Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Diusir
Pagi itu, hujan gerimis menyirami Desa Sukun. Entah mengapa, Melodi merasa gelisah seakan berat meninggalkan Alvian-adiknya sendirian. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa perasaanku nggak enak begini, ya? Apa mungkin ada sesuatu yang akan terjadi?" gumamnya pelan. Namun, ia segera menepis prasangkanya.
"Semoga nggak terjadi sesuatu yang buruk." Melodi menatap Alvian lama, seolah ingin menyampaikan sesuatu, tetapi sangat sulit untuk ia ucapkan dengan kata-kata.
Alvian yang menyadari tatapan Melodi pun bertanya, "Kak Mel, kenapa?"
Melodi menggeleng pelan, tangannya terulur mengusap pucuk kepala adiknya. "Nggak pa-pa, Dik," jawabnya.
Ia tersenyum lemah lalu menggenggam tangan kecil sang adik dengan lembut. "Maafkan Kak Mel, ya. Kakak belum bisa membawamu berobat ke tempat yang lebih baik."
"Tapi, kamu jangan khawatir. Kakak akan berusaha lebih keras lagi supaya kamu bisa segera sembuh seperti sediakala," tambahnya.
Alvian memandangi Melodi dengan tatapan matanya yang polos dan penuh harap. "Kak Mel jangan sedih, ya. Vian kan, anak yang kuat. Tapi, Kakak jangan pernah tinggalin Vian, ya."
Melodi menggeleng dengan cepat lalu memeluk adiknya erat-erat. "Nggak akan pernah, Dik. Kamu adalah satu-satunya keluarga Kakak dan menjadi penyemangat buat kakak untuk tetap bertahan."
Di luar ruangan, Davin menyimak obrolan mereka. Matanya memerah menahan rasa haru. Tadi pagi saat dia berangkat menuju Puskesmas Pembantu, tak bertemu dengan Melodi di jalan. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Di sudut lain tempat itu, Dahlia menatap penuh kebencian. Rasa iri hati dan tidak suka semakin jelas tampak dari wajahnya.
"Dasar, tukang akting. Kakak dan adik sama saja!" desisnya kesal.
"Apa mereka pikir bisa mengelabuhiku? Tidak bisa! Tidak akan aku biarkan kalian menghalangiku untuk menarik perhatian dokter tampan itu," bisiknya dengan tekad membara.
Melodi melepaskan pelukannya, ia menatap adiknya dan berkata dengan lembut, "Kak Mel berangkat kerja dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik."
Alvian mengangguk. "Iya, Kak. Kak Mel juga hati-hati, ya. Vian sayang Kakak."
Melodi segera bergegas keluar dari ruangan itu, meski berat di hati, karena harus meninggalkan adiknya demi mengais rejeki.
Davin yang telah duduk di meja kerjanya, hanya bisa menatap langkah Melodi yang pergi dengan diam.
Sedangkan Dahlia menatap kepergian Melodi dengan seringai tipis di sudut bibirnya. Ia kemudian berjalan mendekati tempat tidur Alvian lalu berdiri di sisi ranjang sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Enak banget ya, kalian! Di saat orang lain tinggal berdesakan di tenda pengungsian, kalian dengan seenaknya tinggal di sini memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi. Dasar tidak tahu diri!" hardiknya disertai tatapan sinis.
Alvian tersentak melihat keberadaan Dahlia yang tiba-tiba. Bocah lelaki itu menatap Dahlia ketakutan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain diam dan airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dari meja kerjanya, Davin memperhatikan Alvian yang tampak ketakutan. Dia lalu mendekat dengan hati-hati.
"Alvian, kamu kenapa? Apa ada yang menyakitimu?" tanyanya lembut.
Bisa dia lihat mata bocah lelaki itu berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis.
Dahlia tampak gugup dengan kedatangan Davin. Ia lalu berusaha meraih simpati.
"Maaf, Dok. Ini saya cuma kebetulan melintas dan melihatnya sendirian. Saya kasihan padanya, anak ini nggak bisa ke mana-mana karena kondisinya yang memprihatinkan. Iya kan, Dik?"
Alvian menatap Dahlia dengan bingung sekaligus heran lalu pandangannya beralih pada Davin.
