NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA TAHUN KEMUDIAN

Tiga tahun berlalu seperti angin.

Aku sekarang berusia tujuh tahun—tapi tubuhku seperti anak dua belas tahun. Tinggi hampir seratus lima puluh sentimeter. Otot terbentuk jelas dari latihan tanpa henti. Bekas luka kecil di lengan dan kaki—bukti dari ribuan sparring dan pertarungan.

Sabo sekarang sepuluh tahun, tingginya bahkan sudah menyamaiku. Gerakannya makin cepat, makin presisi. Tongkat besinya berganti jadi pipa besi yang lebih berat—senjata improvisasi yang dia kuasai dengan sempurna.

Dan Luffy—bocah berusia empat tahun yang sekarang sudah sangat aktif dan cerewet—tumbuh dengan keceriaan yang tidak pernah pudar. Dia selalu mengikuti kami latihan, mencoba meniru gerakan kami meski sering jatuh dan gagal.

"ACE-NII! SABO-NII! TUNGGU AKU!" Luffy berlari tertatih mengejar kami yang sedang lari pagi dengan beban di punggung.

"Luffy, kau masih kecil. Istirahat saja di gubuk," aku berkata sambil terus berlari.

"TIDAK MAU! Luffy mau kuat kayak kalian!"

Semangat yang tidak pernah surut. Itu Luffy.

"Biarkan dia ikut, Ace. Lagipun dia butuh latihan fisik juga," Sabo menyarankan.

"Tapi dia baru empat tahun—"

"Kau mulai latihan serius di usia yang sama. Kenapa Luffy tidak boleh?"

Dia benar. Aku tidak bisa melarang Luffy kalau aku sendiri sudah mulai di usia sama.

"Baiklah. Tapi kalau kau capek, bilang! Jangan dipaksa sampai pingsan!"

"YOSH! Luffy akan kuat!" dia tersenyum lebar—senyum yang selalu bikin suasana lebih cerah.

Kami berlari bersama pagi itu. Luffy tertinggal jauh—kakinya pendek jadi tidak bisa lari secepat kami. Tapi dia tidak menyerah. Terus lari dengan napas terengah-engah tapi wajah penuh tekad.

"Bocah itu keras kepala persis kakaknya," Sabo berkomentar sambil tersenyum.

"Bukan keras kepala. Hanya... tahu apa yang diinginkan dan tidak mau menyerah."

"Itu definisi keras kepala."

Kami tertawa.

Kehidupan tiga tahun terakhir adalah rutinitas yang konsisten—latihan pagi dengan Yamamoto, makan siang bersama Dadan dan anak buahnya, latihan sore di hutan atau pantai, makan malam, lalu istirahat.

Sesekali Garp datang untuk latihan brutal seminggu atau dua minggu. Sesekali ada bajak laut bodoh yang coba ganggu tapi kami usir dengan mudah—reputasi kami sebagai "anak-anak monster di Dawn Island" sudah menyebar cukup luas.

Tapi yang paling berubah adalah kekuatan kami.

Siang itu, Yamamoto memanggil kami ke area latihan dengan ekspresi serius.

"Hari ini aku akan test seberapa jauh kalian berkembang. Sparring full contact. Aku melawan kalian berdua sekaligus. Kalian boleh gunakan apapun—senjata, Devil Fruit, Haki, strategi kotor. Tujuan: bikin aku terluka. Kalau berhasil, aku anggap kalian lulus dari latihanku."

Lulus. Artinya dia anggap kami sudah cukup kuat untuk tidak butuh pengawasannya lagi.

"Berapa lama waktu yang diberikan?" Sabo bertanya.

"Tidak ada batas waktu. Bertarung sampai kalian berhasil atau kalian tidak bisa bergerak lagi."

"Aturan lain?"

"Jangan bunuh. Selain itu, bebas."

Kami saling menatap. Lalu mengangguk.

Ini kesempatan membuktikan hasil latihan tiga tahun terakhir.

Yamamoto mengambil stance—pedang di sarung, tangan di gagang, mata fokus tajam.

"Mulai kapan kalian siap."

Aku dan Sabo bergerak terpisah—mengapit dari dua sisi. Strategi dasar tapi efektif.

Aku serang duluan—sprint cepat dengan tinju kanan menyala api dan dilapisi Armament Haki.

Yamamoto tarik pedang—SHING!—block dengan mudah.

Tapi itu distraksi. Sabo sudah bergerak dari belakang—swing pipa besi ke arah kaki.

Yamamoto lompat—hindari swing Sabo dan kick ke arah kepalaku di udara.

Aku duck—kick melewati dengan jarak sejengkal. Langsung counter dengan uppercut berapi.

Yamamoto twist tubuh di udara—hindari uppercut dan landing dengan sempurna.

"Koordinasi bagus! Tapi masih kurang cepat!"

Dia menyerang balik—slash horizontal cepat ke arah kami berdua.

Aku block dengan tangan dilapisi Armament. Sabo parry dengan pipa.

CLANG! CLANG!

Getaran kuat. Tapi kami bertahan.

"Sekarang!" Sabo berteriak.

Kami sudah latihan kombinasi ribuan kali. Tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu kata.

Aku ubah tubuh bagian atas jadi api—menyebar jadi awan api yang mengelilingi Yamamoto. Menghalangi pandangan.

Sabo bergerak cepat dengan Observation Haki maksimal—tusuk dari tiga sudut berbeda dalam sekejap.

Yamamoto block semua dengan pedang berputar—tapi pertahanannya mulai terpaksa mundur.

"Tekanan bagus!"

Aku reform di belakangnya—buat tombak api besar dan lempar dari jarak dekat.

Yamamoto putar tubuh—slash tombak jadi dua. Tapi ledakan api dari tombak menciptakan asap tebal.

