"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBEBASAN DI HADAPAN DUNIA
Acara dimulai dengan sambutan dari Duke Nightshade Senior, ayah Raphael. Pria tua dengan rambut beruban itu berdiri di podium dengan wajah serius, auranya menekan seperti badai yang akan datang. Seluruh ruangan seketika hening.
"Selamat datang, para tamu undangan." Suaranya berat dan bergema di seluruh ruangan. "Kami mengadakan pertemuan ini untuk mengumumkan secara resmi tentang pembatalan pertunangan antara putra kami, Duke Raphael Ascania von Nightshade, dengan Lady Catharina von Elsworth."
Ruangan menjadi hening total. Bahkan suara napas pun seperti tertahan. Semua orang menunggu dengan dramatis, drama apa yang akan terjadi?
"Keputusan ini diambil setelah pertimbangan panjang dari kedua belah pihak. Kami, keluarga Nightshade, menghormati keputusan ini dan tidak ada dendam di antara kedua keluarga." Duke Senior menatap ke arah Catharina sejenak, matanya sulit dibaca. "Kami berharap kedua belah pihak dapat melanjutkan kehidupan masing-masing dengan damai."
Duke Henry kemudian berdiri dan menambahkan dengan suara yang sama tegasnya. "Keluarga Elsworth juga menyetujui pembatalan ini. Kami berharap kedua pihak bisa melanjutkan hidup dengan damai dan saling menghormati." Ia menatap putrinya dengan tatapan penuh cinta dan kebanggaan. "Dan kami sepenuhnya mendukung keputusan putri kami."
Kalimat terakhir itu membuat bisikan kembali terdengar. Jarang sekali ada kepala keluarga yang secara terbuka menyatakan dukungan penuh untuk pembatalan tunangan yang diajukan oleh pihak wanita.
Lalu tiba giliran Catharina dan Raphael untuk bicara.
Catharina melangkah ke podium dengan percaya diri. Setiap langkahnya mantap, tidak ada keraguan. Ia berdiri di depan ratusan pasang mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Ada yang penasaran, ada yang menghakimi, ada yang mengagumi, ada yang iri, dan ada juga yang senang karena menunggu drama.
Tapi Catharina tidak peduli. Ia sudah berlatih pidato ini berkali-kali di depan cermin.
"Para hadirin yang terhormat," mulai Catharina dengan suara yang jelas dan kuat, tidak ada getaran sama sekali. "Saya, Catharina von Elsworth, dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun, memutuskan untuk membatalkan pertunangan saya dengan Duke Raphael Ascania von Nightshade."
Bisikan mulai terdengar lagi, tapi Catharina tidak berhenti. Ia sudah mempersiapkan ini.
"Keputusan ini bukan karena kebencian atau dendam. Juga bukan karena ada skandal atau pengkhianatan dari pihak mana pun." Catharina menjeda sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. "Tapi karena saya percaya bahwa pernikahan harus dibangun atas dasar cinta dan saling menghormati. Duke Raphael adalah pria terhormat dan mulia, tapi kami berdua menyadari bahwa kami tidak cocok satu sama lain. Memaksakan pernikahan tanpa cinta hanya akan membuat dua orang menderita."
Catharina menatap langsung ke arah Raphael yang berdiri di bawah podium. Mata biru mereka bertemu, dan untuk sesaat, dunia seakan berhenti.
"Saya berharap Duke Raphael bisa menemukan wanita yang benar-benar ia cintai. Wanita yang bisa membuat hatinya berdebar, yang bisa membuatnya tersenyum dengan tulus, yang bisa menjadi pasangan hidupnya dalam arti sebenarnya, bukan hanya sekadar formalitas." Suara Catharina melembut. "Dan saya juga berharap bisa menemukan pria yang mencintai saya dengan tulus, yang menghargai saya apa adanya. Itu hak kami berdua. Hak untuk bahagia."
Ruangan kembali hening. Tapi kali ini bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh refleksi. Beberapa wanita bangsawan terlihat mengangguk-angguk setuju, bahkan ada yang menyeka air mata.
Lalu, secara perlahan, tepuk tangan mulai terdengar. Dimulai dari Lucian yang bertepuk tangan dengan senyum bangga di wajahnya, lalu menyebar ke beberapa bangsawan muda yang berpikiran maju, dan akhirnya hampir seluruh ruangan bertepuk tangan.