Pemuda itu menyipitkan matanya, seraya menatap Dahlia. Mata tajamnya berusaha menelaah kejanggalan yang dirasakannya di depan mata.
Namun, kemudian tanpa berkata, Davin justru mengangkat tubuh kecil Alvian dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.
"Loh, Dok. Mau dibawa ke mana dia?" tanya Dahlia tampak panik.
"Bukan urusan Anda!" jawabnya sambil berlalu.
"Aah...si*lan!" umpat Dahlia pelan. "Sepertinya aku harus segera memisahkan mereka."
Davin mendudukkan Alvian di kursinya yang empuk lalu mengambil bangku kayu kecil sebagai pijakan kaki.
"Di sini sepertinya kamu lebih aman," kata Davin sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih, Pak Dokter," kata Alvian, matanya tampak berbinar. Namun, sesaat kemudian binar di matanya langsung meredup.
"Ada apa, hmm?" tanya Davin, menatap heran.
Dia seakan bisa merasakan perubahan suasana hati yang terjadi pada Alvian.
"Pak Dokter, apa Vian dan Kak Mel nggak boleh tinggal di sini, dan harus tinggal di tenda?" tanya bocah itu, wajahnya terlihat khawatir.
"Siapa yang bilang?" tanya Davin terkejut dengan pertanyaan tersebut.
"Bu Bidan tadi bilang, Kak Mel dan Vian nggak boleh tinggal di sini lagi," jawab Alvian lirih, lalu menundukkan kepalanya.
"Hei, dengarkan ya, adik kecil. Untuk sementara Vian dan Kak Mel boleh tinggal di sini, kok. Nanti setelah rumahnya diperbaiki, kalian akan tinggal di rumah kalian sendiri," ujar Davin lembut berusaha menghibur teman kecilnya.
.
Sementara itu Dahlia keluar dari ruangan menuju samping gedung. Gadis itu membuka ponselnya lantas menekan nomor ayahnya mencoba menghubunginya.
Di kantor kelurahan Pak Lurah Aris baru saja selesai memimpin rapat dengan perangkat desa. Tiba-tiba ponselnya berdering tampak nama Dahlia tertera di layar. Pria paruh baya itu segera menuju ruangannya.
"Halo, ada apa lagi, Lia?" tanya Pak Aris.
"Bapak, gimana, sih? Kapan itu Melodi dan adiknya diusir dari sini?" cecar Dahlia tak sabar.
"Sabar dong, Lia. Bapak baru selesai rapat ini."
"Pokoknya Lia nggak mau tahu, hari ini juga mereka harus keluar dari sini!"
Dahlia langsung memutuskan sambungan teleponnya sambil menggerutu kesal. "Enak saja, mau tinggal di sini, emang ini tempat penampungan apa!"
Ia lalu kembali ke ruangannya seolah tak merencanakan sesuatu.
.
Pak Lurah menghela napas berat. Kemudian pria itu bergegas keluar dari ruangannya. Dia pun mendekati salah satu pamong yang bisa diajak kerjasama.
"Man, ikut aku ke Puskesmas Pembantu. Ada pekerjaan untukmu," kata Pak Aris. Dia tahu Herman sangat membenci Melodi karena pernah ditolak cintanya oleh gadis itu.
"Pekerjaan apa ya, Pak?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Pak Aris lantas membisikkan sesuatu, yang membuat pemuda itu tersenyum penuh arti.
Mereke berdua segera berangkat ke Puskesmas pembantu dengan menaiki motor masing-masing. Sesampai di sana mereka pun langsung memarkir motornya di halaman, kemudian masuk ke dalam. Keduanya langsung menghampiri Melodi yang sedang menyuapi Alvian.
"Maaf Melodi, mulai saat ini dan seterusnya, kamu dan adikmu tidak bisa tinggal di sini lagi," kata Herman dengan tegas.
"Kamu bisa tinggal di pengungsian bersama yang lain. Tidak ada keistimewaan agar tidak menimbulkan kesenjangan bagi yang lain," lanjutnya menambahkan.
Ucapan Herman bagai petir menyambar di siang bolong. Melodi yang siang itu menyempatkan waktu sebentar untuk menengok adiknya, sangat terkejut. Akhirnya terjawab sudah perasaan gelisah yang dirasakannya.