Di dalam asap, kami menyerang dari segala arah—tidak kasih waktu bernapas.

Lima menit pertarungan berlalu. Yamamoto belum terluka sama sekali—pertahanannya sempurna. Tapi dia mulai berkeringat—tanda kami memberi tekanan serius.

"Kalian berkembang luar biasa! Tapi masih belum cukup!"

Dia mulai serang balik dengan serius—slash beruntun sangat cepat yang hampir tidak terlihat.

Aku gunakan Observation Haki penuh untuk prediksi. Sabo juga sama.

Kami bergerak sinkron—dodge, parry, counter, mundur, serang lagi. Seperti tarian mematikan.

Sepuluh menit. Lima belas menit. Dua puluh menit.

Pertarungan berlangsung intens tanpa henti. Keringat bercucuran. Napas mulai berat. Tapi tidak ada yang mau mundur.

"ACE! RENCANA GAMMA!" Sabo berteriak tiba-tiba.

Rencana Gamma. Kombinasi terakhir yang kami latih khusus untuk lawan sangat kuat.

Aku langsung mengerti. Mundur menciptakan jarak—kumpulkan energi maksimal.

Sabo bergerak maju—serang Yamamoto dengan kombinasi cepat untuk distraksi.

Aku fokus. Energi spiritual mengalir ke tangan. Api menyala sangat terang—panas meningkat drastis sampai warna berubah dari oranye jadi putih kebiruan.

Tapi kali ini tidak berhenti disana. Aku tekan lebih jauh. Lebih panas. Lebih padat.

Api putih berubah jadi api biru terang—suhu jauh melebihi White Flame sebelumnya.

"HIKEN: BLUE INFERNO SPEAR!"

Tombak api biru sebesar batang pohon meluncur dengan kecepatan luar biasa—udara di sekitarnya mendistorsi karena panas ekstrim.

Yamamoto mata melebar—untuk pertama kali terlihat terkejut serius.

Dia tarik pedang dan lapisi dengan Armament Haki penuh—HARDENING maksimal.

"HIRYU KAEN: SINGLE FLASH!"

Slash terkuatnya—gelombang energi pedang bertemu dengan tombak api biru.

BOOOOOMMM!

Ledakan besar. Tanah meledak jadi kawah. Pohon-pohoh di sekitar terbakar. Gelombang shock menyebar kemana-mana.

Saat asap dan debu menipis—

Yamamoto berdiri dengan pedang masih teracung. Tapi—

Ada goresan kecil di lengan kanannya. Darah menetes pelan.

Hening total.

Lalu Yamamoto tersenyum lebar—senyum puas.

"Kalian... berhasil. Kalian benar-benar berhasil melukaiku."

Dia menurunkan pedang dan menyarungkan kembali.

"Aku deklarasikan—Portgas D. Ace dan Outlook Sabo—kalian LULUS dari latihanku."

Kami kolaps lega. Energi habis total tapi hati penuh kepuasan.

"Tiga tahun latihan keras membuahkan hasil. Kalian sekarang setara dengan bajak laut kuat di Paradise—bagian pertama Grand Line. Mungkin bounty lima puluh sampai seratus juta level."

Pujian besar. Paradise adalah tempat dimana bajak laut dari empat Blues berkumpul sebelum masuk New World—tempat monster sesungguhnya.

"Tapi jangan sombong. Masih banyak yang lebih kuat. Admiral, Yonko, Shichibukai—mereka semua level yang sangat berbeda. Bahkan aku tidak yakin bisa menang melawan mereka."

Dia berjalan mendekat dan bantu kami berdiri.

"Mulai sekarang, kalian latihan mandiri. Aku tidak akan awasi lagi. Tapi kalau butuh saran atau sparring partner, aku tetap disini."

"Terima kasih, Yamamoto-sensei," kami membungkuk hormat. "Untuk semua yang sudah diajarkan."

"Tidak perlu berterima kasih. Kalian yang kerja keras. Aku cuma tunjukkan jalan."

Malam itu, Dadan membuat pesta besar untuk rayakan kelulusan kami.

"Anak buahku yang dulu lemah sekarang jadi monster!" Dadan berteriak sambil minum sake. "Aku bangga tapi juga sedih! Kalian akan segera pergi kan?!"

"Belum," aku menjawab. "Kami masih mau tunggu Luffy besar. Berlayar bersama."

"Luffy?" Dadan menatap bocah kecil yang sedang tidur di kasur. "Dia masih empat tahun. Kalian mau tunggu sampai kapan?"

"Setidaknya sampai dia tujuh tahun. Cukup besar untuk latihan serius," Sabo menjawab.

"Tiga tahun lagi..." Dadan tersenyum miris. "Baiklah. Tiga tahun lagi kalian akan pergi. Dan rumah ini akan sepi sekali."

"Kami akan kembali sesekali. Ini tetap rumah kami," aku berjanji.

Dadan mengusap mata yang berkaca-kaca—dia tidak mau terlihat menangis.

"Dasar anak-anak... bikin ibu tua ini sedih..."

Kami memeluknya bersama—pelukan keluarga yang hangat.

Tiga tahun lagi. Tiga tahun sebelum Luffy cukup besar untuk mulai latihan serius.

Dan mungkin... enam atau tujuh tahun lagi sebelum kami benar-benar berlayar.

Masih panjang waktunya. Tapi kami akan gunakan dengan bijak.

Jadi lebih kuat. Jadi lebih siap.

Karena Grand Line menunggu.

Dan bersamanya—takdir yang harus diubah.

Api takdir berkobar paling terang.

Siap membakar jalan menuju masa depan yang berbeda.

Menuju kebebasan yang sesungguhnya.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!