Bukan tepuk tangan yang riuh rendah, tapi tepuk tangan yang penuh penghormatan. Tepuk tangan untuk keberanian dan kejujuran.
Catharina turun dari podium dengan hati yang terasa sangat ringan. Martha menyambutnya dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca. "Luar biasa, Yang Mulia. Luar biasa."
Sekarang giliran Raphael.
Duke muda itu berdiri di podium dengan wajah yang sulit dibaca. Rahangnya tegang, tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Ia menatap Catharina sejenak dengan tatapan yang sangat kompleks, lalu mulai bicara.
"Saya, Duke Raphael Ascania von Nightshade, menyetujui pembatalan pertunangan ini." Suaranya datar, tapi ada getaran kecil di sana, yang hanya orang yang benar-benar memperhatikannya yang bisa menangkap. "Lady Catharina adalah wanita yang luar biasa. Dia pintar, cantik, kuat, dan mandiri. Dia adalah wanita yang layak mendapatkan yang terbaik."
Catharina tersentak mendengar pujian itu. Ini pertama kalinya Raphael memujinya dengan tulus di depan umum.
"Kesalahan terbesar saya adalah tidak menyadari itu lebih cepat. Saya terlalu buta dengan rutinitas dan ekspektasi, sampai saya lupa melihat harta yang ada tepat di depan mata saya." Suara Raphael sedikit serak. "Saya menyesal tidak bisa menjadi pasangan yang baik untuknya. Saya menyesal tidak bisa memberikan perhatian dan cinta yang seharusnya ia dapatkan."
Ruangan sunyi total. Semua orang terpaku mendengar pengakuan jujur dari Duke yang terkenal dingin dan tidak emosional ini.
"Dan saya berharap..." Raphael menatap langsung ke mata Catharina. "Dia bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak bisa saya berikan. Dia pantas mendapatkan itu. Dia pantas mendapatkan seseorang yang akan mencintainya dengan sepenuh hati."
Raphael turun dari podium dengan langkah yang sedikit goyah. Ia berjalan mendekati Catharina, dan semua orang di ruangan menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi.
Apakah akan ada drama? Adu mulut? Atau malah rekonsiliasi?
Raphael berhenti tepat di depan Catharina, menatapnya dengan tatapan yang penuh emosi yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Matanya sedikit memerah, rahangnya bergetar menahan sesuatu.
"Catharina..." Suaranya pelan, nyaris berbisik. "Maafkan aku."
Catharina tersenyum lembut. Ada rasa lega, ada rasa iba, tapi tidak ada lagi rasa sakit atau dendam. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Raphael. Kita berdua sama-sama belajar. Kau belajar untuk lebih menghargai orang lain, dan aku belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri."
Raphael mengulurkan tangannya dengan gerakan yang ragu-ragu. "Bisakah kita tetap berteman? Aku... aku tidak ingin kehilanganmu sepenuhnya."
Catharina menatap tangan itu sejenak. Di kehidupan lamanya sebagai pembaca novel, ia paling benci karakter pria yang baru sadar setelah kehilangan. Tapi sekarang, setelah merasakan langsung posisi itu, ia mengerti bahwa hidup tidak sesederhana hitam-putih. Orang bisa berubah. Orang bisa belajar.
Dan Raphael, setidaknya, cukup jujur untuk mengakui kesalahannya di depan umum.
Catharina menjabat tangan Raphael dengan senyum tulus. "Tentu. Berteman."
Jabatan tangan itu seperti penutup sebuah bab dan pembukaan bab baru. Akhir dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimulai, dan awal dari sesuatu yang baru.
Tepuk tangan kembali terdengar, kali ini lebih meriah. Para bangsawan yang menyaksikan momen itu merasa seperti menyaksikan sesuatu yang langka dan berharga. Pembatalan tunangan yang dewasa, penuh respek, dan bermartabat. Tidak ada drama berlebihan, tidak ada tangisan atau teriakan. Hanya dua orang dewasa yang mengakui bahwa mereka tidak cocok dan memilih untuk berpisah dengan damai.
