapan amnesia, Vanya hidup dalam neraka pengorbanan.
Hendra, yang melihat situasi mulai tak terkendali, mencoba melarikan diri menuju pintu. Namun Arlan lebih cepat. Dia menghadang Hendra dan mencengkeram leher pria tua itu.
"Jangan pergi dulu, Tuan Hendra," desis Arlan di telinga Hendra. "Permainan baru saja dimulai. Aku akan mengambil kembali setiap jengkal tanahku, setiap tetes air mata ibuku, dan yang paling penting... aku akan mengambil kembali wanitaku. Kau akan membusuk di penjara, dan aku akan memastikan kau melihatku bahagia saat kau diseret ke balik jeruji besi."