Beberapa wanita bangsawan yang awalnya sinis kini menatap Catharina dengan pandangan baru. Mungkin, gadis ini memang berani. Mungkin, gadis ini memang layak dihormati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah acara resmi selesai, dimulailah sesi jamuan makan. Musik lembut mengalun dari orkestra yang disewa khusus untuk acara ini. Para bangsawan mulai berkelompok-kelompok, membicarakan kejadian dramatis yang baru saja mereka saksikan.
Catharina dikelilingi oleh beberapa bangsawan muda, kebanyakan para wanita yang penasaran dengan keputusannya dan ingin mengenal lebih dekat sosok wanita berani ini.
"Lady Catharina, Anda sangat berani," puji seorang countess muda dengan mata berbinar. "Saya sangat mengagumi Anda. Sejujurnya, saya juga ingin membatalkan pertunangan saya, tapi saya tidak punya keberanian seperti Anda."
"Terima kasih. Saya hanya melakukan apa yang saya rasa benar." Catharina tersenyum ramah. "Dan kalau Anda merasa tidak bahagia dengan pertunangan Anda, mungkin Anda juga harus mempertimbangkan hal yang sama. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam ketidakbahagiaan."
Wanita bangsawan lain menambahkan dengan antusias, "Dan gaun Anda sangat cantik! Dari mana Anda mendapatkannya? Saya belum pernah melihat desain seperti ini di butik mana pun."
Sebelum Catharina menjawab, Lucian muncul di sampingnya dengan dua gelas anggur. Ia menyerahkan satu gelas kepada Catharina dengan senyum menawan yang membuat beberapa wanita di sekitar mereka menarik napas.
"Itu pemberianku," ujar Lucian dengan senyum bangga, matanya menatap Catharina dengan kelembutan yang tidak ia sembunyikan. "Aku memesan khusus dari desainer langgananku."
Para wanita bangsawan langsung berbisik-bisik dengan senyum penuh arti. Mata mereka berbinar melihat Lucian yang memang terkenal tampan, kaya, dan yang paling penting, masih lajang.
"Marquess Lucian! Jadi rumor tentang Anda dan Lady Catharina benar?" tanya salah satu dari mereka dengan nada menggoda.
Lucian melirik Catharina dengan senyum yang membuat jantung Catharina berdetak lebih cepat. "Rumor apa?"
"Bahwa Anda berdua... dekat? Sangat dekat?"
Catharina tertawa, wajahnya sedikit memerah tapi ia tidak menyembunyikannya. "Kami rekan bisnis. Dan mungkin... sesuatu yang lebih dari itu di masa depan. Siapa yang tahu?"
Jawaban diplomatis tapi jelas. Para bangsawan langsung bersemangat dengan gosip baru ini. Ini jauh lebih menarik daripada gosip biasa tentang siapa yang berselingkuh dengan siapa.
"Rekan bisnis? Lady Catharina berbisnis?" tanya countess muda tadi dengan mata membulat. "Sejak kapan?"
"Baru-baru ini. Saya dan Marquess Lucian membuka tambang emas di Northvale. Dan saya juga berencana membuka beberapa usaha lain." Catharina menyeruput anggurnya dengan elegan. "Saya percaya bahwa wanita juga bisa mandiri secara finansial. Kita tidak harus bergantung pada suami atau keluarga."
Pernyataan itu membuat para wanita bangsawan terdiam sejenak, lalu mereka mulai berbisik dengan wajah bersemangat. Ini adalah pemikiran yang sangat maju untuk zamannya, tapi di saat yang sama, sangat menarik.
Sementara itu, di sudut lain ruangan, Duke Raphael mengamati Catharina dan Lucian dari kejauhan. Ia berdiri sendirian dengan segelas anggur di tangan, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi matanya tidak bisa berpaling dari sosok Catharina yang tertawa bahagia.
Di sampingnya, tiba-tiba muncul Elise yang entah sejak kapan diizinkan masuk ke acara ini oleh Duke Senior, mungkin karena ia pelayan pribadi Raphael.
"Yang Mulia... apakah Yang Mulia sedih melihat Lady Catharina dengan Marquess Lucian?" tanya Elise dengan suara lembut, berusaha terdengar peduli tapi matanya menyiratkan harapan.
Sebuah harapan bahwa Raphael akan terpuruk dan membutuhkannya.
******
BERSAMBUNG